
"Nanta dan yang lain belum selesai, Tante?" tanya Larry pada Nona ia sudah kembali keruangan dan langsung duduk disebelah Balen.
"Belum, mana Mbak Rumi?" tanya Nona pada Larry.
"Masih diruangannya. Aku tadi hanya tanda tangan kontrak saja." jawab Larry.
"Cantik loh Rumi." bisik Nona, sementara Balen terjepit ditengah.
"Mamon, napa sih bedini." protes Balen pada Mamon, ia sedang menjaga badannya agar tidak gepeng.
"Eh maaf Mamon kira tidak ada orang." jawab Nona konyol sambil tertawakan Balen.
"Ndak tiatan memanna?" tanya Balen memberengut. Larry tertawa melihat ekspresi Balen.
"Lucu betul sih singkooong." gemas Larry kembali cubiti pipi Balen.
"Abisna Baen jadi tejepit." omelnya membuat Larry terbahak.
"Centil betul nih adik kalian, mau Mamon masukkan pesantren saja kalau Mamon lihat saat SD masih secentil ini." kata Nona pada Larry.
"Mau tidak Baen masuk pesantren?" tanya Larry terkekeh.
"Boeh aja, bisa bei Oten tan?" tanyanya tetap pikirkan punya hotel, Larry dan Nona kembali terbahak, sementara Lulu masih sibuk urus kontrak Winner dan Lucky.
"Kita berangkat sabtu pagi ini loh." kata Nanta yang baru masuki ruangan diikuti Mike dan Doni.
"Tidak jadi sabtu depan?" tanya Nona pada Nanta.
"Menurut Pak Steve, ada kerabat Pak Mario yang menikahkan anaknya." jawab Rosa yang ada disana.
"Ya ampun, Wilma. Mamon lupa itu." kata Nona tertawa. Nanta tersenyum mendengarnya, maklum saja kalau lupa, Mamon tidak begitu sering mendengar cerita tentang Ando dan Wilma.
"Oke sudah semua kan." Rumi yang datang bersama Aditia tersenyum pada semuanya.
"Sudah, boleh pulang kan?" tanya Larry tersenyum jahil.
"Boleh dong, kecuali nanti mau balik lagi jemput saya." jawab Rumi membuat semuanya kembali bersorak.
"Berani menghadapi tantangan ini?" tanya Doni pada Larry yang hanya tertawa mendengarnya. Nanta jadi bingung kemana jiwa playboy Larry nih, biasanya akan cepat tanggap menghadapi wanita agresif seperti Rumi.
"Jemputlah." bisik Nanta pada Larry, tambah terbahak saja Aban idaman Balen ini.
"Tarik ulur lo?" bisik Mike membuat Larry menoyor kepalanya sambil terkekeh.
"Larry ini pemalu Mbak Rumi, cuma beraninya sama Balen." kata Nona membuat seisi diruangan kembali tertawa.
"Kalau sudah dekat malu-maluin." sahut Mike lagi. Lulu sampai geleng-geleng kepala heboh sekali seruangan ini. Bagaimana saat syuting nanti. Apalagi Winner dan Lucky tak berhenti tertawa seakan menikmati suasana saat ini.
"Jangan diambil hati ya Mas Larry." kata Rumi kemudian.
"Diseriusi saja." sahut Lulu yang mulai ikut-ikutan.
"Waduh Tante." Larry mati kutu kali ini, seperti anak perawan yang cuma bisa tertawa tanpa berkata-kata.
"Oke sampai bertemu di Bandara halim ya." kata Aditia pada semuanya.
"Tiketnya mana?" tanya Mike.
"Naik private jet, Mas." jawab Aditia santai.
"Oke." jawab Mike tersenyum lebar, lupa kalau sekarang lagi berurusan dengan Unagroup.
Acara tanda tangan kontrak ditutup dengan makan siang bersama yang sudah disiapkan oleh pihak Unagroup. Catering sudah standby jam makan siang.
"Warung Elite nih?" tanya Mike pada Nanta.
"Iya." jawab Nanta tersenyum bangga. Bagaimana tidak bangga, saat ini ia sudah bekerja disana.
"Nanti jumat datang dong, ada musik itu si Antra as friend yang mengisi acaranya." kata Nanta pada sahabatnya.
