
"Aban peuk Baen don." duh Nanta jadi berbunga-bunga dipagi hari Balen meminta Nanta memeluknya saat Nanta akan berangkat ke Kampus.
"Ih sudah lama loh tidak minta peluk Aban." pasang wajah sumringah langsung peluki adiknya dan ciumi singkong rebus yang suka sok tua ini.
"Pasti mau telepon Aban Leyi." tebak Nanta mengingat saat sarapan tadi Balen belum bangun tidur.
"Ndak." jawab Balen mantap gelengkan kepalanya.
"Huaaa tumben." Nanta jadi heboh sendiri ciumi adiknya lagi.
"Gitu dong jangan telepon Leyi terus jadi lupa sama Abang sendiri." kata Nanta lagi, lalu menggendong Balen sambil ciumi adiknya berkali-kali, Balen jadi tertawa geli bercampur senang dicium Abang.
"Kenapa ini berdua." Kenan terkekeh melihat Abang dan adik ini.
"Baen peuk Aban don." lapor Balen pada Kenan bangga. Dania dan Nona tertawa melihatnya.
"Taya anak tecil ajah Baen." komentar Richie yang sedang menunggu susu yang dibuat Mamon.
"Memang bagaimana sih yang kaya anak kecil?" tanya Kenan pada bungsunya.
"Taya Baen tuh peuk dendong Baban."
"Kamu juga suka di gendong." kata Kenan pada Richie.
"Tapi tan atu syudah dedek."
"Apa bedanya, digendong juga." celutuk Nona sambil tertawa.
"Baen tawa-tawa ditu ih." protes Richie seraya mencibir.
"Mau digendong juga pasti." Goda Dania pada Richie.
"Ndak tok." katanya pada Dania.
"Baen, janan beisik Baen." teriak Richie merasa terganggu.
"Nan, gendong dulu ini si kecil, sepertinya dia cemburu." Kenan mencolek Nanta.
"Ih sini berdua deh Abang gendong." Nanta langsung mengambil Richie dengan sebelah tangannya, benar saja, Richie langsung tertawa senang.
"Sama saja, apa bedanya dengan Balen. Tertawa-tawa juga digendong Abangnya." Nona menatap Kenan bingung.
"Seperti tidak tahu saja kelakuan anaknya Nona." jawab Kenan sambil terkekeh pandangi kedua bocahnya.
"Mana ada anaknya Nona, mereka selalu dengan bangga bilang anaknya Kenan." Nona memonyongkan bibirnya, tapi ikut tertawa juga melihat keceriaan duo bocahnya.
"Oke... Aban kuliah dulu, terus langsung ke Warung Elite." kata Nanta pada kedua adiknya.
"Nanti puang tantol dendong ladi ya." Richie ketagihan minta digendong Abangnya, bikin Kenan terbahak dan Nona ingin cubit pipinya saja gemas. Tadi saja bilang Balen seperti anak kecil.
"Iya." jawab Nanta sambil mengajak Richie tos. Mereka berdua pun saling beradu telapak tangan.
Ini tumben tidak ter Leyi-Leyi." Nona menggoda Balen ketika Nanta dan Kenan sudah berangkat.
"Eman Baen ndak mo ngobol sama Aban Leyi." jawab Balen mencibir.
"Kenapa memangnya?" tanya Nona ingin tahu, setelah berbulan-bulan masa Balen langsung berubah drastis.
"Habisna aban Leyi sih ditu." langsung monyongkan bibirnya.
"Begitu bagaimana?" tanya Nona kepo.
"Ya ditu aja, Ichie main yuk." Balen kemudian tinggalkan Nona dengan hanya sebatas gitu. Nona dan Dania jadi saling pandang sambil tertawa.
Sementara itu siang hari Nanta tiba di Warung Elite Cabang Utama, kembali lagi Kesini setelah beberapa hari di Cabang Selatan.
"Bintang iklan sudah masuk saja, Popo kira kamu tidak kesini." sambut Erwin saat Nanta menyembul mampir keruangan Petinggi. Hanya ada Erwin dan Mario, Reza dan Andi entah kemana.
"Figuran Popo." Nanta tertawa menyalami Erwin dan Mario.
"Papi pulang kapan?" tanya Nanta ingin tahu, mengingat Mario gunakan pesawat komersil.
"Tadi pagi, langsung kesini." jawab Mario terkekeh.
"Papa Andi?" tanya Nanta.
"Pulang dulu sebentar." jawab Mario pada Nanta.
"Boy, duduk dulu sini, cerita dulu kita." Mario menepuk mejanya minta Nanta duduk dihadapannya. Nanta mengikuti langsung duduk dihadapan Papi Mario.
