
"Mama." Nona memeluk Mama Nina dari belakang, membuat Mama Nina sedikit terkejut dengan sikap manja Nona. Papa Dwi tersenyum lebar melihat interaksi Mama Nina dengan Nona.
"Mandi dulu sana." kata Mama Nina menepuk bahu Nona pelan.
"Bau lagi?" kekeh Nona teringat kejahilan Mama Nina saat Papa datang kesini.
"Bau kan Pa?" Mama Nina meminta pendapat Papa Dwi sambil tertawa.
"Ih Mama." Nona bersungut, kemudian segera beranjak mandi supaya tidak dibilang bau oleh Mama Nina saat makan malam nanti.
Nona berusaha bersikap santai saat makan malam, meskipun mendengar Kenan menghubungi Mama Nina saat mereka berkumpul diruang keluarga, tapi Kenan tidak menghubungi Nona sama sekali. Memang gue bukan siapa-siapanya Mas Kenan sih, kenapa juga berharap lebih, pikir Nona. Berusaha tidak ambil pusing.
Semalaman Nona berfikir keras, tadinya mau mencari cara bagaimana membuat Kenan bertekuk lutut padanya, tapi kejadian hari ini membuat Nona malas berusaha, repot kalau cinta bertepuk sebelah tangan begini, biarkan mengalir sajalah, mau jodoh gue siapa nanti ya terserah Allah saja, batin Nona, memikirkan Kenan tak akan ada habisnya, sementara hatinya yang meletup-letup mengharapkan perhatian Kenan, kini sudah ia padamkan.
Hari kedua Kenan diluar kota, Nona sudah tidak mau berharap Kenan menghubunginya, biarkan saja maunya bagaimana, cari cowok lain sajalah, batin Nona sedikit kesal.
"Ray nanti pulang duluan saja, aku mau ke Mal dulu, ada janji dengan teman sekolahku dulu." menjelang pulang Nona menghubungi Raymond.
"Sudah ijin sama Om Kenan?" tanya Raymond serius, tidak mau disalahkan nantinya.
"Tidak ada aturan aku harus ijin sama Mas Kenan kan?" Nona balik bertanya, toh mereka tidak ada hubungan apapun. Bahkan Kenan sudah pernah menolak Nona.
"Kak Nona kan tanggung jawab Om Kenan, aku ditugasi menjaga Kan Nona. Jadi kalau aku pulang tidak bersama Kak Nona harus seijin Om Kenan. Aku tidak mau disalahkan." Raymond menjelaskan.
"Jadi bagaimana? kamu bilang saja sama Om Kenanmu itu."
"Kak Nona saja yang bilang langsung."
"Malas, dia saja tidak menghubungiku dari kemarin." Nona tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Oh jadi karena itu ya, aku sampaikan pada Om Kenan, jangan pergi dulu sampai aku mengabari?" Raymond terkekeh.
"Apa sih Ray? bukan karena itu." Nona menyangkal, malu karena ketahuan. Raymond menutup sambungan. teleponnya. Kemudian menghubungi Kenan.
"Kak Nona mau ke Mal, ada janji sama teman sekolahnya dulu, aku tidak bisa menemani, Om. Kasihan Bunda dan Roma dirumah." kata Raymond langsung ketika teleponnya tersambung.
"Om masih rapat, kamu atur. Nona jangan sampai dibiarkan sendiri." pesan Kenan lalu mematikan sambungan teleponnya. Enak betul jadi atasan, urusan Asmara juga ternyata mesti aku yang atur, pikir Raymond terkekeh. Untung Om tersayang.
Akhirnya Raymond mengambil keputusan yang brilliant, membiarkan Nona pergi ditemani Nanta dan supir kantor. Nanta dengan senang hati memenuhi perintah Abang tersayang, menjaga calon istri Papa. Mengingat hari ini Jumat Dan esok hari ia akan bertanding basket ditemani Nona, maka Nanta memutuskan menginap di rumah Oma hari ini dan besok.
"Kak Nona ditemani Nanta ya, Nanta sedang dalam perjalan menjemput Kak Nona." kata Raymond saat menghubungi Nona.
"Eh kenapa bisa jadi Nanta yang menemani?" tanya Nona bingung.
"Kak Nona keberatan?"
"Tidak, justru aku senang." kata Nona jujur, ia memang senang bi-sa ke Mal ditemani Nanta sore ini. Nona bisa mengenalkan Nanta pada Kevin sahabatnya saat di sekolah dulu, kebetulan Kevin salah satu pemain basket yang bergabung dengan pelatnas timnas, bisa jadi peluang untuk Nanta.
Setengah Jam kemudian Nanta menghubungi Nona, ia sudah berada di Lobby. Nanta menyebutkan type kendaraan dan nomor polisi kendaraan yang ditumpanginya, khawatir Nona salah naik mobil nanti.
