
"Jadi bagaimana Leyi? Diky gerak cepat tuh." bisik Nanta pada Larry melihat Diky begitu aktif dekati Rumi.
"Yah." Larry menghela nafas.
"Cemburu?" tanya Nanta, Larry gelengkan kepalanya.
"Ada Femi." jawabnya tersenyum.
"Jadi pilih Femi?"
"Menurut lu bagaimana, bukan type gue sebenarnya? tapi gue baru tahap suka sih." malah tanya sama Nanta.
"Biasanya yang bukan type itu jodoh." Nanta terbahak.
"Elu juga begitu?" tanya Larry dengan wajah serius.
"Gue sih lihat Dania cantik terus walaupun orang lain bilang biasa saja." jawab Nanta terkekeh. Duh kalau Dania dengar bisa dipeluk terus itu suaminya.
"Tapi Femi selalu berpikir buruk tentang gue." Larry menghela nafas.
"Kenapa?"
"Di otaknya tertanam gue itu playboy. Rumi saja selalu bela gue bilang bukan playboy." Larry mendengus.
"Kan memang lu dulu sering ganti-ganti pacar." Nanta ingatkan Larry dulu.
"Itu masa lalu gue dan dia dengar dari orang lain loh. Femi langsung saja percaya. Itu yang bikin gue malas maju. Kalau benar suka kan harusnya coba percaya gue."
"Playboy curhat sama orang bener." celutuk Doni membuat mereka bertiga terbahak, sementara Diky temani Rumi antri jajanan khas bogor.
"Rumi percaya elu tuh." jawab Nanta.
"Bokap gue no response waktu gue bahas Rumi." jawab Larry tertawa.
"Jadi lu coba majukan Rumi juga ke bokap?" tanya Nanta.
"Yah, siapa tahu bokap cocok, jujur secara fisik Rumi type gue. Tapi menikah tidak bisa lihat fisik saja kan? kita satukan dua kepala dan dua keluarga." celoteh Larry.
"Habis baca buku dia." komentar Doni bikin mereka bertiga kembali tertawa.
"Rese, kalian pikir kenapa gue putus sama mantan-mantan gue dulu? setiap punya pacar gue semangat cerita ke bokap dan dia bergeming. Seperti ngomong sama tembok gue." Larry bersungut.
"Belum boleh pacaran kamu Nak masih kecil." jawab Doni.
"Apanya yang kecil?" Nanta terbahak, Larry juga ikut terbahak.
"Nanti lah kalau Femi sudah yakin sama gue, baru gue bisa maju. Eh ada lagi masalah, Femi tidak mau berhenti bekerja, bagaimana ya?" kata Larry lagi.
"Itu bisa dibicarakan, sebenarnya elu playboy apa bukan sih, begini saja bingung. Lihat tuh Diky mengalir saja tapi pepet terus. Lu bilang sama Femi mau di tunggu apa ditinggal." kata Doni pada Diky.
"Ditunggu apa ditinggal kok seperti tukang fotocopy di kampus gue ya." celutuk Nanta membuat semua kembali terbahak.
"Kalah pamor nih gue sama tukang fotocopy." jawab Larry disela tawanya.
"Femi mana? kok tidak dipepet?" tanya Nanta.
"Tadi ditarik Dona sama Dania, masa gue mau ikuti cewek-cewek sih." Larry tertawa. Doni anggukan kepala sambil senyum-senyum. Dona mau mengorek isi hati Femi rupanya. Mata Doni berkeliling mencari keberadaan ketiga wanita itu, tapi tidak terlihat. Bagaimana mau terlihat, sementara lelaki menunggu sambil duduk santai didekat parkiran menunggu wanitanya berbelanja, ternyata yang belanja malah asik makan asinan disalah satu pojokan gerobak kaki lima. Sengaja bersembunyi karena Dania takut dilarang Nanta jajan di kaki lima.
"Jadi kamu sama Larry tuh bagaimana sih?" tanya Dona sambil nikmati asinannya pada Femi.
"Teman." jawab Femi singkat.
"Teman saja?" Dona memastikan.
"Iya." jawab Femi pasti.
"Tidak mau lebih? seperti kami misalnya menikah, jadikan dia teman hidupmu?" tanya Dania.
"Siapa yang berani menikah dengan playboy." jawab Femi tertawa.
