
"Beneran kamu mau dikasih saham Burhan Company?" tanya Dania saat mereka dalam perjalanan ke gelanggang.
"Hanya bercanda, kenapa di ambil hati." Nanta tertawa.
"Aku kira Ame serius." kata Dania tersenyum.
"Polos betul sih, mana ada bagi saham cuma-cuma." Nanta mengacak anak rambut istrinya.
"Mau beli makanan dulu?" tanya Nanta pada Dania.
"Malas bawanya." jawab Dania.
"Makannya mau?"
"Mau hehehe." Dania cengengesan.
Nanta parkirkan kendaraannya di minimarket yang mereka lewati, membeli minuman dan cemilan untuk istrinya, Ibu hamil tidak boleh kelaparan.
"Kamu ikut turun atau tunggu di Mobil?" tanya Nanta pada Dania.
"Ikut." jawab Dania tersenyum, ingat kata Mami Monik harus sepaket jangan dipisah-pisah.
"Dimobil saja." kata Nanta.
"Ikut dong biar so sweet." jawab Dania, Nanta jadi tertawa.
"Mau rujak serut saja Mas." pinta Dania saat melihat gerobak rujak terparkir Manis didekat pintu masuk.
"Apa lagi?" tanya Nanta.
"Air putih." jawab Dania.
"Kamu pesan rujak aku beli minum ya." kata Nanta untuk persingkat waktu bagi tugas. Dania anggukan kepalanya kemudian pesankan rujak untuk dirinya dan teman Nanta yang ikut latihan.
Setelah belikan rujak, minuman dan cemilan lainnya mereka langsung menuju ke gelanggang. Tampak Mobil Mike dan Larry sudah terparkir saat Nanta memasuki parkiran mobil digelanggang.
"Doni belum datang." kata Nanta pada istrinya.
"Jadi bagaimana? tunggu Doni dulu?" tanya Dania, Nanta gelengkan kepalanya.
"Masuk saja, Mike dan Larry sudah didalam sepertinya." jawab Nanta menggandeng mesra tangan Dania menuju ke lapangan Basket.
Benar saja sahabatnya dan tim kedua sudah didalam, sibuk bermain skipping.
"Again? belum ganti baju?" Mike gelengkan kepalanya.
"Dari acara pernikahan langsung kesini." Nanta menjelaskan.
"Kamu mau ganti baju?" tanya Nanta pada Dania.
"Nanti saja, tidak panas kok." jawab Dania.
"Ya sudah aku ke kamar ganti dulu. Titip Dania Mike." kata Nanta tunjuk istrinya pada Mike.
"Sini sayang." panggil Mike pada sepupunya.
"Sayang lagi." protes Nanta pada Mike.
"Adik gue sih, wajar saja gue panggil sayang." jawab Mike tengil, Nanta terkekeh lalu tinggalkan Dania dan sahabatnya menuju kamar ganti.
"Siapa yang menikah?" tanya Larry pada Dania.
"Sahabat Mas Nanta di kampus, teman kecilku juga." jawab Dania tersenyum.
"Dodo ya?" tanya Mike sok tahu.
"Ando, kenapa jadi Dodo." Dania terkekeh.
"Gue sering dengar Do saja kalau Nanta bicara ditelepon." Mike jadi ikut terkekeh.
"Belum pada kenal memangnya?" tanya Dania pada Mike dan Larry. Keduanya gelengkan kepala.
"Kapan-kapan harus kenalan." kata Dania.
"Iya kapan-kapan saja." jawab Mike tersenyum.
"Mas Doni belum datang?" tanya Dania lagi, harapkan Dona segera tiba.
"Antar Mamanya dulu baru kesini." jawab Larry.
"Terlambat?" tanya Dania lagi.
"Mungkin saja terlambat, sabtu kan macet." jawab Mike.
"Tadi sih Alhamdulillah kita lancar." jawab Dania.
"Dan, tahu kenapa Balen marah sama gue?" tanya Larry pada Dania.
"Yang tahu cuma Ichie, kita tidak ada yang tahu." jawab Dania terkekeh.
"Bocah berdua saling curhat kah?" Mike jadi geli sendiri.
"Sepertinya begitu. Kalau kita tanya cuma bilang habisna ban Leyi ditu sih." Dania tirukan bahasa Balen.
"Makanya menikah punya anak, bikin yang seperti Balen." Mike nasehati sahabatnya.
"Tengil sekali kakak." sungut Larry.
