I Love You Too

I Love You Too
Sedekat mungkin



"Rumi bagaimana?" tanya Nanta pada Larry saat mereka bicara via telepon group, tadi Nanta menghubungi sahabatnya saat sudah di kamar untuk membahas Daniel yang ingin di ajarkan Basket oleh mereka.


"Kenapa jadi bahas Rumi, kita lagi bahas pekerjaan." protes Larry pada Nanta.


"Yah gue tanya, kalian kan berteman." jawab Nanta.


"Sepertinya elu lebih tahu perkembangannya dari gue kan Nan?" Larry tertawa.


"Memang, gue tidak tanya soal Rumi pribadi kok, tapi hubungan lu sama Rumi." Nanta tersenyum.


"Tenang, tidak ada komunikasi pribadi selain pekerjaan kok, kalian jangan khawatir." kata Larry santai.


"Bagus deh." sahut Mike.


"Iya bagus." Doni ikutan menjawab.


"Tadi gue jemput Rumi ke rumah sakit dia habis terapi. Dia protes tuh Leyi, lu tidak mau angkat telepon dia, kecuali soal pekerjaan. Padahal janji mau jadi teman." Nanta sampaikan apa yang Rumi bilang tadi.


"Mike kan bilang tidak boleh berteman dengan pemabuk, nanti bisa ikutan mabuk juga." Larry balikkan ucapan sahabatnya.


"Memang. Allah sendiri yang bilang dalam Al Qur'an. Ada di ayat apa ya gue lupa." kata Mike sampaikan pada sahabatnya.


"Iya kan gue ikuti. Apalagi sih?" tanya Larry bingung.


"Dia sudah bisa minum air putih, porsi alcohol sudah jauh berkurang." kembali Nanta menyampaikan.


"Syukurlah kalau begitu, gue ikut senang." kata Larry tersenyum.


"Elu mau dekati dia Leyi?" tanya Mike dengan wajah tidak ramah.


"Ish siapa yang mau dekati sih, seperti Bapak gue saja." Larry terkekeh.


"Ikuti alur saja sampai dimana nantinya." kata Doni.


"Maksud lu apa?" tanya Larry.


"Ya kepada siapa hati Leyi berlabuh?" jawab Doni tertawa.


"Tidak tahu, lagi tidak mikir kesana." Larry terbahak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nanti jomblo sendiri, bulan depan gue sudah punya istri loh." Mike mengingatkan.


"Tidak masalah, pernikahan bukan perlombaan siapa yang cepat dia menang kan, lagi pula kalau gue paksakan juga tidak Bagus." Larry mengedikkan bahunya.


"Leyi, mungkin tidak elu bakal dijodohkan sama kerabat nyokap atau bokap?" tanya Nanta ingat pembahasan Andi dan Mario tadi.


"Tidak tahu juga. Belum pernah bahas sama bokap nyokap sih, mereka juga tidak pernah tanya pacar gue siapa. Kalau bokap pernah bilang mau gue selesaikan sekolah dulu sih." jawab Larry.


"Ya siapa tahu ternyata akan di jodohkan." kata Nanta tersenyum simpul.


"Elu sih iya, gue belum tentu." jawab Larry.


"Gue sih memang suka sebelum dijodohkan." jawab Nanta membuat Dania cengar-cengir mendengarnya.


"Nih Rumi telepon gue." kata Larry tersenyum, handphonenya berdering nada tunggu.


"Jangan diangkat." tegas Mike.


"Angkat saja." kata Nanta.


"Ikuti kata hati lu, Leyi. Jangan dengarkan Nanta atau Mike." kata Doni. Leyi anggukan kepalanya.


"Jadi?" Nanta dan yang lain menunggu putusan Larry akan angkat telepon Rumi apa tidak.


"Ikuti kata hati." jawab Larry.


"Kata hati lu apa?" Doni penasaran.


"Selesaikan dulu pembicaraan kita, apa masih ada yang mau dibahas terkait pekerjaan?" tanya Larry pada sahabatnya.


"Terus setelah ini lu mau telepon Rumi?" tanya Mike ingin tahu.


"Kalau dia telepon lagi, ya gue angkat. Kalau tidak ya sudah." kata Larry santai.


"Hari jumat kumpul di Warung Elite setelah sholat jumat ya." Nanta mengingatkan.


"Oke." jawab semuanya hampir bersamaan.


"Sekalian gue kasih batik untuk seragam kalian." kata Mike pada sahabatnya.


"Eh sudah belanja seragam dia." Doni terkekeh.


"Seiqa sama nyokap gue yang belanja." jawab Mike.


"Wih mau enaknya saja sih." Doni bersungut, ingat saat pesan souvenir dan undangan Doni yang antarkan Seiqa.


