
"Sayang siap-siap, Mas Kenan sama rombongan sudah pergi lagi tuh, kita bertemu di restaurant saja tidak usah jemput ke hotel." kata Deni pada Dini.
"Oke, kalian tidak siap-siap?" tanya Dini pada yang lain.
"Mereka beda rombongan." kata Deni pada Dini.
"Tapi makan malam di restaurant yang sama kan?" tanya Dini.
"Iya." jawab Deni, sementara yang lain menunggu hasil akhir pembicaraan suami istri itu.
"Yang mau mandi silahkan, tapi jangan lama-lama." kata Deni akhirnya mengingat sebentar lagi magrib.
"Berarti tidak usah antar es krim ke hotel ya, Om disana mejanya kita gabung apa terpisah?" tanya Larry pada Om Deni.
"Terpisah." jawab Deni yang sudah dibookingkan tempat oleh Fino tadi.
"Kalau begitu es krim Balen titip Om Deni saja." kata Rumi pada Larry, senang karena Larry tidak jadi antar ke hotel bersama Femi.
"Iya betul, aku titip Om Deni boleh?" tanya Larry.
"Nanti Balen pikir Om yang bawa." Deni terkekeh.
"Tidak apa, kan memang om yang bawa." Larry ikut terkekeh.
"Oke, nanti Om bilang dari kamu." kata Deni kemudian.
"Tidak bilang juga tidak apa, yang penting singkong cantik senang." jawab Larry.
"Kalian tidak mandi?" tanya Dini.
"Antri, nanti saja pulangnya. Lagi pula tadi sebelum berangkat kami mandi dulu." jawab Nanta mengingat di rumah ini tidak tersedia kamar mandi di setiap kamar, kecuali kamar Utama.
"Iya maaf ya, tidak seperti rumah kalian." Deni tertawa.
"Kalau kalian sering menginap disini, senin panggil tukang nih." kata Deni lagi.
"Begini saja sudah enak kok." sahut Doni jujur.
"Iya kita bisa kumpul dalam satu rumah, sudah seru." Mike ikutan menjawab jujur.
"Aku saja yang mandi ya." ijin Dania pada suaminya. Nanta anggukan kepalanya.
"Aku juga deh, soalnya aktifitas dari pagi diluaran." Rumi ikutan.
"Biar tambah cantik Rum, kamu tuh cantik sekali loh." kata Dini jujur.
"Hahaha Kak Dini bisa saja." Rumi tertawa.
"Puji Rumi biar diajak jadi bintang iklan ya?" tanya Mike konyol. Langsung saja Dini menjewer telinga sahabat adiknya yang sudah seperti adiknya sendiri.
"Aih Kak Dini, calon suamiku." teriak Seiqa tidak tega melihat Mike kesakitan.
"Waduh sorry, aku lupa Mike sudah ada yang bela." Dini terbahak, sementara Dania dan Rumi segera beranjak bersihkan diri.
"Kamu tidak mandi?" tanya Mike pada Seiqa.
"Sudah." jawab Seiqa.
"Loh kapan?"
"Tadi waktu baru sampai kalian rusuh di depan aku mandi." jawab Seiqa tersenyum.
"Pantas tambah cantik." kata Mike membuat semua bersorak, Fino dan Femi ikut tertawa.
"Dona sih tidak mandi juga cantik terus." Doni tidak mau kalah, semua kembali bersorak, mereka tertawa bersama.
"Saya mandi dulu ya, kalian ngobrol dulu deh." kata Deni tinggalkan semuanya masuk ke dalam kamar.
"Aku juga ya." ijin Dini pada semuanya.
"Gue bangunkan Daniel dulu ya." Larry ikut ijin karena Daniel masih tidur, segera tinggalkan sahabatnya.
"Tadi kemana saja?" tanya Mike pada Femi, maklum kepo. Sebenarnya mau tanya tadi bicara apa saja tapi malu.
"Ke supermarket saja beli es krim." jawab Femi jujur.
"Kok lama?" tanya Mike detail.
"Harus ke luar komplek dulu, yang merk ini cuma ada di supermarket besar." jawab Femi tersenyum.
"Tidak, dia baik kok." jawab Femi tertawa.
"Kamu katanya tinggal di Jakarta ya, tapi dapat tugas disini?" tanya Seiqa pada Femi.
