I Love You Too

I Love You Too
Tidak sabar



"Aku duluan yang mandi apa kamu?" tanya Nanta pada istrinya setelah mereka beraktifitas.


"Aku saja, nanti lama keringkan rambutnya." kata Dania cepat beranjak dari kasur menuju ke kamar mandi. Nanta tersenyum jahil melihat istrinya berlari kekamar mandi berbungkus selimut.


"Aku sudah lihat semua." katanya terkekeh, Dania memonyongkan bibirnya. Bisa cepat punya anak kalau begini caranya, pikir Dania.


Dania tidak berlama-lama dikamar mandi, keramas bar bur bar bur selesai, simpel saja yang penting bersih dan wangi, tetap pakai sabun dan shampoo suaminya, karena Dania suka sekali wangi Nanta. Jadi pengen cium leher Mas Nanta lagi kan, pikirnya lagi.


"Mas Nanta mandi." katanya begitu keluar kamar, tapi ternyata suaminya tertidur. Dania sudah berpakaian lengkap, celana sedengkul dan kaos oblong, baju rumahnya. Ia mendekati suaminya yang tampak pulas, kasihan melihat suaminya kelelahan, walaupun akibat ulahnya sendiri. Biarkan saja tidur sampai Dania selesai mengeringkan rambutnya.


"Sayang, bangun." bisik Dania ditelinga suaminya.


"Eh beneran ada yang panggil aku sayang apa mimpi?" tanya Nanta setelah beberapa kali dibangunkan dari tidurnya.


"Hehehe, dengar ya, aku kira kalau pulas tidak dengar." Dania jadi malu sendiri.


"Mas Nanta ayo mandi, mau ashar di Mesjid kan?" Dania mengingatkan.


"Iya." jawab Nanta bangun malas-malasan.


"Masih mau..." kata Nanta pada Dania.


"Mas Nanta aku sudah keramas, masa keramas lagi sih." Omel Dania, Nanta menggelengkan kepalanya.


"Ih pikiran kamu tuh kesana terus, suka ya?" goda Nanta pada istrinya. Dania jadi tertawa, pikirannya memang kesana terus, mau cium lagi leher suaminya, semakin kena keringat semakin enak.


"Habis wanginya enak." jawab Dania polos, membuat Nanta terbahak.


"Nanti malam jangan minta lagi ya." kata Nanta disela tawanya.


"Mana pernah aku yang minta, Mas Nanta yang paksa aku terus."


"Kamunya mancing-mancing terus." kata Nanta menutup pintu kamar mandinya.


"Ingat ya nanti malam libur." kata Nanta begitu selesai mandi.


"Iya." jawab Dania, menurut saja apa yang Nanta bilang.


"Yuk keluar, malu dikamar terus." ajak Nanta pada istrinya.


"Papa kan lagi pergi."


"Mungkin sudah pulang, ayo sekalian cari makanan, habis mandi kok lapar ya." kata Nanta lagi.


"Aku juga lapar." kata Dania mengikuti Nanta keluar kamar, Nanta merangkul istrinya dan mencium rambut Dania.


"Sewangi ini aku ternyata." katanya baru menyadari.


"Hihi pantas saja banyak yang betah berlama-lama dekat Mas Nanta." kata Dania terkekeh.


"Siapa?"


"Itu gadis-gadis yang di Mal minta foto bersama. Mereka ajak Mas Nanta bicara lama waktu itu." kata Dania.


"Oh, masa sih."


"Pura-pura lupa."


"Memang lupa. Banyak soalnya yang minta foto." jawab Nanta jujur.


"Ish sebal."


"Cemburu?"


"Iya."


"Hahaha Bagus deh, berarti sayang. Pantas tadi bangunkan tidur panggil sayang." Nanta tertawa senang.


"Aduh ini cucu Oma tambah nempel saja." Oma Misha langsung menyambut keduanya saat menuju ruang makan.


"Hihi Mas Nanta lapar Oma." kata Dania dengan wajah memerah, sementara Nanta buru-buru melepaskan rangkulannya.


"Ayo Oma juga mau makan. Padahal sudah makan, eh lapar lagi." Oma Misha senang karena ada temannya.


"Ada makanan apa Oma? kalau tidak ada kita pesan online." kata Nanta.


"Ih ada dong, mau apa juga ada tinggal sebut." Oma terkekeh.


"Nanta makan nasi saja Oma." jawab Nanta.


