
"Capek banget gila!" teriak Mike setelah selesai minum.
"Ayo mulai." kata Larry pada tim berikutnya.
"Boleh tidak besok saja atau lusa, kita juga capek." setelah rembukan tim ke dua memutuskan tidak latihan hari ini, karena saat tadi tim pertama latihan, mereka juga ikut bergerak, berlari ikuti peserta, tidak diam juga selama satu jam tadi, walau tidak secapek tim pertama, tapi untuk melanjutkan latihan mereka pasti tidak akan maksimal.
"Lemah." kata Mike tengil.
"Rese, kalian nonstop juga bikin kita bergerak. Sama kita capek juga, kuat sih tapi tidak sampai satu jam gue rasa." kata Chris salah seorang dari Tim kedua.
"Minggu sore, mau? Rabu kalau jadi mau temani Papi Mario ke Brunei." jawab Nanta akhirnya.
"Gue tidak bisa, mau ke rumah calon mertua." Mike senyum-senyum.
"Eh, lamaran?" tanya Doni.
"Baru perkenalan keluarga." jawab Mike sumringah.
"Ya sudah Mike tidak bisa tidak apa, kita saja. Masih bisa kok bantu kalian awasi latihan." kata Larry pada tim kedua.
"Tidak setia kawan." desis Mike kesal, ia juga mau hadir rupanya.
"Besok, boleh lah. Tapi gue ajak Dania ya." ijin Nanta pada sahabatnya, kasihan weekend harus ditinggal latihan. Lagi pula besok Nanta hanya jadi pengawas. Tidak akan secapek sekarang.
"Oke gue juga ajak Dona." kata Doni setuju.
"Ish gue tidak bisa ajak Seiqa." Mike bersungut.
"Jangan lebay deh." Larry menoyor kepala sahabatnya.
"Elu mau ajak siapa juga boleh." kata Mike mengusap dahinya sambil memandang Larry.
"Rumi yang gue ajak bagaimana?" tanya Larry terkekeh.
"Boleh asal dia datang dan pulang sendiri." tegas Mike sedikit kejam. Nanta tertawa mendengarnya.
"Rumi sekarang tinggal di rumah papi Mario, jadi tidak searah dengan Larry lagi, tapi dengan gue." Nanta menjelaskan.
"Sejak kapan?" tanya Larry yang tidak ada kontak dengan Rumi sepulang dari S'pore, memang tidak pernah juga saling kontak sebelumnya, kecuali urusan kerjaan. Syuting sudah selesai, pembayaran juga sudah masuk, apalagi yang mau di bicarakan.
"Hari senin, setelah kita pulang dari S'pore." jawab Nanta.
"Oke besok jam berapa?" tanya Nanta kemudian.
"Seperti sekarang saja." jawab Chris. Semua pun setuju dan mereka bersiap pulang kerumah masing-masing, membersihkan diri dulu sebelumnya.
"Bagaimana latihannya?" tanya Dania saat Nanta sudah tiba dirumah.
"Pulang lebih cepat, senang tidak?" tanya Nanta tersenyum.
"Senang dong, kok bisa?" Dania langsung cengengesan hampiri suaminya.
"Iya karena yang tim kedua minta latihan diundur besok sore. Mereka kelelahan karena ikut bergerak satu jam Non Stop." Nanta langsung merangkul istrinya, mereka menuju ke kamar karena seisi rumah sudah masuk kamar semua.
"Yah, besok kan weekend, masa aku ditinggal latihan." sungut Dania setengah merajuk, sudah Nanta duga akan begini, makanya minta ijin temannya tadi agar Dania boleh ikut menyaksikan latihan mereka.
"Kamu ikut dong, besok Dona juga ikut " Nanta mencium dahi istrinya.
"Tidak apa kan weekend dilapangan?" Nanta kembali mencium pipi istrinya.
"Iya." jawab Dania tidak lagi merajuk, Nanta terkekeh dibuatnya.
"Dan, sudah siapkan baju untuk acara besok?" tanya Nanta pada Dania.
"Acara Ando dan Wilma?" Dania mana mungkin lupa dengan dua orang kesayangan suaminya itu.
"Hu uh."
"Sudah, Mas Nanta pakai baju ini ya, mau tidak?" Dania menunjuk Baju yang akan Nanta pakai besok, sudah disiapkan dari tadi sore.
"Ya sudah, kamu pakai baju apa?"
"Ini." tunjuk Dania pada bajunya.
"Masa pakai celana panjang lagi sih, ini kan dress." Dania protes.
