I Love You Too

I Love You Too
Wisuda



Pagi sekali Reza sudah berangkat ke Jakarta Convention Center, tempat wisudanya dilaksanakan. Kiki ikut menemani sedangkan Papa dan Mama nanti akan menyusul diantar supir yang selalu standby saat Dwi dan Nina berada di Jakarta.


Sebenarnya masih terlalu pagi untuk Kiki berada disana, semula rencananya Kiki akan menyusul bersama Papa dan Mama, tapi Mario meminta pada Reza agar Kiki datang lebih cepat untuk menemani Regina disana, Reza pun mengiyakan.


Suasana hiruk pikuk sudah terlihat saat memarkirkan kendaraan, setelah beberapa kali putar, baru Reza mendapatkan tempat parkir yang lumayan dekat dengan pintu masuk. Mestinya tadi Reza menurut saja saat Mama menyarankan untuk diantar supir. Tapi Reza bersikeras untuk membawa kendaraan sendiri.


Mario dan Regina tampak sudah menunggu di Lobby saat Reza yang menggandeng Kiki berjalan menuju kearah mereka.


"Cepat sekali, ga tidurkah?" tanya Reza menggoda Mario, karena semalam mereka ngobrol diwarung cukup lama, terlebih Andi sibuk membujuk Dwi untuk membocorkan apa rencana kedepan orangtuanya, terkait hubungan asmara tentu saja, melihat hasil dua setengah sahabatnya yang sukses melenggang melalui perjodohan, ya masih dua setengah karena pernikahan Erwin belum berlangsung. Bukan tak mungkin Andi mengalami hal yang sama dengan ketiga sahabatnya.


"Hmmm." Mario tak menjawab hanya berdehem saja sambil mengerlingkan matanya pada Reza.


Kiki merangkul Regina ikut menggoda sambil berbisik "Nyo, Kerja sampai pagi kah semalam?" katanya sambil tersenyum jahil karena melihat mata Regina yang memerah dan tampak mengantuk. Regina menepuk bahu Kiki sambil tertawa.


"Kita foto studio dulu kak mumpung sepi" tunjuk Kiki pada camera dan photographer yang sudah standby dipojokan. Mereka berempat menuju kesana dan mulai berphoto dengan berbagai macam gaya. Ada juga photo yang mereka ambil dengan camera handphone. Benar saja setelah mereka selesai, studio ala-ala mulai banyak yang mengantri. Erwin dan Andi belum kelihatan, padahal Reza dan Mario ingin juga photo studio bersama, tapi sepertinya mereka terlambat.


"Gue jemput Andi dulu, eh koper pakai ketinggalan, terpaksa balik lagi ambil." Erwin menjelaskan saat sampai di JCC dan diberondong pertanyaan oleh Reza dan Mario. Andi yang menjadi penyebab keterlambatan hanya cengengesan.


"Pesawat jam berapa friend?" tanya Mario ingin tahu.


"Jam 2.30 take off, jam 1 sudah mesti dibandara nih Win." kata Andi sambil melihat pergelangan tangannya.


"Mepet amat friend, kita selesai jam 12 ga nih." Erwin tampak khawatir sementara Andi santai saja.


"Nanti gue aja yang nyetir." katanya kemudian.


"Bukan gitu nyong, hari sabtu kalau siang begini lebih macet, mestinya lu ambil pesawat jam 4 sore" gerutu Erwin membayangkan perjalanan yang tak santai saat kebandara nanti.


"Tenang aja, di rundown acara gue lihat selesai jam 11 kok." Andi menjelaskan, barulah Erwin sedikit tenang.


Ke empat sahabat mulai bergabung dengan barisan yang sudah ditentukan sesuai kelas dan jurusan mereka. Bersenda gurau dengan teman satu angkatan mereka yang lulus bersama. Sedangkan Regina dan Kiki masuk kedalam ruangan yang sudah ditentukan untuk para pendamping wisuda.


"Mario." terdengar suara wanita memanggil membuat Mario yang sedang bercanda dan tertawa dengan sahabatnya menoleh.


"Hai.." Mario tersenyum melambaikan tangannya, kalau sudah begitu ketiga sahabatnya tau kalau Mario lupa nama teman yang menyapanya.


"Lily apa kabar." Andi ikut menyapa menutupi kebingungan Mario.


"Wisuda bareng juga li." Mario akhirnya bisa berbasa-basa pada temannya itu.


