
"Bang Steve sudah hubungi Papa?" tanya Nanta pada Kenan ketika mereka sedang makan malam.
"Sudah tadi, besok Aditia ke kantor Papa." jawab Kenan pada Nanta.
"Syutingnya jauh loh Pa, di S'pore. Bang Steve tidak bisa tinggalkan anaknya." lapor Nanta pada Kenan.
"Waduh, siapa yang temani Balen kesana, jauh sekali." langsung saja Nona mengeluh, jika suaminya banyak kerjaan pasti tidak bisa ikut ke S'pore. Berdua saja dengan Balen tanpa Richie rasanya tidak mungkin.
"Kan masih dibicarakan, belum tahu juga bagaimana konsepnya." Kenan terkekeh. Nona sudah panik saja. Pada dasarnya ia agak keberatan tapi Balen sudah rusuh kasih pengumuman sama keluarga di Malang kalau ia mau masuk tv. Padahal kontrak kerjasama saja belum dibicarakan.
"Nanti kita ke S'pore dong Mas Nanta." Dania sudah semangat saja mau ikut Ke S'pore.
"Tergantung, kalau hari kerja aku mana bisa, kerjaan di Warung Elite ternyata banyak juga." Nanta terkekeh apalagi jumat besok Nanta akan pulang malam karena ada pertunjukan musik di Warung Cabang Selatan.
"Balen yang syuting, bisa berangkat semua ini ke S'pore." Kenan terkekeh bayangkan mereka akan liburan ke S'pore.
"Bayarannya harus mahal loh Mas, dayang-dayang Balen banyak ini." kata Nona pada suaminya.
"Seperti model ternama saja minta bayaran mahal." Kenan terkekeh, pakai bawa dayang-dayang lagi.
"Lagian syutingnya di S'pore sih. Tidak mungkin aku saja yang temani Balen."
"Baen sendii aja, Mamon." sahut Balen membuat semuanya tertawa.
"Apanya yang sendiri?" tanya Nona pada Balen.
"Masuk tipina, tapi Aban Nanta, Abang Leyi, Aban Maik, Aban Doni, Aban Luti, Aban Winei temenin." jawabnya tanpa beban.
"Itu bukan sendiri singkong rebus." Nanta tertawakan adiknya yang sok tahu ini. Semua kembali tertawa.
"Abang-Abangmu juga belum tentu bisa dampingi, ini syutingnya jauh. Bukan di Jakarta. Kalaupun mereka ikut, tentu mereka harus ikut dikontrak." kata Kenan pada putrinya.
"Tontak apa sih?" tanyanya ingin tahu, Kenan lupa berhadapan dengan Balen.
"Kalau Balen sudah pasti jadi bintang iklannya masuk tv, Balen punya kontrak, Abang-Abangmu juga begitu kalau masuk tv harus dikontrak." jawab Kenan dengan bahasa sederhana.
"Baen masuk tipi aja ah, janan di tontak."
"Singkong, sok tahu cium nih." Nanta gemas langsung ciumi adiknya, Balen tergelak senang dicium Abang tersayang.
"Nanti kalau sudah masuk tivi, Balen punya tabungan loh." Nanta tersenyum pandangi adiknya.
"Banak ndak?" tanyanya pada Nanta.
"Belum tahu, memang kalau banyak mau beli apa?" tanya Nanta pada adiknya.
"Bei apa ya? Bei Oten aja deh." jawabnya membuat semuanya tertawa.
"Mau apa beli hotel?" tanya Nanta terkekeh.
"Mau beenang di Oten taya temaen, teus matan sop deh." jawabnya simpel saja mau beli hotel cuma untuk berenang lalu makan sop iga.
"Aamiin, semoga bisa punya hotel." Nanta tertawa usap rambut adik kecilnya ini.
"Jadi abis masuk tipi, tita bei Oten ya Papon." pinta Balen membuat Kenan tersedak, gawat ini masa baru rencana syuting sekali langsung mau beli hotel.
"Banakna semana Papon?" tanyanya polos.
"Pokoknya banyak deh, makanya Balen harus rajin belajar, rajin ibadah, berdoa sama Allah biar keinginannya terkabul." kata Nona pada Balen.
"Yah, Baen nanti bedoa." jawabnya kembali menikmati makanannya. Makan sendiri ya tidak disuapi. Kan sudah besar.
