I Love You Too

I Love You Too
Menakjubkan



Setelah terfokus dengan kisah Erwin yang baru saja seperti mendapatkan durian runtuh, menghadapi komplain namun membawa berkah karena bisa berkenalan dengan gadis cantik, putri seorang pengusaha. Kini mereka berempat fokus membahas hasil survey lokasi tadi pagi hingga siang. Andi menceritakan apa saja yang terjadi, Reza juga membahas masalah yang ada, pembangunan yang tidak sesuai gambar, Reza meminta dikembalikan dalam bentuk sesuai gambar atau dirubah layoutnya.


"Jadi Openingnya mau ga mau diundur friend." Kata Reza pada sahabatnya.


"Kenapa ga profesional gitu kerjanya?" Erwin jadi kesal mendengarnya.


"Kita juga ga terlalu fokus perhatikan detail waktu itu ya. Ga pernah komplain, jadinya mereka enaknya aja rubah sendiri. Ga terlalu kelihatan sih, tapi kalau lu yang kerja didapur pasti sedikit merepotkan, apalagi kalau lagi banyak pesanan." jawab Reza


"Kemarin mereka rayu kita tuh biar ga dirubah. Gue bilang aja boss nya bukan saya." kata Mario sambil tertawa. "Konyol lu." sahut Reza menggelengkan kepalanya.


"Ga merayu kok dia tadi, iya kan Ndi." Reza menoleh pada Andi.


"Cem mana mau merayu, mas Reza judes kali tadi tuh." Andi menjawab sambil tertawa membayangkan ekspresi kedua gadis tadi saat Reza mengeluarkan kalimat halus tanpa membentak tapi terasa sangat menusuk. Reza mencebikan bibirnya.


"Sudah kan cukup infonya, gue cabut dulu ya." Reza segera beranjak dari sofa.


"Gue juga." Kata Mario menyusul Reza. Andi dan Erwin pun tak mau ketinggalan segera berlari mengejar kedua sahabatnya.


"Siap-siap friend, Eja nikahnya bakal dipercepat." Kata Andi mengingat pembicaraan dengan Nina tadi siang.


"Aiih sudah ga sabarkah? Ga bilang-bilang lu Ja." Erwin langsung protes, merasa Reza mau menutupi.


"Gue juga belum tau kapan, maunya nyokap begitu, belum tau jadinya gimana." Reza menjelaskan, bagaimanapun diantara mereka tak ada rahasia. Susah senang dibagi bersama.


"Kalau butuh bantuan kabarin, Ja." kata Mario menepuk pundak Reza.


"Iya, sampai sekarang belum ada kendala. Bokap gimana Yo?


"Belum ketemu lagi gue, cuma teleponan sama nyokap aja. Sabtu paling gue balik."


"Rekaman kapan nih Kiki? Sudah ok tuh Alex. Barusan Wisnu kabarin gue nih." Kata Andi setelah membaca pesan yang baru saja diterimanya.


"Besok dia sama nyokap, Paling malam atau ga lusa aja ya friend." Reza meminta persetujuan.


"Iya lusa ga papa, sebelum gue balik sudah beres ya, jadi gue ga kepikiran disana." kata Mario pada Reza. Sebelum mereka menuju mobil masing-masing, dengan tujuan yang berbeda, Andi dan Erwin pulang kerumah berkumpul bersama keluarga, sedangkan Mario menyendiri diapartemen,


"Ga kerumah gue Yo?" ajak Andi


"Balik dulu gue, malam gw kerumah deh, bilang nyokap masak yang enak." kata Mario.


"Gue juga mau Ndi, kangen masakan nyokap." Erwin tak mau kalah.


"Ya sudah gue tunggu ya."


"Gue skip dulu ya. Nanti kalau bosan dirumah Andi, kerumah gue aja." Reza seperti tak mau ketinggalan.


"Sudah jam berapa nih, buruan kekampus, nanti macet." Andi mengingatkan tanpa menggubris omongan Reza yang sudah dimobil, Reza pun segera melajukan kendaraannya.


Benar saja begitu memasuki Area kampus, Reza melihat Kiki sudah menunggu ditempat Reza biasa parkir. Untung saja Handphone Kiki tidak lowbat seperti kemarin, jadi Reza bisa menghubungi Kiki, menyampaikan kalau ia terlambat sedikit. Bukan sedikit sebenarnya tapi sekitar dua puluh menit Kiki menunggu. Tadi dijalan Reza mampir dulu dimesjid untuk Sholat magrib, dan meminta Kiki untuk sholat dulu di mushola kampus sambil menunggu Reza.


"Lapar ga?" tanya Reza begitu Kiki duduk disampingnya.


