I Love You Too

I Love You Too
Menginap



Drrtt...Drrrrtt... Handphone Kenan berdering. Langsung saja Kenan menepuk dahinya, lupa minggu ini harusnya menginap dirumah mertuanya sesuai janji saat setelah menikah.


"Menantu durhaka!" semprot Baron saat Kenan mengangkat teleponnya.


"Ih, Papa kenapa galak begitu?" Kenan terkekeh menanggapi semprotan Baron.


"Tidak tepat janji, saya menunggu kalian dari kemarin, tahu!!!"


"Maaf, maaf. Kemarin Nanta menginap, hari ini saya dan Nona mengantar Opa, Oma dan Nanta ke Bandara." Kenan memberikan alasannya.


"Saya tahu mereka berangkat tadi pagi, setidaknya kamu bisa datang kerumah setelah itu. Kamu pikir bisa menguasai anak Saya, heh?"


"Tunggu saja sekarang, kami kesana malam ini. Menginap malam ini saja bagaimana?" Kenan menawarkan pada Baron.


"Menginap malam ini dan besok malam, Saya tunggu, tidak usah bawa oleh-oleh untuk mertua, kami sudah kenyang." Baron menutup sambungan teleponnya.


"Sayang, siapkan baju untuk besok ke kantor, saya lupa minggu lalu janji menginap di rumah Papa kamu. Kita menginap dua malam." kata Kenan pada Nona yang asik ngobrol dengan Roma dan Raymond. Nona langsung beranjak mengikuti apa yang disuruh Kenan.


"Besok ke kantor tidak, Om?" tanya Raymond pada Om Kenan.


"Iya, mungkin agak siang." kata Kenan pada Raymond.


"Pagi ada meeting sama PT. Cipta loh Om." Raymond mengingatkan.


"Kamu saja yang wakilkan." kata Kenan duduk disebelah keponakannya.


"Bu Melly ingin Om Kenan menjelaskan secara detail."


"Memangnya kamu tidak bisa menjelaskan. Kamu saja, lagi pula Nona tidak suka saya bertemu Melly." kata Kenan pada Raymond.


"Yang waktu itu datang ke pernikahan Om Kenan ya?" tanya Roma yang rupanya juga memperhatikan yang tidak sengaja mendengar Melly mengoceh tentang Kenan pada Jessica. Kenan menganggukkan kepalanya.


"Kalau aku cerita dia bilang apa saat acara, Kak Nona bisa tambah tidak suka." kata Roma lagi.


"Sudah, sudah tidak usah cerita, nanti saya yang pusing lagi." bisik Kenan melihat Nona keluar kamar dengan mini travel bag di tangannya.


"Susah kalau bucin." Raymond menggelengkan kepalanya.


"Ish sayang, aku juga maunya kamu seperti Om Kenan, awas saja kalau meladeni klien yang mengkhawatirkan seperti itu." Roma mulai mengancam.


"Kerja ya kerja saja, mau kliennya bagaimana ya professional saja."


"Ngomong saja gampang, kalau Roma sudah merajuk nanti awas saja kalau tidak professional." ancam Kenan sambil terkekeh mengingat pengalamannya tadi siang.


"Klien apa sih? professional?" tanya Nona ingin tahu.


"Itu kalau bekerja bertemu klien yang genit, bekerja saja secara professional." kata Roma menjelaskan.


"Memangnya Mas Kenan ketemu klien yang genit?" tanya Nona pada Kenan.


"Tidak, ayo sudah malam." ajak Kenan tidak ingin membahas panjang lebar, bisa merajuk lagi nanti.


"Jadi besok datang siang atau pagi?" tanya Raymond memastikan.


"Siang, kan saya sudah bilang pakai tanya lagi." gerutu Kenan mengambil kunci mobil dan memanggil Bi Wasti dan suaminya yang juga bekerja di rumah Kenan.


"Raymond, siapa klien genitnya? Melly?" tanya Nona yang masih curiga.


"Ish kita hanya membahas bekerja secara professional. Kenapa jadi curiga?" kata Raymond segera menarik Roma dan melambaikan tangannya pada Nona. Sebelumnya bantu membukakan pagar terlebih dulu, Nona ikut melambaikan tangan pada keduanya.


Kenan mengendarai mobilnya menuju rumah Baron. Setelah berpesan pada Bi Wasti agar tetap memasak untuk Raymond dan Roma walaupun ia dan istrinya akan menginap selama dua malam.


"Aku lupa bawa rujak serutnya." Kata Nona padahal sudah setengah perjalanan, tidak mungkin balik lagi.


"Mau dimakan malam ini?" tanya Kenan pada Nona sambil fokus menyetir.


