I Love You Too

I Love You Too
Monopoli



Setelah sholat shubuh tanpa menunggu sarapan bersama, Dania dan Nanta segera kembali kerumah Papa Kenan bersama dengan Winner dan Lucky. Pastilah Balen bertambah senang karena kedua adik Dania sangat dekat dengan Balen.


"Kalian mau sarapan apa?" tanya Nanta pada kedua adik iparnya.


"Nanti saja dirumah Mamon." kata Winner yang sangat yakin Mamon pasti masak.


"Nanti tidak masak bagaimana?" tanya Nanta.


"Baru kita pikirkan kalau memang tidak ada makanan." jawab Lucky santai, pikirnya yang penting bertemu Mamon dan ikut berenang, yang bikin menarik bukan berenangnya, tapi dilatih oleh sahabat Nanta yang memang terkenal jago berenang. Boleh dikatakan Larry atlet jenius, dia tinggal pilih cabang olah raga mana yang akan dia ikuti sebagai anggota Tim Nasional.


"Aban..." sambut Balen saat mereka berempat memasuki rumah, Balen tampak baru bangun tidur dengan botol susu ditangannya.


"Kamu masih ngedot ya?" tanya Winner tertawakan Balen.


"Iya." jawabnya malu-malu.


"Abang kira sudah besar, minum susu pakai gelas, eh masih pakai botol juga." Lucky ikutan menggoda Balen.


"Talo bobo aja tok." jawab Balen membela diri. Dania dan Nanta senyum-senyum saja.


"Aban napain tesini?" tanyanya bingung, biasanya Lucky belajar Piano hari biasa.


"Mau berenang juga." kata Lucky tersenyum.


"Oh mo beajal sama Aban Leyi ya?" tanyanya seperti orang besar, duduk disofa dengan piyama kebesarannya dengan posisi duduk tidak karuan.


"Iya, boleh kan?" Lucky meminta ijin.


"Boeh." jawab Balen terkekeh.


"Mamon mana?" tanya Nanta pada adiknya itu.


"Ada tuh." jawabnya menunjuk dapur.


"Masak?" tanya Nanta.


"Ndak tau." jawabnya malas-malasan. Nanta menghampiri Mamon didapur ternyata Dania sudah ke dapur lebih dulu menghampiri Mamon.


"Mamon..." sapa Nanta pada Ibu sambungnya.


"Ada Winner sama Lucky ya? ajak sarapan Nan." katanya pada Nanta.


"Mamon bikin apa?" tanya Nanta.


"Sukun goreng untung cemilan kalian nanti." jawab Nona menunjuk sukun yang sudah tergoreng sebagian.


"Dimeja makan ada Bihun goreng seafood sama bubur ayam. Ada Roti juga, ajak adikmu makan Dan, Nih bawa sukunnya." perintahnya pada Dania. Dania menuruti memanggil adiknya untuk segera bergabung dimeja makan setelah meletakkan semangkok sukun.


Mamon aku mau belajar masak dong." kata Dania pada Nona membuat Nanta tertawa dan mengacak anak rambut istrinya. Benar-benar dimasuki kehati bercandaan Nanta kemarin.


"Mamon aku makan ya." kata Lucky tanpa malu segera mengambil piring. Ia sudah biasa makan dirumah Kenan.


"Makanlah jangan malu-malu." kata Nona pada Lucky dan Winner.


"Hari ini rencana masak apa Mamon?" tanya Dania tanpa menghiraukan suaminya.


"Gurame balado sama cah kangkung tambah soto ayam. Maklum Balen kalau tidak berkuah tidak mau makan." kata Nona sambil sibuk mondar-mandir.


"Nanti aku ikut bantu dan ajari masak ya." pinta Dania.


"Memang Nanta suruh kamu belajar masak?" tanya Nona pada Dania.


"Tidak." jawab Dania tersenyum.


"Dia tersinggung waktu aku bahas soal masak kemarin Mamon, langsung saja mau belajar masak." adu Nanta sambil mengalungkan tangannya dileher istrinya dari belakang.


"Tidak tersinggung, hanya kepikiran." jawab Dania apa adanya, Nanta kembali tertawa.


"Nanti kalau Dania belajar masak kamu jangan disini Nan." kata Nona pada Nanta


"Iya aku kan di kolam menemani Balen." Nanti melepaskan pelukannya dan ikut duduk di meja makan.


