I Love You Too

I Love You Too
Pulas



"Bisa-bisanya mereka mengejar Mas Kenan seperti itu, aku saja yang sudah punya Nanta meninggalkan Mas Kenan." gerutu Tari ketika sudah tiba diruangannya, jadi kesal sendiri melihat kelakuan Melly dan Sheila yang selalu ingin dekat dengan Kenan. Padahal jelas-jelas mereka tahu Kenan sudah punya istri.


"Untung saja Mas Bagus tidak diganggu perempuan seperti itu." Tari kembali bicara sendiri.


Rapat diruangan Kenan sudah selesai dan sekarang Kenan sedang makan siang bersama mereka. Tadi Tari sudah mendapat kabar dari Bagus, sebenarnya Bagus meminta Tari untuk menyusul tapi tak ingin Melly menempeli padanya, Tari memilih untuk kembali ke kantor.


"Kenapa cemberut begitu." tanya Kenan yang tiba-tiba sudah berada diruangan Tari.


"Kesal saja dengan penggemar Mas Kenan yang tidak tahu diri." ketus Tari pada Kenan.


"Psssttt... jangan bahas itu, nanti Nona dengar, saya tidak mau ribut tidak jelas." kata Kenan setengah berbisik.


"Mana Nona dan Mas Bagus?" tanya Tari pada Kenan.


"Nona lagi di toilet, Bagus dan Kevin langsung survey lokasi untuk acara mereka nanti." kata Kenan menjelaskan. Tari melihat ke arah toilet belum ada tanda-tanda Nona akan keluar dari sana.


"Tadi aku bertemu Sheila di restaurant." kata Tari setengah berbisik.


"Oh..." Kenan tampak kaku tak ingin membahas tentang Sheila.


"Kalian masih berhubungan?" tanya Tari menyelidik.


"Tidak." tegas Kenan melihat ke arah Toilet, sedikit jengah khawatir Nona mendengarnya.


"Dia mau menemui Mas Kenan awalnya, tapi kubilang sedang bersama istri." Kenan mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


"Kamu tidak bisa melarang dia untuk menemui kamu ya, Mas? jangan sampai rumah tangga Mas Kenan terganggu lagi dan Nanta kembali terluka." desis Tari menatap Kenan tajam.


"Sudah saya katakan pada Sheila kalau saya sudah menikah, sudah saya blokir juga teleponnya, sudah saya minta untuk menjauh. Saya harus bagaimana lagi?" tanya Kenan bingung sendiri.


"Awas saja kalau aku lihat Mas Kenan masih menemui Sheila, Nanta akan kutarik jauh dari Mas Kenan." ancam Tari pada Kenan.


"Aih percaya sama saya lah, untuk apa saya menikah sama Nona kalau masih mengharapkan Sheila." kata Kenan meyakinkan. Mereka segera merubah pembahasan begitu Nona terlihat keluar dari Toilet dan berjalan kearah mereka dengan senyum melebar.


"Kalian masih sibuk? aku pulang duluan saja ya, Mas." ijin Nona pada Kenan saat melihat Kenan sedang membahas pekerjaan bersama Tari.


"Nanti saja, Non." tahan Tari pada Nona.


"Aku tidak mau mengganggu konsentrasi Mbak Tari dan Mas Kenan."


"Hari ini sudah santai, rapatnya kan sudah selesai, Mas Kenan tinggal tanda tangan berkas yang sedang aku siapkan, setelah itu kalian bebas." jawab Tari apa adanya, lagi pula ia khawatir Sheila masih berada disekitar kantor.


"Iya kamu tunggu saja diruangan, sebentar. Nanti kita pulang sama-sama." jawab Kenan ikut menahan istrinya.


"Oke." jawab Nona menyetujui.


"Mas, tadi aku seperti lihat Sheila loh, saat kita makan siang. Tapi mungkin mirip ya." kata Nona kemudian, ia ingin bilang dari tadi tapi tidak ada kesempatan. Tari tersenyum saja tidak membahas lebih lanjut.


"Biarkan saja, mungkin kebetulan lewat." kata Kenan sesantai mungkin.


"Tunggu saya diruangan ya, saya selesaikan pekerjaan dulu." kata Kenan dengan lembutnya. Nona segera meninggalkan Kenan diruangan Tari dan menunggu suaminya di sofa sambil rebahan.


"Tuh kan dia masih menunggu Mas Kenan." Tari jadi kesal sendiri.


