I Love You Too

I Love You Too
Inginnya Mama



Kenan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, jalan tidak terlalu macet hari ini. Sesekali melirik kepada Nona, gadis tengil yang menyita perhatiannya. Semalam Kenan tidak bisa tidur nyenyak hanya memikirkan gadis disebelahnya ini.


Minggu lalu Kenan sangat yakin saat bicara pada Baron bahwa ia berfikir logis untuk tidak menerima Nona sebagai istrinya, mengingat usia mereka terpaut cukup jauh, lima belas tahun. Dan Kenan sudah memiliki Nanta yang sebentar lagi akan kuliah.


Tidak terbayangkan jalan hidupnya akan seperti ini, gagal dalam pernikahan itu hal yang biasa, banyak yang mengalaminya. tetapi harus berurusan dengan gadis ini membuatnya dilema antara ingin selalu bersamanya atau ingin melepaskannya agar mendapatkan pria yang lebih pantas mendampinginya, tapi bagaimana jika Nona tidak bahagia? bahkan kebahagian Nona pun kini Kenan fikirkan. Tapi jika dengan Kenan apa Nona akan bahagia? Kenan sibuk dengan perang batinnya.


"Sudah sampai." Nona menghela nafas, sebal juga saling berdiam diri dari rumah hingga lobby kantornya.


"Nanti saya jemput jam berapa?" tanya Kenan pada gadis yang membuatnya kusut pagi ini.


"Terserah." Nona membanting pintu meninggalkan Kenan yang terbengong didalam mobil, kemudian terkekeh setelah menyadari Nona kesal karena didiamkan sedari tadi.


Setibanya dikantor tampak Raymond sedang asik ngobrol dengan Tari, dari kejauhan mereka tampak santai, riang penuh tawa. Bahas apa lagi mereka, batin Kenan.


"Pagi-pagi sudah gosip." ketus Kenan lalu masuk keruangannya, Raymond dan Tari tertawa melihat Kenan yang tampak kusut. Benar kata Kenan pagi ini Raymond dan Tari seru membahas Kenan yang dikerjai Reza tadi malam. Entahlah kalau Kenan tahu, ia akan marah pada Reza atau malah bersyukur? Yang pasti keluarga sangat berusaha demi kebahagiaan Kenan, tapi mereka paham jika Kenan bukan lagi anak kecil yang bisa diatur-atur.


Reza datang ke rumah Mama Nina bersama Kiki. Begitu datang melihat Papa langsung saja Reza cengengesan karena berhasil membawa Kenan pulang malam dengan alasan lembur. Kalau diajak ke cafe tidak mungkin, karena Kenan tahu, Reza tidak suka mampir tanpa membawa istrinya.


"Kamu ya, Kenan tadi pagi-pagi sekali sudah kesini loh." Mama Nina menepuk pundak Reza, bertambah terbahak saja Reza dibuatnya.


"Kasihan Kenan, Ma." Kiki merasa tak tega mendengar cerita Reza semalam.


"Tidak apa, Ki. Ini demi Kenan juga." sahut Papa Dwi sambil terkekeh.


"Jadi bagaimana hasil pembicaraan dengan Bang Baron, Pa?" tanya Reza penasaran.


Pov On


Atas permintaan Mama Nina yang merasa Kenan mulai membuka hatinya pada Nona, maka Papa Dwi dan Mama Nina ingin melamar Nona pada Baron.


"Baron, kamu kapan ada waktu? saya ingin bertemu." Kata Papa Dwi pada Baron melalui sambungan telepon.


"Pak Dwi, saya kerumah Pak Dwi saja, bagaimana? Saya jadi malu belum mengucapkan terima kasih, karena bersedia menampung Nona disana."


"Nah memang saya dan istri ingin membahas Nona dengan Kenan, seharusnya saya yang kerumah kamu, Baron."


"Tidak-tidak, nanti sore Saya saja yang kesana." jawab Baron senang hati, karena Papa Dwi ingin membahas Nona dengan Kenan.


"Baiklah, saya tunggu ya."


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Papa Dwi meminta Reza agar menahan Kenan di kantor, saat mendapat laporan dari Raymond jika tadi pagi Kenan membawa Mobil Nona kekantornya, pasti ia akan mengantar Nona pulang. Papa Dwi tidak mau Kenan mengetahui pertemuan ini.


