
Efek panggil sayang membuat Dania menjadi gadis yang pemalu. Ia tidak lagi sering menghubungi Nanta. Sesekali saja jika ada perlunya. Seperti siang ini, tiga hari dari panggil sayang, Dania menghubungi Nanta yang ternyata masih di kampus.
"Mas Nanta..."
"Dania apa kabar? sudah tiga hari loh kamu menghilang." kata Nanta bercandai Dania, padahal mereka masih bertukar kabar tiap hari, tapi Nanta saja yang memulai, bukan Dania.
"Hihi apa sih Mas Nanta. Ke kantor Papa yuk." ajak Dania pada Nanta.
"Sudah janjian? kamu tanya dulu Papamu sibuk tidak?"
"Sudah, hari ini Papa standby dikantor kok, Kan Papon sedang ke Semarang ya." kata Dania terdengar riang. Mungkin karena akan bertemu Papanya.
"Iya, tapi nanti sore sudah di Jakarta lagi. Kamu dimana?" tanya Nanta berjalan memasuki mobilnya, tempat kesenangan Nanta menerima telepon itu didalam mobil, lebih santai dan tidak ada yang mencuri dengar pembicaraannya.
"Di hatimu hehehe..." Dania terkekeh.
"Hmm mulai, nanti menghilang lagi seperti sehabis bilang sayang." Nanta terkekeh, ia awalnya bingung saat Dania tidak menghubunginya sama sekali, setelah Ando bilang kalau Dania mati gaya karena keceplosan bilang sayang, barulah Nanta mengerti dan ia saja akhirnya yang menghubungi Dania.
"Pasti Wilma deh yang kasih tahu." sungut Dania.
"Siapa lagi? kalian kan sekarang sangat akrab."
"Payah nih Wilma." dengus Dania kesal, Nanta terkekeh jadinya. Padahal bukan Wilma yang bilang pada Nanta, biar saja Nanta sudah lama tidak mendengar suara kaleng rombengnya.
"Mas Nanta, aku dikampus. Jam berapa bisa ke kantor Papa? aku sih sudah tidak ada mata kuliah." kata Dania akhirnya.
"Aku juga sudah free, sekarang saja yuk, mau langsung atau makan dulu?"
"Langsung saja." jawab Dania, setelah ditentukan dimana mereka akan bertemu, Dania menutup sambungan teleponnya.
Nanta meminta Dania menunggu di pintu keluar kampusnya saja yang bersebelahan dengan pintu masuk kampus Dania, jadi begitu Mobil Nanta lewat ia bisa langsung naik dan tidak capek juga berjalan ke parkiran.
Mereka akan menemui Om Micko di kantor, yang ternyata kenapa harus bersama Nanta? karena Om Micko ingin mendengar langsung cerita Nanta dan Dania saat menghubungi Maya mantan istrinya.
Padahal kemarin-kemarin Kenan sudah menceritakan pada Micko, Dania pun sudah lapor pada Papa, tetap saja kurang puas kalau bukan Nanta langsung yang bercerita, sekalian Micko merindukan anak gadisnya.
Untuk pertama kalinya, mereka berdua duduk dalam satu mobil, setelah Nanta memutuskan untuk mendekatkan diri dengan Mama Dania. Dania tampak canggung, sementara Nanta biasa saja. Hanya bingung saja kenapa Dania jadi canggung, kan di luar negeri juga pergaulannya jauh lebih bebas dari disini.
"Mas Nanta sudah cerita sama Mamon dan Papon hasil pembicaraan dengan Mamaku?" tanya Dania memecahkan kesunyian diantara mereka, Nanta juga tidak menyalakan musik tadi, jadi semakin hening saja.
"Sudah." jawab Nanta sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana tanggapannya? kesal ya." Dania menduga-duga.
"Mamon sih yang sedikit emosi tapi sekarang sudah reda. Kalau Papa santai saja, namanya orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, jadi wajar saja, Papa bilang begitu." Nanta menjelaskan. Dania boleh menarik nafas lega, Keluarga Nanta tidak menjadikan itu masalah.
Handphone Nanta berdering, Mamon menghubunginya.
"Ya Mamonku..."
"Kamu dimana Nanta, kok belum pulang?"
"Aku dijalan mau kekantor Papa bertemu Om Micko."
"Sama Dania?"
"Iya."
"Baru saja aku mau titip belikan jajanan kampus." kata Nona kecewa.
"Oh, nanti aku lewat kampus lagi kok. Mau dibelikan berapa bungkus?" tanya Nanta.
"Satu saja Nanta, kalau banyak nanti Papa marah lagi." Nona terkekeh, banyak atau sedikit kalau Kenan tahu pasti Marah, menurut Kenan jajanan itu tidak sehat, tapi Nona selalu terbayang dan mau terus.
"Oke Mamon, ada pesan tidak untuk Om Micko?" tanya Nanta pada Nona.
"Tidak ada, kamu hati-hati ya, Ingat kalian belum halal jangan kelamaan berduaan." pesan Nona pada Nanta.
"Hahaha Mamon, memang aku bisa apa?"
"Iya Aku hanya menyampaikan kekhawatiran Oma. Memangnya kamu tidak gemas lihat Dania, kalau sudah gemas bisa mau cium loh." kata Nona polos, ah kalau dibilang begitu malah bikin Nanta kepikiran dan melihat bibir Dania, benar ternyata bikin pengen cium, batin Nanta.
"Nan, mengerti kan maksud Mamon?" tanya Nona.
"Doakan ya Mamon." katanya lagi sambil tertawa.
"Tuh kan berimajinasi." sungut Nona.
"Karena ada yang memancing jadilah kepikiran." kata Nanta terbahak, menggoda Nona.
