I Love You Too

I Love You Too
Tea Time



"Sayang..." Dania langsung merangkul suaminya yang duduk santai dipinggiran jalan menungguinya.


"Beli apa?" tanya Nanta balas memeluk pinggang istrinya. Dania angkat kantongan yang ada ditangannya.


"Mukanya seperti kekenyangan." komentar Nanta lihat wajah istrinya seperti orang kekenyangan.


"Hu uh."


"Makan apa?"


"Asinan."


"Pedas dong?" langsung suaranya sedikit meninggi.


"Ih apa sih bikin kaget saja." malah marahi Nanta sambil menepuk bahunya.


"Kamu makan sembarangan tidak kasihan anak kita ya."


"Asinan bukan makanan sembarangan." langsung peluk suaminya, tidak mau dimarahi jadi peluk saja.


"Seperti Balen." tunjuk Nanta menghela nafas pada sahabatnya.


"Kalau dimarahi langsung peluk sama cium." Nanta gelengkan kepalanya, Dania tertawa pandangi suaminya.


"Kamu juga makan asinan?" tanya Doni pada Dona.


"Hu uh." anggukan kepalanya.


"Suami tidak dibelikan." gelengkan kepala pandangi Dona.


"Ini." Dona angkat beberapa bungkus asinan di tangannya.


"Makan dirumah saja ya." kata Dona pada Doni.


"Ok." Doni tersenyum mesra pada istrinya. Femi sedikit terpaku memandang kemesraan kedua pasang suami istri di hadapannya.


"Sini Fem." Larry tepuk tempat kosong disebelahnya, Femi bisa duduk disitu sambil menunggu Rumi dan Diky yang belum juga selesai.


"Kamu beli apa?" tanya Larry pada Femi.


"Tidak beli, hanya makan disana saja. Leyi Aku mau beli roti keset khas bogor, kalau nanti kita lewat." pinta Femi pada Larry.


"Iya nanti kita lewati." jawab Larry.


"Nanti boleh tidak kamu ambil mobil dulu baru antar aku pulang, biar Rumi diantar Diky, untuk efisiensi waktu." pinta Femi lagi.


"Boleh, nanti kita bilang Diky." jawab Larry ikuti maunya Femi.


"Capek ya, mau cepat sampai dirumah?" tanya Larry pada Femi.


"Tidak. Mau ngobrol saja sama kamu." jawab Femi tersenyum.


"Tumben." Larry terkekeh, senang? sudah pasti dong, Larry senang melihat Femi mulai mendekat dan punya permintaan padanya.


"Tidak boleh?" tanya Femi.


"Boleh kok, sangat boleh." Larry tertawa.


"Rumi tidak mau di lihat, belanja apa saja lama sekali." Femi ingatkan Larry.


"Ayo." ajak Larry pada Femi. Mereka segera beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Nanta pada keduanya.


"Susuli Rumi sama Diky, lama sekali."


"Tunggu saja Leyi, tidak usah disusuli. Nanti Diky terganggu." Nanta tertawa


"Gw pikirkan Dania, khawatir kepanasan." jawab Larry pikirkan Dania.


"Santai Leyi, kalau panas aku masuk ke Mobil." jawab Dania pada Larry. Mau tidak mau Larry kembali duduk bersama Femi.


"Biar saja mereka mau selama apa." jawab Doni kemudian lanjut ngobrol bersama istrinya.


"Leyi besok jam empat sore ada acara tidak?" tanya Dona pada Larry.


"Sepertinya tidak, kenapa Don?" Larry balik bertanya.


"Ke rumah ya." Undang Dona pikirnya kalau Larry kerumah toh ada Doni.


"Larry saja yang diundang?" tanya Nanta.


"Kamu juga boleh ikut sama Dania." jawab Dona.


"Oke mau dibawakan apa?" tanya Dania semangat.


"Tidak usah repot-repot." Dona mengibaskan tangannya.


"Kamu ikut yuk." ajak Larry pada Femi, Dona pura-pura tidak mendengar.


"Aku takut mengganggu." jawab Femi pada Larry.


"Tidak mengganggu kok, ikut saja Fem." jawab Dona akhirnya.


"Kan kamu mau..." tidak lanjutkan kalimatnya karena jadi risih sendiri.


"Kalau kamu ikut konsep acara aku rubah." jawab Dona terkekeh.


"Bisa diatur Fem." jawab Dania tertawa.


"Iya ikut saja, kerja tidak?" tanya Larry pada Femi.


"Tidak sih kebetulan besok aku libur." jawab Femi ingin ikut.


