
"Masanta." sambut Ulan saat melihat Nanta memasuki halaman rumahnya, Ia sedang memegang buku dan krayon, menggambar sudah jadi hobby ulan rupanya.
"Berdua saja ya? Mama kira semua ikut kesini." sambut Tari yang sudah diberitahu Nanta ia berkeliling dulu bersama Opa dan Oma, menemani Oma Misha menikmati suasana Kota Malang.
"Oma Misha kecapekan, jadi langsung pulang, aku diantar supir Opa tadi." kata Nanta memeluk Mama yang sudah beberapa bulan ini belum bertemu.
"Mama hamil lagi?" tanya Nanta melihat perut Mama membesar.
"Hehehe..." Tari cengengesan saja.
"Ya ampun, anakku dan anak Mama nanti berlomba-lomba saja." Nanta terkekeh mengusap perut Mamanya.
"Sebenarnya waktu kamu menikah itu ternyata Mama sudah hamil." jawab Tari tertawa.
"Kamu punya Tante didalam perut Nak." kata Nanta pada adek bayi diperut Dania. Tari dan Dania tertawa melihat Nanta.
"Masanta, ulan udah bisa menggambarrrr." kata Ulan yang rupanya sudah bisa bilang huruf R.
"Dia sudah bisa bilang huruf R loh Mas." Mama membanggakan Wulan.
"Pintar dong, sudah bisa menggambar lagi. Kamu kursus, Dek?" tanya Nanta pada Ulan.
"Belajarrr sama Bang Rrrremon." jawab Ulan.
"Kapan ulan bisa bilang huruf R Ma?" tanya Nanta pada Mamanya.
"Baru seminggu ini." jawab Mama, Nanta terkekeh.
"Pantas saja R nya harus diperjelas begitu." komentar Nanta membuat Mama tertawa.
"Pintarrr kan Ulan?" tanya Ulan minta dipuji.
"Iya pintar dong kan adiknya Nanta." jawab Nanta mencium Ulan. Meskipun tidak semenggemaskan Balen tetap saja Nanta juga sayang sama Ulan.
"Baen apa kabarrr?" tanya Ulan pada Nanta.
"Lagi ke Pulau Seribu dia hari ini." jawab Nanta.
"Kamu sudah salam sama Kak Dania?" tanya Nanta pada Ulan yang dari tadi fokus dengan dirinya saja.
"Belum." jawab Wulan tersenyum pada Dania.
"Ulan, Kak Dania ini Kakak Ulan juga loh, dia istri Masanta." kata Tari pada gadis kecilnya.
"Seperrrti Mama dan Papa ya?" tanya Ulan, Nanta menganggukkan kepalanya.
"Diperut Kak Dania ada Adek bayi juga tuh, sama seperti Mama." kata Nanta menunjuk perut istrinya, Dania tersenyum lagi pada Ulan. Ulan langsung saja menghampiri Dania dan mengelus perutnya, senang kelihatannya.
"Mama kalau sudah lahiran, kb dong." pinta Nanta pada Mamanya.
"Ih memangnya kenapa?" tanya Tari tersenyum jahil.
"Yah cukup lah adikku dua di Jakarta, dua di Malang, kalau tambah lagi nanti aku bingung kasih perhatiannya. Ini saja Balen sudah komplen sama aku karena aku sibuk terus." katanya pada Mama.
"Kamunya saja yang tidak bisa atur bagaimana cara perhatikan adik-adikmu."
"Bukan Balen saja yang komplen, Bang Ray, Oma, Bunda semua komplen, Untung saja Mama dan Ulan tidak komplen." Nanta menarik nafas.
"Mama berusaha maklum, padahal mau komplen juga." Tari terkikik geli.
"Tuh kan." Nanta langsung bersungut.
"Iya setelah ini Mama akan KB, Masa mau melahirkan terus." Tari akhirnya menjawab sesuai keinginan Nanta.
"Ulan mau punya adik berapa?" tanya Dania pada Ulan.
"Lima." jawab Ulan membuat Nanta mendelik.
"Kan sudah punya dua di jakarrrta, diperrrut Mama satu, diperrrut Kak Dania satu, Nanti tambah satu lagi." jawab Ulan tersenyum.
"Dua tuh maksudnya Balen dan Richi." Tari menjelaskan. Nanta menganggukkan kepalanya.
"Berarti Masanta kalau anaknya sudah lahir, boleh tambah satu lagi ya." kata Tari tertawa pada Ulan.
"Ini saja belum keluar, mau tambah saja." Nanta ikut tertawa.
"Eh tapi diperut Kak Roma juga ada satu, jadi sudah cukup tuh Lima." kata Nanta pada Ulan.
"Oh iya jadi nanti bisa sepuluh." jawab Ulan tambah lagi saja adiknya.
"Kok sepuluh?" tanya Nanta bingung.
"Mas Vicky sama Kak Silvy belum kasih adik." jawab ulan, Nanta jadi tertawa mengacak anak rambut Ulan gemas.
"Suruh kesini ya Ma." ijin Nanta pada Mamanya.
"Coba saja, eh kamu sudah kerumah Opa Baron belum?" tanya Tari ingat Baron.
