I Love You Too

I Love You Too
Bingung



Hari ini aku menemani Kak Nona bertemu dengan mantan pacarnya waktu sekolah dulu. Namanya Kevin, orangnya asik, aku suka.


Nanta mengirim pesan pada Raymond ketika mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Oma.


Saingan Papamu? Gawat.


Raymond merasa posisi Om Kenan terancam. Nanta tidak membalas lagi, dirasa laporan cukup. Raymond meneruskan pesan Nanta pada Om Kenan. Tidak ada balasan dari Kenan, hanya contreng biru tanda pesan sudah dibaca.


Keesokan harinya, pagi hari setelah sarapan Nona dan Nanta segera berangkat menuju gelanggang remaja, tempat Nanta bertanding basket. Kenan belum juga kembali dari luar kota, mungkin sedikit terlambat, jadi Kenan meminta Nanta dan Nona berangkat lebih dulu, diusahakan secepat mungkin Kenan menyusul begitu tiba di Malang.


"Bang Eja nih, aku ajak pulang dari semalam tidak mau." keluh Kenan yang kembali kesal pada Reza karena tidak mau menggunakan pesawat malam. Pagi ini pesawat yang mereka tumpangi mengalami keterlambatan satu jam.


"Iya sorry." kata Reza sedikit menyesal. Tapi kemarin meeting sampai malam, Reza jadi menggeser jam keberangkatannya pagi hari.


"Nanti kamu langsung ke gelanggang remaja saja, koper biar Abang yang bawa pulang." Reza menawarkan pada Kenan, sang adik menganggukkan kepalanya setuju.


Jam sepuluh tepat, Kenan dan Reza tiba di Malang. Sesuai perjanjian Kenan langsung menggunakan Taxi menuju gelanggang remaja, sementara Reza menunggu Raymond menjemputnya. Nanta sudah memberitahu Kenan, posisi duduk Nona dan disebelahnya bangku kosong yang disiapkan untuk Kenan.


Pertandingan tengah berlangsung, saat Kenan tiba di gelanggang remaja. Ia segera mencari Nona, setelah menemukan posisi Nona, Kenan segera duduk disebelahnya ditengah keriuhan orang bersorak-sorak. Nona yang sibuk berlompat senang karena Nanta berhasil melakukan jump shot, tidak menyadari kehadiran Kenan.


Nona masih saja berdiri, sementara penonton lain sudah duduk seperti semula, Kenan menarik tangan Nona dengan lembutnya agar Nona duduk tapi tidak terjatuh.


"Aduh, aku kira siapa." Nona mengusap dadanya, menunjukkan ia sangat terkejut.


"Kamu kira Kevin, hmmm?" tanya Kenan sambil berbisik, hembusan nafasnya sangat terasa membuat Nona merinding. Kenan cukup kesal membaca pesan Raymond semalam, tapi ia tak mau gegabah.


"Mas Kenan baru sampai?" tanya Nona menutupi panas diwajahnya, masih Salah tingkah melihat sosok yang dirindukannya beberapa hari ini, tapi Nona berusaha menepis rasa itu.


"Lumayan, sempat lihat Nanta memasukan bola juga tadi." kata Kenan senang. Nona mengangguk dan kembali asik melihat permainan Nanta. Melihat Mas Kenan terus bisa luntur pertahanan Nona.


Permainan berakhir sebelum tengah hari. Nanta terlihat senang karena group basketnya memenangkan pertandingan.


"Hebat kamu, Nak." Kenan tampak bangga pada putranya. Baru kali ini ia melihat Nanta bertanding basket. Kenan sangat bersyukur mendapat kesempatan ini. Nona terlihat seperti sedang mencari sesuatu sambil berjalan meninggalkan stadion. Yang dicari tidak terlihat batang hidungnya.


"Kak Kevin tadi hanya bisa sebentar, ada keperluan lain." kata Nanta seakan mengerti kalau Nona mencari Kevin.


"Kamu bertemu Kevin tadi?" tanya Nona pada Nanta.


"Hu uh."


"Ck.. tidak tepat janji." dengus Nona kesal.


"Nanti kita janjian lagi kata Kak Kevin." Kenan menyimak percakapan Nanta dengan Nona. Terlihat mereka akrab sekali dengan Kevin.


"Mantan pacar kamu itu?" tanya Kenan penasaran.


"Ih pasti Nanta nih. Cepat sekali sampai ke Mas Kenan." Nona mendorong bahu Nanta.


"Aku hanya melapor ke Bang Ray." kata Nanta membela diri.


"Ya... Ya... Raymond memang cepat tanggap." Nona memonyongkan bibirnya.