"Oma mau makan asinan."


"Aku mau Oma." Dania ikut selera Oma.


Setelah mengisi perutnya, Nanta bersiap ke Mesjid, tampak Lucky dan Winner sudah siap di ruang keluarga.


"Iya." jawab Nanta terkekeh.


"Gawat, pengantin baru makan terus." goda Winner pada Abangnya.


"Ish anak dibawah umur paham sekali." Nanta terkekeh.


"Tentu." jawab Winner bangga.


"Kalian bahas apa sih?" tanya Lucky.


"Urusan orang dewasa." jawab Winner terbahak.


"Lihat tuh Oma, Winner baru ikut Bang Nanta sekali sudah bahas yang aneh-aneh." adu Lucky pada Omanya.


"Ish kamu Abang apa adik sih suka sekali mengadu." Winner kembali terbahak.


"Eh sudah sana ke Mesjid, nanti keburu adzan." perintah Oma pada cucunya.


"Iya Oma." jawab ketiganya berbarengan


Om Micko belum sampai rumah, belum kelihatan batang hidungnya. Nanta dan kedua adik iparnya segera berjalan menuju Mesjid untuk sholat ashar.


"Papa baru pulang?" sapa Dania saat melihat Papa dan Tante Lulu di ruang tamu.


"Iya, kalian jadi ke Bandung besok?" tanya Micko pada Dania.


"Jadi, tadi sudah bilang sama Kak Roma. Papa dan Tante Lulu ikut?" tanya Dania.


"Tidak, kalian saja berempat, Papa kan Kerja." jawab Micko.


"Adik-adik sekolah, nanti tidak ada yang temani Oma." jawab Lulu.


"Ajak saja Oma." kata Dania memandang Oma yang duduk diruang keluarga.


"Mana mau duduk dimobil segitu lama." Micko terkekeh.


"Besok Raymond setelah shubuh jemput kalian." kata Micko.


"Loh Papa seperti penyelenggaranya saja." Dania terkekeh.


"Memang semua Papamu yang atur." kata Lulu terbahak.


"Sayang..." Micko berdecak memandang istrinya, jangan Lulu buka rahasia, ia memang meminta Raymond agar mengajak Nanta dan Dania berbulan madu, maksimalkan waktu yang ada, mumpung Nanta belum masuk asrama.


"Tidak sabar mau punya cucu, Mick?" celutuk Oma Misha terbahak.


"Mama..." Micko meringis memandang Mamanya.


"Papa..." Dania ikut meringis.


"Bukan begitu, Papa hanya ingin kalian maksimalkan waktu sebelum suamimu pergi selama satu setengah bulan." Micko menjelaskan.


"Lagi pula kalau hamil kan sudah ada suaminya juga." tambah Micko lagi.


"Berarti aku hamil selagi belum lulus?" tanya Dania pada Papanya.


"Memangnya mau kamu tunda?" tanya Lulu.


"Aku masih berfikir." kata Dania.


"Semalam pakai pengaman tidak?" tanya Lulu lagi.


"Pengaman bagaimana?" tanya Dania bingung.


"Tadi malam saat berhubungan bagaimana pakai sesuatu tidak?" Lulu memperjelas. Dania jadi merah merona menggaruk kepalanya bingung mau jawab apa.


"Ah, tidak pakai kan berarti." Lulu tertawa.


"Sudah tuh." kata Lulu lagi pada Micko yang ikut tertawa.


"Jadi cucu deh." kata Oma Misha terbahak.


"Ah Oma..." Dania tambah malu saja.


"Kamu terlalu lama berpikir, babynya keburu dibikin deh, ibarat orang masak sudah dipenggorengan, tinggal tunggu matang saja." Oma Misha masih saja tertawa.


"Oma bahas apa sih, Dania bingung." kata Dania memeluk Oma, antara malu Dan tidak mengerti.


"Siap-siap suamimu di Amerika kamu hamil." kata Oma Misha mengacak anak rambut Dania.


"Memang bisa langsung Oma, baru tadi malam dan tadi siang." hahaha sama saja polosnya dengan Nanta, Dania malah membahas dengan gamblang kapan mereka melakukannya.


"Yah apalagi itu, yang sekali saja bisa langsung jadi, kalian semangat juga ya." Micko tertawa senang sekali mendengar pengakuan anak gadisnya, ternyata tidak percuma ditraining Arkana semalam.