Keesokan harinya Aditia datangi Kenan ke kantornya sesuai perintah Steve pada Aditia sore kemarin. Ia tidak menyangka jika Adik Cantik yang ditemuinya di Semarang ternyata kerabat dari pemilik perusahaan.
"Siang Mas Aditia, silahkan duduk." sapa Kenan saat menyambut Aditia.
"Siang Pak Kenan, saya baru tahu kalau Bapak masih kerabat Pak Mario."
"Iya Mario sahabat Abang saya." Kenan terkekeh.
"Jadi bagaimana Mas Aditia? saya sebenarnya masih mau pikirkan dulu, tapi Steve bergerak cepat ya."
"Pak Steve semangat sekali saat tahu calon model iklannya Adik Baen. Apalagi saat melihat video Adik Baen melompat ke air dan berenang bersama abangnya." kata Aditia pada Kenan.
"Mohon maaf sebelumnya kemarin saya sempat merekam aktifitas adik Baen Pak." Aditia sampaikan pada Kenan jika itu untuk bahan meeting di kantornya, terkait calon model yang akan mereka kontrak.
"Oh iya konsepnya bagaimana ya seandainya anak saya Balen lolos menjadi model di perusahaan Mas Aditia?" tanya Kenan pada Aditia.
"Baen sudah lolos kok Pak, Tim management sudah sepakat jadikan Baen modelnya. Tinggal persetujuan dari pihak Baen saja." kata Aditia pada Kenan, ia selalu saja sebut Baen sesuai yang Balen jawab saat ditanya namanya oleh Aditia.
"Boleh minta Nama lengkap Baen dan data lainnya Pak, silahkan diisi form ini untuk keperluan kontrak." Aditia serahkan formulir pada Kenan.
"Di S'pore ya syutingnya, saya perlu tahu dulu nanti apa yang harus anak saya lakukan? pakaiannya seperti apa? Waktunya kapan? karena lokasinya bukan di Jakarta, pasti harus sesuaikan waktu saya juga. Walaupun masih kecil kami tidak ijinkan anak kami memakai pakaian terbuka." tegas Kenan pada Aditia.
"Iya Pak Kenan, Pak Steve mau syuting dilaksanakan di S'pore, nanti Pak Steve langsung yang awasi proses syutingnya. Konsepnya tetap di kolam berenang, Pak. Sesuai kepintaran Balen. Kalau bisa Abang yang kemarin temani Balen berenang juga ikut jadi model iklannya, karena kami belum temukan model pria yang tepat dampingi Balen."
"Itu Larry atlet Basket Nasional teman Nanta anak saya. Semua pria yang kemarin temani Balen itu atlet Basket." Kenan jelaskan pada Aditia.
"Wah kalau mereka berminat boleh Pak, mereka ikut syuting dampingi Balen." kata Aditia semangat.
"Nanti saya tanyakan." kata Kenan.
"Kalau ada stok dua orang lagi remaja tanggung laki-laki Pak, tidak apa bukan atlet juga." kata Aditia pada Kenan.
"Oh Ada." jawab Kenan tertawa teringat Lucky dan Winner.
"Bisa aturkan waktu untuk Tim kami agar bisa bertemu mereka di Unagroup Pak?" tanya Aditia pada Kenan.
"Nanti saya sampaikan ya, saya juga tidak tahu mereka berminat apa tidak. Apalagi yang atlet, jadwal mereka cukup padat, waktu mereka harus Pak Aditia sesuaikan." kata Kenan pada Aditia.
"Baik, dua hari kedepan semoga saya sudah bisa dapat kabar baiknya Pak." Kenan anggukan kepalanya.
"Pembayaran untuk Balen senilai segini Pak. Fasilitas di S'pore untuk kedua orang tua kami siapkan. Untuk Model lainnya juga begitu, tapi karena Balen model Utama, honor Balen jauh lebih besar Pak." kata Aditia pada Kenan.
"Untuk honor Balen saya tidak masalah, hanya untuk model yang lain silahkan bicarakan dengan mereka masing-masing ya Pak Adit, saya tidak tahu apa mereka punya tarif tersendiri karena mereka atlet nasional dan lumayan punya nama." kata Kenan ingatkan Aditia.
"Nanti akan saya bicarakan dengan Pak Steve ya Pak Kenan." kata Aditia sebelum mengakhiri pertemuannya dengan Kenan, yang pasti keinginan gadis cantiknya untuk syuting bertujuh akan terkabul, hanya saja honornya belum bisa untuk membeli hotel seperti yang Balen mau.