
"Kalian tiba lebih cepat." sambut Oma Misha sambil tersenyum senang.
"Mas Nanta pulangnya lebih cepat Oma." jawab Dania ikut senang melihat Oma bahagia.
"Ayo makan, Oma belum makan." ajak Oma Misha membuat Dania mengernyitkan dahinya.
"Oma kan aku sudah bilang tidak usah ditunggu, kalau begini Oma bisa sakit karena terlambat makan." kata Dania.
"Dari tadi aku bilang Dania kalau Oma mengharukan." kata Nanta mendekat ke Oma Misha. Oma Misha langsung saja menepuk-nepuk bahu Nanta.
"Padahal tadi sudah aku ajak makan, tidak mau." adu Lucky pada Abang iparnya.
"Begitu ya Oma? semoga Oma selalu sehat ya." Nanta mengusap lembut bahu Oma Misha.
"Tuh seperti Nanta dong, mendoakan Oma. Kalian bisanya marah saja." kata Oma pada Dania dan Lucky.
"Mulai banding-bandingkan. Dari sebelum Abang menikah dengan Kak Dania selalu saja kita ini harus seperti Nanta." gerutu Lucky membuat Nanta tertawa.
"Memangnya salah kalau Oma menjadikan Nanta contoh yang baik untuk kalian?" tanya Oma Misha pada Lucky.
"Aku juga ada kurangnya Oma." kata Nanta pada Oma Misha. Lucky mencebik.
"Ayo Luck, temani aku makan." ajak Nanta pada Lucky, digandengnya lengan adik iparnya yang sedang sengit itu. Mereka berjalan menuju meja makan tanpa bicara lagi.
"Kalian baru sampai?" sapa Mama Lulu saat berpapasan di lorong menuju ruang makan.
"Iya, ayo Ma, makan. Papa mana?" tanya Dania pada Mama Lulu.
"Ke Mal sama Winner, beli baju denim." Mama Lulu dan yang lainnya tertawa. Memang merepotkan kalau harus beli dulu.
"Memang harus pakai, kalau tidak punya pakai yang sewarna saja padahal." Dania masih tertawa.
"Mana mau begitu, ada sih yang lama tapi sudah sempit." kata Mama Lulu menepuk bahu Lulu.
"Ya sudah sana makan, Oma sudah lapar tuh." kata Mama Lulu lagi.
"Mama makan juga yuk." ajak Nanta.
"Sudah kenyang, mau baca buku dulu deh, Mama langsung ke kamar ya." pamit Mama Lulu pada Dania dan Nanta, sementara Oma sudah berjalan lebih dulu ke meja makan tidak sabar mau pamer menu makanan yang dimasaknya.
"Nanta, sini." panggil Oma Misha tidak sabar.
"Huh, Abang saja yang dipanggil." Lucky memberengut.
"Jangan marah begitu dong, kan Oma tidak setiap hari perhatikan aku. Kalau kamu kan setiap hari." Nanta merangkul Lucky sambil tertawa.
"Iya juga sih." Lucky langsung tertawa melumer.
"Oma, kenapa aku tidak dipanggil ih?" katanya pada Oma tapi sudah tidak kesal.
"Kamu sih tadi sudah makan, menu yang kamu punya sudah habis juga." jawab Oma menyodorkan piring pada Nanta
"Tuh kamu juga diperhatikan." Dania langsung mendorong pelan bahu adiknya.
"Hehehe iya sih, tapi aku maunya Oma seratus persen perhatiannya cuma buat aku." kata Lucky tersenyum jahil.
"Kamu seratus persen perhatikan Oma tidak?" tanya Nanta pada Lucky.
"Eh... sepertinya sih. Oma, aku perhatian tidak sih?" tanya Lucky pada Oma.
"Kadang-kadang." jawab Oma membuat Nanta dan Dania terkekeh. Lucky jadi cengar-cengir mendengar jawaban Oma. Mereka mulai menikmati masakan Oma Misha.
"Oma, aku serasa di Malang ini. Cuma Oma Nina yang selalu bikin ini untuk aku." kata Nanta setelah menikmati nasi rawon bikinan Oma Misha.
"Bagaimana rasanya?" tanya Oma Misha tersenyum.
"Persis seperti buatan Oma Nina." Nanta mengacungkan jempolnya.
"Nanti kalau mau makan ini lagi sampaikan saja."
"Ajari aku Oma." pinta Dania pada Oma Misha.
"Boleh, kapan mau belajar?"
"Minggu depan deh Oma kalau aku menginap lagi." jawab Dania tersenyum senang.
