I Love You Too

I Love You Too
Sedikit Masalah



"Papa yang mau aku berhenti bekerja ya?" tanya Nona pada Baron, Baron melirik Kenan yang tersenyum sedikit pada Baron.


"Iya." jawab Baron akhirnya.


"Dulu suka marah kalau aku tidak ke kantor." protes Nona mencebikkan mulutnya.


"Dulu kamu belum menikah, sekarang sudah ada Kenan yang harus kamu perhatikan dan nanti juga ada anak-anak kalian."


"Siapa yang menggantikan aku di kantor, jika aku berhenti?" tanya Nona pada Papa.


"Nanti biar Papa yang urus, kamu santai saja." kata Baron tidak mau Nona ikut memikirkan. Lagi pula selama ini sebelum kenal Kenan juga Nona masuk sesuka hati, ia lebih sering bekerja dari rumah.


"Kalau Papa pensiun siapa yang urus perusahaan?" Nona menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.


"Ada Kenan." jawab Baron menunjuk Kenan dengan dagunya.


"Saya?" Kenan mengerutkan dahinya, enak sekali tiba-tiba Baron menunjuk dirinya untuk mengurus perusahaan Baron nanti.


"Iya kamu Ken, siapa lagi? Deni dan Samuel mengurus Rumah Sakit di Cirebon, masa tidak mau bantu mertua sih." jawab Baron tersenyum tanpa beban. Kenan mencebikkan mulutnya.


"Atur atur lah Papa Tua." jawab Kenan karena Baron sudah bawa-bawa kata mertua. Baron dan Mita tertawa dibuatnya.


"Tadi aku juga minta Mas Kenan bantu usaha aku sama Kevin, tapi belun bilang iya tuh." protes Nona pada Kenan sekalian mengadu pada Papanya.


"Nah, bagaimana tuh Bang? Nona ternyata sudah setor modal lumayan besar, dibalik layar seharusnya boleh ya Bang?" ijin Kenan pada Baron.


"Kamu saja yang urus, Ken." jawab Baron memandang Kenan.


"Rencana saya mau minta Bagus yang bantu." Kenan menceritakan usaha yang sedang dirintis Nona dan Kevin, juga pengalaman Bagus saat kuliah hingga sekarang.


"Ya sudah kamu lebih tahu, yang penting Nona jangan terlibat." kata Baron didepan Nona.


"Papa, segitunya?" tanya Nona.


"Iya, kamu jangan terlibat, biarkan Kevin dan Kenan saja." kata Baron memutuskan.


Setelah dirasa cukup malam, Baron meminta anak dan menantunya untuk beristirahat, karena ia dan Mita pun sudah mengantuk.


"Papa tuh sayang betul sama Mas Kenan." kata Nona dengan wajah memberengut saat mereka berada di kamar. Kenan yang sedang duduk dipinggir tempat tidur meraih pinggang Nona yang baru selesai hilir mudik berganti pakaian, membersihkan wajah dan juga memakai krim malam.


"Memang anak gadisnya tidak sayang sama saya?" tanya Kenan mengecup perut Nona yang berdiri dalam pelukannya.


"Ya sayang juga." jawab Nona terkekeh geli karena perutnya diciumi Kenan.


"Tapi ini berlebihan sayangnya Papa sama Mas Kenan." kata Nona yang kini sudah duduk dipangkuan Kenan.


"Masa?"


"Hu uh. Mas Kenan tidak merasa?" tanya Nona menatap suaminya.


"Merasa, kami memang saling sayang." jawab Kenan terkekeh.


"Sepertinya Papa lebih sering menghubungi Mas Kenan dari pada aku dan Deni." kata Nona memainkan alis Kenan, sepertinya jadi hobi baru Nona. Kenan juga tidak protes ketika alisnya dimainkan Nona.


"Mungkin karena selama ini, saya yang selalu mendampingi Papa kalian di Malang." jawab Kenan


"Lagi pula menghubungi kamu ujungnya ribut, kan?"


"Mas Kenan tahu?"


Kenan menganggukkan kepalanya.


"Tapi saya tidak pernah tahu anaknya siapa." jawab Kenan kemudian.


"Saya tahunya, anak Bang Baron suka kabur dari rumah kalau merajuk, ternyata itu kamu?"


"Iya."


"Kalau ribut sama saya, awas saja kalau kabur dari rumah." Kenan mengingatkan ia tidak mau Nona melakukan kebiasaannya, kemarin menghilang ke rooftop saja sudah bikin Kenan pusing.