"Oke besok aku jemput ya." Larry tersenyum.


"Jam berapa?" tanya Femi


"Iya, tea time." jawab Dona, Doni amati saja, istrinya ada ide apa sih.


"Nanti aku beli roti keset khas bogor deh untuk besok kita tea time." Femi langsung saja semangat.


"Oke, yang penting tidak merepotkan." jawab Dona tersenyum dan kedipkan matanya pada Doni.


Setelah ditunggu-tunggu akhirnya Diky dan Rumi datang juga. Wajah mereka tampak sumringah, bercanda saja keduanya.


"Parah, Diky. Aku langsung naik beberapa kilo ini rasanya." Rumi gelengkan kepalanya.


"Memang habis dari mana?" tanya Larry ingin tahu.


"Makan bapatong, dia tidak tahu apa itu." Diky tertawa.


"Iya ternyata bakso." Rumi tertawa.


"Enak kan?"


"iya enak." Rumi acungkan jempolnya.


"Asinan jagung bakar juga enak." kata Rumi sebutkan apa yang dimakannya tadi.


"Wah tidak jadi makan Mie Aceh nih." Nanta gelengkan kepalanya, karena yang lain sudah pada kenyang.


"Jadi dong, masih kusisakan wadah dilambungku supaya bisa makan mie Aceh." jawab Rumi terkekeh.


"Diky bantuin ya seperti tadi." pinta Rumi pada Diky.


"Siap Madam." jawab Diky tertawa senang.


"Sudah punya panggilan sayang Madam?" Larry terkekeh.


"Jangan cemburu dong Leyi." Rumi terkekeh menggoda Larry.


"Tidak cemburu, senang malah." jawab Larry tersenyum.


"Jadi pilih Diky ya bukan Fino?" tanya Femi ikut tersenyum.


"Pilih apa Femi, tidak ada yang minta dipilih tuh mereka." jawab Rumi menunjuk Larry, Diky dan ruang kosong, anggap saja Fino.


"Pilih gue dong, Larry kan ada Femi." Diky to the point.


"Jadi kamu minta dipilih Dik?" tanya Rumi tertawa.


"Pasti." jawab Diky semangat.


"Teman kalian ini perayu ulung." Rumi gelengkan kepalanya tunjuk Diky.


"Dia layak di pilih kok." jawab Nanta tersenyum.


"Kalian seperti biro jodoh saja." Femi terbahak.


"Oh belum tahu dia." Dona tertawakan Femi.


"Belum tahu apa?" tanya Femi.


"Memang keahlian mereka selain basket ya jodohkan orang." jawab Dona menunjuk Nanta dan suaminya.


"Kebetulan berhasil, kalau kalian berhasil juga berarti boleh kasih predikat itu sama kami." jawab Nanta.


"Siapa saja memangnya?" tanya Femi.


"Mau apa ingin tahu?" tanya Larry.


"Penasaran saja." jawab Femi.


"Nanti saja dikasih tahu kalau kalian, dua pasang ini berhasil lagi." jawab Nanta sok rahasia.


"Don, besok tidak jadi kenalkan temanmu pada Larry?" bisik Femi pada Dona.


"Kalau kamu siap didekati Larry ya untuk apa aku kenalkan lagi, kuminta nanti Larry untuk fokus dekati kamu." jawab Dona sok iye.


"Begitu ya?"


"Ya begitu, jadi bagaimana?" tanya Dona ingin tahu.


"Ya sudah." jawab Femi sok pasrah. Dona tertawa senang, akal-akalan nya berhasil


"Besok jangan lupa loh jam empat sore." Dona ingatkan yang lain.


"Ada apa?" tanya Rumi.


"Tea time di rumahku." jawab Dona.


"Aku boleh ikut?" tanya Rumi.


"Boleh asal bawa pasangan." jawab Dona menyeringai jahil.


"Waduh, Leyi kamu sama Femi ya?" tanya Rumi.


"Iya. Kamu sama Diky saja." malah Dona yang jawab.


"Bisa bos Diky?" tanya Rumi pada Diky..


"Untuk madam harus dibisa-bisakan dong." jawab Diky tersenyum manis.


"Jemput aku dikantor saja ya." pinta Rumi.


"Ok Madam." langsung gerak cepat bilang Ok. Larry terkekeh melihat Diky yang begitu aktif.


"Kamu jemput aku dirumah ya." pinta Femi pada Larry yang dilihatnya pandangi Rumi dan Diky.


"Iya sayang." jawab Larry spontan, bikin Femi jadi debar-debar tidak karuan.