
Kembali melamun dalam perjalanan pulang mengantar Nanta. Saat Tari dan Bagus menawarkan untuk mampir, Kenan langsung menolak karena hari sudah menjelang malam.
Dalam perjalanan pulang ke rumah Mama Nina, Nona masih memikirkan ucapan Papa yang sangat mengkhawatirkan, ia takut sekali waktu Papa bilang jangan sampai menyesal, memang Papa mau kemana? Nona benar-benar ingin membahagiakan Papa, selama ini sudah sering merepotkan Papa dengan sikap anehnya yang over acting. Nona memandang Kenan yang sedang fokus menyetir.
"Kenapa lihat-lihat." tanya Kenan dengan wajah terus menatap kedepan.
"Idih." Nona memajukan mulutnya beberapa senti, padahal lagi fokus kedepan tapi sadar dilihati wajahnya, pikir Nona.
"Memikirkan apa? tiga bulan kedepan? ada kandidat lain, selain saya?" Kenan memberondong Nona dengan banyak pertanyaan, Nona menarik nafas panjang dibuatnya.
"Apa tidak terlalu cepat, tiga bulan?" tanya Nona.
"Tergantung, kamu menikahnya sama siapa?" kekeh Kenan masih memandang pada jalanan didepannya.
"Kalau sama Mas Kenan?"
"Hitung saja dari awal kita bertemu ditambah tiga bulan kedepan."
"Sembilan bulan."
"Memangnya target kamu berapa lama, kalau tiga bulan menurut kamu terlalu cepat?"
"Entah, kalau jodoh ada yang baru bertemu beberapa jam sudah menikah dan langgeng, ada yang kenal puluhan tahun baru menikah satu bulan sudah pisah."
"Nah itu pintar." Kenan menghentikan kendaraannya pada bahu jalan yang dirasa cukup aman.
"Jadi kamu mau menikah sama siapa tiga bulan ke depan?" tanya Kenan ingin tahu, sebenarnya ingin minta kepastian karena semalam Nona masih bilang pikir-pikir dulu.
"Tidak tahu." jawab Nona bingung.
"Tidak mau menikah sama saya?" tanya Kenan menatap Nona.
"Eh..." jantung Nona kembali berdebar lebih kencang.
"Tidak ada rasa sama saya?" tanya Kenan lagi mendekatkan wajahnya pada Nona, sontak Nona langsung memundurkan wajahnya sedikit menjauh. Matanya mengerjap beberapa kali. Kenan terkekeh dan mengusap wajah Nona dengan telapak tangannya, gemas sekali melihat Nona ketakutan begitu.
"Ya sudah kalau tidak mau." kata Kenan tersenyum tipis dan mulai melajukan kendaraannya.
"Kalau aku tidak mau kenapa? Mas Kenan mau cari yang lain?" ketus Nona terdengar galak. Kenan menaikkan bahunya.
"Ganjen." ketus Nona lagi dengan wajah cemberut.
"Loh..."
"Iya, sudah cium aku semalam malah mau cari cewek lain." dengus Nona kesal. Kenan terbahak melihat ekspresi Nona.
"Kenapa marah? Kamu kan yang tidak mau menikah sama saya. Tadi saya tanya kamu diam saja. Saya tidak mau memaksa. Maaf kalau semalam saya cium kamu, saya kira kamu mau jadi istri saya." Kenan bicara dengan lembut walau sebenarnya cari gara-gara. Ia tahu Nona gampang meledak sedikit saja dipancing.
"Memangnya aku bilang tidak mau? Semalam saja aku bilang maunya diperhatikan dan aku marah Mas Kenan tidak hubungi aku waktu diluar kota. Masih juga tanya aku mau apa tidak. Dasar tidak peka." Nona mengerutkan dahinya.
"Jadi kamu mau jadi istri saya?" Kenan tersenyum menatap Nona, pancingannya berhasil.
"Bodo ah." katanya dengan wajah merona, malu sendiri. Apanya yang romantis, Bang Eja bilang Kenan lebih romantis dari Bang Eja. Uh tidak peka malah iya, Nona merutuki kebodohannya, marah-marah tidak jelas. Kenan terkekeh mengacak anak rambut Nona.
"Mau saya lamar kapan? Mas kawinnya apa? Mau pesta meriah apa sederhana?" banyak sekali pertanyaan Kenan.
"Mas Kenan mau jadi suami aku?"
