
Dania berdandan cantik mengimbangi gaya suaminya, menggunakan kaos oblong putih dan rok mini ungu, sudah pasti mereka tampak serasi.
Nanta sudah keluar kamar dari tadi, ia ingin menemui Papanya sementara Dania berdandan agak lama, malam ini Dania mau terlihat cantik dimata suaminya, supaya tidak lirik-lirik yang lain saat jauh dari Dania nanti. Dasar Dania cemburu saja bawaannya.
"Cantik bet..." kalimat Nanta terhenti, "Ganti, ini terlalu ****!" tegas Nanta begitu melihat Dania menggunakan rok yang menurutnya terlalu pendek.
"Tadi Mas Nanta mau bilang cantik." Dania memonyongkan bibirnya.
"Sebelum aku lihat kamu pakai rok sependek ini." Nanta tidak ada senyum-senyumnya.
"Cepat ganti, Papa menunggu." perintah Nanta lagi, padahal Papanya masih di dalam kamar sedang bersiap, pekerjaannya baru saja selesai.
"Mas Nanta kenapa sih, nanti di Amerika juga lihat yang pada pakai baju transparan." dengus Dania kesal, membayangkan artis Hollywood yang memakai baju dijalan seperti Dania saat menggoda Nanta dikamar.
"Aku tidak mau Istriku dilihat orang dengan pakaian sexy ini." Nanta benar-benar masam, belum pernah terlihat begini, Dania jadi takut sendiri.
"Galak!" dengus Dania kesal, berbalik arah kembali kekamar, dengan wajah memberengut. Maksud hati mau terlihat cantik malah disuruh ganti baju. Benar-benar diluar dugaan.
"Ganti roknya saja kan?" tanya Dania berbalik arah. Suaminya masih saja cemberut.
"Atasannya juga." kata Nanta dengan dahi berkerut.
"Memang kenapa pakai ini?" Dania masih saja tidak mengerti kenapa suaminya melarang Dania memakai pakaian yang menurutnya biasa saja, santai malah iya.
"Mesti ya aku pertegas, ayo lah jangan berdebat." kata Nanta malas sekali melihat Dania susah untuk diberitahu.
"Mau pergi jauh malah ajak ribut." kesal Dania pada suaminya, wajahnya seperti orang ingin menangis.
"Siapa yang ajak ribut sih, aku kasih tahu yang benar." sahut Nanta jadi kesal beneran, keras kepala sekali istrinya ini.
"Kalau tidak mau ganti baju ya sudah pakai itu saja, aku malas ribut." kata Nanta akhirnya.
"Boleh?" Dania tersenyum senang.
"Pikir saja sendiri kalau aku suruh ganti itu artinya apa? tapi karena kamu susah dikasih tahu ya pakai saja seperti itu." Nanta meninggalkan Dania masuk ke Kamar Papa. Tempat paling aman untuk menghindari istrinya, biar saja dia berpikir sendiri, kan sudah diberitahu, pikir Nanta.
"Sudah Boy?" tanya Kenan sedikit heran Nanta masuk kekamarnya dengan muka masam.
"Aku sih sudah." Nanta tersenyum terpaksa, menutupi kekesalannya.
"Sebentar ya." pinta Kenan sambil merapikan bajunya. Ia tahu Nanta sedang kesal, tapi tidak tahu kenapa, Kenan jadi senyum sendiri.
"Kalau kesal sama istri jangan dihindari." kata Kenan akhirnya, sudah menduga Nanta menghindari Dania masuk kekamarnya, ini jarang terjadi.
"Ah Papa, sok tahu." kata Nanta menutupi.
"Apa sih yang Papa tidak tahu." Kenan terkekeh.
"Habis susah dikasih tahu Dania, aku tinggal saja." kata Nanta lagi.
"Jangan begitu, kamu mau pergi lama malah ribut." Kenan menepuk bahu Nanta.
"Aku tuh masuk bukan mau cerita ini loh, aku bingung saja tadi mau kemana." Nanta tertawa malu sendiri.
"Ya sudah sana, Papa tidak mau nanti dirumah Ayah kalian malah terlihat aneh."
"Iya Papa." Nanta tertawa segera keluar dari kamar Papa, duduk disofa menunggu Papa yang masih dikamar dan Dania yang entah berada dimana saat ini.
Mau balik ke kamar mengecek keberadaan Dania, Nanta enggan. Nanti malah tambah ribut, terserah saja Dania mau pakai baju apa, biarkan saja ia memakai kaos tipis dan rok pendeknya itu, mungkin dia pikir dia cantik kalau pakai itu, pikir Nanta. Memang cantik sih tapi terlalu ****. Nanta menghembuskan nafas kasar sambil menunduk memandangi lantai.
"Mas Nanta..." panggil Dania pelan, ia sudah berganti pakaian saat ini, kembali memakai minidress denim yang dipakainya waktu ke Bandung, tidak sependek rok yang dipakainya tadi. Tentu saja Nanta senang istrinya mau juga ganti pakaian.
