
"Hei tukang ngadu!!!" kata Nanta begitu menghubungi Dania via telepon. Dania tertawa puas dibuatnya.
"Dimarahi ya sama Papa?" tanya Dania.
"Tidak."
"Masa, tapi Papa hubungi Mas Nanta kan?" tanya Dania.
"Hu uh."
"Bilang apa Papa?" tanya Dania lagi
"Papamu heran kenapa cuma cium pipi." Nanta mengarang bebas, Dania terbahak tahu Nanta berbohong.
"Ya ampun Dania, kamu tuh bikin gemas tahu." kata Nanta pada Dania lagi.
"Hahaha mau cium lagi ya?" Dania malah menantang sambil terbahak, senang sekali mendengar Nanta mengomel karena Dania melaporkan aksi cium di mobil tadi pada Papa.
"Iya kalau tahu begitu, bibir saja yang aku cium." bisik Nanta takut terdengar Balen, walaupun bocahnya masih tidur.
"Tidak akan bertemu lagi sampai kita halal." jawab Dania tegas.
"Mana bisa begitu." protes Nanta.
"Bisa, karena aku memingit diriku sendiri." Nanta terbahak mendengarnya, mana ada memingit diri sendiri.
"Memang gadis London kena pingit juga?" ledek Nanta pada Dania.
"Siapa yang gadis London?" protes Dania.
"Kamu." jawab Nanta terkekeh.
"Aku orang Indonesia asli, maaf ya di London hanya transit." Dania kembali membuat Nanta tertawa.
"Dan... aku maunya kita menikah jumat minggu depan, tapi tadi Om Micko bilang jumat minggu ini, menurut kamu bagaimana?" tanya Nanta mencoba berdiskusi dengan Dania untuk bahannya nanti bicara pada keluarga besarnya.
"Aku ikut keputusan keluarga saja." jawab Dania mulai deg-degan, karena Nanta sudah membahas masalah pernikahan dan itu tinggal menghitung hari. Dania menghembuskan nafas kasar.
"Hei, kamu bisa rileks kan?" tanya Nanta, ia khawatir Dania kena serangan panik sementara Nanta sedang tidak bersama Dania.
"Bisa, ini hanya tegang karena ternyata pernikahan kita tinggal menghitung hari." jawab Dania.
"Siapkan dua kemungkinan ya, kalau menikah jumat ini berarti besok keluargaku melamar virtual, kalau jumat depan menikahnya, melamar virtualnya bisa akhir pekan." kata Nanta pada Dania.
"Kamu sampaikan pada Tante Maya ya, bagaimana nanti menurut Tante Maya, kamu sampaikan ke aku. Nanti malam aku mau bahas sama Oma."
"Iya."
"Kemungkinan besar dipercepat jumat ini karena kamu bilang senang sekali sih dicium Nanta sama Papamu." Nanta membercandai Dania.
"Kapan aku bilang senang sekali?" Dania protes, merasa tidak bilang begitu.
"Itu tadi buktinya Om Micko dan Papaku tertawakan aku." kata Nanta terkekeh.
"Papon tahu?" tanya Dania.
"Tahulah." jawab Nanta.
"Duh, Mas Nanta aku malu." Dania panik, Nanta terbahak dibuatnya.
"Siapa suruh mengadu." kata Nanta masih tertawa.
"Mas Nanta tadi tantang aku."
"Harusnya kamu tidak usah mengadu, kalau marah karena dicium ya balas saja." kata Nanta kembali terkekeh membayangkan wajah Dania yang seperti udah rebus.
"Apa-apa balas saja?"
"Iya, balas cium lagi, adil kan." Nanta senang sekali menggoda Dania.
"ckckck Mas Nanta, modusnya melebihi Kakak Ando rupanya." Dania dan Nanta pun terbahak bersama.
Nanta mengakhiri sambungan teleponnya ketika Balen terbangun, rupanya dari tadi ia menyimak percakapan Nanta dengan Dania via telepon.
"Selamat sore singkong rebus Abang, Ayo mandi sudah sore." kata Nanta menyapa Balen sambil tersenyum.
"Baen mau kiss Aban." kata Balen pada Abangnya.
Nanta menyodorkan pipinya pada Balen, Balen langsung saja menyambut pipi Abangnya, seperti biasa pipi Nanta jadi basah.
"Aban kiss Tania juda?" tanya Balen membuat Nanta terbelalak, ish bisa-bisanya Nanta bicara menggoda Dania didepan adiknya. Walau tidur rupanya ia menyimak.