"Kakak mau belajar masak kah? untuk apa repot didapur." kata Lucky yang tidak ikut makan, ia hanya menemani karena memang sudah kenyang.
"Ada yang bilang mestinya yang repot masaki itu aku bukannya Oma." Dania melirik Nanta yang cengengesan.
"Makanan yang aku suka ajari juga Oma, memangnya Kak Dania cuma masak untuk Abang saja. Kalau aku lagi main bagaimana? kan harus dijamu." kata Lucky tidak mau kalah.
"Iya nanti buku resep Oma, Oma kasih kakakmu. Disitu ada makanan kesukaan seiisi rumah ini." kata Oma Misha pada Dania.
"Waduh sibuk didapur nanti Dania." Nanta terkekeh.
"Sudah sibuk di dapur, sibuk juga urus anak empat." jawab Dania, kembali Nanta terkekeh.
"Memangnya anak kalian kembar empat?" tanya Oma membuat Nanta dan Dania tertawa.
"Bukan Oma, tadi aku bercandai Dania bilang anak kita nanti empat saja." lapor Nanta pada Oma.
"Hahaha kenapa harus bercanda, seriusi saja Oma setuju." jawab Oma Misha semangat.
"Oma, kapan aku kerja kantoran kalau begini."
"Tidak usah kerja kantoran, terima hasil saja dari Nanta dan dari adik-adikmu nanti." kata Oma melirik Lucky.
"Kok dari aku?"
"Iya lah kamu kan adiknya. Oma saja dapat jatah rutin dari Kakek Kris." jawab Oma tertawa.
"Jangan samakan dong, Oma kan pewaris Suryadi Corporation, aku ini apalah." kata Lucky pada Oma.
"Bukannya tidak mungkin kamu dan Winner yang akan meneruskan Suryadi Corporation, Luck." kata Oma Misha pada cucunya.
"Oma jangan bicarakan itu, aku masih sekolah."
"Oma hanya kasih kamu gambaran."
"Tidak usah itu menyita energiku, sekolahku saja masih bikin aku pusing. Aku mau jadi pianist bukan pengusaha." kata Lucky membuat Oma terkekeh.
"Iya nanti hasil manggung saja kalau begitu kasih ke aku." kata Dania bercandai Lucky.
"Tenang saja, kalau sudah menghasilkan pasti aku kasih, doakan saja aku seperti abang."
"Iya Oma doakan deh biar cucu Oma semuanya sukses." kata Oma Misha sambil menadahkan tangannya.
"Aamiin." jawab Nanta cepat.
Tidak lama kemudian,
"Ma..." panggil Micko pada Oma Misha melalui intercom, rupanya Papa Micko sudah pulang.
"Ya."
"Nanta sama Dania kalau sudah selesai makan kutunggu diruang keluarga." kata Micko pada Mamanya.
"Iya kami kesana." jawab Oma Misha segera beranjak dari kursi makan, mereka sudah selesai menikmati santap malamnya.
"Wow... kamu belanja banyak." Oma Misha dan yang lain terperangah saat melihat belanjaan Micko.
"Win, bagikan." perintah Micko pada Winner. Winner menurut mulai bagikan paperbag yang sudah dinamai, semua kebagian termasuk Nanta.
"Apa ini Pa?" tanya Dania heran.
"Seragam kita besok." jawab Micko terkekeh.
"Papa yang belanja?" Dania kagum.
"Iya, biasanya juga begitu. Kalau Oma dan Mama yang ke butik, sampai besok shubuh pun belum selesai belanjanya." jawab Micko terkekeh.
"Iya kalau kami berdua tinggal sebut, mau apa dan untuk siapa mereka langsung siapkan." jawab Winner bangga.
"Butik langganan Mama Lulu, semua ukuran kita sekeluarga mereka sudah punya." Micko terkekeh.
"Mereka punya stock baju denim, Pa?" tanya Dania takjub karena semua bisa kebagian.
"Dari siang sudah pesan untuk dibuatkan." jawab Micko terkekeh.
"Kenapa juga bukan mereka yang antar." Lucky tertawakan Papa dan Abangnya yang serasa adik itu.
"Aku harus lihat hasil bikinan mereka dong. Kalau langsung dikirim repot lagi kalau mau komplen." jawab Winner cengar-cengir.
"Dia memang rajanya komplen." bisik Lucky pada Nanta, mereka berdua tertawakan Winner.
"Bisiknya bilang aku raja komplen tapi kedengaran." gerutu Winner membuat semuanya tertawa.