
Malam hari Kiki dan Reza datang kerumah Oma Nina, senang sekali bisa berkumpul lengkap, eh tidak lengkap karena sudah tidak ada Tari. Tapi sudah cukup lengkap dengan hadirnya Nanta.
"Nanta, Bunda kangen loh." kata Kiki saat melihat Kenan duduk manis diruang keluarga, sementara yang lain duduk di meja makan.
"Hmm...Nanta juga kangen." jawab Nanta sambil memainkan remote tv.
"Mama sehat, Om Bagus sehat?" tanya Kiki lagi. Nanta menganggukkan kepalanya.
"Nanti Nanta menginap dirumah Bunda, boleh?" tanya Nanta pelan.
"Boleh saja, Oma mengijinkan tidak?"
"Belum bilang sih. Ijin Bunda dulu." jawab Nanta dengan senyum manisnya. Mirip sekali dengan Kenan.
"Nanta ini kue dari Mami Monik loh, kamu juga suka kan tadi. Ayo sini makan lagi." teriak Oma yang tak mau jauh dari Nanta.
"Nanta kenyang Oma." katanya menolak bergabung di meja makan. Tadi Nanta sudah makan duluan sebelum yang lain turun, alasannya sudah sangat lapar, Oma mengijinkan meski tahu Nanta malas bertemu Papanya dimeja makan.
Nanta kembali fokus dengan layar tv, tidak ada acara yang menarik selain sinetron jam-jam makan malam begini. Bel berbunyi seperti ada tamu, karena hanya Nanta yang santai di sofa sementara yang lain mengunyah dimeja makan, Nanta bergegas membuka pintu.
"Halo, ada tante Nina?" sapa gadis cantik dengan rambut sebahu.
"Ada, mau masuk atau tunggu?" tanya Nanta sambil memandang gadis tersebut dari atas kebawah. Nanta tidak mengenal nya, tapi kakak ini cantik sekali, batin Nanta.
"Terserah mau disuruh masuk atau tunggu." jawab gadis tersebut cengengesan. Tambah cantik cengengesan begitu, pikir Nanta lagi. Ish apa sih dia kan lebih tua, Nanta menyadarkan pikirannya.
"Masuk saja, Oma dimeja makan." katanya mempersilahkan masuk, tidak mungkin orang jahat kan, Nanta sedikit ragu.
"Eh tunggu deh disini. Dari siapa?" tanya Nanta kemudian.
"Nona." jawabnya dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Eh Nanta terpaku, Nona teman Oma yang tadi Bang Raymond bilang, calon istri Papa? hmmm Nanta berdiri tak bergerak, malah bertambah memandang Nona dari atas sampai bawah.
"Kamu teman Oma atau teman Papa?" tanyanya ketus, padahal tadi lumayan ramah. Nona mengernyitkan dahinya.
"Papamu siapa?" Mas Reza atau Mas Kenan?" tanya Nona lagi
"Kenan."
"Oh, ok."
"Loh, kok Oh Ok?" Nanta melipat tangannya di dada.
"Habis apa, aku kesini mencari Tante Nina bukan Mas Kenan." jawab Nona tengil.
"Oh.. Ok tunggu." jawab Nanta meninggalkan Nona diruang tamu.
"Oma ada Nona cari Oma." kata Nanta pada Oma.
"Cari Oma apa Om?" tanya Raymond jahil. Nanta melotot pada Abangnya, membuat Raymond tertawa.
"Suruh masuk sayang." kata Oma pada Nanta.
Nanta membalikkan badannya tanpa senyum, wajahnya mulai menegang.
"Masuk saja Oma didalam." katanya pada Nona, sekarang sudah tidak ramah. Nona acuh saja menghadapi bocah tanggung yang awalnya ramah setelah mendengar namanya langsung menegang.
"Tante, aku datang ya kemalaman ya?" kata Nona pada Mama Nina. Gadis ini tak ada canggungnya, padahal belum mengenal, Papa Dwi, Roma dan Kiki.
"Kamu jadi menginap disini kan?" sambut Mama Nina senang. Nona menganggukkan kepalanya. "Satu malam saja, Tante. Besok malam aku balik ke cirebon." katanya pada Mama Nina. Mama Nina mulai mengenalkan Nona pada Anggota keluarganya.
"Ini anak angkat dapat di cirebon loh Pa." katanya pada Papa Dwi. Papa Dwi menganggukkan kepalanya, tangannya masih sibuk memegang kepala ikan kakap.
"Ayo makan sekalian." ajak Kiki tak kalah ramah.
