I Love You Too

I Love You Too
Hari pertama



Hari senin yang mendebarkan, cukup membuat Nanta gugup, perdana ia akan bekerja di Warung Elite. Padahal kemarin Ayah sudah bilang santai saja, pulang kuliah langsung saja ke Warung Elite untuk bekerja, begitu terus setiap hari, jika ada basket boleh pulang cepat. Baik sekali Ayah dan sahabatnya memberikan Nanta kebebasan untuk tetap kuliah dan aktif di Basket.


Kamu pakai kemeja, Mas?" tanya Dania memilihkan baju untuk suaminya.


"Hu uh, tangan pendek saja Dan." pinta Nanta pada istrinya. Dania pun memilihkan pakaian yang akan dipakai suaminya.


"Duh tambah ganteng suami aku." Dania memberengut membantu Nanta kancingkan kemejanya.


"Kalau tambah ganteng harusnya senyum dong." Nanta terkekeh lihat ekspresi istrinya.


"Nanti banyak yang naksir." sungut Dania memonyongkan bibirnya.


"Yang penting akunya tidak naksir." jawab Nanta memeluk istrinya gemas. Keduanya sudah rapi siap berangkat ke Kampus.


"Sayang, nanti kita pulangnya pisah dong." Dania kembali bersungut.


"Kalau mau pulang sama-sama, bisanya sampai Warung Elite saja, minta Tomson jemput kamu disana." kata Nanta mengecup dahi istrinya.


"Oke." jawab Dania senang, rasanya aneh saja sudah biasa pergi dan pulang bersama suaminya harus keluar sendiri dari kampus, padahal dulu juga sendiri.


Keduanya keluar kamar bergandeng tangan, pemandangan yang sudah biasa bagi seisi rumah. Kenan tersenyum saat melihat Nanta sudah rapi dengan pakaian ala orang kantoran.


"Waduh Bos Warung Elite sudah siap ini." kata Nona menggoda Nanta.


"Aku kok gugup ya." kata Nanta polos, Kenan terbahak.


"Di bawa santai saja Boy." kata Kenan pada Nanta.


"Bagaimana mau santai, Pa. Semua bilang Bos Warung Elite. Bahkan tadi pagi Bang Steve telepon aku ucapkan selamat, aku jadi gugup kan. Itu pewaris yang sesungguhnya malah ucapkan selamat, Bang Atan, Bang Naka dan Bang Chico chat aku. Bang Ray sih tahu sendiri dari kemarin sudah godain aku." cerocos Nanta membuat Kenan terbahak.


"Itu kan Restaurant Ayah kamu juga, Boy." kata Kenan pada putranya.


"Tapi aku kan bukan pewaris seperti yang lainnya." kata Nanta pada Papanya.


"Meskipun begitu, Ayah dan sahabatnya percayakan Warung Elite ditangan kamu. Kamu punya nilai jual." Kenan terbahak.


"Iya sih, apalagi kalau sahabatku sering kumpul disana, mungkin jadi tempat jumpa fans ya, Pa." Nanta terkekeh.


"Iya dari dulu sudah begitu, kamu tahu penggemar Papa Andi dan Bunda Kiki juga banyak, permainan musik mereka luar biasa. Di zaman kamu ini, bisa siapkan trik selain bermusik." kata Kenan memberikan tips pada anaknya.


"Doakan ya Papa, Mamon, Dania. Semoga aku bisa cepat menguasai pekerjaan ini." pinta Nanta pada ketiga orang yang disayangnya. Tadi juga sudah hubungi Mama, Om Bagus, Oma, Opa, Bang Ray dan Kak Roma untuk minta didoakan. Seperti mau ujian saja Nanta ini.


"Pasti Boy, lakukan yang terbaik." kata Kenan tersenyum, ingat dulu Ia pun mulai belajar diperusahaan Papanya saat masih kuliah, meskipun tidak secepat Abangnya yang bahkan saat masih Sekolah menengah sudah mulai sering ke Kantor Papa untuk belajar bekerja diperusahaan. Abangnya memang hebat, semua itu atas kemauannya sendiri. Berbeda dengan Kenan yang mulai bekerja atas saran Abangnya.


"Nanti aku akan sering berhubungan dengan Bang Chico kata Ayah." Nanta menjelaskan tanpa diminta.


"Iya Chico pemasok bahan bakunya." jawab Kenan yang sudah tahu cerita.


"Ya sudah Pa, aku ke kampus dulu." ijin Nanta pada Papanya, kemudian menyalami Mamon.


