I Love You Too

I Love You Too
Salah ekspresi



Setelah Papa dan Mamon pulang, Nanta tidak langsung masuk kamar, ia ngobrol dulu sebentar dengan Oma Misha dan Mama Lulu, kalau dengan Winner dan Lucky sudah puas tadi saat dikamar. Titipan kosmetik Oma dan Mama juga sudah Nanta serahkan, coklat pesanan Winner dan Lucky pun sudah mereka nikmati. Selebihnya semua koper Nanta dibawa Papa pulang atas permintaan Nanta.


"Kamu istirahat deh Nanta, sekalian temani Dania." kata Oma Misha pada Nanta.


"Katanya tadi sudah diperiksa dokter, bagaimana menurut dokter Oma?" tanya Nanta ingin tahu kesehatan istrinya.


"Besok kamu bisa bawa Dania ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." kata Oma santai, pemeriksaan lebih lanjut tentu saja membuat Nanta sedikit panik.


"Apa ada permasalahan serius Oma?" tanya Nanta lagi, dengkulnya sudah lemas saja membayangkan istrinya sakit parah.


"Sangat serius, Boy." jawab Micko santai juga. Ah mereka ini masih bisa santai padahal sangat serius. Mungkin karena terbiasa mendapat masalah rumit, pikir Nanta.


"Ah, semoga Dania sehat. Besok aku ajak ke rumah sakit." kata Nanta, Micko pun mengacungkan jempolnya.


"Menunggu kamu betul ini Dania, baru mau ke rumah sakit." kata Lulu menggelengkan kepalanya.


"Kata temanku minta perhatian karena suami pulang." Nanta terkekeh.


"Bisa jadi, kamu pergi terlalu lama." kata Lulu lagi ikut terkekeh.


"Ya sudah sana istirahat, Dania kalau bisa kamu bangunkan saja, tidur jam segini nanti tengah malam sampai pagi dia tidak tidur lagi. Jam tidurnya jadi berubah." kata Oma Misha pada Nanta.


"Iya Oma, aku ijin ke kamar." kata Nanta tersenyum pada semuanya.


"Tahan dulu ya Boy, Dania masih sakit." kata Micko lagi membuat Nanta tertawa.


"Papa selalu saja pikir kesitu." gumam Nanta nyaris tidak terdengar, tapi ia tersenyum juga. Micko tertawa ketika Lulu menepuk bahunya dan Oma menoyor kepalanya. Didepan menantu masih saja dianiaya oleh dua wanita kesayangannya.


Nanta langsung tengkurap disebelah Dania, kedua wajah mereka benar-benar dekat. Sudah tidak heran Dania tidur tak terganggu oleh suara dan gerakan apapun. Nanta ciumi saja pipi wanita yang selalu dirindukannya saat Training Camp. Masih tidak terbangun juga, cium bibirnya kalau begitu, masa iya tidak bangun.


Benar saja Dania terbangun ketika merasakan ada yang aneh terasa dibibirnya, bagaimana tidak Nanta ******* bibirnya hingga Dania kehabisan nafas. Tahu istrinya terbangun, Nanta pun menghentikan ciumannya


"Kasihan Ichi sudah ciumi kamu dan peluk kamu, eh Kakak Dania tidak bangun juga." kata Nanta tersenyum manis.


"Mas Nanta dari tadi?" tanya Dania. Nanta menganggukkan kepalanya, kembali mengecup istrinya.


"Kangen." katanya meletakkan kepalanya didada Dania.


"Aku apalagi, sampai sakit." Dania terkekeh.


"Eh masa sih, sakitnya karena kangen?" tanya Nanta merasa digombali, kembali mengangkat kepalanya.


"Kamu kan sakit karena kerjakan tugas kampus." sungut Nanta lagi, Dania terkekeh. Memang iya sih kerjakan tugas kampus, tapi kalaupun tidak begadang bisa Dania kerjakan siang hari, dasar saja otaknya serasa tidak ada isinya karena harus memikirkan suaminya.


"Kalau tidak percaya ya sudah." sungut Dania membuat Nanta kembali mengecup bibir Dania, ah dasar Nanta maunya cium terus.


"Percaya, percaya." kata Nanta lagi dan tersenyum.


"Mana Ichi..." Dania mau bangun dari kasurnya. Tapi ditahan Nanta.


"Sudah pulang."


"Huhu padahal aku kangen Ichi." Dania tampak menyesal.


"Tadi lama duduk disini." Nanta menepuk kasur disebelah Dania.


"Ciumi kamu, tapi tidak berhasil, masih aku yang menang." kata Nanta jahil.


"Aku hampir sesak nafas, terang saja berhasil." Dania tertawa, Nanta pun ikut tertawa.