"Loh malah balik tanya, sikap saya sudah jelas dari semalam." Kenan mencubit pipi Nona gemas.
"Waktunya kapan tanya Papa saja." kata Nona akhirnya.
"Oke."
"Tanya Mama Nina dan Papa Dwi juga."
"Tidak usah, aku mesti kasih tahu Om dan Tante juga, perwakilan keluarga Mama.
"Oke."
"Nanta harus hadir. Jangan bentrok sama jadwal basketnya." kata Nona mengingatkan.
"Oke. Ada lagi?" tanya Kenan pada Nona. Ini apa sih, mengajak nikahnya seperti sedang briefing, keluh Nona dalam hati. Benar-benar tidak romantis.
"Tidak ada." suara Nona terdengar tidak semangat.
"Mau menikah tapi tidak ada senang-senang nya." protes Kenan.
"Mestinya bagaimana biar terlihat senang, aku barusan seperti lagi briefing, Oke, ada lagi?" Nona mengulang kalimat Kenan dengan gayanya. Kenan terbahak dibuatnya.
"Mau nginap di rumah saya?" tanya Kenan menggoda Nona ketika mereka memasuki komplek perumahan.
"Tidak mau, enak saja ajak menginap, halalkan dulu." ketus Nona. Kenan terbahak.
"Ih, mesum. Memangnya saya suruh kamu menginap itu mau apa?" Kenan menjentikkan jarinya kejidat Nona.
"Semalam saja sudah berani cium, Ih sakit jidatku." rengek Nona mengusap dahinya.
"Biar kamu tidak mesum." kekeh Kenan.
"Yang mesum Mas Kenan bukan aku."
"Ish, saya cuma cium sebentar, mesum itu kalau saya tarik kamu kekamar terus..." Nona melempar boneka bantal yang dipeluknya dari tadi ke badan Kenan. Kenan Kembali terbahak melihat wajah Nona yang seperti udang rebus.
"Mulai besok berangkat dan pulang kerja sama saya, ya." pinta Kenan sebelum Nona turun dari mobilnya. Ia tak berniat mampir lagi ke rumah Mama.
"Aku bawa Mobil sendiri." jawab Nona ngeyel.
"Tidak boleh. Kamu mau bebas sama Kevin ya?"
"Bukan begitu, aku tidak mau bergantung sama Mas Kenan."
"Saya calon suami kamu loh." Kenan mengingatkan.
"Belum melamar, sudah bilang calon suami." Nona menjulurkan lidahnya, langsung saja Kenan menarik Nona dan menahan tengkuknya. Aksi Nona barusan membuat Kenan terpancing, kembali mencium Nona. Kali ini bukan sekilas, Nona sampai megap-megap dibuatnya.
"Mas Kenan..." Nona memukul bahu Kenan dengan tangan kanannya, sementara tangan Kiri menahan bungkusan makanan yang siap dibawanya turun untuk Mama Nina.
"Jangan suka mancing-mancing." kata Kenan sambil membersihkan lipstick Nona yang sedikit berantakan karena ulahnya.
"Iih menyebalkan. Ini didepan rumah loh, kalau ada lihat bagaimana?" cerocos Nona panik.
"Biar kamu ingat kalau saya calon suami kamu. Jangan suka ngeyel, besok saya jemput. Kalau tidak, saya akan cium kamu didepan banyak orang." ancam Kenan pada Nona sambil menyeringai jahil.
"Aku bilangin Papa loh, kamu itu ternyata mesum."
"Papamu sudah tahu. Mau bawa Mobil sendiri atau saya jemput?" tanya Kenan lagi.
"Jemput." jawab Nona tegas.
"Tadi saja jual mahal." lagi-lagi Kenan bikin Nona kesal.
"Kalau kamu tidak ancam juga aku maunya bawa Mobil sendiri."
"Kalau bawa Mobil sendiri berarti kamu minta saya cium. Dasar Mesum."
"Ya ampun Mas Kenan. Menyebalkan sekali Papanya Nanta ya." Nona mencubit pipi Kenan dengan kedua tangannya, dan dengan reflek mencium bibir Kenan. Kenan terbelalak dibuatnya.
"Itu Karena Mas Kenan bilang aku mesum." kata Nona buru-buru turun dari Mobil, berlari memasuki rumah sambil kembali merutuki kebodohannya, Kenapa malah gue yang nyosor, batinnya kesal. Kenan menggelengkan kepalanya, jadi tidak sabar menunggu tiga bulan.