
"Kamu sudah kasih tahu Nanta, Om kecelakaan, Ray?" tanya Kenan saat dalam perjalanan. Raymond menganggukkan kepalanya.
"Nanta bilang apa?"
"Semoga lekas sembuh."
"Hanya itu?" Raymond kembali menganggukkan kepalanya.
"Tidak tanya dimana dan bagaimana kondisi Om?"
"Tidak." Kenan menghela nafas panjang.
"Paling tidak anak itu masih mendoakan Om ya." Kenan tersenyum menghibur diri.
"Om mau dibesuk Nanta? nanti saja saat Nanta libur sekolah kuminta ke Jakarta." kata Raymond mengerti keinginan Om nya.
"Mau tidak dia ya?" Kenan tampak ragu.
"Mau lah, Walaupun dia terlihat membenci Om, dia selalu mendoakan kebahagiaan Om kok."
"Sok tahu kamu."
"Aku tahu Nanta luar dalam, Om." Raymond tampak tengil. Kenan menepuk bahu keponakan tersayangnya. Kalimat itu cukup menghibur dan Kenan tersenyum lebar.
Mereka tiba di penginapan, dengan susah payah, Reza dan Raymond membantu Kenan turun dari mobil.
"Apa tidak langsung ke Jakarta saja?" tanya Kenan pada abangnya.
"Istirahat dulu ya, besok pagi baru kita kembali ke Jakarta." bujuk Mama Nina. Akhirnya mereka pun mengikuti keinginan Mama Nina.
"Papa dimana, Ma?" tanya Kenan.
"Masih di Malang. Nanti ke Jakarta bersama Nanta." jawab Mama membuat Kenan bertambah senang.
"Kapan Papa Ke Jakarta?" tanya Kenan tidak sabar.
"Kalau kita sudah sampai dirumah, baru mereka berangkat."
"Nanta sudah mulai libur, Ma?"
"Iya minggu ini kan ada libur panjang." jawab Mama Nina santai. Ia tahu hubungan Kenan dan Nanta tidak baik. Tadi pun Nina bersusah payah membujuk cucunya agar ikut Opa ke Jakarta dengan alasan kangen berat sama cucu. Bukan karena harus bertemu Kenan.
"Mama janjian sama Nona ya?" tanya Kenan lagi.
"Mau tahu saja." jawab Mama jahil.
"Ish tadi dia bilang mau kesini ketemu Mama." kata Kenan apa adanya.
"Iya, kamu naksir ya sama Nona." Mama lagi-lagi Kepo. Kenan menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah tidak ingin naksir-naksiran Ma. Cuma lucu saja melihat kelakuannya beberapa hari di rumah sakit. Lumayan menghibur." jawab Kenan tertawa.
"Mau dijadikan istri langsung?" tingkat kekepoan naik level.
"Yang mau jadi istri aku sekarang mesti lolos seleksi Nanta juga, Ma." jawab Kenan menghela nafas. Ia tidak mau mengecewakan Nanta lagi.
"Yang menikah kan kamu, bukan Nanta."
"Menikah juga harus semua bahagia. Aku, Istriku dan Nanta. Bukan hanya aku dan Istriku."
"Sudah sadar ya." kekeh Mama Nina membuat Kenan tertawa. Mama benar-benar jahil maksimal. Sorot lampu mobil membuat aktifitas Ibu dan anak berhenti. Sepertinya Nona dan Samuel sudah datang.
"Wah sampai juga disini." sambut Mama Nina saat Nona dan Samuel turun dari Mobil.
"Ini kan yang Tante maksud." kata Nona menunjuk kantong oleh-oleh yang dibelinya.
"Benar, kamu dari rumah sakit langsung kesana?" Mama Nina tampak terharu.
"Iya, soalnya Mas Kenan sudah keluar rumah sakit, perkiraan aku besok Tante sudah kembali ke Jakarta." jawab Nona mengikuti Mama Nina masuk ke dalam.
"Lumayan kan Tante, villanya." kata Nona, rupanya ia yang merekomendasikan villa ini pada Mama Nina.
"Iya, enak kok. Makasih ya." kata Mama Nina. Mereka duduk di sofa serempak, sementara Reza menghentikan aktifitas ya di laptop dan menghampiri Samuel dan Nona.
"Tidak repot, memang lewat kok." jawab Samuel tersenyum ramah.
"Nona belum istirahat, sudah disuruh belanja." sambung Mama Nina tidak enak hati.
"Dia tidak sakit, bu. Kalau ingin liburan dia minta diinfus." jawab Samuel membuat yang lain tertawa.
"Kemarin cuma infus vitamin Tante. Aku aksi mogok makan kalau ngambek sama Deni dan Papa. Tapi tidak berhasil, Papa juga tidak menghubungi aku." dengus Nona kesal.
"Kamu cari penyakit sendiri, Papa sudah tahu akal-akalan kamu." kekeh Samuel menggelengkan kepalanya.
"Tante besok ke Jakarta kan?" tanya Nona mengabaikan komentar Samuel. Nina menganggukkan kepalanya.