"Nanta awas ya, hajar loh." Kata Nona dari seberang. Makin tertawa saja Nanta.
"Hahaha iya Mamon, nanti kubelikan dua bungkus deh." bujuk Nanta pada Nona.
"Eh... Jangan Nanta, tidak usah dibelikan." Nona berubah pikiran rupanya.
"Kenapa Mamon?" tanya Nanta bingung.
"Papamu sudah dibandara, ah duluan Papa sampai rumah kan, mana bisa aku makan." kata Nona membuat Nanta terbahak.
"Minta restu dulu dong Mamon, biar Papa ijinkan, jadi Mamon makannya enak, sehat juga jadinya."
"Harus begitu sepertinya, ok kamu hati-hati."
Nanta mulai memasuki arena perparkiran gedung kantor Papa. Sambungan telepon pun sudah dimatikan Nona ketika Nanta bilang sudah sampai kantor Papa.
"Assalamualaikum..." sapa Nanta saat melihat Om Micko.
"Waalaikumusalaam, kok baru sampai?" tanya Micko yang rupanya tidak sabar menunggu kehadiran keduanya.
"Memangnya harus sampai jam berapa, kita belum makan siang loh Om, masih terlambat juga ya?"
"Bukan itu, justru Om mau ajak kalian makan siang bersama, ayo." Micko terbahak dan mengajak keduanya masuk, Mata Dania menyapu seluruh isi ruangan, masih seperti dulu, batin Dania.
"Kenapa?" tanya Nanta pada Dania yang masih melamun, tapi pandangannya kosong.
"Tidak." jawab Dania beringsut menggandeng tangan Nanta tanpa sadar.
"Panik lagi? rileks bisa kan?" tanya Nanta pada Dania, gadis cantik itu pun menggelengkan kepalanya, keringat mengalir deras di wajahnya. Nanta jadi khawatir dibuatnya.
"Om..." panggil Nanta pada Om Micko yang berjalan lebih dulu. Micko menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, dilihatnya posisi Dania yang menggandeng Nanta dengan keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya. Pucat sekali.
"Nanta kita ke rumah sakit." kata Micko segera meraih tubuh anak gadisnya, segera digendongnya ala bridal. Dania terkulai lemah dalam gendongan Papanya, tapi segera kembali sadar.
"Papa, tidak usah ke rumah sakit." pinta Dania pada Micko, ia sudah mulai sadar dan bisa melihat wajah Papa yang tampak panik.
"Tidak bisa dibiarkan begini terus sayang." kata Micko menghentikan langkahnya.
"Tidurkan saja sebentar disofa, nanti akan kembali normal." kata Dania pada Papanya. Micko pun menuruti keinginan Dania, kembali keruangannya dan menidurkan Dania di sofa. Kemudian beranjak membuat Teh agar Dania lebih rileks.
"Kenapa bisa begini?" tanya Micko.
"Aku ingat dulu waktu Papa suka ajak aku ke kantor, tiba-tiba rasanya sakit sekali disini." kata Dania menunjuk dadanya.
"Maafkan Papa, apa sering begini? ini tidak bisa dibiarkan, harus diobati sayang." Micko mengulurkan secangkir teh manis yang baru dibuatnya pada Dania. Dania pun bangun dari tidurnya merubah posisinya jadi duduk nyaman. Menyesal teh seteguk dan meletakkannya dimeja.
"Terapi saja, Pa. Sewaktu di London aku di terapi tapi belum tuntas." Dania menghela nafas.
"Nanti Papa cari ahlinya yang bisa mengobati kamu. Apa yang bikin kamu trauma sayang, perpisahan Papa dan Mama kah?" tanya Micko memandang Dania lembut. Dania langsung saja memeluk Micko lalu menangis.
Nanta menarik nafas panjang, perpisahan orang tua itu memang bikin anak ikut merasakan patah hati yang luar biasa, Ada sesuatu yang hilang direlung hati, Nanta bisa merasakan apa yang Dania rasakan. Mungkin hati kecil Dania belum bisa menerima itu sampai sekarang. Apalagi ia harus mengalami hal yang tidak menyenangkan dengan suami baru Mamanya.
"Sayang, itu sudah jalan hidup Papa dan Mama. Sekarang semua bahagia dengan keluarga masing-masing. Kamu juga harus ikut bahagia sayang." Micko mengusap lembut bahu anaknya.
"Kamu harus bahagia, sekarang kamu punya Nanta kan?" bisik Micko menggoda Dania, biar lupa dengan rasa sedihnya. Dikecupnya pucuk kepala Dania, kalau bisa memilih dulu juga Micko tidak pernah mau rumah tangganya berantakan. Tapi Micko tidak pernah menyesali itu, semua sudah terjadi.
"Nanta ini kok calon istrinya cengeng begini ya?" kata Micko terkekeh sambil mengusap rambut Dania.
"Papa." rengek Tania menyembunyikan wajahnya dibahu Micko. Ia jadi malu sama Nanta yang ikut tertawa melihat Dania, Gadis yang katanya mandiri tapi ternyata manjanya luar biasa.
"Kamu tuh selama ini mandiri karena keadaan rupanya ya, ternyata manjanya maksimal." kata Nanta membuat Dania melepaskan pelukannya pada Papanya, beralih memonyongkan bibirnya pada Nanta.
"Anak Papa ya kamu ternyata." Nanta bersedekap menggelengkan kepalanya. Micko dan Dania tertawa dibuatnya. Di London memeluk Papa seperti barusan itu yang selalu Dania rindukan.
"Jadi kapan kalian menikah?" tanya Micko seketika, ia tidak mau berlama-lama melihat kondisi Dania seperti sekarang, harus ada Nanta yang selalu mendampinginya dan tahu betul bagaimana cara membuat gadis kecilnya tertawa lepas.