
"Boy, kamu mesti hubungi Eyang loh, jangan hanya Mama yang mengabarkan kalau kamu akan menikah." Kenan mengingatkan Nanta ketika video bersama keluarganya berakhir.
"Iya ya, aku kok tidak kepikiran." kata Nanta terkekeh.
"Mamon, sudah beritahu Padeh?" Nanta menanyakan Padeh Baron dan Bude Mita nya.
"Sudah, tapi mereka tidak bisa ke Jakarta." kata Nona pada Nanta.
"Wah sayang sekali." Nanta sedikit menyesal.
"Mas Vicky juga belum tahu dong ya." Nanta teringat Vicky anak Bude Mita yang juga sepupu kesayangannya.
"Coba hubungi Eyang saja, Boy. Jangan memikirkan yang lain." tegur Kenan membuat Nanta terkekeh, sepertinya Papa tahu Nanta malas berhubungan dengan Eyang.
Nanta mengikuti arahan Papanya menghubungi Eyang di Malang, meskipun sering ke Malang, Nanta tidak mampir kerumah Eyang.
"Assalamualaikum Eyang..." sapa Nanta saat sambungan teleponnya berhasil. Kenan mendengarkan.
"Waalaikumusalaam..." jawab Eyangnya.
"Nanta nih Eyang."
"Iya. Sudah tahu." Jawab Eyang acuh.
"Eyang, Nanta mau menikah, mohon doa restunya, hadir ya Eyang, mau kan? Nanti Eyang sama Mama dan Om Bagus saja ke Jakartanya." Nanta langsung saja mengajak Eyangnya hadir pernikahannya.
"Kapan menikahnya?"
"Hari jumat Eyang."
"Semoga lancar acaranya, doa saja ya, Eyang tidak bisa hadir." jawab Eyang langsung.
"Ya sudah, maunya Nanta Eyang hadir, tapi kalau Eyang tidak bisa, tidak apa-apa." kata Nanta pada Eyangnya.
"Nanta, apa kamu sudah pikir betul-betul dengan keputusanmu ini? menikah itu bukan untuk main-main. Jangan tiru Papamu, asal menikah saja, punya anak terus pisah. Tidak begitu jadi laki-laki." duh mulai deh Eyang bawa-bawa Papa, ini yang Nanta malas bicara dengan Eyang.
"Sudah Eyang." jawab Nanta singkat, tidak mau mendebat Eyangnya, bagaimanapun apa yang Eyang sampaikan itu benar.
"Masih belum terlambat untuk merubah keputusanmu, jangan sampai menyesal nantinya, apalagi Eyang dengar dari Mama kalian baru kenal belum sebulan."
"Iya Eyang, dia anak Om Micko."
"Mau anak Micko mau anak siapapun, jangan main-main dengan pernikahan, pikirkan lagi keputusanmu ini. Eyang tidak mau kamu meniru Papamu, meskipun itu sudah jadi tabiat keturunan, tapi kamu cucu Eyang." duh Nanta kesal sekali, mana ada tabiat keturunan, buktinya Opa dan Ayah setia dengan satu wanita, Papa juga dulu tidak selingkuh, dia hanya tidak tegaan melihat sahabatnya kesusahan, walaupun itu salah dan berakibat fatal, tapi Papa tidak selingkuh, pikir Nanta.
"Terima kasih Eyang, doakan saja Nanta selalu dijalan Allah dan tidak keluar jalur." jawab Nanta sesabar mungkin.
"Eyang selalu mendoakan kamu, walaupun kamu tidak pernah menganggap kami."
"Eyang bicara begitu."
"Iya karena kamu terlalu sibuk dengan keluarga Papamu, tapi sudahlah, tetap saja Eyang menganggap kamu cucu Eyang."
"Memang aku cucu Eyang kan, hehehe." Nanta berusaha santai. Inginnya tidak ada jarak, tapi setiap kali Eyang bertemu Nanta yang selalu dibahas kesalahan Papa, Nanta jadi malas bertemu kedua Eyangnya.
"Eyang setelah Nanta menikah, Nanta langsung masuk asrama untuk training camp, bulan depan sudah ke Amerika, doakan Nanta juga."
"Tuh karirmu sedang bagus, untuk apa menikah buru-buru. Kamu masih muda Nanta, jangan terburu *****. Apa tidak terpikir untuk membahagiakan Mamamu dulu, dia sudah susah payah membesarkan kamu, tidak seperti Papamu yang mau enaknya saja, giliran anaknya sudah ada nama di Basket langsung diajak pindah, tinggal bersama, waktu susah dulu kemana saja." kok Papa lagi sih Eyang, untung saja handphone tidak Nanta loudspeaker, kasihan sekali Papa kalau mendengar selalu disalahkan, apalagi ada Mamon disebelah Papa. Nanta menarik nafas panjang, bagaimana cara menyudahi pembicaraan dengan Eyang, kalau Nanta membela Papa, pasti Eyang akan bicara lebih panjang lagi.
