
"Kamu sehat Ki?" tanya Nina saat memeluk menantu pilihannya di bandara Halim sore itu. Senang sekali hati Nina saat melihat putranya menjemput ke bandara sambil menggandeng istrinya.
"Alhamdulillah sehat ma, makan terus aku. Gemukan ya ma?" Kiki menggembungkan mulutnya hingga pipinya membulat.
"Dikasih makan apa kamu sama Eja Ki?" tanya Dwi sambil tertawa melihat Kiki yang membadut.
"Gemuk juga karena aku tiup pa, bukan karena makan." jawab Reza konyol membuat Kiki mencubit perut suaminya.
"Tuh ma, aku disiksa terus, tipis perut aku lama-lama." Reza mengadu pada Nina. Bukannya dibela malah Nina memukul lengannya.
"Kamu menggoda istrimu terus, bagus cuma perut yang dicubit." kata Nina lagi-lagi memukul lengan anak sulungnya. Reza merangkul Nina manja.
"Eh malu dilihat orang, kamu sudah jadi suami loh." bisik Nina sambil berjalan menuju parkiran.
"Aku tuh kangen tau sama mama."
"Ah masa, kamu kan sibuk, telepon mama aja jarang. Iya kan pa, kita sampai mikir lagi asik berduaan sampai lupa mama papa. Kamu juga Ki, jarang telepon ke mama Ririn juga kan. Kalian cuma kangen dibibir aja." dengus Nina sedikit mengeluarkan unek-uneknya. Mereka sudah dalam perjalanan dari bandara menuju rumah.
"Iya ma, kemarin pulang dari Bali capek banget, terus pas kamis pagi aku mau telepon, eh aku ketiduran. Dibangunin Bi Par pas Sheila ke rumah, itu juga buru-buru kita langsung ke kampus. Baru sempat telepon Mamaku tadi pagi ma."
"Sheila ke rumah ngapain? ketemu kamu Ja?"
"Ga ma, aku ke kantor kan, dia sempat telpon sih pagi, minta maaf." ups Reza keceplosan, padahal ia dan Kiki sudah sepakat tak mau cerita dengan mama dan papa masalah Kiki yang dilabrak Retno di Mal. Reza merutuki kebodohannya.
"Minta maaf kenapa Ja?" tanya Dwi ingin tau. Reza menghela nafas panjang. Kalau papa sudah tanya, Reza tak berani berbohong, papa sangat kenal ekspresi suara Reza, bergetar atau tidak saat menyampaikan sesuatu. Kalau bergetar berarti ada yang Reza tutupi. Kiki diam saja tak mau ikut menjelaskan, nanti malah salah ngomong.
"Minta maaf soal tante Retno pa, kemarin itu sempat bikin ulah saat ketemu Kiki di Mal." mau tak mau Reza harus menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Kenapa lagi tuh si Retno. Ga habis-habis bikin kelakuan ya." Nina langsung saja ngomel padahal belum dengar cerita lengkapnya.
"Iya gitu lah ma." Reza tak mau meneruskan. Khawatir Nina bertambah emosi.
"Gitulah gimana Ja? kamu jangan coba menutupi ya, mama pasti tau nantinya. Kalau mama tau dari orang lain mama marah sama kamu." ancam Nina pada Reza.
"Kamu aja dek yang cerita. Komplit dek versi kamu." Reza meminta Kiki menceritakan kejadian di mal setelah pulang dari S'Pore sebelum ke Semarang. Kiki pun mulai menceritakan apa yang ia alami dari A sampai Z tanpa kurang ataupun lebih.
"Kurang ajar sekali Retno itu ya, kamu ga papa Ki?" tanya Nina membelai rambut Kiki yang duduk disebelahnya.
"Kaget aja ma, aku kira orang gila beneran. Takut aku ma."
"Iya memang benar gila itu sih. Kasihan Sheila anak baik tapi ibunya begitu. Mama sudah bilang Kenan cari yang lain aja, karena menikah kalian menyatukan dua keluarga. Tapi tuh anak susah dibilangin, masih aja kaya orang patah hati ga bisa hubungi Sheila."
"Kenan masih diblokir Sheila ma?" tanya Reza heran karena kemarin Sheila sudah menghubunginya, Reza mengira Sheila sudah membuka blokir untuk ia, Kenan dan Erwin.