"Iya Alhamdulillah, bisa juga wisuda bareng kalian." kata Lily tersenyum lega. Mario hanya menganggukan kepalanya. Reza tak ikut nimbrung, sibuk mendengarkan Erwin yang curhat soal Enji dan juga tentang mantan pacar Enji, Leo yang akan dijodohkan dengan Pipit adiknya. Andi sudah ikut kembali mendengarkan curahan hati Erwin, Mario ingin juga mendengarkan cerita Erwin tapi baru saja berbalik, Lily sudah memanggil Mario lagi.


"Ada acara?" tanya Mario, ia tak terlalu dekat dengan Lily hanya saja pernah saat Lily pingsan karena kelelahan, Mario yang mengantarnya pulang.


"Papaku ingin kenalan." jawab Lily sambil tersenyum.


"Hmm aku ajak istriku ya." kata Mario tak ingin Lily berharap lebih, mario tak tau apa maksud lily dengan papanya yang ingin berkenalan. Kalau karena diantar pulang saat Lily pingsan itu kejadian sudah lama sekali, sekitar delapan bulan yang lalu.


"Istri?" Lily tampak bingung, karena sepengetahuannya Mario belum menikah. Kalau Reza, Lily tau dari infotainment saat hari pernikahan Monik. Mario menganggukan kepalanya.


"Boleh?" tanya Mario lagi, Lily menganggukan kepalanya.


"Ajaklah." katanya pelan lalu perlahan, Mario menganggukan kepala lalu Lily meninggalkan Mario berkumpul kembali dengan teman yang lain. Mario pun membalikkan badannya kembali mendengarkan kisah sahabatnya yang sedikit rumit.


Rombongan Wisudawan dan Wisudawati mulai memasuki ruangan, duduk dibangku yang telah ditentukan sesuai nomor induk mahasiswa. Reza dan sahabatnya duduk terpisah walaupun masih bisa ngobrol jika mau melibatkan teman yang lain. Mario duduk bersebelahan dengan Lily karena ternyata Nomor Induk Mahasiswa mereka berdekatan.


"Istri dan orangtua kamu datang Yo?" tanya Lily kembali mengajak Mario berbicara setelah dari tadi saling berdiam diri.


"Istri datang, orang tua ga." jawab Mario tersenyum ramah.


"Kapan kalian menikah?" tanya Lily lagi, sebenarnya Mario malas menjawab tapi bagaimanapun Lily teman sekelasnya walaupun tak begitu akrab tapi tetap harus menjalin tali silahturahmi.


"Seminggu yang lalu." jawab Mario apa adanya. Lily mengangguk, ada gurat kesedihan pada wajahnya.


"Yo, nanti malam ga jadi, papaku ternyata datang, kenalan disini aja ya selesai acara." kata Lily setelah membaca pesan pada handphonenya.


"Oh iya, dalam rangka apa papa kamu mau kenalan?" tanya Mario penasaran.


"Berterima kasih karena kamu mengantarku pulang dengan selamat malam itu."


"Oh kejadian sudah lama, delapan bulan yang lalu." Mario terkekeh menatap gadis disebelahnya, yang selama ini tak begitu ia perhatikan karena sibuk dengan sahabat, hobby dan bisnisnya. Juga sibuk mengejar cintanya di S'pore yang tak mendapat restu orangtuanya. Melihat Lily Mario jadi teringat Monalisa, sahabat kecilnya dan juga cinta pertamanya. Yang ia pikir akan menjadi istrinya, tetapi Tuhan berkehendak lain.


Tuhan mengirimkan Regina untuknya. Yang mulai mengisi hari-hari Mario dan juga perlahan mulai mengisi hati Mario. Walaupun belum sepenuhnya melupakan Monalisa yang menghilang tanpa kabar.


"Iya, papaku baru ada di Jakarta hari ini, jadi baru bisa berkenalan denganmu. Walaupun terlambat setidaknya kalian saling mengenal."


"Selama ini tinggal dimana?"


"Di S'pore, adikku sekolah disana." Jawab Lily sambil tersenyum, Mario menganggukkan kepalanya, tak membahas lebih banyak.


Satu persatu nama mereka dipanggil untuk menerima Ijazah dari Rektor, Suasana Riuh penuh sorak sorai saat nama Andi dipanggil dan maju kedepan, kembali santai saat Andi turun diganti oleh peserta lainnya, Kembali riuh saat Erwin maju, begitu pula saat giliran Mario dan juga Reza maju mereka kembali berisik, ruangan hall serasa bergemuruh, penuh tepuk tangan, teriakan dan siulan. Sebegitunya pesona ke empat sahabat dimata mahasiswi lain, membuat Kiki dan Regina agak khawatir, rupanya penggemar suami mereka banyak sekali.