"Tidak, rencana mau dimakan besok di kantor." jawab Nona.


"Tidak usah." kata Nona berubah pikiran.


"Telepon saja!" Kenan tidak mau dibantah, malas berdebat Nona segera menghubungi Raymond menggunakan handphone suaminya.


"Om, tadi Kak Nona tanya Melly sama aku." yo Raymond main nyerocos saja tidak tahu kalau Nona yang menghubunginya.


"Iya, iya, cepat sekali mengadu. Memangnya kenapa kalau aku tanya? Bikin curiga saja." ketus Nona pada Raymond lupa dengan rujaknya.


"Ih Kak Nona, karena Kakak curiga jadi aku mengadu. Repot sekali Om Kenan harus bekerja tapi istrinya curiga. Padahal Klien modelnya macam-macam. Untung saja Roma tidak mencurigai Aku."


"Ah kamu tidak lihat sih, bagaimana Melly memandang suamiku. Kurasa kalau kamu yang dipandang begitu juga Roma akan seperti aku." Ish benar-benar Nona lupa membahas rujak pada Raymond.


"Iya, iya... mau apa telepon aku?" tanya Raymond tidak ingin berdebat.


"Besok bawakan rujak kekantor, jangan semuanya. Aku mau makan sebelum makan siang." kata Nona pada Raymond.


"Eh cepat sekali, baru lihat rujak sudah ngidam." goda Raymond pada Nona.


"Hahaha kamu tuh Raymond, tadi kan sudah bilang Aamiin. Jangan lupa ya keponakanku." Nona balas menggoda Raymond.


"Hiyaaa, kalau ada maunya keponakanku. Sudah siap kupanggil Tante ya?"


"Raymond, awas saja. Jangan berubah ya, seperti biasa saja."


"Ck... menikah sama Om ku tapi tidak mau dipanggil Tante."


"Mau, nanti anakmu saja yang panggil aku Tante." mulai menghayal.


Mereka mulai ngobrol tidak jelas, Kenan menggelengkan kepalanya, padahal tujuan awal hanya ingin minta dibawakan rujak. Sampai Kenan memarkirkan kendaraannya di garasi rumah Baron baru Nona dan Raymond menutup sambungan teleponnya. Nona pun mengembalikan handphone tersebut pada suaminya.


"Hampir saja jadi menantu durhaka." sambut Baron saat Kenan dan Nona masuk menemuinya dan Mita dimeja makan.


"Bisa tidak, bicara tanpa sumpah serapah?" sungut Kenan pada Baron.


"Benar-benar tidak bawa oleh-oleh untuk mertua." Baron menggelengkan kepalanya, sedang Mita tertawa melihat keduanya.


"Tadi kata Bang Baron tidak usah, kalau aku bawa nanti Abang bilang aku melawan, tambah durhaka saja menantu kamu ini." Kenan terkekeh pada Baron.


"Papa rindu ya, sampai malam ini juga kami harus menginap." kata Nona pada Papa sambil memeluknya.


"Papa selalu rindu kamu, kamu saja yang tidak peka." jawab Baron melankolis.


"Apa iya Tante?" tanya Nona pada Tante Mita meyakinkan.


"Betul, Non. Duh setiap hari bahas kamu. Padahal sudah menikah malah lebih sering dibahas."


"Bahas apa?" tanya Nona pada Papa dan Tante Mita


"Iya senang sekali saat kamu menginap sebelum menikah, berhayal kamu terus tinggal disini bersama kami." kata Mita tersenyum menceritakan hayalan suaminya.


"Enak saja menghayal begitu, tanya dulu saya mengijinkan atau tidak." sahut Kenan tengil.


"Cuma berhayal Kenan, saya juga tahu tidak mungkin kamu dan Nona tinggal disini bersama kami. Tapi kalian harus sering menginap loh." Baron mulai menuntut.


"Tidak bisa setiap Weekend ya, saya tidak mau janji." tegas Kenan pada Baron.


"Sombongnya, mimpi apa saya punya menantu seperti kamu." ketus Baron pada Kenan, membuat Kenan terbahak melihat ekspresi Baron.


"Tapi benar, Bang. Saya tidak janji bisa menginap setiap weekend disini. Tapi dalam satu bulan saya usahakan bisa menginap demi Papa tercinta. Iya kan Non?" Kenan tersenyum pada Nona.


"Iya, Papa bilang saja kalau rindu, Walaupun tidak menginap aku akan tetap menemui Papa." lagi-lagi Nona memeluk Papa manja, tidak berubah walau sudah menikah.


"Masih manja saja." Kata Baron bangga pada Kenan dan Mita. Keduanya tersenyum melebar melihat ayah dan anak bahagia.