I Love You Too

I Love You Too
Umah Ayah



Aku dirumah Ayah☺️


pesan Nanta kirimkan ke group keluarga, lengkap dengan foto Dania dan Kiki, juga makanan yang tertata rapi dimeja makan.


Ayah masih dijalan, jangan pulang dulu. Kalau perlu menginap saja.


pesan balasan dari Reza yang sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Nanta tertawa membaca pesan Ayah yang memintanya menginap. Waktu musuhan sama Papa dulu memang Nanta lebih pilih menginap di rumah Ayah bersama Bang Raymond khawatir kalau Papa ke Jakarta, mereka akan bertemu kalau Nanta menginap dirumah Oma.


"Tuh kata Ayah kamu menginap saja." kata Bunda Kiki pada Nanta.


"Nanti ya Bunda, aku janji deh menginap disini, tapi jangan sekarang." jawab Nanta meminta pengertian Bunda.


"Memang kenapa kalau sekarang?"


"Singkong Rebus lagi komplen Abang pergi terus katanya." Nanta menyampaikan alasannya, Kiki jadi tertawa mendengarnya.


"Sebentar lagi juga pasti kesini kalau tahu kamu disini." tebak Kiki yang tahu betul gayanya Balen.


Drrrtttt... Drrrtttt... handphone Nanta berdering. Baru saja Bunda bilang, sekarang Nona yang menghubungi Nanta melalui sambungan Video.


"Aban..." hahaha benar saja Balen yang menghubungi Nanta.


"Iya..." Nanta tersenyum memandangi wajah adiknya pada layar handphone.


"Aban tok ninap umah Ayah sih." langsung saja komplen, pasti Mamon tadi bacakan pesan Ayah pada Balen.


"Tidak menginap, hanya main saja." kata Nanta pada adiknya.


"Baen mo umah Ayah don Aban." pintanya pada Nanta.


"Ada Pak Atang tidak? minta antar Pak Atang saja kesini ya, nanti pulangnya sama Abang." kata Nanta pada Balen.


"Mamon, ada ndak Pa Atan na?" tanya Balen pada Mamon.


"Pak Atang sama Papon ke kantor." jawab Nona terdengar oleh Nanta.


"Huaaaa dimana Baen mo te Ayah, huaaa..." langsung saja menangis membuat Nanta tidak tega melihatnya.


"Tunggu ya Abang jemput Balen." kata Nanta mengingat jarak rumah Ayah dan Papa hanya lima menit saja.


"Iyaa..." menjawab dengan wajah mewek masih menangis.


"Jangan nangis dong, kan Abang jemput." kata Nanta pada adiknya.


"Sekaang jemputna, janan ama ama." katanya pada Nanta.


"Iya, tanya Mamon dulu boleh tidak kerumah Ayah." Nanta meminta Balen ijin pada Mamon.


"Boeh..." langsung bilang boleh tanpa bertanya pada Mamon, Nanta langsung terbahak, dasar Balen.


"Mamon..." panggil Nanta pada Nona.


"Woii..." jawab Nona masih bergaya metal.


"Aku jemput Balen ya."


"Iya sama Richi nih sekalian." kata Nona menyerahkan kedua bocah untuk diasuh Nanta. Kalau sudah dirumah Bunda tidak usah khawatir ada Bude Tini dan Bude Tina yang siap menjaga keduanya jika pengasuh dirumah tidak ikut.


"Oke." jawab Nanta menutup sambungan telepon.


"Kamu tunggu disini ya, aku jemput bocah dulu." kata Nanta pada istrinya. Dania menganggukkan kepalanya.


"Kamu belum makan Nan." kata Bunda pada Nanta.


"Nanti saja Bunda, biar saja Dania duluan yang makan." jawab Nanta tersenyum mengambil kunci mobilnya.


"Bunda makan duluan saja sama Dania, jangan tunggu aku." kata Nanta lagi sebelum keluar rumah meninggalkan Bunda Kiki dan Dania. Kiki menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum memandang keponakan tersayang yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Mau kemana?" tanya Ayah Eja yang baru saja memarkirkan kendaraannya saat melihat Nanta keluar rumah.


"Jemput Balen sama Richi." jawab Nanta sambil menyalami Ayah.


"Ayo naik, sama Ayah saja sekalian." kata Reza yang mau ikut menjemput Balen dan Richi. Nanta segera masuk ke Mobil Reza.


"Popo bilang aku mulai kerja di Warung Elite minggu depan, Yah?" tanya Nanta pada Reza.


"Lebih cepat lebih baik." kata Reza lagi.


"Iya." jawab Nanta tersenyum.


