I Love You Too

I Love You Too
Cucu



"Assalamualaikum..." Nanta tersenyum lebar dan tampak bahagia saat Oma Nina menyambut kedatangan mereka di teras rumah.


"Waalaikumusalaam..." jawab Oma ikut tersenyum.


"Aku kangen." kata Nanta lagi langsung memeluk Oma Nina erat.


"Dusta." Oma Nina membalas pelukan Nanta dengan memukul punggung cucunya itu.


"Ih tidak percaya sama cucu sendiri." Nanta terkekeh melihat tanggapan Oma Nina. Sama saja seperti Bunda, walaupun sudah dikirimi oleh-oleh tetap saja tidak terima kalau tidak didatangi. Oma senyum-senyum sambil menaikkan alisnya pada Oma Misha dan Dania.


"Sudah pelukannya, gantian tuh pada antri." kata Raymond pada Oma dan adiknya.


"Sana..." Oma Nina langsung menggeser badan cucunya yang jauh lebih besar darinya. Nanta langsung memonyongkan bibirnya sambil tersenyum, Oma Nina sok-sok mengabaikan Nanta.


"Dania hamilnya tidak rewel ya Alhamdulillah." kata Oma Nina setelah bersalaman dan saling peluk dengan Oma Misha.


"Iya Oma, Alhamdulillah. Awal-awal saja malas makan, makin kesini main dihajar semua." Dania terkekeh.


"Awal-awal malas makan karena Nanta jauh." goda Oma Misha pada cucunya.


"Iya Oma, aku juga pikir begitu." jawab Nanta senyum sambil melirik Dania.


"Ish lebay." komentar Raymond sambil menghempaskan badannya di sofa.


"Seperti Bang Ray kan." jawab Nanta tertawa.


"Kak Roma sama Opa mana sih, kok tidak sambut aku?" tanya Nanta setengah komplen.


"Malas lihat kamu, sombong sih." kata Raymond mulai mengarang bebas. Nanta langsung menghampiri Raymond dan duduk disebelahnya.


"Masa?" tanya Nanta terkekeh memandang Raymond.


"Iya." jawab Raymond.


"Yang penting Bang Ray tidak malas." Nanta bergaya seperti ingin mencium pipi Raymond, langsung ditepis oleh Raymond.


"Ish Oma, calon Bapak kelakuannya begini ya." Raymond terbahak sambil bergidik ngeri mengadu pada Oma Nina. Kedua Oma tertawakan Nanta dan Raymond, sementara Dania sudah bersandar disalah satu sofa sambil meluruskan kakinya.


"Aku bawakan cake bikinan Mami Monik nih Kak Roma." kata Nanta membesarkan volume suaranya agar Roma keluar dari pavilion.


"Tidak akan dengar, dia sekarang suka pakai earphone." kata Raymond pada Nanta.


"Dengarkan apa?" tanya Nanta. Raymond mengedikkan bahunya, ia belum pernah mencari tahu apa yang didengarkan istrinya.


"Bang Raymond tidur di paviliun?" tanya Nanta.


"Iya, dikamar Ayah." jawab Raymond yang sengaja menginap dirumah Oma karena ada Nanta, Dania dan Oma Misha. Biasanya Oma Nina dan Opa Dwi yang menginap di rumah Raymond.


"Aku juga ya, di paviliun." pinta Nanta pada Abangnya.0


"Mau dekat-dekat saja." Raymond terkekeh, sudah pasti boleh karena Raymond juga ingin dekat adiknya, makanya ia pilih tidur di paviliun.


"Kamarmu sudah dirapikan kok." sahut Oma menunjuk Paviliun yang terlihat Dari jendela rumah.


"Kamar Papa dulu?" tanya Nanta memastikan.


"Iya sayang." jawab Oma Nina terkekeh.


"Alhamdulillah masih sayang." ucap Nanta konyol, membuat Oma Nina terbahak.


"Memang sayang terus kok, cucunya saja yang menyebalkan. Jarang telepon, jarang kasih kabar. Selalu saja Papanya atau mertuanya yang memberi kabar sama Oma." langsung Oma Nina nyerocos sampaikan unek-uneknya.


"Ini curhat ya?" tanya Nanta tertawa segera beranjak menghampiri Omanya tersayang.


"Kemarin itu jadwalku padat, maaf ya Oma sayang." katanya kembali memeluk Oma dari belakang.


"Lihat nih, manja begini." kata Oma Nina pada Oma Misha. Senang sekali dipeluk cucunya.


"Belum lagi bisnisnya sama Ando, Oma." Dania ikut melapor pada Oma Nina.


