I Love You Too

I Love You Too
Eyang



"Seru sekali ngobrolnya." kata Opa ketika semua keluar kamar.


"Iya sampai lupa siapkan minum." jawab Oma terkekeh.


"Sudah ada kok Oma, tenang saja." jawab Nanta pada Oma. Semua perempuan sudah tidak memakai mukena, hanya Balen yang tidak mau melepas mukenanya, ia mau pamer pada semua yang ada.


"Pamer ya habis sholat?" tanya Nanta pada adiknya.


"Butan." jawab Balen tersenyum lebar


"Terus kenapa masih pakai mukena?" tanya Nanta lagi.


"Badus ndak mutena bayu Baen?" tanyanya melihat Nanta dan mulai memutar kepalanya melihat yang lain.


"Bagus." jawab Mereka bersamaan.


"Dibeyiin Tata I..Yoma." katanya hampir saja lupa menyebut Tata Iyom, panggilan yang tidak disukai Roma.


"Ooh mau pamer mukena baru." kata Nanta mengangguk.


"Yah." jawab Balen ikut menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah ayo dilepas dulu mukenanya, kan mau di jahit." kata Roma pada Balen.


"Nanti aja." katanya masih enggan melepas mukenanya.


"Nanti Kotor." kata Nona mengingatkan.


"Biayin." jawabnya tengil, tidak pernah menurut kalau sama Mamon.


"Ya sudah nanti Mamon sama Ichi tidur di kamar Abang lagi saja." kata Nona sedikit kesal.


"Bobo aja, Baen bobo diumah Wulan." jawabnya membuat Nona menggelengkan kepalanya, ada saja jawabnya.


"Mas." katanya meminta Kenan yang membujuk Balen.


"Masih mau punya anak seperti Balen?" tanya Nona pada Roma, semua tertawa dibuatnya.


"Balen, ayo nurut sama Mamon." kata Kenan pada Balen. Hanya melihat Kenan menggerakkan kepala dan ujung matanya pada Nona, Balen langsung menurut.


"Butain, Mamon." katanya pada Nona.


"Kalau sama Papon kenapa bisa dikasih tahu sekali sih kamu?" tanya Nona kesal.


"Mamon janan mayah-mayah." katanya menciumi Nona, tentu saja Nona jadi meleleh dibuatnya. Mana bisa marah kalau Balen sudah merayu dengan ciuman basahnya.


"Tidak marah sayang, hanya tanya kamu kalau Mamon yang suruh pasti pakai menjawab, kalau Papon kamu cepat sekali menurut." kata Nona pada Balen.


"Itu mayah namana Mamon." kata Balen lagi.


"Ih sedih Mamon, anaknya jawab terus kalau dikasih tahu." kata Nona pada Balen. Mukena Balen sudah terlihat rapi kini.


"Janan nanis ya, nanti mayam Baen bobona sama Mamon." kata Balen merayu Nona.


"Tidak usah, bobo sama Ncusss saja." kata Kenan menggodanya Balen.


"Paponnn." Balen mencucut.


"Tadi kan marah tidur sama Abangnya gagal." kata Kenan terkekeh.


"Udah ndak mayah ladi tok." katanya tersenyum manis.


"Sudah sholat sih jadi tidak marah." kata Oma pada Balen."


"Yah."


"Aban, mana tusyuna?" tanya Balen kemudian pada Nanta.


"Mau apa?" tanya Nanta.


"Baen nantuk, bobo yuk." ajaknya pada Nanta.


"Sama Ncusss saja gih." kata Nanta pada Balen.


"Ndak au, ayo Aban." Balen menarik tangan Nanta. Mau tidak mau Nanta mengikuti adiknya masuk kedalam kamar. Padahal Nanta masih mau ikut kumpul sama yang lain, apalah daya bocah minta tidur dikamar.


"Tidur disofa saja yuk, biar Abang bisa ngobrol." ajak Nanta ketika menyerahkan botol susu Balen.


"Ndak au." rupanya Balen balas dendam karena semalam gagal tidur bersama Abangnya. Nanta pun menemani sampai Balen tertidur, setelah singkong rebusnya tidur pulas Nanta kembali keluar kamar, rupanya sarapan sudah siap, Papa, Ayah dan Bang Raymond malah sudah rapi dengan pakaian kerjanya, sebentar lagi Nanta yang akan begini.


"Bobo Balen?" tanya Nona yang sedang meletakan sarapan dimeja makan.


"Papa, Nanta semester depan sudah mulai kerja di kantor Ayah." kata Nanta pada Kenan.


"Iya Bang?" tanya Kenan pada Abangnya.


"Memang kuajak pindah ke Jakarta biar sambil belajar bisnis kan." jawab Reza pada Kenan mengingatkan.