"Belum."
"Ya sudah nanti kita kesana, Vicky kan menginap disana." ajak Tari pada Nanta.
"Mas Vicky itu anaknya Bude Tari." Nanta menjelaskan pada Dania.
"Adiknya Mamon dong."
"Iya." jawab Nanta tersenyum.
"Kok panggil Mas bukan Om?" tanya Dania bingung.
"Anak sambungnya Padeh." Nanta menjelaskan.
"Oh ok." Dania tersenyum.
"Om Bagus pulang jam berapa?" tanya Nanta pada Mamanya.
"Dia lagi ada event hari ini pulang malam." jawab Tari.
"Berarti kita kerumah Padeh tanpa Om Bagus ya?"
"Iya kita saja, Mama juga bosan dirumah saja." Tari terkekeh. Rupanya Tari ingin diajak jalan-jalan mumpung Nanta ada di Malang, sementara seminggu ini Bagus sibuk dengan Eventnya.
Setelah sholat magrib mereka pun berangkat kerumah Padeh, Tari sudah memberitahu Mita bahwa ia dan Nanta akan berkunjung kesana, Bawa oleh-oleh andalan bikinan suaminya, sekarang sudah bukan Om Bagus yang bikin, tapi Bibi dirumah, tapi tidak mengurangi cita rasa Pempek andalan keluarga mereka, karena resep mengikuti arahan Om Bagus.
"Sampai juga disini, Padeh kira kamu tidak akan kemari." sambut Baron sambil memeluk Nanta.
"Rencananya besok begitu mau ke Bandara aku mampir kesini dulu, tapi Mama ajak hari ini." jawab Nanta tersenyum.
"Mana Mas Vicky, Bude?" tanya Nanta saat menyalami Mita.
"Duduk dulu dong, langsung saja cari Vicky." komplen Mita pada keponakannya. Nanta jadi tertawa sendiri.
"Dania, kamu jalan-jalan terus tidak masalah ya sama kandunganmu?" tanya Mita pada Dania.
"Alhamdulillah tidak masalah Bude. Senang saja bisa jalan-jalan sama keluarga." jawab Dania dengan mata berbinar-binar.
Nanta tersenyum saat melihat Vicky turun dari tangga, tambah tampan saja Abang sepupunya ini. Gayanya pun semakin kebarat-baratan, tidak terlihat seperti orang jawa lagi.
"Kamu menikah tidak bilang-bilang loh, aku tahunya dari televisi, terlalu." omel Vicky saat merangkul Nanta, mereka tetap saja hangat dan saling merindukan meskipun jarang berkomunikasi.
"Aku kan sudah pajang foto Istriku di PP. Mas Vicky saja tidak perhatian." Nanta terkekeh.
"Aku jarang buka hp, kamu juga jarang hubungi aku kan." kata Vicky mengangkat alisnya.
"Kenalkan dong ini Dania Istriku." katanya pada Vicky sambil menarik lembut lengan istrinya. Dania tersenyum menganggukkan kepalanya pada Vicky, Vicky pun begitu.
"Mas, kamu tuh sudah seperti orang Australia saja gayanya, lupa sama gaya keraton Malang ya." Nanta menggoda sepupunya, Tari, Mita dan Baron terkekeh, sementara Ulan sibuk berdiri di sebelah Vicky minta perhatian.
"Tuh ulan katanya minta adek dari Mas Vicky loh." tunjuk Nanta pada Ulan.
"Hahaha masih lama Ulan, Mas Vicky mau lanjut S2 dulu baru menikah." Vicky langsung saja menggendong Wulan.
"Kan bisa disambil." kata Nanta pada Vicky.
"Oh tidak ya, aku bukan kamu. Aku mau fokus kuliah dan santai dulu tidak terikat." jawab Vicky terkekeh.
"Lihat saja Bude, nanti kebablasan itu Mas Vicky sama bule-bule disana." Nanta memprovokasi Bude Mita.
"Pacar kamu bule toh Mas?" tanya Mita yang mulai terprovokasi.
"Tidak. Kenapa sih menuduh?" tanya Vicky pada Mamanya.
"Ya siapa tahu, Mama maunya kamu dapat istri orang Indonesia." jawab Mita mendengus.
"Iya." jawab Vicky, "Aku kan mau Istriku seperti Mama bisa masak segala jenis makanan." sambungnya lagi.
"Repot, sekarang beli jadi saja semuanya tidak usah masak." sahut Tari tertawakan Vicky.
"Kenalkan sama Silvy saja, Ma." Nanta terkekeh.
"Jangan coba-coba jodohkan aku ya, aku menetap di Aussie loh kalau dijodohkan" ancam Vicky pada Mamanya dan juga Bulek Tarinya. Nanta tertawa menepuk bahu Abangnya itu.
"Jangan samakan aku sama kamu." desisnya lagi.
"Mau lari bagaimanapun Mas Vicky, kita ini seperti saudara kembar loh, masa tidak merasa sih? mungkin saja Mas Vicky bernasib sama seperti aku." jawab Nanta berbisik pada sepupunya, Vicky langsung saja menyentil jidat Nanta dengan telunjuknya.