I Love You Too

I Love You Too
Home Sweet Home



Hari sabtu Reza dan Kiki mengantar Mama, Papa ke bandara, mereka kembali ke Malang setelah kemarin menyempatkan untuk hadir di acara pernikahan Erwin dan Enji, Reza mengajak Kiki mampir ke rumah barunya. Saat memasuki cluster perumahan saja Kiki sudah terkagum-kagum dibuatnya.


"Sayang, nanti kita tinggal disini?" tanya Kiki tak percaya.


"Iya, kamu suka?" Reza tersenyum, Kiki menganggukkan kepalanya. Kemudian Reza menunjuk sebuah rumah yang mereka lewati, "Itu rumah Erwin." katanya lalu tak lama "Itu rumah Mario." kemudian tak lama "Itu rumah Andi." dan "Ini rumah kita." Reza memarkirkan kendaraannya di sebuah rumah nuansa putih bertingkat dua. Kiki terbelalak bertambah kagum dan sangat bersemangat dibuatnya.


"Jadi nanti kita bertetangga?" tanya Kiki dengan mata berbinar-binar.


"Hmm seharusnya begitu, tapi Mario sepertinya belum kasih tahu Papi dan Mami kalau sudah punya rumah."


"Enji pindah kesini kapan, Kak?"


"Aku belum tanya." jawab Reza segera turun dari Mobil dan Kikipun mengikuti. Tampak seorang tukang sedang membersihkan puing-puing, rumah ternyata sudah selesai di renovasi. Mereka memasuki ruang tamu yang sangat besar, dibaliknya tampak ruang keluarga disambung dengan ruang makan dengan pintu berkaca pemandangan sebuah taman dan kolam renang. Ada dua kamar berhadapan dengan kolam renang.


"Sayang kita kapan pindah?" tanya Kiki sambil duduk dipinggiran kolam renang yang tembus pandang dari ruang makan dan ruang keluarga.


"Minggu depan kita sudah bisa pindah, aku isi perabotan dulu. Kalau sudah rapi semua, kita tinggal masuk. Semua furniture kupesan khusus." katanya sambil tersenyum, lalu "Sayang ayo kutunjukkan kamar kita nanti." Reza menarik lengan istrinya agar segera berdiri, lalu mengikuti langkahnya mulai menaiki tangga.


"Kamar kita diatas?" tanya Kiki sedikit cerewet, karena dibawah sudah ada dua kamar besar.


"Iya biar ga ada yang ganggu." jawab Reza santai.


"Dibawah?"


"Kamar tamu dan kalau papa dan mama kita menginap."


"Ini kamar kita sayang?" Kiki memasuki sebuah kamar besar dengan lemari yang sudah menyambung dengan dinding lalu menembus ke sebuah ruangan, entah nanti akan dijadikan apa ruangan itu. Kemudian ada toilet lengkap dengan bathtub.


Iya sayang, ruangan yang itu nanti jadi ruang kerja aku, jadi aku bisa intip kamu sambil kerja." Kiki memeluk Reza senang.


"Sayang, jangan sekarang. Masih ada tukang." kata Reza nakal. Cepat saja Kiki melepas pelukannya, membuat Reza terbahak. Mereka lalu keluar kamar dan mulai masuk dari satu ruangan keruangan yang lain. Masih ada tiga kamar lagi diatas.


"Kamarnya banyak sekali sayang, kita hanya berdua."


"Nanti kan ada anak-anak kita. Aku sudah persiapkan dari sekarang." Jawab Reza optimis, lalu membelai perut Kiki kemudian menciumnya. "Anak sholeh cepatlah datang." katanya berbicara pada perut Kiki. Reflek Kiki ikut membelai perutnya sambil berdoa didalam hati, semoga Allah segera memberikannya keturunan yang sholeh dan sholeha.


Setelah itu Kiki mengajak Reza turun dan kembali duduk dipinggiran kolam renang. Sepertinya ini nanti jadi tempat favoritenya. Mulailah Kiki berselfie ria dan memajangnya di status media sosialnya "Home sweet home." tulisnya. Langsung saja tak berapa lama banyak notifikasi yang muncul di handphonenya, tak ketinggalan Intan, Monik dan Enji memberikan komentar.


Dimana *intan


Numpang berenang dong kaka *Monik


Tetangga masa gitu *Enji


dan banyak lagi komentar dari follower yang Kiki tak kenal.


"Sayang, Enji sudah tahu kita bertetangga nanti." kata Kiki pada Reza yang sedang mengontrol tanaman disekitar kolam renang.


"Hmmm.." sahutnya sambil kembali fokus mengamati tanaman seperti tak mau diganggu.


drrttt... drrtttt.... drrrtttt


Handphone Kiki berdering, videocall bersama "Nyo Club."