"Bagaimana perjodohan?" tanya Mario pada Nanta, tentu maksudnya Larry dan Rumi.
"Sepertinya mereka masih biasa saja sih Pi." jawab Nanta bingung bagaimana sampaikan soal Rumi yang alcoholic.
"Harapan Papi mereka bisa menikah seperti kamu juga. Mereka berdua orang hebat, cocoklah." kata Mario yang rupanya setuju jika Larry dengan Rumi menikah.
"Iyalah ganteng sama cantik." jawab Erwin yang sudah tahu Rumi dan Larry.
"Masalahnya Pi, ada sesuatu yang mengganjal." kata Nanta ragu, sedikit menarik nafas.
"Apa tuh?" tanya Mario penasaran.
"Papi tahu kalau Rumi pecandu alkohol?" tanya Nanta pelan.
"What???" Mario mengerutkan alisnya.
"Bercanda kamu." kata Mario lagi. Nanta anggukan kepalanya.
"Kamu tahu dari mana? apa saat malam minggu kalian jalan dia mabok?" tanya Mario lagi. Nanta gelengkan kepalanya.
"Rumi mengaku sama Larry, Bang Steve dan Oma Lani juga sudah bicara langsung sama Larry untuk bantu carikan tempat terapi supaya Rumi bisa kembali normal." jawab Nanta kemudian.
"Pantas dia takut sekali dekat dengan Papi ya." Mario gelengkan kepalanya.
"Ini yang di S'pore juga menyebalkan, Kirim Rumi ke Jakarta tapi tidak ceritakan masalah Rumi." Mario jadi ngomel sendiri lalu mengambil handphonenya entah menghubungi siapa.
"Kenapa tidak pernah bilang Papi kalau Rumi itu pecandu alkohol?" semprot Mario pada Steve, duh Nanta jadi tidak enak hati dipikir mengadu, tapi tidak ada yang pesan sih kalau Papi tidak boleh tahu.
"Opa tidak boleh kasih tahu Papi, Oma Lani yang minta begitu." kata Steve pada Papinya, meski tidak di loudspeaker masih terdengar oleh Nanta.
"Yang benar saja, titipkan Rumi pada Papi tapi tidak ceritakan kalau dia bermasalah." omel Mario lagi.
"Kalau diceritakan Oma Lani khawatir Papi tidak mau terima Rumi." jawab Steve menjelaskan alasannya kenapa tidak cerita pada Mario.
"Kalian sih benar-benar ya, anggap Papi ada apa tidak sih. Dengar ya, kalau Papi tahu, Papi tidak akan semangat ceritakan Larry pada kalian. Kasihan kan Larry kalau begini, seperti ditebak saja."
"Larry mau bantu Rumi kok."
"Menurut kalian Papi tidak mau bantu Rumi, Papi akan carikan tempat berobat untuk Rumi dan itu bukan di Jakarta. Papi akan Kirim dia kesana mau atau tidak mau." tegas Mario pada Steve.
"Iya Pi." jawab Steve pasrah.
"Sampaikan pada Opa mulai besok Rumi tidak bekerja lagi di Unagroup, dia harus segera terapi."
"Secepat itu, Pi?"
"Kamu mau menunggu sampai kapan? Sama Larry orang luar bisa percaya, kenapa sama Papi sendiri seperti ini ditutup-tutupi?"
"Steve hanya ikuti kemauan Oma Lani, Pi."
"Sama saja kamu, Opa dan Oma. Sama saja. Waktu kamu dulu juga begitu, Papi tidak tahu apa-apa. Ini sudah keterlaluan." Mario marah besar dengan keluarganya, entah apa yang mereka takuti dengan Mario. Selalu saja menutupi sesuatu yang penting, walau akhirnya Mario akan tahu juga.
"Maafkan Steve Papi, nanti Steve akan sampaikan ke Opa dan Oma, seperti yang Papi mau." jawab Steve, Mario langsung matikan sambungan teleponnya tanpa berkata apapun lagi.
"Sorry Boy, kalau Papi tahu, Papi akan ceritakan saat kamu bilang mau jodohkan Rumi dengan Larry." kata Mario pada Nanta.
"Ih Papi jangan begitu, aku juga spontan mau jodohkan. Semoga Rumi segera sehat normal, kita tidak pernah tahu soal jodoh. Kalau memang jodoh pasti akan bertemu." kata Nanta pada Mario. Mario anggukan kepalanya, lagi-lagi harus kecewa pada Papi dan anaknya sendiri.