"Semua sudah Nanta pikirkan, Eyang. Segala resiko Nanta yang tanggung, Eyang doakan saja semoga rumah tangga Nanta nanti langgeng hingga akhir hayat."
"Sudahlah kalau kamu tidak bisa dikasih tahu, terserah kamu saja." Eyang menutup sambungan teleponnya, sepertinya Eyang emosi, Nanta jadi pusing sendiri, otaknya seakan penuh.
"Sudah?" tanya Papa terkekeh, melihat muka Nanta kusut, Papa tahu Nanta kesal. Nanta hanya menganggukkan kepalanya malas bercerita.
"Dapat restu kan?" kata Kenan tersenyum.
"Aku diminta pikir ulang, Pa." kata Nanta akhirnya.
"Jadi bagaimana, mau diteruskan atau pikir ulang?" tanya Kenan.
"Papa restui aku kan?" Nanta balik bertanya.
"Terima kasih, Pa. Aku hanya butuh restu dari Papa dan Mama kan?" tanya Nanta lagi, Kenan terkekeh mendengarnya.
"Kalau kamu sudah yakin, ya jalankan saja." kata Nona tersenyum.
"In syaa Allah aku yakin." jawab Nanta.
"Tapi memang benar saran Eyang kamu, karena menikah itu tidak seindah yang kita bayangkan." kata Nona pada Nanta.
"Maksud kamu apa sayang, kamu tidak bahagia sama saya?" Kenan mulai sensi.
"Haha bukan begitu Mas Kenan sayang, dulu aku pikir menikah selalu bersama, terus diperhatikan, terus disayang, seia sekata, tapi kenyataannya isi kepala manusia tidak sama, aku mau begini eh Mas Kenan maunya begitu. Aku mau kesini, Mas Kenan mau kesana. Kalau masing-masing kita mempertahankan keinginan apa tidak rusuh jadinya? pasti salah satu harus mengalah kan?" Nona menjelaskan.
"Siapa yang sering mengalah, Mamon?" tanya Nanta.
"Hahaha aku, tapi Papamu jauh lebih sering." Nanta terbahak mendengarnya.
"Sudah kuduga." jawab Nanta jahil.
"Eh maksud kamu apa Nanta, aku menyebalkan begitu?" Nona tidak terima.
"Aku tidak bilang begitu Mamon, aku sudah duga karena usia Papa jauh lebih tua kan, jadi pasti banyak mengalah dengan yang lebih muda." jawab Nanta.
"Apa Papa terlihat tua, Boy?" Kenan mulai insecure.
"Papa selalu terlihat muda, kan aku sudah bilang. Duh aku pusing nih." Nona dan Kenan terbahak melihat Nanta sibuk menenangkan mereka berdua sampai pusing sendiri.
"Tapi benar, Boy. Memang harus bisa menahan emosi, karena pasti ada saja yang tidak sesuai harapan. Apalagi sudut pandang laki-laki dan perempuan itu tidak sama, walaupun tujuan akhir sama."
"Iya Pa."
"Jadi kalau sudah menikah itu kita bangun cinta, bukan lagi jatuh cinta."
"Bangun cinta itu bagaimana, Pa?"
"Ya kamu harus selalu jatuh cinta dengan orang yang sama setiap hari, jadi tidak lirik-lirik ataupun pikirkan wanita lain." jawab Nona melirik suaminya.
"Kenapa lirik-lirik?" tanya Kenan sok judes.
"Hehehe terima kasih Papa, tidak lirik wanita lain." Nona terkekeh, Kenan jadi tersenyum lebar.
"Iya-ya, apalagi setiap hari Papa banyak bertemu wanita cantik." kata Nanta polos.
"Dimana?" tanya Nona.
"Diperkantoran itu kan banyak sekali wanita cantik, aku saja kalau kekantor Papa seperti cuci mata." jawab Nanta terkekeh.
"Ih Nanta kamu ini genit juga rupanya." dengus Nona kesal, bisa-bisanya bilang cuci mata.
"Mas Kenan tidak begitu kan?" memandang Kenan dengan tatapan mengintimidasi.
"Sudah bosan lihat yang cantik karena yang dirumah jauh lebih cantik kok." jawab Kenan terkekeh.
"Ah gombal." Nona cemberut.
"Boy, kamu cari masalah." Kenan menghela nafas, sementara Nanta tertawa geli.
"Mamon tenang saja, kalau Papa macam-macam ada aku, Balen dan Richi yang akan menghajar Papa." kata Nanta menenangkan.
"Ah kamu saja cuci mata." Nona merajuk.
"Mamon, aku kan masih muda, belum menikah juga. Kalau nanti sudah menikah aku ikuti nasehat Papa lah."
"Apa?"
"Bangun cinta kan? selalu mencintai Istriku setiap hari sampai akhir hayatku, tidak lirik-lirik wanita lain."
"Duh Nanta kamu so sweet sekali." Nona langsung senyum-senyum memandang Nanta.
"Sayang, itu saya yang ajari loh." kata Kenan membuat semuanya tertawa.