I Love You Too

I Love You Too
Kode-kode



"Opa mau ciumi aku juga?" tanya Nanta pasrah saat Oma selesai melakukan aksi jahilnya.


"Hahaha tidak sayang, peluk saja." kata Opa langsung saja memeluk erat Nanta sambil mengusap pelan bahunya.


"Jaga kesehatan, jangan lupa sering-sering kasih kabar Opa dan Oma." katanya merangkul Nanta masih mengusap-usap bahunya.


"Iya Opa." Nanta tersenyum lebar.


"Ada group keluarga kalau tidak sempat hubungi personal." pesan Oma sedikit ketus.


"Iya Oma sayang." Nanta menghampiri Oma sambil menyeringai dan gantian Nanta yang menciumi Oma bertubi-tubi sampai Oma gelagapan dan memukul bahu cucunya itu. Nanta tertawa senang bisa membalas Oma.


"Tuh Lemon juga minta dicium." tunjuk Roma pada suaminya.


"Mau Bang?" tanya Nanta tertawa jahil.


"Sini kamu." kata Raymond menarik tangan Nanta. Langsung saja Nanta menciumi Abangnya, rusuh sekali mereka jadi perhatian orang banyak.


"Bang itu petugas Bandara sepertinya mau menegur karena Bang Ray terlalu lama parkir disini." kata Nanta melihat petugas Bandara berjalan kearah mereka. Raymond langsung tertawa dan berpamitan dengan Dania dan Oma Misha.


"Kak Roma nanti anaknya mirip aku tuh, aku jamin." kata Nanta sebelum Roma masuk kedalam Mobil.


"Aku rasapun begitu." jawab Roma tertawa sudah tahu maksud Nanta.


"Sepertinya kita tidak menunggu lama diruang tunggu." kata Oma Misha masih terkikik geli.


"Kenapa begitu Oma?" tanya Dania pada Omanya.


"Kelakuan keluarga suamimu saja sudah menghabiskan banyak waktu." Nanta tertawa mendengarnya.


"Oma kami kenalan di counter ini." tunjuk Nanta pada Oma Misha mengenang perkenalan pertamanya dengan Dania.


"Lucu ya, check in counter jadi kenangan." Oma Misha kembali tertawa.


"Karena tidak bawa uang cash mendapat jodoh." jawab Dania ikut tertawa. Setelah urusan check in selesai mereka pun menuju ruang tunggu sesuai gate yang tertulis pada boarding pass.


Perjalan berjalan lancar, sedikit guncangan saat dipesawat mungkin saja terjadi, tadi Nanta dan rombongan alami itu, Alhamdulillah mereka selamat dalam perjalanan. Nanta mengusap perut istrinya khawatir terjadi sesuatu.


"Tidak apa." jawab Dania menenangkan suaminya.


"Besok kita ke dokter kandungan ya." bisik Nanta pada istrinya, tidak mau terjadi sesuatu pada anak mereka. Berharap semua baik-baik saja


"Oma tidak apa kan?" tanya Nanta, karena tadi pesawat sempat mengalami turbelensi, seketika gelap sesat semua yang ada ditangan terlempar entah kemana, tetapi kembali normal beberapa detik kemudian.


"Sedikit terkejut." jawab Oma tersenyum, bahkan bangku penumpang depan sudah tertawa karena salah seorang dari mereka sedang makan nasi pakai ayam goreng dan ayam gorengnya mental entah kemana. Kadang memang kejadian yang mengerikan saat sudah terlewati bisa dikenang sambil tertawa.


Alhamdulillah mereka selamat sampai di Jakarta tanpa kekurangan satu apapun, pesawat mendarat dengan sempurna, hanya sekali goncangan mendebarkan ditengah perjalanan selebihnya semua lancar tanpa kendala. Tapi lumayan bikin dengkul lemas sampai mereka sudah di Bandara sekalipun.


"Perut kamu tidak apa kan, sayang?" tanya Nanta pada Dania, ia betul-betul khawatir.


"Tidak apa, tenang saja." jawab Dania tersenyum santai sekali.


"Tidak takut ya tadi?" tanya Nanta heran.


"Lumayan gemetar lutut aku, tapi pasrah saja." jawab Dania terkekeh, ia sudah sering berada di pesawat karena travel kesana kemari, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dihindari.


"Lutut Oma juga gemetar." jawab Oma terkekeh.


"Kita semua gemetar Oma." jawab Nanta ikut terkekeh.


"Aku khawatir adek bayi." kata Nanta pada Oma.


"Apa ada dokter kandungan hari minggu malam begini Oma?" tanya Nanta.


"Tidak ada, kalau Dania bilang tidak masalah, in syaa Allah tidak masalah sayang, kamu tenang saja." Om Misha mengusap bahu Nanta.


"Ih Jangan begitu dong, kita kan baik-baik saja."