"Kata siapa?" Nanta mengelak.
"Tadi kiss pipi Tania nih Aban." Balen terkekeh dengan wajah jahilnya. Ish bocah ini ingin sekali Nanta tutup mulutnya, supaya tidak mengoceh terus nantinya.
"Yah." Balen menurut ia langsung bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi Nanta.
"Mandi dikamar Balen saja." kata Nanta pada adiknya, Nanta mau menyerahkan Balen pada Ncusss karena ia sudah rapi bersiap kemesjid, bisa basah bajunya kalau memandikan Balen.
"Balen..." teriak Nona dari luar kamar Nanta.
"Tuh Mamon sudah pulang." kata Nanta pada adiknya. Langsung saja Balen berlari keluar kamar, mengejar Nona. Nanta mengikuti Balen dari belakang.
"Mamon beanja apa?" tanya Balen membongkar barang bawaan Nona.
"Itu punya Abang, sayang." kata Nona pada Balen.
"Puna Baen mana Mamon?"
"Mamon cuma beli untuk kebutuhan Abang. Balen mau belanja apa memangnya?" tanya Nona memeluk Balen.
"Butuhan Baen di Amika, Mamon." jawab Balen, Nona dan Nanta tertawa.
"Balen tidak ikut ke Amerika, Abang saja yang pergi sama temannya." kata Nona jujur.
"Baen itut Aban, don." rengek Balen.
"Eh Balen harus tinggal disini, Abang sebentar lagi menikah, Balen bantu Abang jaga Kak Dania." kata Nona membujuk Balen.
"Tania ndak itut?" tanya Balen.
"Tidak, Kak Dania tinggal sama kita." jawab Nona, Nanta tersenyum mendengarnya.
"Huahahaha." Balen langsung terbahak, mau tidak mau Nona dan Nanta tertular terbahak.
"Aban ndak bisa kiss Tania ladi don." kata Balen terbahak.
"Eh anak kecil bicara kiss lagi." suara Nona meninggi, tapi tertawa.
"Benelan Mamon, talau Tania ndak itut, Aban ndak bisa kiss Tania ladi, iya tan Ban."
"Iya Abang juga tidak bisa kiss kamu." kata Nanta sok santai. Berharap tidak ada pembahasan lanjutan dari Balen ataupun Nona.
"Baen sama Tania ya bobona." kata Balen pada Nona.
"Iya." jawab Nona.
"Ditamal Aban ya, bobona?" kata Balen lagi.
"Iya." sekarang Nanta yang menjawab, ia mengijinkan jika nanti Dania dan Balen tidur dikamarnya.
"Tepon Tania don Aban." pinta Balen pada Abangnya.
"Kak Dania lagi bobo." jawab Nanta asal, ia tidak mau Balen membahas masalah kiss lagi dihadapan Dania dan Nona.
"Toba duu, Aban." perintahnya pada Nanta.
"Ish anak ini ya..." Nanta jadi resah sendiri.
"Aban nanti Baen citain Papon nih." ancam Balen pada Nanta. Yah ketularan Dania dia sekarang mengancam abangnya.
"Cerita apa Balen." tanya Nona terkekeh, ia sudah diceritakan Kenan dan Micko tadi.
"Itu Mamon, Aban..."menggantung kalimatnya sambil melirik Nanta. Abangnya pura-pura tidak melihat Balen.
"Mo tepon ndak?" tanya Balen mendekati Nanta.
"Telepon siapa." Nanta gemas langsung menyekap Balen yang tertawa kegelian.
"Aban..." teriaknya berusaha menyelamatkan diri.
"Tepon Tania, Aban." kata Balen lagi ditengah usahanya melepaskan diri dari bekapan Nanta.
"Kiss dulu." kata Nanta pada Balen.
"Yah, epasin duu." kata Balen pada Abangnya.
"Abang lepas tapi kiss ya." kata Nanta.
"Yah." jawab Balen. Nanta pun melepaskan sekapannya pada Balen. Balen pun mencium pipi Abangnya, lagi-lagi pipi Nanta basah dibuatnya.
"Ayo cerita apa?" tanya Nona menggoda Nanta.
"Aban kiss..." belum sempat Balen cerita, Nanta langsung menggendong Balen, menciuminya dan membawanya ke kamar untuk dimandikan pengasuh.
"Mandikan dulu sudah sore." kata Nanta pada pengasuh Balen, sementara Nona terbahak karena tahu Nanta menghindar. Yang Nona bingung kenapa juga Balen bisa mengancam Nanta dengan bahasa kiss itu.