
Reza dan Kiki sudah sampai di rumah Mama Nina. Hanya mereka berdua, karena setiap hari minggu Bi Par libur. Reza sudah menghubungi Bi Par bahwa tiga hari kedepan ia dan istrinya akan ke luar kota. Jadi Bi Par tak perlu datang terlalu pagi untuk menyiapkan sarapan.
Tak lama datang seorang pemuda berbadan tegap membawa berkas yang diminta Reza, sepertinya seumuran Reza. "Sayang ini Micko anak tante Misha, dia kerja dikantor papa juga." Reza mengenalkan Micko pada istrinya. Kiki tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
"Halo aku Kiki, Kak Micko ga datang ya waktu pernikahan kita?" tanya Kiki merasa tak melihat Micko jumat lalu.
"Ga diundang." jawab Reza santai, Kiki terbelalak heran, bagaimana bisa tak diundang, sedangkan tante Misha yang mengurus semuanya.
"Hahaha memang saya ga diundang bu Boss, saya ditugaskan ke Malang minggu lalu menggantikan Pak Dwi." Micko menjawab keheranan Kiki.
"Oh pantas aja cuma ketemu tante Misha, mau minum apa?" tanya Kiki pada Micko.
"Ga usah sayang, kamu istirahat aja." jawab Reza cepat membuat Micko mendengus kesal.
"Kasian tamu ga dikasih minum kak."
"Dia bukan tamu." tak ingin berdebat Kiki pun segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Reza yang sekarang menjadi kamar mereka berdua.
"Hmm takut banget istri lu naksir gue." kata Micko sepeninggalan Kiki. Reza tak menjawab, sibuk saja memeriksa berkas yang dibawa Micko. Ya Micko anak tante Misha yang juga bekerja dikantor papa Dwi, sudah dipersiapkan untuk menjadi asisten Reza nantinya.
"Lu kan bisa ambil minum sendiri. Jangan kaya tamu deh." jawab Reza setelah membaca berkas yang sudah ditanda tanganinya. Micko tertawa dibuatnya.
"Boss, Kamis sudah di Jakarta ya, ada meeting sama investor dari jepang."
"Tante Misha dampingin kan? Berkas cuma segini, ada lagi ga yang lain?"
"Nyokap bakal dampingin lu terus, sampai dia pensiun enam bulan kedepan. Berkas banyak di kantor, ini yang gue bawa yang dibutuhkan sampai rabu. Nanti Kamis lu kayanya lembur boss, berkas lu setumpuk." Kata Micko sambil terkekeh.
"Cepat sekali tante Misha pensiun, Ko kenapa sudah punya sistem yang bisa tanda tangan online, masih harus tanda tangan manual sih?"
"Yang lu tanda tangan manual itu yang ada duitnya boss, kalau cuma surat menyurat lu bisa tanda tangan online."
"Oh iya lupa gue, coba lu periksa lagi nih, ada yang kelewat ga." Reza menyerahkan berkas yang sudah ditanda tanganinya pada Micko.
"Baru seminggu menikah sudah pelupa." gerutu Micko sambil memeriksa ulang berkasnya, khawatir ada yang terlewat oleh Reza. Mereka sudah sangat dekat karena tante Misha sering mengajak Micko main ke rumah Dwi dan Nina, pada saat family gathering pun mereka selalu bertemu dan bermain bersama.
"Sementara cukup, gue balik ya, salam buat istri lu."
"Iya salam juga buat tante Misha." Reza mengantar Micko kedepan. Hmmm siapa yang ga naksir kalau lihat Micko, badan tinggi atletis. Boleh jadi Reza atasan Micko dan anak bigboss dikantor, tapi mobil Micko jauh lebih mewah dari milik Reza. Micko menggunakan mobil sport BMW seri terbaru, sedangkan Reza cukup puas dengan Honda BRV yang dibelinya dari hasil usahanya sendiri tanpa campur tangan papa.
Meski single parent Tante Misha anak dari pengusaha terkenal di Jakarta. Sebenarnya bisa saja tante Misha ikut meneruskan usaha dari ayahnya, tapi terlalu banyak intrik dikeluarganya, ayahnya mempunyai istri lebih dari satu dan perusahaan itu menjadi rebutan antar anak dari istri yang lain, membuat tante Misha yang ibunya sudah berpulang lebih memilih bekerja ditempat lain.
Micko cucu lelaki satu-satunya sangat dimanja oleh si kakek, tanpa diminta Kakek selalu membelikan Mobil keluaran terbaru untuk cucu tersayangnya. Pernah juga kakek meminta Micko untuk bekerja diperusahaannya, tapi Misha melarang, tak mau keluarga dari ibu tiri dan kakak tirinya berfikiran negatif, tak mau kenyamanannya terganggu, cukuplah seperti sekarang mereka hidup bahagia dan tak kurang satu apapun juga.
