I Love You Too

I Love You Too
Pencinta Nanta



Ramainya Warung Elite Cabang Selatan ternyata bukan hanya jam makan siang saja, seharian ini selalu saja ramai hingga sore hari menjelang Nanta pulang.


"Ini belum pernah terjadi." kata Reza pada Nanta.


"Masa?" Nanta tidak percaya.


"Kalau ramai saat makan siang itu sudah biasa, tapi ini sudah lewat jam makan siang bahkan sore hari pun ramai. Coba kamu pikir."


"Iya juga sih."


"Lihat juga pelanggan yang datang rata-rata anak sekolahan dan anak kuliahan." Reza menganalisa.


"Mungkin disini dekat kampus dan ada sekolahan juga." Nanta ikut menganalisa.


"Kalau memang begitu mestinya dari dulu seperti ini, Boy." Reza tertawa menepuk bahu Nanta.


"Jadi?" Nanta bingung sendiri.


"Nanti Ayah cari tahu." jawab Reza tertawa.


"Ayo pulang. Kamu masih mau disini?" tanya Reza pada Nanta.


"Ramai begini apa boleh ditinggal pulang?" tanya Nanta pada Reza.


"Tentu saja boleh, karena memang jam kerja kamu sudah selesai, kecuali sedang ada event, baru harus kamu tunggu sampai selesai." kata Reza terkekeh.


"Oke Ayah." jawab Nanta tersenyum.


Perjalanan menuju parkiran tidak semulus yang Nanta kira, banyak sekali pelanggan abege yang memanggil Nanta. Nanta hanya lambaikan tangan dan menganggukkan kepalanya.


"Ih ramah-ramah." heboh para abege bersorak senang, Nanta dan Reza jadi tersenyum saling pandang.


"Duluan ya cyl, besok saya sama Nanta tidak kesini." kata Reza pada Cyla saat mereka bertemu didepan.


"Iya Pak." jawab Cyla pada Reza.


"Saya pulang dulu Mbak Cyla." pamit Nanta pada Cyla.


"Ya." jawab Cyla singkat dengan ekspresi datar.


"Halo Mas Nanta..." panggil pelanggan yang kebetulan duduk didekat Cyla berdiri.


"Halo..." sapa Nanta ramah pada pelanggan tersebut. Cyla hanya memandang saja pelanggan menyapa Nanta.


"Restaurantnya keren loh." komentar pelanggan tersebut. Nanta terkekeh.


"Terima kasih, Bagaimana makanannya?" tanya Nanta pada pelanggan yang sedang menikmati makanan dimejanya.


"Enak." jawab pelanggan tersebut.


"Alhamdulillah, terima kasih sudah mampir. Saya pamit dulu ya." kata Nanta sambil tersenyum ramah.


"Foto bareng dong, Mas." pinta salah satu dari mereka.


"Oh boleh, yuk." Nanta meladeni permintaan pelanggan tersebut, setelah selesai segera menggandeng Ayah Eja berjalan ke parkiran. Bisa lama pulangnya kalau nanti ada yang minta foto bareng lagi.


Cyla mengernyitkan dahinya bingung, kenapa juga pada minta foto bareng Nanta, seperti orang hebat saja. Terkenal juga tidak, hanya seorang pemain basket.


"Ayo bu, pulang." ajak Jonathan pada Cyla.


"Yuk." Cyla pun ingin cepat pulang.


"Hari ini luar biasa ramai, seperti ada event saja." kata Jo tersenyum pada Wari.


"Iya sampai sekarang masih ramai, padahal Pak Nanta baru satu hari ini disini." kata Wari melirik Cyla.


"Memangnya Nanta itu siapa sih? mana mungkin cabang kita ramai karena Nanta, kalian aneh-aneh saja." Cyla tertawakan kedua anak buahnya.


"Menurut aku sih karena Pak Nanta, biasanya tidak seramai ini." jawab Jonathan pada Cyla.


"Iya Ibu tidak lihat dari tadi banyak pelanggan minta foto bersama Pak Nanta?"


"Tebar pesona sih makanya banyak yang minta foto." jawab Cyla.


"Pak Nanta itu terkenal, Bu." Jonathan tersenyum.


"Tapi kok saya tidak kenal tuh." kata Cyla terkekeh.


"Ya Bu Cyla nontonnya sinetron saja sih, pasti tidak kenal lah." Wari tertawakan Cyla. Jonathan jadi ikut tertawa.


"Walaupun menurut kalian Nanta itu terkenal, tapi harus kalian tahu, cabang ini ramai bukan karena Nanta." kata Cyla pada Wari dan Jonathan. Kedua staff Cyla cengengesan saja malas berdebat.