"Iya tapi mungkin akan segera pindah ke Jakarta lagi aku dan Fino." jawab Femi.
"Kapan?" tanya Doni ingin tahu.
"Masih dalam proses, tidak tahu kapan." jawab Femi lagi.
"Nanti kalau di Jakarta main bareng ya." ajak Seiqa, pikirnya siapa tahu jadi sama Larry.
"In syaa Allah. Aku jarang main sih, sudah sibuk bekerja, kalau libur maunya dirumah saja tidur." jawab Femi jujur.
"Tidak gaul dia." Fino ikut bersuara.
"Bukan tidak gaul, jam kerjanya sih bikin kita jadi tidak gaul, kadang harus jaga malam kan." Femi menjelaskan.
"Iya betul, begitu kita libur yang lain kerja." Fino terkekeh.
"Sama saja seperti kami, kadang berbulan-bulan harus diluar, kadang gabut begini." Doni tertawa.
"Tidak gabut dong, malah padat aktifitas." Mike meluruskan.
"Iya betul, apa lagi Nanta yang ikut bantu usaha keluarga." Doni setuju.
"Tidak nyambung ya jam kerja dokter sama atlet, sama-sama sibuk." Fino menggoda Femi.
"Iya betul tidak nyambung." Femi terkekeh.
"Jadi kamu sama Larry tidak nyambung maksudnya begitu?" Mike meluruskan.
"Kok aku sama Larry?" Femi terkekeh tahu Mike menggodanya.
"Kamu dokter, Larry atlet."
"Sibuk semua, kalau menikah tetap mau bekerja?" tanya Nanta, pikirkan bagaimana nanti kalau Larry bersama Femi.
"Iya harus, untuk apa kuliah kedokteran kalau tidak bekerja." Femi tertawa.
"Istri kita sih tidak kita kasih bekerja, karena kalau keluar kota atau ke luar negeri kan bisa lama, jadi mereka ikut." kata Doni pada Femi.
"Iya Seiqa juga nanti kalau jadi Istriku tidak bekerja." Mike ikutan.
"Hehehe aku kan bukan istrinya Larry jadi aku tetap bekerja." jawab Femi tertawa.
"Kalau kalian berjodoh bagaimana?" tanya Mike.
"Siapapun suamiku, aku tetap bekerja. Kalau mau larang aku bekerja, berarti jangan menikah sama aku deh." jawab Femi saklek.
"I see." Mike anggukan kepalanya. Ia juga tidak tahu Larry biarkan istrinya tetap bekerja atau tidak nantinya.
"Kalau kamu Fin, punya istri nanti maunya tetap bekerja atau tidak?" tanya Mike pada Fino.
"Bagaimana nanti saja, lihat situasi, kalau ternyata saat punya anak masih bisa diatasi walau istriku bekerja, ya lanjut saja. Kebanyakan wanita bekerja kesulitan saat asisten rumah tangga berhenti ya." jawab Fino.
"Iya betul, kalau anakku lahir nanti juga aku tidak yakin, Dania bisa ikut saat kita keluar kota atau luar negeri nanti." Nanta setuju.
"Seperti Mamon ya, kadang tidak ikut kalau Om Kenan dinas luar, mengingat repot harus bawa bocah." Mike teringat Nona.
"Iya, apalagi nanti kalau mereka sudah sekolah." pembicaraan serius, membahas keluarga dan anak-anak.
"Jadi sama saja mau bekerja atau tidak, kan? pusing-pusing juga." Femi tertawa.
"Semua akan pusing pada waktunya." Seiqa terbahak.
"Ish apa sih pusing-pusing. Kita tidak pakai pusing sayang." kata Mike pada Seiqa.
"Iya jangan pikirkan pusing, kita pikirkan yang senang-senang saja." sahut Doni tertawa.
"Kalian bahas apa sih?" Rumi sudah tampil cantik, lebih segar dan lebih wangi.
"Kamu terlihat lebih fresh loh Rum. Pakai ramuan apa?" tanya Mike konyol.
"Ramuan madura." jawab Rumi tidak kalah konyol. Fino dan Femi langsung tertawa terbahak, sementara Mike otaknya tidak sampai kesana jadi bingung nyengir menatap sahabatnya, seperti butuh pertolongan untuk dijelaskan. Nanta dan Doni ikut tertawa walau tidak sekeras Femi dan Fino.