"Memang kenapa?"


"Teganya, tapi siapa juga yang mau ribut sama Mas Kenan, tadi saja sudah bikin aku pusing." Nona kembali terkekeh mengalungkan tangannya dileher Kenan dan menciumi pipi suaminya, tapi dasar Kenan cepat tanggap langsung saja menyasar ke bibir Nona, selanjutnya? you know lah ya🤭.


Nona terbangun tengah malam saat handphone Kenan berdering tiada henti, sementara Kenan tertidur memeluk Nona dengan pulasnya tanpa terganggu bisingnya suara handphone. Nona melepaskan pelukan Kenan perlahan agar suaminya tidak terbangun.


"Mau kemana?" tanya Kenan dengan suara parau, gerakan Nona membuatnya terbangun juga, ia kembali memeluk Nona tak ingin istrinya menjauh.


"Mau lihat siapa yang menghubungi Mas Kenan tengah malam begini. Dari tadi tidak berhenti bunyinya, mungkin penting."


"Duh saya lupa mematikan handphonenya tadi. Maaf jadi mengganggu tidur kamu." Kenan mengecup Pipi Nona meraih handphonenya dinakas kemudian melihat pada layar.


"Kenapa Ray?" rupanya Raymond yang menghubungi Kenan dini hari.


"Om, ada masalah dengan pengiriman PT. Cipta, kita harus ke Surabaya sekarang supaya shubuh sudah bisa masuk ke pelabuhan." kata Raymond pada Kenan.


"Om siap-siap dulu, kamu jemput Om ke rumah Pak Baron ya." kata Kenan pada Raymond.


"Iya Om, aku sudah dijalan."


Kenan mematikan sambungan teleponnya, segera mandi dan bersiap diri.


"Ada masalah pengiriman PT. Cipta sayang, saya dan Raymond harus ke Surabaya malam ini." kata Kenan pada Nona sambil mengenakan pakaiannya.


"Aku tidak bisa ikut ya?"


"Situasinya tidak memungkinkan. Saya sibuk dipelabuhan pasti seharian ini, lagi pula Papa rindu sama kamu. Kamu tetap mau ikut?"


"Hu uh."


Kenan berpikir keras, bagaimana cara agar Nona tidak ikut ke Surabaya, ia memang sudah menjanjikan pada Nona bahwa ia akan mengajak Nona kemanapun ia bertugas, tapi malam ini situasinya tidak memungkinkan.


"Tidak boleh ikut ya?" tanya Nona pada Kenan.


"Bukan tidak boleh, hanya bingung saja karena saya dan Raymond langsung ke pelabuhan. Saya mikir dulu yah, biar kamu tidak luntang lantung karena tidak ada yang menemani.


"Ajak saja Roma."


"Aih kamu ini, kita bukan piknik." desis Kenan sedikit kesal.


"Ah Mas Kenan tidak tepat janji, padahal tadi pagi bilang kemanapun saya pergi kamu saya ajak." mulai nyerocos dengan mulut dimaju-majukan.


"Ya sudah ayo siap-siap, nanti Raymond keburu datang." Kenan akhirnya mengalah dan segera menghubungi Raymond.


"Sudah dimana Ray?"


"Sebentar lagi sampai, Om."


"Roma dimana?"


"Tau saja ada Roma, aku titip sama Kak Nona ya, biar ada temannya. Besok biar Roma pulang dijemput supir."


"Ajak saja ke Surabaya, Nona juga ikut."


"Eh tidak bawa baju, Om."


"Beli saja, kenapa jadi repot." sedikit sewot efek mendapat tekanan dari istri. Mau tegas tadi sore baru saja baikan, khawatir marah lagi.


"Ok siap Om." malas berdebat tengah malam.


Tak lama Raymond datang, Nona segera mengetuk kamar Papanya. Baron keluar kamar dengan baju awut-awutan, rambut pun begitu, dileher penuh bercak merah, Ish buas sekali, Kenan terkekeh.


"Maaf mengganggu kegiatannya, Saya harus ke Surabaya malam ini juga." kata Kenan cengar-cengir pada Baron.


"Ada masalah?"


"Sedikit, semoga sedikit. Nona saya ajak ya?"


"Iya ajak saja. Hati-hati di jalan ya." kata Baron tidak konsen, segera menutup pintu kamar saat Kenan dan Nona selesai menyalaminya.