I Love You Too

I Love You Too
Bercanda



"Papa sudah tahu, Oma?" tanya Dania pada Oma Misha ketika Om Misha menghubunginya via telepon, menyampaikan jika mereka jadi berkumpul di rumah Kakek Suryadi esok hari sabtu. Mike yang mengusulkan kumpul hari sabtu pada keluarganya karena minggu akan mengajari Richi berenang.


"Sudah." jawab Oma Misha singkat padat dan jelas.


"Ok Oma."


"Kamu menginap saja disini." pinta Oma pada cucunya supaya besok bisa langsung berangkat bersama.


"Mas Nanta masih latihan basket Oma." jawab Dania, karena memang suaminya sore ini sudah berangkat ke GBK.


"Apa tidak bisa dihubungi supaya nanti pulangnya langsung kesini, kamu dijemput Tomson sekarang." Oma Misha setengah mendesak. Bisa saja Dania Kirim pesan hanya saja Dania khawatir jika suaminya punya rencana lain setelah Basket.


Aku coba hubungi ya Oma, biasanya tidak pegang handphone." bagaimanapun Dania menuruti Oma menghubungi Nanta melalui handphonenya. Lama tidak diangkat, setelah beberapa kali baru teleponnya dijawab.


"Ya Dan." Jawab Nanta dengan nafas terengah.


"Kok bisa angkat telepon." Dania tersenyum lebar.


"Baru saja istirahat." jawab Nanta masih mengatur nafasnya.


"Besok jadi ya, barusan Oma telepon."


"Oh jadi ikut ya." Nanta terkekeh.


"Hu uh."


"Tadi Mike juga bilang sih acaranya besok, cuma aku pikir Oma tidak jadi bergabung." kata Nanta pada istrinya panjang setelah nafasnya teratur.


"Jadi kok, kita diminta menginap dirumah Papa malam ini." lapor Dania pada suaminya.


"Ya sudah." jawab Nanta setuju.


"Mas Nanta langsung kerumah Papa ya, aku dijemput Tomson, bagaimana?" Dania minta pendapat suaminya.


"Kamu tunggu dirumah saja, nanti kita berangkat bersama." tegas Nanta pada istrinya, tidak mau Dania berangkat lebih dulu dijemput Tomson.


"Iya." jawab Dania menurut.


"Aku latihan lagi ya." ijin Nanta pada Dania.


"Iya." jawab Dania lagi.


"Iya-iya." Nanta terkekeh menggoda istrinya.


"Hehe... pulangnya jangan lama-lama." pinta Dania pada suaminya.


"Iya." gantian saja Nanta yang bilang iya dengan nada seperti Dania. Keduanya tertawa bersama sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Setelah menutup sambungan telepon dari suaminya, Dania segera menghubungi Oma, menginformasikan jika nanti ia akan bersama Nanta kerumah Papa, jadi tidak perlu dijemput Tomson.


"Betul ya kalian menginap." Oma Misha seperti anak kecil yang takut dibohongi saja.


"Ih Oma, seperti kita suka bohong saja." Dania terkekeh.


"Bukan begitu, Oma hanya takut Nanta setelah latihan capek terus ketiduran, bisa saja setelah itu kamu bilang tidak jadi menginap karena suamimu kelelahan."


"Itu sih pemikiran Oma, tenang saja nanti kami kesana kok, semalam apapun pasti kesana Oma, jadi Oma tidak usah menunggu kalau mengantuk tidur saja." pesan Dania pada Oma Misha.


"Jangan malam-malam dong, usahakan makan malam disini ya." pesan Oma Misha pada cucunya.


"Tidak janji ya Oma, perkiraan aku Mas Nanta sampai dirumah itu sekitar jam delapan. Sudah lewat jam makan malamnya Oma." Dania menjelaskan kebiasaan suaminya.


"Padahal Oma hari ini masak kesukaan Nanta loh, kan Oma Nina sudah kasih tahu Oma makanan apa saja yang disukai suamimu." Oma Misha sedikit kecewa.


"Nanti kita makan deh Oma, walau terlambat." Dania tersenyum, Oma begitu ingin menyenangkan cucu-cucuya.


"Oma sayang, makasih ya." kata Dania sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


"Iya sayang." suara Oma terdengar sangat menyejukkan hati.


Sementara di lapangan Basket, Nanta yang sudah selesai latihan bersiap untuk segera pulang, mengingat pesan istrinya tadi pulangnya jangan lama-lama.


"Jangan lupa besok," Mike mengingatkan


"Dress code nya denim." lanjutnya lagi.


"Acara apa sih pakai dress code?" Nanta mengernyitkan dahinya.