Sepulangnya Micko, Reza masuk ke kamarnya, untuk mengecek apa yang sedang dilakukan Kiki, saat dikamar dilihatnya Kiki sudah meringkuk dikasur, dasar ***** pikir Reza sambil tersenyum lalu keluar kamar menuju ke ruang kerja. Reza mulai menyalakan laptop dan memeriksa email kantor yang belum sempat dibacanya. Menanda tangani yang harus ditanda tangannya.
Baru bekerja sebentar Reza teringat bahwa ia dan Kiki belum makan siang, walaupun tak lapar, tapi Reza tak mau terlambat makan. Segera dipesannya makanan dari warung elite via online tanpa bertanya pada Kiki lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Nanti sewaktu Kiki bangun makanan sudah siap disantap, pikirnya.
"Kak Eja, aku lapar." Kiki masuk ke ruang kerja dengan muka bantalnya lalu memeluk suaminya duduk dipangkuan Reza.
"Aku udah pesan makan, sebentar lagi datang." Reza memeluk Kiki sambil mencium pipinya.
Reza mulai bermain tapi sayang aktifitasnya terhenti karena dering telepon dari ojol yang mengatakan sudah didepan pagar. Kiki pun beranjak duluan turun mengambil makanan yang sudah dibayar Reza via online agar ojol tak menunggu lama. Hmmm Kiki kamu save by the bell.
"Banyak bener kak." teriak Kiki sambil membawa tiga plastik makanan.
"Aku pesan sekalian buat nanti malam." jawab Reza ikut membantu Kiki memindahkan makanan yang sudah dipesan ke piring. Sangat menggugah selera, pepes ikan mas, lalapan, tumisan pucuk labu, sambal dadakan, ayam goreng dan cumi goreng tepung. Mereka mulai menyantapnya.
"Kak Eja pesan ojol apa telepon ke warung elite?" tanya Kiki disela makannya.
"Ojol sayang, kalau telepon nanti mereka repot antar kesini."
"Apa habis sampai malam sebanyak ini kak?"
"Tenang aja sayang, ini masih siang. Nanti sore makan lagi, malam makan lagi, menjelang tidur bisa makan lagi."
"Makan terus tapi ga gemuk."
"Makan sedikit tapi sering, seminggu dua kali olah raga, ga bikin gemuk sayang. Kamu juga mulai olah raga ya ikut jogging temani aku. Kamu tuh ***** loh, gampang sekali tidurnya. Tadi dimobil aku bahas sama teman-teman kalau kamu cemburuan dengar ga?" Kiki menggelengkan kepalanya, membuat Reza gemas ingin mencubit tapi tangannya kotor.
"Aku capek kak, kamu bikin aku begadang terus." sungut Kiki kesal tak terima dibilang *****.
"Makanya olah raga, jadi ga gampang capek."
"Aku sit up kok kak."
"Hmmm ga pernah lihat."
"dua kali aja mau tidur sit, bangun tidur up." jawab Kiki melucu membuat Reza terbahak.
"I love you dek." kata Reza mengacak Kiki dengan lengannya lalu beranjak dari kursinya menuju wastafel mencuci tangan.
"Iya." jawab Kiki mengikuti Reza menuju wastafel dan mulai mencuci tangannya.
"Apanya yang iya? jawab yang bener. Masih belum cinta sama aku?" tanya Reza memeluk Kiki dengan tangan basahnya.
"Hmmm baju aku basah, kak Eja belum lap tangannya." sungut Kiki.
"Jawab dulu udah cinta belum sama aku?" Reza menatap Kiki dalam dan menempelkan hidungnya pada hidung Kiki.
"Kan sudah dilempar bantal, masih tanya sudah cinta apa belum?" sungut Kiki.
"I love you dek." Reza mengulang ucapannya menggendong Kiki menuju sofa ruang keluarga.
"Aaah Kak Eja." Kiki berteriak kaget karena tiba-tiba badannya terangkat terasa melayang.
"Kalau ga jawab aku bikin capek siang ini sampai malam." bisik Reza dan mulai bermain.
"iya i love you too." jawab Kiki berharap Reza melepaskannya, tapi harapan tak seperti kenyataan, keinginan dan tenaga Reza lebih besar dari harapan Kiki, kembali terjadilah apa yang selalu Reza inginkan. Dasar Reza tak perduli tempat. Untung saja hanya mereka berdua dirumah itu. Bukan perutnya saja yang diatur sedikit makan tapi sering, tapi si itu juga.