"Perut kamu kan sudah membesar, pasti bajunya ikut terangkat." Nanta berusaha menjelaskan setenang mungkin, tidak mau ribut perkara baju, kan sudah pernah, tapi Dania juga harusnya menurut kalau tidak mau ribut.
"Tidak punya celana warna senada." Dania meringis hampir menangis. Bingung mau pakai apa, suaminya sedikit rewel soal baju, Ini saja pesan sama Mama Lulu kemarin. Tapi Dania lupa kasih tahu kalau suaminya rada kolot soal penampilan. Padahal anak jaman now.
"Itu pesan dimana bajunya, butik langganan Mama Lulu kan?" tanya Nanta pada Dania.
"Iya." Dania anggukan kepalanya.
"Kamu punya nomor telepon mereka? Jam segini butiknya masih buka. Telepon minta disiapkan celana warna senada, bilang saja untuk wanita hamil. Kalau bisa diambil malam ini, kita ambil, kalau tidak bisa minta siapkan agar besok pagi jam delapan sudah dikirim kesini." tegas Nanta pada istrinya. Detail sekali kasih arahan.
"Mas Nanta saja yang bicara sama orang butiknya." Dania menyerahkan handphonenya pada Nanta.
"Kok aku, kan kamu yang kenal."
"Mas Nanta sampaikan seperti tadi, dengan suara sejudes itu, biar mereka langsung kerjakan." dengus Dania merasa dijudesin suaminya. Masih saja dibilang judes, padahal bicara dari tadi diupayakan sekalem mungkin.
"Mana handphonenya." Nanta meminta nomor handphone butik langganan Mama Lulu. Dania tekankan nomor handphone yang dimaksud dan serahkan pada Nanta. Speaker di aktifkannya agar ikut mendengar.
"Malam Butik Cantik."
"Malam Mbak, Saya Nanta menantunya Ibu Lulu, tadi ada pesan baju untuk istri saya Dania kan?"
"Iya Mas Nanta, bagaimana baju sudah diantar dari siang, apa ada keluhan?"
"Boleh minta tambahan celana warna senada untuk dipakai istri saya, karena ini terlalu pendek, perutnya kan sudah membesar. Saya butuh Malam ini."
"Untuk Ibu hamil ya, ditunggu satu jam kedepan baru bisa diantar, Mas Nanta."
"Iya Boleh, Mau antar besok pagi juga boleh. Jam tujuh Pagi, kalau bisa malam ini lebih bagus lagi."
"Mas Nanta mau celana untuk Kak Dania model apa?"
"Model apa ya?" berpikir keras.
"Diatas dengkul sedikit mau, keren loh, kami bikin model pemburu gitu yang di film koboi." Bikin otak Nanta berpikir keras, bagaimana celana sedengkul di film koboi.
"Jangan yang seksi, Mbak."
"Tidak seksi kok, cocok untuk Kak Dania."
"Boleh." menurut saja.
"Diatas mata kaki saja Mas." bisik Dania pada Nanta, Nanta gelengkan kepalanya, penasaran seperti apa celana sedengkul ala koboi.
"Jangan komplen kalau nanti ternyata seksi ya." ancam Dania pada suaminya. Bikin Nanta jadi berpikir ulang.
"Halo Mbak, bisa bikinkan dua celananya, jadi minta yang sedengkul, seperti yang Mbak sarankan itu satu, yang satunya celana panjang diatas mata kaki." pinta Nanta pada petugas Butik Cinta.
"Warnanya sama?"
"Sesuaikan dengan atasannya saja mbak, mana yang bagus."
"Baik, kalau pesan dua, kami butuh waktu dua jam dari sekarang. Bagaimana Mas Nanta apa mau diantar malam ini juga?"
"Antar besok pagi saja ya, kerumah saya, bukan rumah Mama Lulu, jam tujuh jangan lewat." pinta Nanta, mengingat ia butuh istirahat
"Baik, terimakasih Mas Nanta."
Nanta tersenyum begitu menutup handphonenya.
"Kenapa masih cemberut?" tanyanya bingung melihat Dania masih saja merengut.
"Mas Nanta kenapa pesan dua celana, pemborosan." Ish malah ngomel karena pesan dua celana.
"Biar kamu bisa pilih, mana yang paling keren." Nanta terkekeh, supaya istrinya tidak marah-marah langsung Nanta cium saja yang lama seperti yang dibilang ditelepon tadi.
"Mas Nanta!" kaget dapat serangan dadakan dari suaminya, setelahnya ya gitu deh.