I Love You Too

I Love You Too
Menyebalkan



Semua sudah siap berangkat menuju salah satu Mal di Jakarta Selatan. Nona sudah memesan tiket bioskop via online. Film yang akan ditonton pun sudah dipilih Nona dan Nanta. Mereka mempunyai selera yang sama, menonton film komedi.


Kini tibalah mereka di Mal 1. Mal yang mengingatkan Kenan saat masih menjadi suami Tari, mereka suka menghabiskan akhir pekan bersama di Mal ini untuk menyenangkan Nanta. Kenan melirik pada Nanta sekilas. Nanta tampak santai saja seakan tidak ada memori indah yang membekas dihatinya.


Setelah turun dari mobil, Roma langsung berjalan terlebih dulu bersama Nona, Raymond yang mendorong kursi roda Kenan dan Nanta berjalan disisinya.


"Kenan!!!" suara bariton terdengar memanggil Kenan. Segera saja Kenan mencari asal suara tersebut. Dari sisi Kiri tampak seorang pria berlari kearahnya. Raymond menghentikan jalannya dan membiarkan pria tersebut mendekat.


"Lutfi." Kenan tersenyum menyambut Lutfi sahabatnya saat kuliah, yang sudah beberapa tahun ini tinggal di Malaysia.


"Kenapa lu bro?" tanya Lutfi prihatin melihat Kenan duduk di kursi roda.


"Biasalah." kekeh Kenan.


"Bini lu mana?" tanya Lutfi Konyol, ia memang belum tahu kalau Kenan sudah pisah dengan Tari.


"Hmm... nih anak gue, Nanta. Ingat kan?" Kenan menunjuk Nanta, Lutfi tersenyum melihat Nanta.


"Sudah besar ya. Dulu kecil om gendong-gendong kamu. Weekend sama Papa boy? Mama tidak ikut?" sapa Lutfi pada Nanta. Nanta hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Lutfi.


"Ngopi yuk Bro, sudah lama tidak jumpa kan? biar anak muda pada keliling deh. Gue juga lagi nunggu anak bini gue nih lagi pada keliling. Kalian mau ikut ngopi juga boleh boy." ajak Lutfi sedikit merayu melihat pada Nanta dan Raymond.


"Bilang saja minta ditemani." Kenan mencebikkan mulutnya.


"Iya itu juga. Suntuk gue sendiri. Ayo lah." Lutfi sedikit memaksa.


"Ray, Om duduk di cafe ya kalian saja yang nonton." kata Kenan pada Raymond.


"Ya sudah, titip ya Om." Raymond mengarahkan kursi roda pada Lutfi. Kenan lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu ATM kemudian,


"Nanta, pegang ini Nak, nanti kalau mau jajan pakai saja. Pinnya masih yang dulu." Kenan menyerahkan Kartu ke tangan Nanta.


"Aku ada uang." jawab Nanta menarik tangannya.


"Ambil saja Boy, habiskan uang Papamu." Lutfi membantu Kenan meletakkan Kartu ditelapak tangan Nanta hingga tangannya menggenggam Kartu tersebut


"Ok nanti kita bertemu di cafe utara ya " kata Lutfi segera mendorong kursi roda Kenan dan meninggalkan Raymond juga Nanta.


Raymond dan Nanta segera berjalan cepat menuju bioskop karena Roma dan Nona sudah menghilang dari pandangan. Asik sekali mereka ngobrol tanpa sadar jika para Pria tertinggal jauh. Saat tiba dibioskop tampak Nona sudah memegang tiket biokop, rupanya mereka gerak cepat.


"Mana Mas Kenan?" tanya Nona bingung melihat Raymond dan Nanta berjalan santai tanpa Kenan dan kursi roda.


"Tidak jadi Nonton, diculik temannya." jawab Raymond.


"Ish tiketnya lebih satu, mau dikasih siapa?" Nona tampak bingung.


"Sini ku kasih yang lagi antri." Raymond mengambil satu tiket dan memberikan pada segerombolan anak muda yang sedang heboh mengumpulkan uang untuk membeli tiket.


"Makasih Kak." teriak mereka saat menerima tiket tersebut.


"Lumayan hemat satu tiket, buat beli popcorn saja uangnya." kata salah satu dari mereka.


"Nomor rekening Kak Nona berapa? aku mau transfer tiket nonton." kata Roma pada Nona.


