I Love You Too

I Love You Too
Ante



"Aban Leyi umah Baen don." ajak Balen saat Nanta menghubungi Larry.


"Ada apa dirumah Balen?" Larry terkekeh.


"Ada Mamon ama Ichie." jawabnya.


"Eh ada Ncusss ama Tania juda." tambahnya lagi. Nanta dan Larry terbahak.


"Aban lagi di jalan, mau langsung pulang saja." kata Larry akhirnya.


"Sombon amat sih." Larry terbahak mendengar komentar Balen.


"Bukan sombong, Aban mau pelajari brosur yang Daniel kirim kemarin, mau baca persyaratan lomba berenang untuk Balen dulu." Larry beritahukan Balen.


"Baen mo omba beenang ya?" tanya Balen takjub.


"Kalau persyaratannya terpenuhi, Balen ikut lomba ya." kata Larry pada Balen.


"Beneran Leyi?" tanya Nanta pada sahabatnya.


"Iya benar, gaya bebas 50 meter." jawab Larry, Nanta anggukan kepalanya.


"Baen tan masih tecin." katanya pada Larry.


"Iya. Lombanya sesuai usia Balen kok." jawab Larry tersenyum.


"Balen latihan berenangnya yang betul tuh." Nanta ingatkan adiknya.


"Kapan sih? minggu depan Balen ada syuting iklan Leyi." Nanta beritahu jadwal Balen.


"Lombanya sekitar dua bulan lagi, masih bisa pemantapan latihan nih singkong." kata Larry pada Nanta.


"Tata Aban Daniel, Baen janan pandil sinton." ingat pesan Daniel waktu itu.


"Tidak apa kalau yang panggil Bang Nanta dan Bang Leyi." kata Nanta membuat Larry tertawa.


"Lagian Daniel belum ada hak larang-larang kita." kata Larry tengil, kedua sahabat itu tertawa bersama, ingat Daniel yang masih di asrama.


"Mungkin Daniel mau gue panggil ubi jalar biar jodoh sama singkong." kata Nanta lagi membuat keduanya kembali terbahak.


"Panggil dia ubi celembu." jawab Larry sambil tertawa geli sendiri.


"Manis-manis legit gitu ya." ampun deh Abangnya Balen malah tambah-tambahi.


"Napa ubi cembu Aban Danil Baen?" protes Balen membuat Nanta dan Larry tertawa puas.


"Nanti kalau Daniel telepon kita panggil dia ubi celembu ya." kata Larry jahil. Nanta jadi tertawa geli, Baen hanya mengkerut lihat kelakuan duo Abangnya ini.


"Aban Leyi jadina istina sapa?" si unyil Kepo dengar Nanta bahas Femi pada Deni tadi pagi via telepon.


"Belum tahu, kan Abang masih pilih dulu." jawab Larry.


"Janan Baen ya, Baen udah isti Aban Danil."


"Eh dia sekarang jual mahal." Larry terbahak dengar pesan Balen.


"Plan A tidak berjalan dia pakai Plan B." jawab Nanta tertawa. Yang diomongi santai saja tidak mengerti sedang ditertawakan dua Abangnya.


"Aban Leyi, Baen mo te umah Ayah aja deh, anak Baen caiin Baen tuh pasti."


"Anak Balen?" Larry menahan tawa.


"Sakia, pasti caiin ante Baen deh tok beum datan juda."


"Oh my god, Ante Baen Nan?" Larry tidak bisa menahan tawanya.


"Nanti anak Abang panggil Balen apa?" tanya Nanta.


"Ante Baen juda taya Sakia." kembali dua cowok ganteng ini tertawakan Balen yang sok tua.


"Ok Ante Baen, hati-hati di jalan ya." kata Larry pada Balen.


"Aban janan pandil Ante juda don." komplen karena yang boleh panggil Ante Baen hanya Shakira.


"Ok Baen sayang Abang, tutup deh teleponnya." kata Larry kemudian.


"Aban Leyi aja yan tutup." malah suruh Larry tutup telepon.


"Aban masih mau ngobrol sama Abang Nanta." jawab Larry.


"Ya udah Baen denein tao ditu." kepo tidak mau ketinggalan berita.


"Mamon tutup ya Nan." kata Nona pada Nanta.


"Iya Mamon, nanti repot kalau mau ke Ayah." jawab Nanta.


"Tutup Baen, kamu mandi dulu." perintah Nona pada gadis kecilnya.