"Ok Bu, sampai besok." kata Jonathan sambil memakai helmnya.


"Hati-hati Bu." pesan Wari pada Cyla. Cyla hanya lambaikan tangannya kemudian masuk kedalam mobilnya.


"Besok Pak Nanta tidak ke sini." kata Wari pada Jonathan.


"Kalau besok pelanggan cari Pak Nanta mesti jawab apa?" tanya Wari bingung.


"Suruh datang lagi saja besoknya." kata Jonathan pada Wari.


"Oke. Lu tahu follower cabang kita langsung bertambah begitu gue update foto kita tadi." kata Wari pada Jonathan.


"Oh ya, memang lu tulis apa tadi di media sosial, gue main like saja tidak baca lagi."


"Nih..." Wari perlihatkan media sosial Warung Elite.


Marilah kemari, ada Bos Ganteng nih.


#Our New Boss #Pencinta Basket #Pencinta Nanta.


"Tes ya besok Bos tidak hadir. Ada pengaruhnya tidak." kata Jonathan pada Wari.


"Mesti bikin pengumuman apa tidak?" tanya Wari pada Jonathan.


"Tidak usah." Jonathan terkekeh, bayangkan besok pelanggan akan betah duduk lama di restaurant seperti tadi apa tidak.


Sementara itu sesampainya dirumah Nanta langsung disambut hangat oleh Balen si singkong rebus.


"Capek ya teja?" tanyanya saat melihat Abangnya memasuki rumah.


"Capek, pijiti Abang dong." kata Nanta menggoda Balen.


"Tundu ya Baen ambi minak teonna duu." katanya pada Nanta.


"Tidak usah pakai minyak, pijit saja." kata Nanta pada Balen. Balen mulai naik kesofa dan berdiri dibelakang Abangnya, mulai pijiti Nanta dengan tangan mungilnya.


"Tasian Aban Baen, capek." oceh Balen sambil jarinya menari dibahu Nanta.


"Ya ampun sayang betul sih sama Abangnya, pulang kerja langsung dipijiti." Nona terkekeh lihat kelakuan kakak baradik ini.


"Papon tidak pernah dipijiti." protes Kenan pada Balen.


"Papon sih ndak biang Baen." kata Balen sambil pukul-pukul bahu Nanta.


"Kenapa jadi dipukul?" tanya Nanta pada adiknya.


"Ini pijit tau butan putul." kata Balen pada Abangnya.


"Udah ya." katanya kemudian, sepertinya mulai bosan.


"Capek ya?" tanya Nanta terkekeh.


"Ndak sih, Baen mo main sama Ichie." katanya kemudian tinggalkan Nanta bersama Papa dan Mamon.


"Pijitnya baru sebentar sudah mau main saja." teriak Nanta pada adiknya.


"Satit tau tanan Baen." jawabnya balas berteriak. Nanta dan yang lainnya jadi tertawa.


"Sana mandi." kata Kenan pada Nanta.


"Iya aku ke kamar dulu." ijin Nanta pada Papanya.


"Hari ini sepertinya lebih capek ya?" tanya Nona pada Nanta.


"Lumayan, karena ramai kali jadi lihat orang banyak energi seakan terserap." jawab Nanta tertawa.


"Bukan karena sibuk ladeni orang foto bersama ya?" Nona menggoda Nanta.


"Aih tahu dari mana aku ladeni pelanggan foto bersama?" tanya Nanta pada Nona.


"Ish banyak sekali di explore orang pajang foto sama kamu." jawab Nona terkikik geli.


"Hahaha Mamon lebay deh." Nanta tertawa tanggapi bercandaan Nona.


Begitu tiba dikamar dilihatnya Dania sedang sibuk dengan handphonenya sambil berbaring.


"Duh suami pulang tidak disambut." Nanta gelengkan kepalanya.


"Aku lagi lihat-lihat foto Mas Nanta nih di media sosial." jawab Dania tunjukkan foto Nanta.


"Aku kira Mamon bercanda." Nanta terkekeh.


"Foto sih biasa ya, ini loh kenapa pada pasang hastag pencinta Nanta." sungut Dania dengan wajah imutnya. Imut dimata Nanta pastinya.


"Hahaha kerjaan siapa nih bikin hastag begitu." Nanta langsung tertawa geli sendiri.


"Penggemar kamu lah." jawab Dania sambil garuk kepala resah sendiri.


"Kerjanya yang benar, jangan pecicilan ingat nih diperut juga ada pencinta Nanta." kata Dania membuat Nanta tertawa.


"Aku sama dedek bayi pencinta Dania dong." katanya sambil ciumi pipi istrinya gemas lalu ciumi Dedek bayi yang masih didalam perut.