"Masih, tadi pagi aja Kenan masih coba hubungi Sheila, penasaran dia. Mama sih ga suka ya, tapi ya sudahlah yang menjalani Kenan bukan mama, kita cuma mengingatkan ya pa." Dwi menganggukan kepalanya.
"Ja, kamu harus cari solusi, Papa khawatir Retno akan buat ulah lagi kalau ketemu Kiki. Apalagi kamu pagi sudah berangkat ke kantor. Kita bertetangga dengan Retno, pasti ada peluang untuk dia bikin ulah kalau bertemu Kiki." Dwi menyampaikan rasa khawatirnya. Mendengar cerita Kiki tadi, Dwi merasa kasihan dengan Kiki dan tak mau Kiki dianiaya lagi.
"Rumah aku tuh masih finishing pa, paling sebulan lagi baru bisa ditempati. Kamu belum lihat ya dek, nanti aja kalau sudah selesai. Nanti kalau mama papa kembali ke Malang, kami menginap dirumah mama Ririn sampai rumah baru bisa ditempati. Rumah kosong begitu ga papa pa? Bi Par kan ga nginap."
"Ga papa, dari pada Kiki teraniaya." jawab Dwi santai.
"Iya, biar Sheila juga ga sering samperin aku ke rumah kaya kemarin." sahut Kiki cepat. Reza melirik istrinya dari kaca spion sambil tersenyum tipis. Pasti sebentar lagi curhat ke mama kalau mama tanya kenapa.
"Kenapa Sheila Ki?" tanya Nina ingin tau. Hmm benar saja dugaan Reza, senyum Reza melebar sambil fokus menyetir sesekali melirik Kiki dari kaca spion.
"Kesal aku ma..blaa...blaa.. blaaa.. blaaa." Kiki mengeluarkan uneh-unegnya panjang lebar. Nina memukul bahu Reza kesal.
"Ih mama kok aku dipukul." Reza tak terima walaupun tau kenapa Nina sekesal itu.
"Kamu kan sudah mama bilang dari dulu, jauhi Sheila. Ga ada persahabatan murni lawan jenis. Pasti salah satu ada yang punya rasa. Sekarang jadi begini kan. Mengganggu itu namanya. Ngapain dia ungkapin perasaannya sama Kiki. Ga jelas maunya apa. Mulai sekarang jangan berhubungan lagi sama Sheila."
"Hmm mana mau kak Eja ma, dia bilang ga mungkin blokir Sheila karena teman kecilnya." Kiki mengadu pada Nina.
"Ya kalau dia ga mau tinggalin Sheila, kamu tinggalkan aja dia Ki." jawab Nina emosi.
"Mamaaa!!!" teriak Dwi dan Reza bersamaan.
"Benar kan pa, kenapa Reza sama Kenan ga bisa lepas dari Sheila, bikin kesal mama aja."
"Tapi mama ga boleh suruh Kiki tinggalkan Reza ma." tegur Dwi pada istrinya.
"Tuh kan ma." Reza diatas angin, merasa ada yang membela.
"Tapi papa minta kamu jauhi Sheila, jangan rusak rumah tangga kamu karena mempertahankan pertemanan kalian. Betul yang mama bilang ga ada persahabatan Murni lawan jenis."
"Iya apalagi Kak eja dulu naksir Sheila." sungut Kiki .
"Bisa Ja , jauhi Sheila demi rumah tangga kalian?" tanya Dwi memastikan.
"Bisa Pa." jawab Reza pasti.
"Demi mama juga Ja. Kalau mama ga suka itu pasti ada sebabnya."
"Iya mamaku sayang. Jangan ngomel terus dong, aku kan sedih diomelin begini nanti nyetirnya ga konsen." Reza mulai bermanja-manja pada Mama.
"Ya sudah mama ngobrol sama Kiki aja. Kalau ada yang aneh-aneh begini cerita sama mama Ki. Jangan ditelan aja. Ada cerita lain yang mama belum tau?" tanya Nina pada Kiki.
"Ada ma, tapi kak Eja ga salah sih. Ini penggemarnya kak Eja juga, labrak aku di toilet waktu resepsi Monik dan Intan. Dia minta aku jauhi kak Eja."
"Jaaa , papa tuh lebih ganteng dari kamu waktu mudanya, mama ga pernah ada yang dzolimi begitu nak. Kok aneh-aneh orang sekarang ya pa." Nina menggelengkan kepalanya sedangkan Dwi terkekeh menepuk pundak putranya yang sedang menggaruk kepala walau tak gatal.