"Sudah pindah rumah baru ya?" teriak Monik bersemangat.


"Ah mau mampir, itu daerah mana?" tanya Intan tak kalah bersemangat.


"Belum pindah, masih kosong melompong. Minggu depan in syaa Allah pindahnya." kata Kiki menjelaskan.


"Tetanggaaaa." teriak Enji yang baru saja tersambung.


"Kamu sudah tahu, kita bertetangga?" tanya Kiki pada Enji.


"Baru saja Erwin kasih tahu." Enji mengerjapkan matanya senang.


"Re, kamu kapan pindah?" tanya Kiki pada Regina yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja.


"Ki kami juga pindah minggu depan." kata Enji sangat-sangat bersemangat.


"Ah kalian kenapa bisa jadi tetangga, sepertinya suami kalian beli rumahnya janjian." sungut Intan kesal.


"Kasih tahu daerah mana, gue juga mau jadi tetangga." kata Intan lagi.


"Hei, lu udah tetanggaan sama gue, Nyo" Monik mengingatkan jika Anto dan Alex mendapatkan hadiah rumah berdekatan dalam satu komplek.


"Hahhaa tapi mereka ramai nik, kita cuma berdua."


"Ga papa, biar berasa kalau lebaran." kata Kiki disambut tawa yang lain.


"Hei Mario juga bilang kami pindah minggu depan." Kata Regina sumringah.


"Yeaaayyy." teriak Enji dan Kiki berbarengan.


Reza mulai mengintip menjaili istrinya. Tak lama Erwin juga ikut muncul dilayar, disusul Mario yang memeluk Regina dari belakang.


"Hei jangan bikin iri dong. Anto lagi balap nih" Sungut Intan, Monik yang mendengar tertawa langsung mengarahkan hanphonenya pada Alex yang sedang menyetir, bertambah maju saja mulut Intan dibuatnya.


"Kak Erwin, jodohin Kak Andi sama Pipit dong." kata Intan pada Erwin membuat yang lain tertawa.


"Kalian senang sekali jadi mak comblang." Kata Erwin menggelengkan kepalanya.


"Baru seminggu dia menata hati, biarkan dulu. Nanti juga dia cari sendiri." Kata Mario sambil memainkan rambut Regina. Sepertinya Mario mulai Bucin.


"Aku khawatir, Andi lagi didekati artis pendatang baru. Kemarin sepulang dari resepsi Kak Erwin kita ga sengaja papasan di Mal." kata Monik mulai bergosip.


"Itu cuma temannya." sahut Reza.


"Berawal dari teman. Hati-hati mas Alex kenal betul track record perempuan itu." Kata Monik, Alex langsung mengangguk sambil fokus menyetir.


"Dia cuma mau ambil follower Kak Andi." kata Monik lagi.


"Gosip lu Nik." kata Erwin sambil tertawa.


"Ih lihat saja akhir cerita, kalau kejadian ga enak jangan panggil aku Monik." dengusnya kesal.


"Baiklah Nyonya Alex, urusan perjodohan Pipit sama Andi, Serahkan padaku." kata Enji yakin.


"Nji, Pipit mau dijodohkan sama Leo, kamu lupa?" kata Erwin terdengar oleh yang lain.


"Siapa Leo?" tanya Intan


"Mantan pacarku. Ternyata orang tua mereka sahabat." Enji menjelaskan.


"Nji, gue bantu nanti proyek perjodohan Pipit sama Andi, daripada sama mantan pacar lu, bisa curhat terus nanti Erwin dikantor." Seloroh Mario, diiyakan oleh Reza.


"Iya.. Iya.. nanti kita pikirkan caranya." Kata Erwin mengalah.


"Bujuk Bokap dulu Win, biar ga jadi dikenalkan sama Leo." kata Reza


"Nah iya, kapan kita makan bersama ajak Pipit sama Andi. Jangan sampai mereka bawa pasangan ya." kata Monik menyampaikan idenya.


"Hari minggu depan sekalian selamatan rumah baru." kata Enji


"Siapa yang mau selamatan?" tanya Erwin pada Enji.


"Kita." jawab Enji, membuat suaminya menggelengkan kepala karena membuat rencana sendiri.


"Setuju kan?" Enji setengah memaksa. Erwin pun mengiyakan, tak mau mengecewakan istrinya.


Mereka mengakhiri sambungan telepon dan kembali dengan aktifitas masing-masing. Reza lalu mengajak Kiki pulang ke rumah Mama Ririn, sesuai pesan orangtuanya agar seminggu ini sebelum pindah kerumah baru, mereka tinggal di rumah orang tua Kiki untuk menghindar dari Retno tentunya.