"Tidak usah, kalian beli makanan dan minuman saja." jawab Nona sambil menunggu jadwal pintu teater dibuka.


Raymond dan Roma membeli makanan, sementara Nona dan Nanta duduk di salah satu kursi.


"Kamu kenapa judes sekali sama Papamu?" tanya Nona pada Nanta.


"Masa?"


"Ih semua juga bisa menilai. Papamu seperti mengemis ingin dekat dengan kamu." dengus Nona, berbanding terbalik dengan dirinya yang mengemis ingin dekat dengan Papanya.


"Tante??? aku sama kamu cuma beda tiga belas tahun loh. Aku saja memanggil Papamu Mas karena hanya beda Lima belas tahun."


"Ya jadi mau dipanggil Kakak? Masa calonnya Papa aku panggil Kakak." dengus Nanta.


"Ih kata siapa aku calon Papamu, sembarangan."


"Kakak naksir Papaku kan?"


"Ya ampun sembarangan menuduh, kalau kita seumuran lebih baik aku naksir kamu Nanta." Nona memonyongkan mulutnya beberapa senti.


"Untungnya tidak seumuran?" gumam Nanta pelan.


"Ish aku dengar, menyebalkan kamu, kalau kamu ketus terus cewek yang kamu suka pasti lebih naksir Papamu aku jamin." dengus Nona kesal. Dengan wajah masam ia meninggalkan Nanta dan segera berjalan menghampiri Roma yang sedang dalam antrian.


"Dih ngambek, memang sudah tante-tante kan kalau umur dua puluh sembilan tahun." Wajah Nanta tak kalah masam, ia tampak gumerendeng sendiri.


"Pakai bilang mending naksir aku, dasar tante-tante." dengus Nanta lagi. Dari kejauhan tampak Roma, Raymond dan Nona melihat kearah Nanta.


"Kenapa Nanta?" tanya Raymond pada Nona.


"Menyebalkan, dia bilang aku naksir Papanya."


"Pffftttt...." Raymond menahan tawanya. Sementara Nona terbahak mendengarnya.


"Kalau naksir Om Kenan, ambil hati Nanta." kata Raymond menepuk bahu Nona.


"Siapa yang naksir sih. Kalian ini ya."


"Iya sekarang belum, nanti kalau sering ketemu pesona Om Kenan tidak akan bisa Kak Nona tolak." kata Raymond lagi. Ia sudah dalam antrian paling depan, menyebutkan apa saja yang mereka inginkan pada kasir.


"Aku tuh menginap karena Tante Nina, bukan karena Mas Kenan." kata Nona lagi.


"Iya kami tahu kok, Raymond sama Nanta memang jahil." kata Roma berusaha menenangkan Nona agar tidak marah. Ia memberi kode pada suaminya agar tidak terus menerus menggoda Nona.


"Lagian Kak Nona kenapa marah dibilang naksir Om Kenan, padahal tinggal bilang tidak naksir saja kan bisa."


"Aku marah ketika kubilang kalau kita seumuran, aku pilih Nanta, dia bilang untung tidak seumuran. Menyebalkan."


"Hihi marah-marah terus nanti lekas tua loh." kata Roma tertawa melihat tingkah Nona yang seperti anak kecil.


"Sorry." jawab Nona menyadari emosinya yang tidak bisa ia kendalikan.


"Mama minuman dan makanan Nanta." katanya pada Raymond.


"Ini." Raymond menyerahkan kantongan kertas pada Nona.


"Mau diapakan?" tanya Raymond, mereka berjalan menghampiri Nanta.


"Biar aku yang kasih Nanta, aku mau baikan." Nona tampak menyeringai.


"Nantaaa...ini." Nona sedikit berlari. menghampiri Nanta dan duduk disebelahnya. Untung saja bangku belum di isi orang, sementara pintu teater baru dibuka lima belas menit lagi.


"Pegang Nanta, ini punya kamu." kata Nona mengulurkan kantongan kertas pada Nanta.


"Bukannya tadi Kakak marah?" tanya Nanta masih dengan muka masam tapi sedikit bingung.


"Kita baikan." Nona terkekeh mengulurkan kelingking kanannya pada Nanta. Mau tidak mau Nanta ikut mengulurkan kelingkingnya hingga kedua jari kelingking tersebut saling bertautan.


"Kita friend." kekeh Nona lagi, Nanta ikut terkekeh dibuatnya. Lucu sekali kakak ini, batinnya.