"Mamon sukunnya goreng banyak dong." pinta Winner pada Nona.


"Kenapa... loh sudah habis satu mangkok." Nona terbahak karena sukun yang dibawa Dania ke meja makan tadi sudah ludes dimakan Lucky dan Winner.


"Tidak pernah masak sukun dirumah, mau beli juga jarang ada yang jual." kata Winner memandang Nanta yang tertawakan ia dan adiknya.


"Iya, aku senang kok kalian makannya banyak." jawab Nanta tersenyum.


"Papa mana Mamon?" tanya Nanta mencari keberadaan Papanya.


"Jalan pagi sama Richi dan Ayah." jawab Nona.


"Ayah sarapan disini kah?' tanya Nanta lagi.


"Sepertinya sih iya, Bunda juga mau kesini."


"Yah kita sudah sarapan duluan, bagaimana ini?" Lucky panik sendiri, tidak enak hati yang lain belum sarapan.


"Tidak apa, Papa hanya sarapan buah potong dan jus, Ayah paling makan sekedarnya, Bunda juga begitu." Nanta menenangkan Lucky.


"Kamu tidak sarapan?" tanya Nanta pada Dania.


"Mau, tapi bingung mau makan apa." jawab Dania memandang makanan di hadapannya.


"Aku sendoki, mau Bubur?" tanya Nanta, Dania menggelengkan kepalanya.


"Bihun?" kembali Dania gelengkan kepalanya.


"Kalau rewel begini, makan buah saja dulu ya." Nanta segera membuka kulkas mencari stok buah, ada apel, mangga dan buah Pir. Dipotongnya ketiga buah itu lalu dibawa kemeja makan lengkap dengan garpunya.


"Makan." perintahnya pada Dania. Dania menuruti mulai menikmati buahnya perlahan.


"Nanti kalau punya istri aku harus seperti ini juga ya?" tanya Winner pada Nanta.


"Kalau kamu mau." jawab Nanta terkekeh, Nona ikut tertawa mendengarnya.


"Memangnya kamu sudah mau menikah." Nona menggoda Winner.


"Tidak tahu, bagaimana Papa saja Nanti. Abang saja dipaksa menikah padahal masih kuliah." adu Winner pada Nona.


"Iya tuh Papa kamu sih paling-paling deh, tapi Abangnya suka tuh dipaksa." kata Nona tertawakan Nanta. Dania jadi ikut tertawa.


"Kalau aku menikah seusia Abang berarti empat tahun lagi." kata Winner menghitung waktu.


"Siapa yang mau menikah empat tahun lagi?" tanya Reza tertawa memandang Winner, ia sedang menggendong Richi sementara Kenan mengikuti dibelakangnya.


"Aku Ayah." jawab Winner polos.


"Sudah ada jodohnya kah?" tanya Kenan cengar-cengir.


"Belum, tapi kan Papa suka memaksa menikah, seperti Abang dan Kak Dania." kata Winner lagi, sementara Lucky sibuk dengan makanannya.


"Kalau mereka memang harus cepat menikah, karena ada alasannya. Tapi tidak tahu kalau kamu nanti alasannya apa lagi." kata Kenan menepuk bahu Winner.


"Kemarin Papa tidak suruh menikah, suruhnya kita kuliah yang benar supaya bisa urus perusahaan Oma." sahut Lucky yang baru saja selesai makan.


"Wah kalian harus belajar yang benar itu, perusahaan Oma itu perusahaan besar." kata Reza pada keduanya.


"Tapi nanti Abang juga disuruh ikut bantu kan." Lucky menunjuk Nanta.


"Waduh, iya Boy?" Reza langsung saja khawatir.


"Tidak sekarang, Bang. Tenang saja." Kenan terkekeh melihat kepanikan Reza.


"Pokoknya Nanta fokus di Warung Elite dulu ya. Jangan pikirkan perusahaan Oma ataupun Perusahaan Syahputra." pesan Reza pada Nanta.


"Iya Ayah." jawab Nanta menurut.


"Di Monopoli kamu Boy." Kenan mengacak anak rambut Nanta.


"Sama seperti kamu Monopoli Raymond." Reza terkekeh.


"Ichi ayo cepat besar Nak, nanti mau bantu Ayah atau Papa?" tanya Reza menciumi Richi yang tertawa senang.


"Anakku masih bayi Bang, minum susu dulu saja jangan pikirkan perusahaan." kata Nona membuat semuanya terbahak.