"Aku juga besok ke Jakarta. Nanti kita ketemuan ya Tante. Tapi aku ada urusan dulu."
"Mau apa ke Jakarta?" tanya Samuel khawatir.
"Seperti yang lu sama Deni bilang, lebih baik gue liburan kan? gue pindah saja sekalian ke Jakarta biar lu pada senang." Nona memonyongkan bibirnya.
"Awas ya bikin kelakuan." ancam Samuel. Nina dan Reza tertawa melihatnya. Kenan hanya memandang saja, ia seperti melihat Nanta. Mungkin Nona dan Nanta sama sedang memberontak karena kecewa pada ayahnya, hanya saja mereka mengambil cara yang berbeda. Nona meminta perhatian sementara Nanta menghindar.
"Tidak akan merepotkan kamu Samuel, tenang saja." jawab Nona kesal.
"Tapi merepotkan Tante Nina dan keluarga. Siap-siap Tante, menghadapi anak manja ini." kata Samuel lagi.
"Aku cuma butuh perhatian Tante. Aku tuh kurang kasih sayang. Mereka semua sibuk, aku sendiri. Makasih ya Samuel perhatian sama gue."
"Kalian pacaran ya." Mama Nina mulai kepo. Samuel tertawa menggelengkan kepalanya.
"Mau sih aku, tapi Samuel tidak dapat restu Deni, Tante." Nona ikut tertawa.
"Kita sahabatan Tante. Dari Tk sudah sama-sama. Sudah seperti saudara."
"Jadi ingat Steve sama Lembayung ya Ja." Mama Nina melihat pada Reza.
"Iya, anak sahabat saya seperti kalian, akhirnya menikah. Steve ikut agama Lembayung. Kalian tidak dapat restu karena beda keyakinan kan?" tanya Reza.
"Bukan, Kita sesama Muslim, Samuel namanya saja yang seperti non Muslim. Samuel ini pacarnya banyak. Kalau lagi jomblo seperti sekarang pasti mepet ke aku. Nanti kalau punya pacar menjauh, tapi tidak pernah lama ya. Lebih sering jomblo, kenapa ya? ada yang salah pasti." Nona tampak tidak habis pikir.
"Tidak sadar, dia terus yang bikin saya putus sama pacar-pacar saya." Samuel menjentikkan telunjuknya ke dahi Nona.
"Hmm kamu pasti jungkir balik ya kalau Nona lagi kesusahan dan pacar kamu komplen." tebak Mama Nina sambil melirik Kenan.
"Betul Tante." jawab Samuel pasti.
"Sama seperti Kenan kamu Sam, jangan begitu, bisa jadi duda kamu. Menikah saja sama Nona dari pada sama orang lain tapi pikirannya ke Nona." kata Mama Nina lagi. Kenan tertawa, Mama membangkitkan luka lama.
"Benar juga sih, kalau cinta ya kejar saja sampai dapat. Kalau tidak dapat luoakan fokus sama yang didepan mata." jawab Kenan mengingat pengalaman pribadi.
"Masalahnya aku juga ragu cinta apa tidak sama pembuat masalah ini." kekeh Samuel mengacak rambut Nona.
"Menurut aku dia cuma anggap aku adik sih Tante. Samuel ini lebih sayang aku dibanding Deni." jawab Nona.
"Deni juga sayang elu, Non. Tapi tanggung jawab dia lebih besar dari gue. Tidak sadar abangnya belum menikah demi adik tersayang." dengus Samuel dan Samuel juga belum menikah karena Nona. Mereka sepertinya sudah merasa dekat dengan Nina. Semua unek-unek dihati Nona dan Samuel mengalir begitu saja.
"Ibu kamu dimana Non?" tanya Nina.
"Sudah meninggal Tante dari aku kecil. Eh Papa tiga bulan lalu menikah lagi. Aku kesal jadinya aku bikin ulah terus."
"Biarkan saja menikah, Papa pasti butuh teman curhat, butuh pendamping yang bisa urus luar dalam. Sama anak kan beda." jawab Mama Nina.
"Begitu ya Tante?" Nona meyakinkan.
"Iya, nanti kalau sudah menikah kamu akan mengerti, mereka punya kebutuhan." Nona menganggukkan kepalanya.
"Mungkin aku saja yang egois ya Tante." gumam Nona lagi. Matanya sedikit berkaca-kaca. Kenan sedikit kasihan melihat Nona, benar-benar teringat Nanta. Bedanya Papa Nona tidak membuat kesalahan seperti Kenan pada Nanta.
"Tuh sadar." celutuk Samuel membuat Nona tertawa.
"Tante aku pamit ya, Kalau ada yang mau Tante beli kabari saja. Aku tinggal telepon dan kirim kesini." kata Nona setelah mereka ngobrol tidak penting.
"Sudah cukup itu. Minta nomor rekening kamu ya, Tante transfer." jawab Mama Nina. Mereka mulai bertransaksi sebelum Nona dan Samuel beranjak dari kursinya.