"Benar kan? masa gue bilang makanya Leyi elu jangan bikin Balen calon istri lu marah." kata Mike lebih tengil lagi. Dania langsung tertawakan keduanya.
"Ya kali gue nikahnya sama bocah." Larry mendorong bahu Mike.
"Siapa tahu, kan tidak tahu namanya jodoh." Mike kembali terbahak.
"Elu pada gendong anak, gue masih gendong calon istri gue dong, judulnya sama-sama gendong bocah." Larry langsung terbahak geli sendiri. Kemudian hembuskan nafas kasar.
"Kenapa frustasi sendiri?" tanya Mike lagi
"Bukan, itu si unyil kenapa ya. Pantas saja Nanta suka sewot kalau Balen telepon tanyanya gue ya. Ternyata sekarang giliran gue yang diacuhkan." kata Larry tertawa.
"Belikan es krim dong besok. Kan berenang tuh." Mike memberi ide.
"Boleh tidak sama Om Kenan. Tahu sendiri sekeluarga pola makan sehat." kata Larry pada Mike.
"Habis belikan apa yang Balen suka?" tanya Mike lagi. Larry mengedikkan bahunya.
"Balen suka apa sih?" tanya Larry pada Dania.
"Sop." jawab Dania kembali tertawa.
"Yah itu sih Mamon pasti bikin." jawab Larry terkekeh. Repot juga mau bujuk bocah kecilnya.
"Kemarin saja di kereta Balen tidak boleh minum jus kotakan." kata Larry lagi.
"Datang saja lah Bang Leyi, Kalau bertemu juga sudah tidak merajuk lagi tuh singkong." kata Dania pada Larry.
"Besok dia mau berenang apa tidak? nanti merajuk tidak mau berenang." Larry jadi khawatir.
"Mau katanya." jawab Dania.
"Yakin?"
"Iya yakin." jawab Dania pada Larry.
"Kenapa?" tanya Nanta yang sudah berganti pakaian.
"Gue tanya Dania soal Balen yang merajuk, ternyata tidak tahu juga." jawab Larry.
"Memang tidak tahu, yang tahu
Ichie." jawab Nanta tertawa.
"Coba telepon Nan." pinta Larry pada Nanta.
"Hahaha akhirnya merasakan apa yang gue rasakan juga lu." Nanta tertawa senang.
"Kalian sih terlalu ke-Balen-an." kata Mike pada keduanya.
"Memangnya kamu tidak?" tanya Larry
"Sedikit saja, lagi pula Balen kan tidak intens telepon gue seperti telepon elu, jadi tidak ditelepon Balen juga biasa saja." jawab Mike pada Larry.
"Nah itu, gue sejak dari Amerika setiap hari loh ditelepon Balen." kata Larry.
"Ibarat orang hamil sudah sebesar perut istri gue deh." kata Nanta membuat Dania memukul bahu suaminya. Kenapa juga analoginya orang hamil. Nanta terkekeh mengusap bahunya kemudian mengusap perut istrinya.
"Masih lama?" tanya Chris yang hampiri mereka berkumpul.
"Doni minta ditunggu, bagaimana?" tanya Mike.
"Oke tunggu sepuluh menit lagi ya, kalau belum datang juga kita mulai saja." kata Chris pada ketiganya.
"Oke." jawab Nanta setuju saja, kasihan juga menunggu terlalu lama.
"Eh gue beli rujak nih, makan dulu deh." kata Nanta pada semuanya menunjuk bungkusan yang dimakannya.
"Nanti saja setelah latihan." jawab Chris.
"Aku duluan saja yang makan." kata Dania tersenyum.
'Kamu bebas deh mau makan sekarang, yang latihan harus jaga khawatir ada efek." Chris tertawa.
"Ya takut mules dia lagi latihan." sahut Mike.
"Nah itu kamu benar." jawab Chris menjentikkan jempol dan telunjuknya. Kemudian kembali sibuk dengan skippingnya.
"Ayo telepon Balen." pinta Larry pada Nanta.
"Eh kenapa jadi repotin gue sih." Nanta memandang Larry.
"Kalau Balen sudah besar dan punya handphone sendiri gue tidak serepot ini." dengus Larry merengut.
"Tadi gue suruh cepat nikah, terus bikin anak seperti Balen dia bilang gue tengil." lapor Mike pada Nanta. Larry tertawa mulai memiting leher sahabatnya itu. Jangan sampai bahas Balen calon istri lagi. Memang Mike yang paling enak dipiting sih.