"Kamu bikin bisnis apa sama Ando?" tanya Raymond pada Nanta. Nanta pun menceritakan apa yang sedang ia dan sahabatnya rintis.


"Semoga lancar usahanya, Oma mendoakan." kata Oma Nina, Oma Misha pun begitu sangat mendukung.


"Hebat kamu, Abang saja tidak punya bisnis sendiri." kata Raymond pada Nanta.


"Papa juga tidak punya bisnis sendiri, kan urus perusahaan Opa saja sudah habis waktu." kata Nanta memaklumi.


"Ayah bisa urus perusahaan Opa dan bisnis." jawab Raymond.


"Reza itu kan awalnya bisnis duluan Ray, seperti Nanta sekarang. Nah saat aktif di perusahaan Opa juga tidak bisa handel maksimal Warung Elite, Reza terbantu ketiga sahabatnya." Oma Nina menerangkan.


"Kenapa dari tadi sebutnya perusahaan Opa sih, itu kan perusahaan kalian juga." Opa yang baru keluar kamar langsung saja komplen. Kemudian menghampiri Oma Misha dan menyalaminya.


"Ya kan memang punya Opa." kata Raymond terkekeh.


"Kalian punya saham kan disana? masih saja bilang perusahaan Opa. Apa kita ganti saja nama perusahaan menjadi Opa Shipping?" tanya Opa membuat semua terbahak.


"Aku belum punya saham di perusahaan Opa." kata Nanta memandang Opa.


"Waduh Opa lupa, Opa kira kamu bukan cucu Opa." jawab Opa Dwi menutup mulutnya bercandai Nanta.


"Huhu Opa kenapa begitu sih, aku kan sibuk bulan-bulan kemarin. Karena bertemu Dania, menikah cepat, harus training camp, Dania hamil, harus bertading lagi." Nanta menjelaskan.


"Iya Opa bercanda." kata Opa memeluk Nanta yang hampir saja sedih disindir begitu, bukan masalah saham, tapi perkataan Opa yang mengira Nanta bukan cucu Opa itu bikin Nanta sedih walaupun hanya bercanda. Nanta lagi sensitif bawaan hamil istrinya menular pada Nanta


"Kapan mau pindah rumah?" tanya Opa pada Nanta.


"Pindah kerumah Opa itu? memangnya sudah boleh?" tanya Nanta.


"Opa mesti perkirakan kapan harus renovasi rumahnya, supaya kalian nyaman tinggal disana." kata Opa pada Nanta dan Dania.


"Berarti aku masih cucu Opa kan." Nanta mengingatkan Opa sekaligus balas menyindir.


"Mumpung Opa lagi ingat." sahut Raymond membuat Nanta melemparkan bantal pada Abangnya. Oma Misha terkikik geli, sementara Dania memandang saja tanpa ekspresi, pemandangan wajah datar Dania sudah bukan hal yang aneh lagi bagi orang yang kenal dekat dengannya.


"Oma, aku boleh ke kamar ya?" kata Dania tiba-tiba minta ijin pada Oma Nina.


"Boleh sayang, Nanta antar istrimu." perintah Oma Nina pada Nanta.


"Misha kamu juga istirahat." ajak Oma Nina pada Oma Misha, Oma Misha pun menurutinya, ia harus kekamar untuk berganti pakaian rumah.


"Nanti saja keluar lagi saat makan Malam." kata Oma Nina pada Oma Misha saat sudah mengantarnya kekamar tamu.


"Oke." jawab Oma Misha tersenyum pada Oma Nina.


"Nina, terima kasih sudah mengirim Nanta untuk keluarga kami." kata Oma Misha saat Oma Nina akan meninggalkannya keluar kamar.


"Memang jodohnya, kenapa harus berterima kasih." Oma Nina terkekeh.


"Iya sih tapi aku senang bisa menjadi bagian keluarga kalian. Nanti di Jakarta akan kuingatkan Nanta supaya mengirim kabar pada Opa dan Oma di Malang." janji Oma Misha pada Oma Nina.


"Kamu mau ajari dia supaya bisa multitasking ya?" Oma Nina terkekeh.


"Iya, karena Nanta juga kalau sudah dirumah Kenan lupa hubungi kami." adu Oma Misha pada Oma Nina.


"Memang sifatnya begitu, rupanya." Oma Nina terkekeh.


"Tidak apa, sebenarnya Nanta sangat perhatian, tapi memang berapa bulan kemarin dia sangat sibuk, sebenarnya kami maklum, tapi senang saja menggoda Nanta." Oma Nina terkikik geli.


"Duh Oma-oma pada ghibahin aku." kata Nanta yang tiba-tiba saja muncul. Keduanya langsung terkikik geli melihat Nanta dihadapan mereka.