"Ada lagi berkas yang harus saya tanda tangan?" tanya Kenan setelah menanda tangani berkas yang diberikan Tari.


"Ada, tapi besok saja. Yang penting untuk besok sudah semua." kata Tari membereskan berkas yang sudah ditanda-tangani Kenan, dan mulai menghubungi bagian terkait untuk menindak lanjuti.


"Tari, kamu bisa ke Jakarta menonton pertandingan Nanta?" tanya Kenan kemudian, mengingat Tari sedang hamil muda.


"Mas Bagus sibuk tidak ya? Aku tidak bisa tidur kalau Mas Bagus tidak ikut." kata Tari jujur apa adanya.


"Oh bawaan orok ya." Kenan terkekeh dibuatnya.


"Mungkin. Kalau ke Jakarta juga tidak bisa sehari dua hari kan? kalau semalam saja mungkin masih bisa lah memaksakan diri. Kasihan juga Nanta kalau aku tidak datang." Tari jadi bingung sendiri.


"Kasih tahu saja kalau kamu lagi hamil." kata Kenan memberi solusi.


"Iya, nanti saat menghubungi Nanta akan kuberi tahu kabar gembira ini." jawab Tari tersenyum pada Kenan.


Kenan kembali keruangannya untuk menemui Nona, tapi apa yang dilihatnya istrinya sedang tertidur pulas tanpa beban, membuat Kenan tertawa sendiri.


"Hei, pemalas. Enak betul setelah makan langsung tidur." kata Kenan menepuk pipi Nona pelan, tidak ada pergerakan Kenan yang sudah berjongkok disisi sofa langsung saja menciumi istrinya tanpa henti. Seperti habis minum obat tidur, pulas sekali Nona, tidak terganggu sedikitpun. Mungkin ia baru saja terlelap, Kenan kembali tertawa sendiri. Kenan kembali mencium Nona dengan lembut, ******* bibir Nona perlahan. Aktifitasnya terhenti ketika pintu ruangannya berbunyi.


"Ck.. Om ini seperti pengantin baru saja." Raymond baru saja kembali dari hotel A, maksud hati ingin melapor pada pimpinan perusahaan, apalah daya melihat aktifitas yang sedikit mengerikan hahaha.


"Kamu tidak bisa ketuk pintu dulu ya." keluh Kenan segera beranjak menuju bangku kebesarannya.


"Kenapa tidak dikunci kalau mau bermesraan dengan istri." keluh Raymond tidak ingin disalahkan, ia menyusul Kenan duduk dihadapannya.


"Bagaimana?" tanya Kenan ingin mendengar cerita dari Raymond, mengenai hasil rapatnya hari ini.


"Sebal sekali sama Melly." bisiknya dengan wajah memberengut. Kenan terkekeh dibuatnya.


"Ceritakan hasil rapat saja, saya tidak ingin mendengar cerita tentang orangnya." kata Kenan kemudian.


"Kerja sama yang mereka tawarkan cukup menarik, tapi aku malas sama pelakunya. Kalau Pak Adam saja masih enak, bisa tidak ya Melly jangan dilibatkan. Sebenarnya perusahaan itu juga milik Pak Adam, Melly hanya memberi referensi." Raymond menyampaikan pendapatnya.


"Hasil rapat tadi bagaimana?" tanya Kenan memastikan.


"Melly selalu ingin dilibatkan setiap ada kegiatan." keluh Raymond mengerucutkan bibirnya. Kenan mengangguk saja.


"Menurut Om?" Raymond minta pendapat.


"Ya kalau tidak ada kepentingan jangan dilibatkan, kasih saja fee sesuai ketentuan yang ada. Cukup sampai disitu saja." kata Kenan memainkan pulpen ditangannya.


"Yah itu kan menurut kita. Tadi sih alot tuh karena selalu ingin terlibat. Aku sudah bilang tunjuk saja satu penanggung jawab, jangan terlalu banyak kepala."


"Betul itu." Kenan menyetujuinya.


"Tapi tidak semudah itu, masalah fee juga sudah aku bahas, dia tidak tertarik dengan uang. Hanya satu yang membuat dia tertarik." Raymond tampak menyeringai, Kenan mengangkat alisnya ingin tahu.


"Om Kenan." jawab Raymond terkekeh membuat Kenan meletakkan telunjuknya dibibir sambil melihat ke arah Nona yang masih saja pulas.