"Kasihan Ichi." Dania jadi tidak enak hati.


"Semua maklum kok kamu sakit, Mamon tadi sempat mengintip, mau tahu kondisi menantunya."


"Duh mulut aku tidurnya tadi ngangap tidak?" tanya Dania malu kalau sampai dilihat keluarga Nanta. Kalau Nanta kan sudah terima apa adanya.


"Bukan ngangap lagi." jawab Nanta tertawakan Dania.


"Ih Mas Nanta, aku malu kan." sungut Dania, Nanta masih saja tertawa.


"Tidak ngangap kok, tenang saja sayangku." Nanta kembali merebahkan kepalanya di badan Dania.


"Alhamdulillah." Dania menarik nafas lega.


"Tidak, hanya butuh perhatian lebih saja dari Mas Nanta." kata Dania memeluk badan suaminya.


"Besok kita ke dokter ya." kata Nanta pelan.


"Iya." jawab Dania menurut, tadi dokter keluarga Papanya sudah bilang Dania harus diperiksa lebih lanjut.


"Mesti kedokter apa sih, kamu keluhanmya apa?" tanya Nanta penasaran.


"Lemas saja, malas makan." jawab Dania.


"Masakan Mamon tapi dimakan terus kata Papa tadi."


"Iya itu, masakan disini aku tidak selera." jawab Dania.


"Kalau begitu kita menginap dirumah Papa saja besok ya? lagi pula hari minggu Balen mau diajarkan Larry dan Mike berenang."


"Aku ditinggal berenang?" Dania meringis manja.


"Yah kan berenangnya dirumah, kamu bisa lihat dari kamar." kata Nanta.


"Eh sayang tidak usah lihat deh, Larry sama Mike pasti pakai celana renang." kata Nanta pada istrinya, selain cemburu Nanta tidak mau istrinya melihat sahabatnya tampil seksi.


"Pesan saja dari sekarang, pakai celana pendek saja gitu." pinta Dania.


"Celana Hawaii saja ya." Nanta terkekeh. Mike pasti rusuh kalau Nanta kasih persyaratan mengenai tampilan mereka. Harusnya tidak protes sih, karena itu memperlihatkan aurat mereka, kalau pakai celana Hawaii kan tertutup sampai lutut.


"Kenapa tidak malam ini saja kita menginap dirumah Mamon?" tanya Dania pada suaminya.


"Kamunya tidur pulas begitu, aku juga baru saja bicara sama Oma, kalau kamu ini harus diseriusi pemeriksaannya." kata Nanta tertawakan Dania.


"dokter kasih aku obat apa ya, malah jadi pulas begitu." sungut Dania memeriksa kotak obatnya.


"Mas..."


"Hmm..."


"Kalau aku hamil bagaimana?"


"Ya bagus... eh kamu hamil?" tanya Nanta terkejut.


"Ish kenapa seperti orang shock sih dengar aku hamil." Dania terkekeh.


"Aku serius tanya nih, kalau aku hamil Mas Nanta bagaimana?


"Senang, umur segini sudah mau punya anak, pasti kita sama anak kita nanti jadi seperti adik kakak." Nanta mulai berhayal, kemudian tersenyum pada Dania.


"Mas Nanta aku hamil." kata Dania menatap Nanta.


"Hah?" Nanta terperangah, terbengong dengan segala pikiran yang ada diotaknya.


'Mas Nanta huhu." Dania mulai merengek.


"Hmm..." Masih dengan ekspresi yang sama.


"Katanya senang tapi kok Hah?" ulang Dania lebih kesal lagi, kemudian membalikkan badannya, pikirnya Nanta cuma pura-pura senang saja.


"Dan, kok ngambek. Beneran kamu hamil?" tanya Nanta tidak percaya.


"Tidak jadi hamil." kesal Dania karena tanggapan Nanta diluar perkiraannya. Ucapan Nanta tidak sesuai dengan ekspresinya.


"Yah, kenapa tidak jadi?" tanya Nanta bingung.


"Bapaknya saja tidak suka anaknya mau hadir." Omel Dania.


"Aku? tidak Suka? Aneh ah kamu." Nanta membalikkan badannya dan berbaring menyamping memandangi istrinya.


"Buktinya tadi bilang Hah, sambil melamun." sungut Dania lagi, hampir-hampir mau menangis.


"Iih, sayang aku senang, ayo malam ini kita ke dokter kandungan, kenapa harus besok. Tadi aku takut salah dengar." kata Nanta jujur kemudian tersenyum menciumi Dania senang, Baru pulang sudah dikasih hadiah. Tapi kenapa tadi bisa salah ekspresi, pikir Nanta bingung.