"Ayah tahu tabungan kamu masih banyak, tapi kamu tetap harus bekerja untuk membiayai anak dan istri kamu, walaupun hasil dari Basket bisa mencukupi, tapi akan lebih baik jika ditambah dari Warung Elite." kata Reza pada Nanta.


"Memangnya aku dapat gaji, kan masih belajar."


"Loh di gaji dong, professional. Pekerja magang saja kami kasih honor, apa lagi kamu calon pemimpin Warung Elite." jawab Reza terkekeh.


"Ih Ayah kenapa aku yang calon pemimpin, ada Bang Naka, Bang Chico, Bang Atan, Bang Ray, Bang Steve, Kak Ayu." Nanta menyebutkan anak-anak pemilik Warung Elite.


"Mereka sudah sangat sibuk, makanya kami minta kamu yang ambil alih."


"Bebanku berat ini." kata Nanta pada Ayah Eja.


"Jangan dianggap beban dong, dibawa santai saja tapi kerjakan dengan serius. Ada enam puluh cabang yang harus kamu awasi loh."


"Tuh banyak sekali, sementara aku tidak mungkin tinggalkan Basket, Ayah." Nanta menatap Reza dengan wajah memelas.


"Ayah tidak minta kamu tinggalkan Basket loh, semua bisa kamu jalani. Sekarang belajar dulu nanti kalau sudah menguasai pekerjaannya tidak akan serepot yang kamu kira deh." kata Ayah menenangkan Nanta.


"Jangan langsung dilepas kalau aku sudah menguasai pekerjaannya ya Ayah, aku tetap harus diawasi." pinta Nanta pada Reza.


"Boy, Raymond sudah fokus membantu Papamu, kamu harus fokus membantu Ayah ya." kata Reza membuat Nanta mengangguk cepat. Memang seharusnya Bang Ray yang ambil alih Warung Elite, tapi karena Opa dan Papa membutuhkan Bang Raymond sudah pasti tidak bisa ikut mengurus Warung Elite.


"Iya Ayah." jawab Nanta menurut.


"Ayah yakin kamu bisa Boy, Kamu selalu sungguh-sungguh menjalani sesuatu."


"In syaa Allah Ayah." jawab Nanta tersenyum, Ayah Eja memarkirkan kendaraannya sementara Nanta menyambut Balen dan Richi yang sudah standby di teras rumah ditemani Nona, menunggu kedatangan Ayah dan Aban yang menjemputnya. Nanta sudah sampaikan jika Ayah ikut menjemput di group tadi khawatir Bunda menunggu Ayah.


"Non, Langsung ya." kata Reza pada Nona.


"Iya Bang, titip ya si unyil, nanti aku sama Mas Kenan jemput kesana." kata Nona pada Reza.


"Makan malam dirumah saja." ajak Reza pada Nona.


"Sebelum makan malam juga sudah sampai sana." jawab Nona tertawa, mengingat Kenan sudah mau pulang dari kantornya.


"Oke, ditunggu."


Nanta menggendong Richi dan Balen dengan kedua tangannya, pengasuh hanya satu yang ikut, satunya ditinggal dirumah.


"Ayah..." sapa Balen pada Ayah Eja saat masuk Mobil.


"Iya sayang, mau menginap dirumah Ayah?" tanya Reza melihat Balen membawa tas ransel.


"Boeh tan?" tanyanya tersenyum sambil mengecup pipi Reza, sudah pasti boleh kalau langsung membuat Reza meleleh.


"Boleh dong, tidurnya sama siapa nanti?" tanya Reza pada Balen.


"Sama Aban aja ya?" memandang Nanta sambil minta persetujuan, sementara Nanta sibuk menggoda Richi.


"Aban..." menepuk bahu Nanta, Reza sudah melajukan kendaraannya.


"Hmm..." menoleh pada Balen.


"Tita ninap umah Ayah tan. Baen bawa bajuna nih." katanya menunjuk tas ransel dipunggungnya.


"Abang tidak bawa baju?" kata Nanta pada adiknya.


"Aban pate baju Ayah, Tania pate baju Bunda." jawab Balen mengatur Abang. Nanta dan Reza tertawa mendengarnya.


"Pulang saja." kata Nanta pada adiknya.


"Ninap don, Baen bobona sama Aban diumah Ayah. Tan tita udah ama ndak pedi sama-sama." katanya membujuk Nanta, jadi pikirnya anggap saja menginap dirumah Ayah yang berjarak lima menit dari rumah Papanya sebagai liburan bersama Aban.


"Mau tan?" tanyanya lagi masih dalam rangka membujuk Nanta.


"Iya deh kalau boleh sama Papon ya." jawab Nanta terkekeh.


"Boeh tok." jawabnya lagi-lagi ambil kesimpulan sendiri.