"Larry bukan playboy ah, kalau banyak yang kejar sih memang iya." jawab Dona sesuai pengamatannya.
"Iya." Dania ikutan membela Larry.
"Pasti ada sebabnya, kalian jarang ngobrol ya? cari tahu pribadi masing-masing. Kamu kan dokter harusnya bisa lebih mudah kenali watak orang, karena kamu biasa bertemu dengan banyak orang." oceh Dona mengelap keringat karena kepedasan.
"Larry tidak pernah telepon aku loh." adu Femi.
"Dia tidak biasa diacuhkan, karena kamu acuh dia pikir kamu terganggu." jawab Dona.
"Harusnya dia usaha lebih keras." jawab Femi.
"Oh kamu maunya dikejar?" Dania tertawa.
"Harusnya begitu." jawab Femi.
"Nanta juga pasti kejar kamu kan?" tanya Femi bandingkan Nanta dengan Larry.
"Hmmm... sepertinya tidak ya. Semua serba mengalir saja kalau aku dan Mas Nanta." jawab Dania jujur. Tidak pernah merasa dikejar Nanta dia saat pendekatan. Malah Dania gunakan trik supaya Nanta tunjukkan perasaannya pada Dania.
"Nah kami bagaimana mau mengalir ya, Kok kaku sekali rasanya, padahal kulihat Larry bukan cowok yang kaku." Femi tampak berpikir.
"Karena kamu sudah pasang Pagar pembatas dulu untuk Larry, jadi dia tidak berani masuk." jawab Dania pada Femi.
"Begitu ya?" Femi tertawa.
"Kamu sih jual mahal, kalau kamu tidak mau sama Larry, mau kujodohkan dengan adik temanku saja." kata Dona asal, mau jodohkan sama siapa Dona belum punya kandidat.
"Kalau Larry mau silahkan saja." Duh Dona mau jewer kuping Femi rasanya. Beneran sok jual mahal, tapi diajak ke bogor mau. Kalau tidak suka jangan mau diajak dong, kesal Dona.
"Oke." Dona langsung keluarkan handphonenya hubungi seseorang.
"Halo Dona."
"Mau kukenalkan sama temanku tidak namanya Larry ganteng pemain TimNas teman Doni, single. Lagi cari istri. Sebenarnya sudah ada yang dekat namanya Femi tapi sepertinya Femi tidak mau. Besok mau kukenalkan?"
"Dona gila lu ya, Laki gue bisa ngamuk kalau dengar."
"Oh ya sudah kamu bisa jam berapa, nanti kuajak Larry deh." Dona pandangi Femi yang terpaku.
"Jam empat sore ya. Tapi aku tanya Larry dulu dia bisa apa tidak." kata Dona lagi tersenyum tipis, wajah Femi mulai berubah.
"Gue bilangin Doni ya, bininya stress."
"Iya kamu dandan yang cantik jangan lupa ya, tahu kan mantan pacar Larry cantik-cantik. Dia sih tidak cari cantik tapi jangan sampai kalah pamor dong."
"Ish mimpi apa adek gue punya istri kaya elu Dona, ampun deh gue bilangin Papa juga ya menantunya mulai gila."
"Ish jangan gitu dong. Sampai ketemu ya. Kapan ke rumah sih, kangen nih?" Mulai takut bawa-bawa mertua.
"Ini gue lagi dirumah Mas Kenan, besok ketemu gue bilang Papa loh, dasar stress."
"Hahaha oke sampai ketemu besok." tutup telepon kemudian tersenyum pada Femi.
"Langsung mau loh besok, tapi tidak tahu ya Larry mau apa tidak." masukkan handphonenya ke dalam tas.
"Dona, apa Larry bisa diajak serius?" mulai cari tahu.
"Bisa lah. Lihat saja ketiga temannya." jawab Dona.
"Aku takut." Femi sedikit ragu.
"Itu masa lalu deh, yang penting sekarang dan kedepan. Kalau terus jual mahal kapan jadinya." Dona sudah tidak bernafsu habiskan asinannya.
"Sholat saja minta pertunjuk." kata Dania pada Femi.
"Sudah sih." jawab Femi.
"Terus?"
"Ya aku pengennya dekat Larry terus, tapi rasa khawatir jadi korbannya Larry masih ada." jawab Femi.
"Korban, memangnya kamu kambing ya." komentar Dona membuat Dania terbahak, Femi masih berpikir keras.