"Baen mo mandi duu ya, nanti tao udah syantik Baen tepon ladi." katanya dengan gaya centil pada keduanya.


"Cantik terus kok." jawab Larry.


"Kalau tidak mandi bau Leyi, cantiknya hilang." teriak Nona melihat gelagat Balen tidak mau mandi karena dibilang cantik terus sama Larry.


"Oh iya kalau bau nanti temannya serangga." jawab Larry membuat Balen bergidik ngeri.


"Ote Aban Leyi bei." langsung matikan sambungan telepon, Nanta dan Larry langsung terbahak karena kelakuan Balen.


"Mau ngobrol apa?" tanya Nanta pada sahabatnya. Pikirnya Larry galau perkara Femi kemarin.


"Tadi sudah bicara sama Papa." jawab Larry.


"Soal Femi?" tanya Nanta. Larry gelengkan kepalanya.


"Soal Rumi, sepertinya kalau sudah terapi Rumi mesti cek kesehatan ya." kata Larry pikirkan perkataan Papanya tadi.


"Kenapa memangnya?" tanya Nanta.


"Minuman keras bisa merusak organ tubuh, khawatir ada organ tubuhnya yang terganggu." jawab Larry.


"Bilang saja sama Rumi." kata Nanta.


"Elu bilang sama Papi, gue mau Rumi sehat, eh maksud gue kasihan kalau Rumi sampai sakit." jawab Larry.


"Papi dengar kok kita ngobrol dari tadi." jawab Nanta membuat Larry jadi cengengesan serba salah, mau marah tapi ada Papi.


"Iya Larry, nanti Papi ajak medical check up Rumi nya. Terima kasih bilang Papamu ya karena sudah mengingatkan, Papi malah tidak kepikiran." kata Mario yang ternyata sedang diruangan Nanta.


"Iya Papi." jawab Larry singkat.


"Kapan-kapan kenalkan Papi sama Papamu, Larry." kata Mario lagi.


"Nanti Aku sampaikan Pi, Papa sore ini berangkat ke Lombok, baru kembali minggu depan." jawab Larry.


"Pi, Rumi lagi kita jodohkan sama Diky loh, teman basket kita." kata Nanta polos.


"Oh yang berapa hari ini jemput Rumi ya." Mario anggukan kepalanya.


"Menurut Papi bagaimana?" tanya Nanta, Larry menyimak saja.


"Mereka cuma berteman, Diky sudah punya calon istri, Papi tahu." sama saja seperti Papanya Larry, Mario sudah tahu lebih dulu.


"Masa sih, dia kan minta dijodohkan sama Rumi." Nanta tidak percaya.


"Calonnya Diky anak teman Mami, kok." jawab Papi santai membuat Larry gelengkan kepalanya. Beneran yang playboy Diky dong bukan Larry kalau begini ceritanya.


"Rumi tahu, Pi?" tanya Nanta.


"Tahu." Papi santai saja.


"Aku sama Larry yang tidak tahu." Nanta terbahak.


"Mereka dijodohkan sih sebenarnya. Mungkin Diky keberatan ya, tapi kemarin saat antar Rumi pulang malah bertemu dengan calonnya itu di rumah." Mario malah ceritakan kisah Diky kemarin dirumahnya, Larry jadi terbahak, ia Salah sangka Diky bukan Playboy.


"Kenapa tertawa kamu Larry." Mario cengar-cengir.


"Diky belum cerita Pi, mungkin dia lagi galau." kata Larry tidak bisa menahan tawanya.


"Aku kira yang galau Leyi saja, Pi. Ternyata Diky juga galau ya." Nanta jadi terbahak, pantas saja sampai sore ini Diky tidak ada kabarnya. Biasanya ramai cecuapan di group Tim Nas.


"Berarti besok siapa yang temani Rumi terapi dong." Larry jadi kepikiran.


"Memang kenapa?" tanya Mario.


"Diky janji mau temani kemarin itu." jawab Larry.


"Coba tanya Diky jadinya bagaimana, biar Mami bisa siapkan waktu kalau Rumi tidak ada temannya." kata Mario, klop betul bicara bertiga dengan Nanta dan Larry, serasa kembali muda dia. Sejak ada Nanta lebih sering bersama Nanta diruangannya. Kecuali ketiga sahabatnya sedang berkumpul baru Mario ajak Nanta keruangan mereka.


"Aku saja yang temani kalau Mami sibuk." Larry tawarkan diri, Nanta jadi cengar-cengir jahil.