"Jadi merepotkan kamu." kata Nona pada Nanta.
"Kak Nona janjian sama siapa?" tanya Nanta to the point.
"Kevin, dia pemain basket Timnas. Nanti kamu Kan Nona kenalkan."
"Pacar Kak Nona?" tanya Nanta penasaran.
"Dulu waktu sekolah."
"Ih jadi aku menemani Kak Nona bertemu mantan pacar, kasihannya Papaku." Nanta menggelengkan kepalanya, benar-benar kasihan pada Papa.
"Tetap saja." sungut Nanta malas.
"Ih kamu kenapa cemberut, Papamu juga tidak mau sama aku kan? kamu dengar sendiri waktu dirumah Papaku. Aku masih bebas mau bertemu siapapun, kan aku tidak punya pacar." Nona membela diri.
"Iya juga sih." Nanta mengerti posisi Nona dan tidak menyalahkan Nona dalam hal ini. Biar saja, mau lihat juga reaksi Papa, Nanta tersenyum menyeringai.
Kevin sudah menunggu Nona dicafe yang mereka janjikan. Nona juga sudah bilang pada Kevin, ia membawa Nanta saudaranya.
"Halo." sapa Kevin saat melihat Nona datang bersama Nanta.
"Ketemu juga, setelah sekian lama." kata Nona tersenyum senang pada Kevin.
"Nanta ini pemain basket juga, besok pertandingan di gelanggang remaja." kata Nona mengenalkan Nanta pada Kevin.
"Saya salah satu panitianya loh besok." kata Kevin pada Nanta.
"Kebetulan sekali, jadi besok bisa bertemu lagi. Aku juga kesana sama Papanya Nanta besok." kata Nona senang karena ternyata besok ada Kevin juga disana.
Seru nih, pikir Nanta. Santai saja mau lihat besok siapa pemenangnya, Papa atau Kak Kevin. Hahaha konyol Nanta malah memikirkan pertandingan yang lain.
"Kamu main yang bagus Nanta, besok akan dipilih beberapa pemain terbaik untuk bergabung di U16 basketball." Kevin memberikan sedikit bocoran pada Nanta. Nanta mengangguk semangat.
Pertemuan Nanta, Nona dan Kevin berjalan lancar bahkan sangat lancar. Mereka bertiga sangat klop, Nanta bisa bercanda dengan Kevin, karena Kevin sangat menyenangkan. Menyambut Nanta dengan ramah dan tidak merasa terganggu dengan kehadiran Nanta.
"Kak Kevin terima kasih untuk tips bermain basketnya." kata Nanta pada Kevin.
"Semangat bermain besok ya, lakukan yang terbaik, hasil serahkan pada Allah." kata Kevin merangkul Nanta seperti adiknya sendiri.
Setelah dirasa cukup, mereka membubarkan diri. Kesimpulan Nanta, Nona dan Kevin murni berteman tanpa ada unsur apapun, Nanta tak ambil pusing kenapa dulu mereka bisa putus dan sekarang berteman baik tanpa beban. Bahkan Kevin dengan santai membahas calon istrinya pada Nona.
"Besok aku kenalkan." kata Kevin ketika Nona minta dikenalkan dengan calon istri Kevin.
"Asik... betul ya, biar tambah saudara." kata Nona senang.
"Jangan terlambat besok." pesan Kevin pada Nanta.
"Siap Kak."
Dalam perjalanan pulang, Nanta sibuk membahas betapa berkesannya dia dengan Kevin.
"Kenapa Kak Nona putus?" tanya Nanta penasaran.
"Bukan jodoh, lebih cocok jadi teman." Nona terkekeh, santai tanpa beban.
"Bisa ya begitu, bersahabat dengan mantan pacar, tanpa baper." kata Nanta kagum.
"Bisa kan? kamu lihat sendiri tadi." Nanta mengangguk setuju.
"Tapi kenapa Mak Lampir tidak seperti itu?" tanya Nanta lagi.
"Mak Lampir cuma mau kenal Papamu, tanpa perduli keluarga Papamu. Itu egois, kalau bersahabat ya kamu mesti bersahabat dengan pasangan mantanmu juga, bahkan keluarganya. Kan enak bisa jadi saudara. Menurut aku sih silahturahmi yang baik seperti itu."
"Mak lampir malah memusuhi aku dan Mama, dulu." Nona tergelak melihat ekspresi Nanta yang masih ada rasa kesalnya mengingat dulu.
"Biarkan saja, jangan diingat lagi, besok kamu bertanding, jangan sampai merusak mood kamu." Nona mengingatkan Nanta.
"Terima kasih sudah diingatkan." Nanta tersenyum manis pada Nona. So Sweet Nanta.