"Pakai sepatu yang kita kembaran pertama kali nih aku." katanya pada Nona mengangkat sepatunya. Nona terbahak, perdana belikan Nanta sepatu waktu itu, belum ada niat untuk menikah dengan Kenan.


"Punyaku masih ada tuh Nanta, Dania kamu muat tidak ya, bisa pakai nanti biar kembaran sama Nanta." kata Nona pada menantunya.


"Nanti saja Mamon, kalau liburan bersama Mas Nanta aku pinjam." jawab Dania tertawa, ia sudah diceritakan Nanta kalau keduanya punya koleksi sepatu kembaran beberapa pasang. Berhubung Papa tidak suka koleksi sepatu jadi kembaran sama Mamon hanya satu saat Nanta belikan di Amerika kemarin.


"Minggu depan bisa pinjam, aku ada pertandingan Basket antar club." kata Nanta pada istrinya.


"Bertanding dimana?" tanya Kenan.


"Naik kereta?" Nona langsung saja sumringah kalau sudah dengar mau jalan-jalan.


"Boleh." jawab Kenan diluar dugaan, langsung Nona memeluk suaminya senang, biasanya selalu menolak jika diajak pergi.


"Asiik, Baleeen kita mau naik kereta api loh." teriak Nona panggil Balen saking senangnya.


"Seperti tidak pernah diajak liburan saja." Kenan terkekeh melihat kelakuan istrinya.


Siang sepulang dari kampus, Nanta bersama Dania menuju Warung Elite, Tomson sudah lebih dulu sampai saat Nanta parkirkan kendaraannya.


"Mulai hari ini Bos?" tanya Tomson tersenyum pada Nanta.


"Iya, doakan ya biar lancar semuanya." kata Nanta menepuk bahu Tomson.


"Gugup sekali, padahal main basket lebih mendebarkan bukan?" tanya Tomson pada Nanta, sudah berani banyak bicara karena sudah kenal dekat.


"Beda lagi gugupnya." Nanta tertawa.


"Ya sudah aku langsung ya." kata Dania bersiap masuk kedalam mobilnya.


"Hati-hati sayang." Nanta mengacak anak rambut istrinya.


"Iya." jawab Dania tersenyum.


"Sukses Bos." Tomson doakan Nanta.


"Aamiin, terimakasih, jangan ngebut Tom." jawab Nanta dengan wajah sumringah, tidak lupa pesan supaya Tomson menyetir dengan baik. Nanta baru masuk ke restaurant ketika Tomson mulai melajukan kendaraannya.


Semua mengangguk hormat begitu Nanta masuk, Nanta tersenyum saja, pasti tadi Ayah dan sahabatnya sudah sampaikan jika Nanta mulai bekerja hari ini.


"Selamat datang Nanta." sapa Bowo orang kepercayaan Ayah Eja.


"Om Bowo." Nanta tersenyum karena sudah mengenal Bowo dari dulu.


"Jangan panggil Om dong." Bowo terkekeh.


"Panggil apa? Bapak?" tanya Nanta ikut terkekeh.


"Aduh apa ya? Om juga bingung." Nanta tertawa, Om Bowo jadi tidak jelas maunya dipanggil apa. Ia mengantarkan Nanta ke ruangan para Bos.


"Boy, sudah datang." Reza tersenyum menyambut kehadiran Nanta.


"Waduh tambah ganteng pakai baju seperti ini, sudah siap sibuk Nan?" Mario tertawa merangkul Nanta.


"Kita keliling dulu, meskipun kamu sudah tahu sedikit banyak, tapi ada juga yang kamu tidak tahu dan sekarang harus tahu." kata Mario pada Nanta. Reza biarkan sahabatnya mengajak Nanta keliling disetiap sudut ruangan Warung Elite. Bahkan sampai keruang rahasia mereka, studio rekaman dan juga ruang istirahat mereka berempat.


"Aku bisa pasang Ring Basket diruangan aku dong Papi." kata Nanta pada Mario.


"Kamu mau bikin lapangan Basket juga boleh." Mario tertawa.


"Basket Corner di pojok restaurant saja Papi, biar anak-anak pengunjung bisa ikut bermain." Nanta menyampaikan idenya.


"Baru berapa menit disini sudah sumbang ide, luar biasa kamu Boy." Mario langsung saja menepuk bahu Nanta bangga.


Kehadiran Nanta membuat mereka dapat menarik nafas lega, mengingat anak-anak mereka tidak ada satupun yang mau terjun di bisnis restaurant ini. Hal itu sempat membuat mereka frustasi, untung saja Reza bisa membujuk Nanta untuk ikut bergabung. Bukan membujuk sih sudah perintah yang tidak bisa Nanta tolak.