"Aku takut berefek, nanti kesalahan." kata Nanta lagi.


"Yang diterapi aku tapi malah Mas Nanta yang panik sekarang." sungut Dania, Nanta jadi tersenyum menarik nafas pelan dan menghembuskannya.


"Ya sudah ayo, Papa Micko sudah jemput." kata Nanta pada Oma Misha dan Dania.


"Tidak usah cerita tentang turbelensi yang kita alami tadi, nanti tidak boleh naik pesawat lagi Dania." pesan Oma Misha pada Nanta dan Dania, sudah tahu kalau Micko pasti over protektif pada anak cucunya.


"Iya." jawab Nanta dan Dania berbarengan. Oma Misha tertawakan Nanta yang masih tampak pucat pikirkan kondisi bayi diperut Dania. Bukan apa-apa, Dania baru saja melewati trisemester pertama tentu saja Nanta khawatir walau sudah memasuki kondisi aman untuk bepergian dengan pesawat.


"Bagaimana di Malang, menyenangkan?" tanya Papa Micko saat menyambut ketiganya, sepertinya rindu berat sampai rela menjemput seorang diri.


"Enak." jawab Dania memeluk Papanya


"Kami kalau travel selalu saja enak." Micko mengacak anak rambut putrinya.


"Papa sendiri? tidak pakai supir?" tanya Dania.


"Sendiri saja jalan santai." jawab Micko.


"Bukannya kamu dari pulau?" tanya Oma Misha.


"Iya, Lulu dan anak-anak menunggu dirumah Kenan, aku jemput kesini dulu nanti kita jemput mereka, Mama tidak lelah kan?" Micko meminta persetujuan.


"Tidak, tinggal duduk saja apanya yang lelah."


"Duduk saja kan juga menyita energi. Apa tadi diudara aman? cuaca pulau jawa kudengar lumayan buruk." tanya Micko membuat Nanta dan Dania diam tidak menjawab.


"Amanlah, buktinya kita selamat sampai disini, ngobrol sama kamu juga." jawab Oma mewakili cucunya.


"Iya sih, Micko khawatir ada guncangan, kasihan cucuku." seperti kontak batin saja Papa Micko.


"In syaa Allah cucumu diperut sehat, besok juga Nanta mau ajak Dania kontrol kok." kata Oma lagi.


"Papa ikut ya." pinta Micko.


"Nanti Mama Lulu emosi Pa." Nanta menggoda Papa mertuanya.


"Hahaha kan bukan kedokter yang itu." jawab Papa Micko terbahak, tidak mau menyebut nama mantan pacarnya.


"Biar bukan kedokter itu kalau dengar dokter kandungan bawaan istrimu mau menerkam saja." komentar Oma Misha membuat mereka semua tertawa.


"Ya sudah Papa tidak jadi ikut, Dari pada Nanti ada yang mengaum." kata Micko lagi tertawa. Nanta tertawa sambil menarik nafas lega, kalau mertuanya tidak ikut kan Nanta bisa menceritakan kondisi yang mereka alami hari ini.


"Papa, nanti aku menginap dirumah Papa Kenan ya." pinta Dania pada Papanya.


"Kenapa begitu?" protes Micko pada anaknya.


"Kan kemarin berangkat tiga hari sebelumnya sudah dirumah Papa." Dania menjelaskan.


"Oh iya, Papa lupa." Micko tertawa geli, kadang ia ingin sekali Nanta dan Dania tinggal sepenuhnya dirumah, sesekali saja menginap dirumah Kenan. Tapi sepertinya anaknya lebih betah dirumah mertuanya, mungkin karena ada Balen dan Richi yang sedang lucu-lucunya. Kalau Winner dan Lucky sudah besar jadi lebih banyak dikamar saja.


"Kapan lagi menginap dirumah, Oma kesepian deh kalian dirumah Kenan." keluh Oma Misha sedikit sedih.


"Tuh Oma, Mas Nanta paling tidak bisa nih lihat muka-muka sedih penuh harap begini." kata Dania melihat wajah suaminya yang jadi ikutan Mellow tapi tidak tahu harus bagaimana.


"Hahaha iya ya, tadi Oma dengar sih Nanta bicara begitu sama Oma Nina. Ya sudah bikin jadwal deh hari apa saja dimana saja." kata Oma Misha, tetap saja membuat Nanta dan Dania berpikir keras.


"Oma minggu depan kan kita kumpul." Dania mengingatkan, Oma Misha langsung saja kode-kode agar Dania tidak melanjutkan percakapannya, Papa Micko tidak tahu Oma Misha ikut ke Malang karena mau bertemu dengan Opa Kripto. Rencana Oma akan ceritakan secara perlahan, yang pasti bukan hari ini, karena lutut Oma Misha masih sedikit lemas, perlu diganjal bantal supaya lebih rileks.