"Tadi abis sholat magrib aku makan bubur ayam yang dekat mushola kak."


"Ga bungkusin aku?"


"Mau? tunggu sebentar." Kiki berlari keluar mobil meninggalkan Reza, tanpa mendengar jawaban dari Reza. Padahal tadi Reza hanya bercanda, ingin tau ekspresi Kiki. Sepuluh menit kemudian Kiki datang membawa bungkusan plastik, 1 kotak bubur ayam dan air mineral.


"Cepat sekali bergeraknya, langsung pergi aja tadi."


"Takut kehabisan." Kiki mengeluarkan bubur dari plastiknya.Menyerahkan pada Reza "Makan dulu kak."


"Makasih ya sayang." Reza mengacak poni Kiki. Ups dipanggil sayang terasa jantung Kiki berdegup lebih kencang.


"Sama-sama Kak." jawabnya tanpa melihat Reza. Menunduk saja memainkan handphonenya, menutupi rasa salah tingkahnya.


"Enak kak?" tanya Kiki setelah sekian lama berdiam diri. Reza mengangguk sambil menyuap bubur ayamnya. "Lebih enak kalau disuapin." katanya menutup kotak bubur dan memasukkan kedalam plastik, kemudian meneguk mineral water perlahan. Menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraannya.


"Manja!"


"Ga papa kan manjanya sama kamu."


Kiki terdiam, memandang Reza sesaat, kemudian memainkan tali tas dipangkuannya.


"Kak..!!"


"Tadi mama telepon."


"Trus?" Sepertinya mama Ririn membahas percepatan pernikahan, batin Reza.


"Bingung.."


"Kenapa?"


"Mama mau di S'pore terus sampai kak Wina melahirkan."


"Kamu?"


"Aku dipercepat pernikahannya."


"Aku..? Kita kali."


"Hihi...Iya, kita."


"Kamu keberatan?"


"Ga, bingung aja."


Reza mengambil tangan Kiki yang terus memainkan tali tasnya, lalu menggenggam erat.


"Alhamdulillah, Ga usah bingung, jalanin aja." katanya berusaha menenangkan Kiki.


"Kapan kita menikah?" tanya Reza


"Jumat."


"What!!!" Reza menghentikan mobilnya mendadak. Uffh untung sudah memasuki komplek perumahan, jadi jalanan tidak terlalu ramai dan dibelakangnya tidak ada mobil.


"Kak Eja kenapa sih? hampir dower bibir aku." sungut Kiki yang hampir saja terantuk dashboard didepannya.


"Maaf sayang, maaf. Aku ga nyangka secepat itu. Mama masih di s'pore kan?


"Kita menikah di s'pore, Mas Herman yang urus semua, .Tanpa resepsi hanya menikah."


"Lusa kuliah jam berapa dek? Mau recording. Kapan syuting iklannya? Kapan jadwal kamu travelling?" Reza mulai memikirkan hutang pekerjaan Kiki. Tak ingin Kiki terlalu lelah karena menurut perkiraan Reza Kamis malam mereka pasti sudah berangkat.


"Travelling kan waktu itu sudah konfirm setelah Kak Eja wisuda. Syuting iklan minggu depan, setelah recording."


"Sempat ya, hutang Endors kamu masih ada?"


"Sudah mulai kukurangi, ada beberapa yang belum kubikin videonya."


"Nanti aku bantu bikin videonya."


"Kak Eja bisa arahin gaya aku? biasanya Intan yang bantu aku."


"Bisa."


Sudah mulai tenang, Reza segera menjalankan kendaraannya.


"I love you, dek." katanya sambil membelai rambut Kiki, sambil fokus menyetir.


"Iya."


"Kok iya, kamu ga balas?"


"Aku masih dalam tahap membangun."


"Bangun cinta? bukannya sudah terbangun, tadi malam sudah menangis karena aku."


"Iih kak Eja." Kiki memukul pundak Reza kesal.


"Sakit sayang." Reza meringis mengusap bahu kirinya.


"Tadi aku pukulnya pelan." Kiki merasa menyesal tapi tetap membela diri.


"Hiks masih sakit." Reza masih mengusap bahunya sambil menyetir. Wajahnya terlihat menyedihkan. Kiki langsung mengusap bahu Reza dan mengecup pundak Reza. Tanpa sadar Kiki melakukan kebiasaan dirumahnya kalau lagi kesakitan, papa dan mama pasti mencium bagian tangan yang sakit, biar cepat sembuh kata mereka. Aih Reza seperti ingin melompat kegirangan. Ga mau jawab "i love you too" tapi mencium pundak itu kok rasanya menakjubkan.