"Widih, keren. Jam berapa Nan?" Larry langsung semangat. Antra as friend pemusik yang diminati anak muda saat ini.
"Aku datang ya Bang." pinta Winner pada Abangnya.
"Sabtu kan berangkat, kalian harus istirahat." kata Lulu pada kedua putranya.
"Ah Mama tidak asik." keluh Lucky.
"Kita berangkat jam berapa Pak Adit?" tanya Lulu pada Adit.
"Jam sembilan, Bu Lulu." jawab Aditia.
"Oh bisa kalau begitu." Lulu anggukan kepalanya pada Winner dan Lucky.
"Mau kemana sih?" tanya Aditia kepo.
"Mas Aditia sama Mbak Rumi ayo datang ke Warung Elite Cabang Selatan hari jumat sore, ada Antra as Friend loh." Nanta mengundang Rumi dan Aditia.
"Mbak Rosa juga datang saja." kata Nanta pada Rosa.
"Wah boleh tuh. Nanti kita datang deh." jawab Aditia semangat.
"Pak Mario kesana juga?" tanya Rumi pada Nanta.
"Mestinya sih iya." jawab Nanta pada Rumi.
"Waduh, bagaimana ya." Rumi terkekeh.
"Dia paling takut sama Pak Mario, padahal masih om nya sendiri." kata Aditia pada Nanta.
"Loh Papi kan baik." Nanta tertawa. Rumi tertawa saja.
"Jadi bagaimana mau datang tidak, kami sangat berharap loh, terutama Larry." kata Nanta konyol.
"Jemput dong kalau berharap." timpal Aditia. Klop sekali mereka seperti sudah kenal lama.
"Memang kalau dijemput mau datang?" tanya Larry pada Rumi. Uhuii langsung saja semuanya kembali ramai, lupa kalau mau makan siang. Sementara Balen sudah asik bersama Lucky dan Winner yang juga dekat dengannya.
"Tidak usah jemputlah, saya bisa sama Aditia. Tapi pulang boleh ya diantar, karena rumah Aditia lumayan jauh dari rumah saya. Kalau Mas Larry kan searah." kata Rumi pada Larry.
"Cieee sudah tukar alamat rupanya." Mike langsung berisik menggoda Larry dan Rumi.
"Tadi kan isi form, nyong." kata Larry kembali menoyor kepala Mike.
"Tante, keponakannya dianiaya nih." adu Mike pada Lulu yang tertawa terus melihat kelakuan Mike dan teman-temannya.
"Oke Mbak Rumi, jumat aku antar pulang deh." janji Larry pada Rumi.
"Gue bilang juga apa, tidak perlu dijodohkan juga maju sendiri." bisik Nanta pada Doni.
"Ngomongin orang banget lu berdua." omel Larry yang mendengar apa yang dikatakan Nanta. Nanta pura-pura tidak tahu saja, saling senyum sama Doni.
Akhirnya setelah bercanda baru mereka nikmati makan siangnya. Setelah makan siang, kenyang akhirnya ijin pulang deh. Balen juga sudah rewel karena mengantuk. Larry menggendong Balen yang sudah tidur-tidur ayam.
"Eh pulas." kata Rumi memandang Balen.
"Iya kah?" tanya Larry yang tidak bisa melihat karena kepala Balen bersandar nyaman di bahu Larry.
"Iya tuh." sahut Aditia terkekeh.
"Dekat betul sama Mas Larry ya." kata Aditia lagi.
"Bukan dekat lagi, setiap pagi video call sama aku." jawab Larry tertawa.
"Sudah seperti adik sendiri." kata Larry lagi.
"Larry juga begitu sih, manjakan Balen terus." kata Nanta setengah protes. Larry tertawa saja.
"Cemburu Abangnya." Mike menunjuk Nanta sambil tertawa. Larry dan Doni jadi tertawakan Nanta.
"Oke kami pamit ya." kata Nona pada Rumi, Aditia dan Rosa.
"Terima kasih ya Bu Nona, sampai jumpa jumat atau sabtu." jawab Aditia menyalami Nona dan yang lainnya.
"Eh sudah tukaran nomor telepon belum?" tanya Doni pada Rumi sambil melirik Larry. Larry langsung terbahak, habis deh hari ini Larry jadi bulan-bulanan temannya.