"Jadi kamu semalam menemani Nona bernostalgia ya?" Kenan setengah menyindir bertanya pada Nanta saat perjalanan pulang.


"Bukan nostalgia sih. Kami membahas masa depan." jawab Nona apa adanya. Memang semalam ia dan Kevin membahas pekerjaan yang akan mereka garap bersama, juga membahas bagaimana tips agar Nanta bisa lolos dalam U16 basketball. Kenan mencebikkan bibirnya.


"Mau makan dulu?" Kenan menawarkan.


"Mau, Pa. Kita juga mau Nonton film dibioskop." jawab Nanta.


"Sama Kevin?" tanya Kenan tak senang.


Setelah makan siang, ketiganya menuju bioskop, sebenarnya Kenan cukup lelah, tapi rasa lelah berhasil ia kalahkan demi menyenangkan Nanta dan Nona. Pilihan kembali pada film komedi, ticket sudah dibeli secara online, jadi tidak perlu antri lagi. Cukup bersantai-santai di restaurant menunggu jam tayang film dimulai.


"Senang ya semalam bertemu mantan pacar?" bisik Kenan saat Nanta ijin ke toilet.


"Biasa saja, tapi lumayan sedikit menghibur." jawab Nona senyum tipis.


"CLBK?" tanya Kenan mendekati wajahnya pada Nona.


"Tidak, kami hanya sahabat."


"Meragukan." dengus Kenan.


"Masih bebas toh, aku single jadi tidak ada yang marah mau jalan dengan siapapun." kata Nona menatap Kenan tajam. Sorot matanya sedikit terluka saat mengucapkan itu.


"Iya sampai tadi malam, kamu bebas. Setelah ini jangan harap."


"Maksud Mas Kenan apa?"


Kenan menggelengkan kepalanya, susah sekali mau jujur mengungkapkan apa yang ada dihatinya.


"Masa depan apa yang kamu bahas dengan Kevin?" tanya Kenan.


"Banyak." jawab Nona malas menjelaskan.


"Mas Kenan jangan terlalu perhatian sama aku kalau lagi dekat dan tidak ada kabar begitu jauh. Nanti aku repot sendiri." desis Nona kemudian pada Kenan, ia menarik nafas dalam. Nona ingin melanjutkan unek-uneknya tapi Nanta keburu kembali dari toilet.


"Filmnya sudah mau mulai." Nanta menunjukkan layar handphonenya. Segera saja Kenan dan Nona beranjak dari bangku, Kenan menuju kasir, Nona dan Nanta berjalan perlahan menuju bioskop. Tak lama Kenan berhasil menyusul Nona dan Nanta, mereka seperti anak kembar dengan sepatu dan warna baju senada.


"Kompaknya kalian berdua." Kenan terkekeh melihat Nona dan Nanta.


"Ini koleksi sepatu terbaru, Pa." Nanta menjelaskan. Kenan tersenyum saja.


"Kak sepatu model lama mau aku jual saja, terlalu banyak dirumah, Bang Ray bilang kalau mubazir bisa berdosa."


"Jual online saja." kata Nona semangat.


"Teman-temanku sudah banyak yang mau sih." Nanta tampak senang.


"Berapa pasang yang kamu jual?"


"Mungkin sepuluh." jawab Nanta.


"Punyaku juga banyak, ada di Cirebon tapi. Nanti kalau ke Cirebon aku jual juga lah. Ray benar tidak boleh mubazir." Nona ikut-ikutan berfikir ingin menjual koleksi sepatunya.


"Yang Rare jangan dijual." Nanta mengingatkan.


Kenan menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apa yang mereka bahas, tapi Kenan cukup senang bisa menghabiskan waktu dengan kedua orang tersayangnya.


"Aku beli snack dan minuman dulu." kata Nona meninggalkan Nanta dan Kenan berdua. Nona mulai antri dalam barisan, sementara Kenan dan Nanta memilih duduk dibangku yang telah disediakan.


"Pa, kalau tidak gerak cepat, Kak Nona diambil orang loh." katanya santai tanpa melihat wajah Kenan.


"Maksud kamu?"


"Papa yakin tidak mau menjadikan Kak Nona istri Papa? Mantan pacar Kak Nona benar-benar charming. Sepertinya Kak Nona banyak penggemarnya." Kenan menarik nafasnya, bingung sendiri, di lain pihak hatinya sudah untuk Nona, sementara disisi lain Kenan tidak mau egois, inginnya membiarkan Nona mendapatkan pria yang lebih baik dari dirinya.


"Bingung? kalau aku jadi Papa aku tidak akan fikir dua kali." kata Nanta kali ini tersenyum menatap Papa yang lebih banyak diam hari ini.