"Hahaha iya-iya." jawab Kenan tertawa melihat ekspresi Abangnya, ingat dulu Ia juga saat masih kuliah sudah di gembleng sama Papanya.


"Wah kamu mau jadi penerus Warung Elite ya Nan." kata Raymond semangat.


"Habisnya kamu malah pilih Syahputra group." Reza tertawa merangkul Nanta.


"Eh Nanta juga nanti bersama Raymond penerus Syahputra." kata Opa pada Reza.


"Tapi sekarang Warung Elite lebih butuh Nanta, Pa." jawab Reza, mereka berebut Nanta kini.


"Tuh, Nan. Kamu mesti serius ini belajar sama Ayah." kata Kenan pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta terkekeh.


"Siap-siap basket lepas." Raymond tertawa ingat hobbynya tak bisa tersalurkan.


"Nanti bisa diatur." jawab Nanta percaya diri.


"Atur apanya atur, komik saja terpaksa kutinggal." dengus Raymond melirik Roma.


"Ih itu sih karena alasan lain." Nanta mentertawakan Raymond.


"Ngobrol terus, kapan makannya." kata Oma protes.


"Pembahasan seru nih Oma." kata Nanta mendekati Oma.


"Mau merayu Oma pasti." tebak Raymond pada Nanta.


"Seperti Balen ya kalau di protes langsung peluk dan cium." kata Roma lagi, Nanta terbahak baru ingat rupanya ada yang Balen tiru dari Nanta.


"Aku memang kangen Oma." katanya mencibir pada Raymond.


"Ada maunya itu Oma." Raymond memprovokasi.


"Memang, aku mau peluk Oma." kata Nanta tertawa kemudian memeluk Oma. Bayangkan badan sebesar Nanta membekap Oma yang mungil dalam tubuhnya.



"Sudah besar begini masih saja manja." Oma menepuk bahu Nanta gelagapan.


"Oma, tinggal di Jakarta saja, Bang Raymond kan sudah mau jadi Papa. Masih saja ditemani." kata Nanta kemudian.


"Tuh kan aku juga sudah duga pasti ada maunya, ternyata mau mengambil Oma dari kami." kata Roma protes, tidak mau Oma diajak pindah ke Jakarta, Roma bisa kesepian kalau Oma dan Opa tidak ada.


"Aku kan maunya kalau pulang kantor ada Opa dan Oma juga." kata Raymond ikut protes.


"Padahal kalian sudah dewasa loh, masih saja bergantung sama Oma dan Opa." protes Nanta pada keduanya.


Reza dan Kenan tertawa ketika cucu sedang berebut Opa dan Omanya.


"Kamu kan dua minggu sekali juga ke Malang, kenapa minta Oma ke Jakarta sih?" protes Raymond lagi.


"Kan aku bilang, aku suka kangen sama Opa dan Oma." jawab Nanta terkekeh.


"Iya-Iya biar saja Opa dan Oma disini." kata Nanta ketika melihat wajah Raymond tampak resah begitu juga Roma.


"Padahal ada Opa dan Omanya Kak Roma kan, bisa gantian menemani di Malang." kata Nanta kemudian.


"Sama saja kamu juga punya Eyang Kakung dan Eyang Putri tuh, kenapa tidak diajak ke Jakarta menemani kamu?" tanya Roma pada Nanta agak sewot sedikit.


"Hahaha iya Tata Yoma, memang beda Opa dan Oma kita ini." kata Nanta akhirnya mengerti kenapa mereka bisa berebutan Opa Dwi dan Oma Nina. Tanpa bermaksud membandingkan, Nanta memang kurang dekat dengan orang tua Tari, tidak seperti dengan orang tua Papanya.


"Kamu sudah lama tidak mengunjungi Eyang Kakung dan Eyang Putri kamu loh, Nan." kata Oma mengingatkan.


"Iya Oma, malas aku." katanya terkekeh.


"Tidak boleh begitu." kata Kenan pada putranya.


"Aku malas, Pa. Eyang kalau lihat aku selalu ingat Papa dan kesal terus. Padahal sudah lama tapi diungkit terus. Ah malas aku." kata Nanta keceplosan, selama ini ia tidak pernah membahas pada Papa atau siapapun itu, penyebab ia malas mengunjungi kedua Eyangnya.


"Sabar, dengarkan saja. Tetap saja mereka Kakek dan Nenek kamu kan." Kenan santai saja, ia sudah pernah dicaci maki juga dulu saat baru pisah dengan Tari. Hanya tidak menyangka orang tua Tari masih kesal padanya.


"Iya." jawab Nanta tersenyum miris, tapi setuju apa yang dikatakan Papanya.