"Baron, bagaimana kalau kita jodohkan saja Kenan dengan Nona?" pinta Papa Dwi pada Baron.


"Sebelum Pak Dwi punya fikiran begini, saya sudah meminta Kenan agar menikahi Nona, tapi dia menolak. Sudah dua kali loh saya minta." kata Baron menyampaikan pada Papa Dwi.


"Alasannya apa? Saya lihat Kenan konsen sekali pada Nona, Walaupun seminggu kemarin dia tidak menemui Nona, tapi ART saya cukup sibuk meladeni pertanyaan Kenan mengenai keadaan Nona, sedang apa, makan apa, pulang jam berapa, berangkat jam berapa, ah pusinglah pokoknya." kekeh Mama Nina menceritakan kelakuan Kenan seminggu kemarin.


"Sepertinya Kenan tidak nyaman dengan usia yang cukup jauh dan juga statusnya saat ini."


"Tapi dia seperti itu kalau sudah suka sama cewek pasti dijaga betul. Ini sih saya lihat bukan karena kamu menitipkan Nona pada Kenan ya, tapi memang karena Kenan menyukai Nona. Jika tidak suka, Maka Nona tidak akan dibiarkan menginap di rumahnya dan dipindahkan ke Paviliun pribadi Kenan dan Reza." Mama Nina menjelaskan asumsinya.


"Jadi bagaimana, sementara Kenan kemarin sudah menolak, masa saya tawarkan lagi anak gadis saya, kasihan juga kalau ditolak lagi." Baron meminta pendapat Mama Nina dan Papa Dwi.


"Serahkan pada kami ya, tapi kamu setuju kan jika mereka menikah?" Papa Dwi mulai dengan segala idenya.


"Sangat setuju."


"Dengan kondisi Kenan yang seperti sekarang? Anak Saya duda loh, kalau difikir benar juga Kenan, apa Nona tidak terganggu dengan status Kenan?"


"Saya kenal Kenan luar dalam, kenal juga bagaimana watak anak Saya, dia banyak berubah sejak mengenal keluarga ini terlebih pulang dari Jakarta. Saya fikir Kenan, Nanta dan Keluarga ini membawa pengaruh positif untuk Nona, emosinya jauh lebih terkendali saat ini, dulu sangat over acting meminta perhatian Saya dan Abangnya." Baron menjelaskan.


"Apa Nona pernah punya pacar?" tanya Mama Nina.


"Sepertinya tidak, hanya saja Nona pernah dekat dengan seorang pria, tapi saya rasa itu bukan pacarnya."


"Kamu kenal? dimana pria itu sekarang?"


"Kalau tidak salah pindah ke luar negeri, karena tugas kantor. Sepertinya sudah menikah juga. Dulu saya fikir Nona akan menikah dengan dia. Ternyata bukan jodoh."


"Baiklah, jadi aman ya kalau mereka kita jodohkan. Jangan sampai ternyata punya pacar, saya tidak mau merusaknya." kata Mama Nina menarik nafas lega.


"Kita Sholat magrib dulu." ajak Papa Dwi ketika adzan berkumandang. Pembicaraan mengenai Kenan dan Nona pun terhenti sampai disana. Selanjutnya setelah sholat magrib Baron menunggu Nona untuk pamit pulang, berhubung Nona turun menjelang makan malam, Mama Nina meminta Baron untuk ikut makan malam bersama. Cukup lama Baron disana.


Baron melihat Nona sangat bahagia malam ini, pantas saja Nona jarang menghubungi Baron ataupun berteriak kesal pada Baron karena tidak menemuinya, rupanya disini Nona diperlakukan sangat baik seperti memperlakukan anak sendiri. Baron sangat bersyukur melihat kondisi Nona saat ini dan berharap Kenan segera menikahi Nona. Baron sedikit menyeringai, ia seperti mendapat ide bagaimana membuat Kenan mengakui perasaannya pada Nona dan akhirnya bertekuk lutut pada anak gadisnya.


"Jangan pernah katakan pada Kenan kalau kamu sore ini Papa yang antar. Jangan pernah mengaku." bisik Baron setelah pamit pulang dan Nona mengantarkannya hingga ke mobil. Nona mengangguk saja tanpa bertanya, pasti Papa ingin melakukan sesuatu, tapi Nona tidak tahu apa itu. Dasar Baron!


Pov Off.