"Aku sudah makan Kak." kata Nona pada Kiki.
"Kamu sama siapa Non?" tanya Mama Nina.
"Dikawal terus ya. Sayang bener mereka sama kamu."
"Mesti masuk rumah sakit dulu Tante. Perjuangan, Papa saja sampai sekarang tidak ada kabar. Sibuk sama keluarga baru." Nona meringis kesal.
"Sabar saja, mungkin tidak ada signal atau lupa bawa handphone." Mama Nina menenangkan.
"Biar saja, aku kan sudah ada Tante Nina." jawab Nona kemudian. Mama Nina memanggil asisten rumah tangga untuk mengantar Nona ke kamar tamu.
"Barang-barang kamu masukkan ke kamar dulu, nanti kesini lagi ya." kata Mama Nina pada Nona.
"Iya Tante, Hai mas Kenan." dengan santai Nona menepuk bahu Kenan yang sedang duduk disebelah Raymond. Kenan tersenyum saja, ia selalu saja merasa lucu melihat gaya Nona yang sedikit slengean. Belum lagi tanpa malu-malu menerima tawaran Mama menginap padahal baru saja kenal.
"Anak angkat Pa, siapa tahu ada yang nyangkut." seloroh Mama Nina ketika Nona berlalu.
"Mau dijadikan anak mantu atau cucu mantu Ma?" tanya Papa Dwi terkekehm Mama Nina menempuh bahu suaminya.
"Memangnya cocok jadi istri Nanta, yang benar saja Papa nih." protes Mama Nina sambil tertawa.
"Terlalu muda untuk Kenan, Ma." kata Papa Dwi lagi.
"Ish Papa, biarkan saja kalau mereka cocok dan kalau Nanta setuju." bisik Mama Nina takut terdengar Nona.
"Kamu setuju kan Nan?" teriak Raymond pada sepupunya. Yang lain tertawa mendengarnya.
"Apa sih?" dengus Nanta terganggu.
"Kamu setuju tidak dijodohkan sama Kakak Nona?" kekeh Kenan lagi.
"Bodo ah." Nanta tidak mau diganggu. Ia berlagak fokus dengan sinetron kekinian.
"Semua menginap disini ya, jangan ada yang pulang." kata Mama Nina lagi.
"Oma aku sama Roma pulang ya. Ayah sama Bunda saja yang menginap." bujuk Raymond, masa sudahlah baru menikah, harus menjemput Om Kenan ke Cirebon dan sekarang harus menginap di rumah Oma. Sudah pasti pisah kamar sama Roma malam ini, karena kamar terisi semua.
"Kamu takut sekali pisah kamar sama Roma ya. Biar ayah saja yang tidur sekamar sama Opa dan Om Kenan. Kamu dan Roma dikamar Ayah. Bunda sama Oma." kata Reza lagi mengerti sekali pikiran anaknya.
"Nanta dikamar Papa saja. Papa tidur sama Opa." kata Kenan pada anaknya.
Nanta hanya melirik dan kembali fokus pada TV, Dari bahasa tubuhnya Kenan tahu anaknya mendengar apa yang ia katakan.
"Aku boleh tidur sama Tante Nina dan Kak Kiki kalau kamarnya kurang." kata Nona yang baru saja kembali bergabung.
"Tidak kurang, hanya pengantin baru tidak mau dipisah." kata Kiki pada Nona.
"Oh selamat ya Ray, berarti kemarin baru menikah sudah sibuk urus Om kecelakaan ya." kata Nona pada Raymond.
"Demi Om, Tante." kata Raymond dengan senyum jahil.
"Kok Tante sih, Aku baru 29 tahun loh. Kamu berapa tahun?" tanya Nona pada Raymond.
"22 tahun." jawab Raymond.
"Kakak lah beda tujuh tahun sih." timpal Roma.
"Tapi kan nanti bisa jadi Tante." kekeh Raymond membuat Kenan menggelengkan kepalanya.
"Hmmm aku ngerti maksud kamu, tapi kamu juga bisa jadi Abang sepupuku loh." celutuk Nona membuat yang lain tertawa sementara Nanta menolehkan kepalanya karena ucapan Nona mengganggu konsentrasinya.
"Sama aku beda 13 tahun." protes Nanta, lagi-lagi yang lain tertawa.
"Sama Papamu beda 15 tahun. Mending sama siapa Nan?" pancing Raymond.
"Papa lah masa aku." hahaha Nanta akhirnya kepancing, Raymond memang paling bisa.