"Sini." panggil Nanta tersenyum meminta Dania duduk disebelahnya. Dania menuruti keinginan suaminya, tadi dikamar sempat curhat sama Papa, tapi malah disuruh ikuti maunya suami.
"Aku tidak punya baju lagi, kan masih dirumah Nek Pur baju aku." kata Dania akhirnya.
"Ini cantik." Nanta memandang istrinya jadi menyesal tadi bicara ketus begitu.
"Besok aku ke asrama sore, aku antar kamu beli baju dulu ya." bujuk Nanta pada istrinya, kasihan juga tidak punya baju.
"Bajuku banyak dirumah Nek Pur." kata Dania.
"Biarkan saja yang dirumah Nek Pur, ini untuk yang dirumah sini." Dania tertawa mendengarnya.
"Bagaimana kalau kita ambil saja dirumah Nek Pur?" pinta Dania, ia tidak berniat membeli baju karena masih banyak yang belum terpakai, bagus-bagus lagi.
"Mau kapan kerumah Nek Pur, malam ini juga atau besok setelah sholat shubuh?" tanya Nanta, lebih cepat lebih baik pikirnya.
"Pagi sekali."
"Biar cepat beres urusannya." jawab Nanta.
"Mas Nanta, besok kan aku langsung ikut Papa, tidur di rumah Papa selama Mas Nanta berangkat." Dania teringat keinginan Papanya.
"Dirumah Papa juga baju kamu sedikit kan?" Nanta mengingat saat Dania meminjam baju tidurnya.
"Iya." Dania menganggukkan kepalanya.
"Jadi mau beli atau ambil?" tanya Nanta lagi, mereka sudah seperti biasa saja, tidak main kesal-kesalan lagi. Sekarang Nanta betul-betul menyerahkan keputusan pada istrinya, jika mau ambil Nanta siap, mengantar belanja juga Nanta siap, walaupun lebih enak jika besok seharian berpelukan saja dikamar.
"Ambil saja ya? Sekalian aku ambil lauk untuk Mas Nanta bawa ke Amerika." kata Dania meminta persetujuan suaminya.
"Bunda sudah siapkan lauk dari Warung Elite sih. Tapi boleh lah kalau bawa yang dari Nek Pur, untuk menambah stok menu kami disana." kata Nanta senang, semakin banyak menu makanan untuk disana nanti, semakin baik.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Kenan begitu keluar kamar, senang sekali melihat anak menantunya sudah saling tersenyum dan bicara santai, duduk pun sudah dempet-dempetan lagi.
"Yuk." Nanta berdiri mengulurkan tangannya. Kenan menaikkan alisnya saat Nanta melirik pada Papanya. Terlihat Dania berdiri dengan bantuan Nanta.
"Papa yang setir apa aku?" tanya Nanta pada Papa.
"Kamu saja Boy, Papa mau duduk dibelakang." kata Kenan melirik jam dipergelangan tangannya, kemudian menyerahkan kunci mobil pada Nanta.
"Handphone Papa sudah?" tanya Nanta memastikan.
"Sudah." jawab Kenan menunjukkan handphonenya.
"Sudah hubungi Kakek dan Nenek, Dan?" tanya Kenan pada Dania, setelah mereka semua duduk rapi di dalam mobil dan Nanta mulai melajukan kendaraannya.
"Belum, Pa. Nanti saja dirumah Ayah." jawab Dania.
"Kamu bawa handphonenya?" tanya Kenan lagi.
"Bawa nih di tas." jawab Dania menepuk tas yang ada dipahanya.
"Oke, yang penting Papa sudah sampaikan amanat Papamu." kata Kenan menganggukkan kepalanya.
"Mamamu apa kabar?" tanya Kenan kemudian.
"Aku belum telephone Mama sih." kata Dania jujur, kemarin dan hari ini ia terlalu fokus sama suaminya sampai tidak sempat menghubungi Mama.
"Mama juga tumben ya tidak telepon kamu?" Nanta sedikit heran.
"Iya sih." Dania jadi meringis, khawatir juga Mama kenapa-napa.
"Coba telepon, aku khawatir." kata Nanta pada Dania.
"Sekarang?"
"Iya sekarang, kapan lagi?" Nanta mengerutkan dahinya.
"Ck... Mas Nanta galak betul sih sore ini." keluh Dania mengambil handphone didalam tasnya, Nanta jadi tidak tega melihat wajah Dania yang terlihat sendu.
"Nyalakan musik Dan." kata Kenan memecahkan ketegangan diantara keduanya, sebenarnya tidak ada yang aneh sih pikir Kenan, mungkin karena Nanta sudah mau berangkat jadi Dania sedikit sensitif jika Nanta berkata tegas.
"Iya Pa." jawab Dania menahan tangis kemudian menekan tombol pada player, air mata mulai mengalir dipipinya, duh Nanta jadi bingung kenapa gara-gara rok pendek jadi ada saja salahnya.