"Seiqa tidak mau jalan berdua gue. Bahaya katanya." lapor Mike, bukan mau santai ternyata itu penyebabnya.


"Bahaya sih memang, takut elu sosor dia." Doni terbahak.


"Sue, gue mana berani sosor kalau dia tidak ijinkan." kata Mike bersungut.


"Memang pernah minta ijin?" pancing Larry.


"Rumi lagi?" tanya Doni. Larry anggukan kepalanya.


"Ya sudah angkat deh, gue tutup ya." Doni matikan teleponnya, Nanta pun ikuti matikan telepon tanpa berkata apapun, tidak mau mempengaruhi Larry.


"Hai Rum..." Larry langsung menjawab telepon Rumi.


"Susah sekali hubungi kamu Leyi." keluh Rumi.


"Oh lagi online tadi." jawab Larry apa adanya.


"Aku ganggu ya Leyi?" tanya Rumi.


"Tidak, kan sudah selesai onlinenya."


"Leyi katanya mau jadi temanku, tapi kamu seperti menghindar deh." kata Rumi lagi.


"Masa? menghindar kenapa?"


"Kalau aku telepon jarang mau angkat. Kalau aku chat mau apa baru angkat." lirih suara Rumi terdengar.


"Sekarang diangkat Yumi." kata Larry tirukan Balen, Rumi jadi tertawa.


"Ketawa lagi" Larry terkekeh.


"Leyi aku sedang terapi loh, supaya berhenti minum." tanpa diminta Rumi menjelaskan.


"Bagus dong, masih bawa botol ditas?" tanya Larry.


"Bawa tapi isinya infus water, Mami yang bikinkan tiap hari." kata Rumi semangat


"Mami kamu?"


"Iya, istrinya Papi Mario. Aku tinggal dirumah Papi dan Mami sekarang, jadi anak mereka." Rumi terdengar bahagia punya Mami dan Papi.


"Aku ikut senang ya Rum." kata Larry tulus.


"Kapan-kapan antari aku terapi dong." pinta Rumi, pasti akan menyenangkan jika Larry menemaninya.


"Hmm..." Larry tampak berpikir.


"Tidak usah deh kalau tidak mau." kata Rumi merasa ditolak.


"Aku lihat sikon ya, kalau temani kamu rasanya tidak mungkin Rum. Papaku bisa tanya detail kenapa aku ada disana." Larry menjelaskan, bagaimanapun Papanya punya banyak mata yang mengawasi Larry dan adik-adiknya.


"Takut nama kamu jelek ya?"


"Bukan, takut salah sangka saja. Kalau jemput Dan kamu tunggu di Lobby masih memungkinkan, itupun harus lihat jadwalku dulu. Sekarang kami juga bekerja di Warung Elite." kata Larry menjelaskan.


"Oh ya sudah tidak apa, jangan malas angkat telepon dong. Memang tidak mau tahu kabar aku ya." kata Rumi manja. Larry tertawa saja mendengarnya.


"Leyi..." panggil Rumi.


"Hmm..."


"Janji ya jangan malas angkat teleponku, aku cuma punya teman kamu saja." kata Rumi jujur.


"Loh kan ada teman kantormu."


"Maksudku yang dekat hanya kamu saja, bisa cerita begini hanya dengan kamu saja." kata Rumi lagi.


"Oh Oke."


"Tapi kamunya sombong ya ternyata." kata Rumi lagi.


"Sombong bagaimana?"


"Seperti menjaga jarak, sejak pulang dari S'pore." kata Rumi keluarkan apa yang ia rasakan.


"Yumi, kita memang baru kenal kan saat di S'pore, baru beberapa hari kalau tidak salah." kata Larry ingatkan Rumi.


"Kan aku sudah minta kamu jadi temanku malam itu." kata Rumi setengah menuntut.


"Iya kan memang sekarang berteman." tegas Larry.


"Tapi aku mau lebih dekat lagi." Ih Rumi apa adanya, jujur sekali.


"Sedekat apa?" tanya Larry ingin tahu.


"Dekat tanpa jarak Leyi, sedekat mungkin." Rumi sampaikan keinginannya. Larry diam tidak menjawab.


"Bagaimana Leyi?" desak Rumi.


"Berteman ya berteman saja, kalau soal dekat, hmmm... semua butuh proses kan. Belum tentu kamu senang berteman denganku setelah tahu aku yang sebenarnya." jawab Larry.


"Kamu yang sebenarnya bagaimana Leyi, aku mau tahu."


"Berteman saja secara alami nanti juga tahu sendiri, jangan terlalu dipaksakan." Larry terkekeh.


"Rum, sudah dulu ya ada telepon masuk." kata Leyi lagi apa adanya. Rumi pun matikan sambungan teleponnya dengan perasaan campur aduk, diotak Rumi saat ini hanya Leyi saja.