"Biasa kalau kumpul suka begitu, pakai dress code. Biar di foto enak dilihat." Mike terkekeh mengingat kebiasaan keluarganya.


"Tadi Dania tidak bilang." Nanta ikut terkekeh.


"Karena kita tidak tahu, ya kalian sajalah yang pakai dress code." kata Nanta tersenyum.


"Eh gue sudah sampaikan ya, besok kalau di protes Mama, gue tunjuk elu." kata Mike galak.


"Ck... Iya." Nanta berdecak malas.


"Ayo Mike." ajaknya pada Mike, hanya ia dan Mike dari group kwartet yang tergabung dalam satu club, sementara Doni dan Alex dari club yang berbeda. Mike segera mengikuti langkah Nanta keluar dari ruang ganti menuju ke parkiran, sambil saling sapa dengan temannya yang lain.


"Setelah ini kemana?" tanya Nanta pada sahabatnya itu.


"Ke rumah Seiqa." Mike cengengesan.


"Eh, sudah kerumahnya saja." Nanta jadi cengar-cengir.


"Baru pertama kali ini." jawab Mike dengan wajah sumringah.


"Pakai baju ini?" tanya Nanta bingung melihat gaya Mike yang sangat santai, celana sedengkul dan kaos berkerah, tetap terlihat keren sih, mengingat badan mereka sudah terbentuk karena rajin olah raga.


"Memangnya mau pakai baju apa?" tanya Mike memonyongkan bibirnya.


"Seperti orang-orang dong, perlente." Nanta terkekeh.


"Ish gue mau seperti Nanta, apa adanya." jawab Mike membuat Nanta terbahak.


"Tidak mau seperti Larry ya perlente tapi cepat putus." sambung Mike lagi. Mereka berdua terbahak.


"Bagaimana hasil dari Cirebon?" tanya Nanta ingin tahu, ish mereka bergosip juga rupanya.


"Kocak hahaha." Mike tertawa sendiri.


"Apa sih?" Nanta bingung.


"Hari minggu biar Larry saja yang cerita." Mike terbahak.


"Kenapa?"


"Jadi sepertinya Larry mau dekati Femi tapi yang dekati Larry malah temannya yang satu lagi." Mike tertawakan Larry.


"Femi yang mana?" tanya Nanta.


"Yang bisa beenang." jawab Mike meniru gaya Balen, Nanta tertawa jadinya.


Tidak lagi membahas detail, menunggu cerita Larry saja.


"Mike...!" teriak Nanta begitu melajukan kendaraannya dan Mike baru saja akan memasuki mobilnya. Ia menoleh pada Nanta tidak jadi masuk mobil.


"Sukses." kata Nanta lagi mendukung sahabatnya.


"Aamiin, tidak sabar ini bisa meniru Aban." kata Mike terkekeh sambil melambaikan tangannya dan langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu kalimat lain dari Nanta.


"Kamu sudah rapi?" tanya Nanta begitu sampai dirumah, tampak Dania sudah siap dengan tas gembolan khas miliknya yang selalu dibawa kalau mau menginap, isinya baju dan perlengkapan lain milik suaminya.


"Sudah dong." jawab Dania tersenyum.


"Sudah bilang Papa dan Mamon?" tanya Nanta lagi, keduanya tidak terlihat mungkin berada dikamar.


"Jangan khawatir, tadi Oma langsung bicara sama Mamon." jawab istrinya.


"Bilang apa?"


"Oma masak makanan kesukaan kamu, hasil survey sama Oma Nina dan langsung saja pamer sama Mamon." Dania terkekeh.


"Duh jadi terharu." kata Nanta jujur.


"Begitu saja terharu." Dania terkekeh.


"Terharu dong, Oma mestinya tidak perlu repot begitu mau bikin senang aku dan seharusnya yang repot masakin aku tuh kamu loh." kata Nanta pada istrinya.


"Aku kan tidak bisa masak." Dania langsung tidak enak hati.


"Yah Oma saja bisa usaha sampai tanya Oma Nina, masa kamu tidak bisa." kata Nanta menggoda istrinya, ia tidak sungguh-sungguh ingin dimasaki oleh Dania, beli jadi saja tidak masalah.


"Ya sudah nanti aku belajar masak deh sama Oma." kata Dania memonyongkan bibirnya.


"Hehehe tidak usah, aku cuma bercanda." Nanta terkekeh mengecup dahi istrinya.


"Aku sudah masuki hati, Mas Nanta enak saja bercanda tapi bikin aku kepikiran." Omel Dania.


"Iya maaf, aku tadi iseng saja, mau siapapun yang masak aku makan deh, tukang pecel lele yang masak juga aku makan." kata Nanta mencubit pipi istrinya gemas.