I Love You Too

I Love You Too
Lapar



"Jadi, kapan rencananya?" tanya Mario tak sabar. Belum didengar keputusan kapan Andi dan Pipit akan menikah.


"Tunggu Pipit selesai kuliah." jawab Andi sekenanya. Ia sendiri tak tahu kapan mereka akan menikah. Kalau sudah dijodohkan begini, lebih baik diam tak bersuara, biar saja mereka yang sibuk Andi tak ambil pusing.


"Terlalu lama." Mario tampak kecewa.


"Jangan berhubungan lagi dengan perempuan itu. Lu sudah punya calon istri, friend." Reza mengingatkan. Andi menatap sahabatnya tak percaya, mereka semangat sekali.


"Besok Pipit kursus menyanyi, biar indah terdengar saat mengomel." Erwin terkekeh memandang Andi, yang banyak melamunnya, seperti masuk dalam perangkap rasanya malam ini.


"Pipit suka main basket, kalau marah hati-hati kepalanya Kak Andi dijadikan ring basket." celutuk Kiki membuat yang lain tertawa puas, mentertawakan Andi yang malam ini mati kutu.


Sedangkan Pipit tentu saja tak tahu kalau ia dijadikan objek penderita, karena sibuk meladeni keinginan calon mertua. Sesekali matanya melirik pada rombongan Abangnya yang terlihat lebih asik, saling mentertawakan. Tak jarang matanya dengan Andi bertemu pandang, seperti orang yang baru saja saling bertemu, mereka kompak mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Kapan mereka menikah om?" tanya Mario pada Permana dan Gilang. Disini Mario yang paling tak sabar, ingin Andi segera menikah.


"Pipit masih kuliah." kata Gilang sambil menatap Permana.


"Kiki, Monik dan Intan satu angkatan dengan Pipit. Mereka sudah menjadi Nyonya." Mario menunjuk ketiga Nyonya boss yang tak sadar sedang dijadikan contoh.


"Kami sedang mencari hari baik, Erwin dan Enji baru saja menikah. Setidaknya mereka bertunangan dulu." jawab Permana. Meski tak setuju, Mario tak lagi berkata-kata. Bukan kewenangan Mario juga. Tapi tenang saja, otaknya langsung berpikir keras, mencari cara percepatan pernikahan Andi dan Regina.


"Banyak pikiran, Bro?" tanya Alex menepuk pundak Mario.


"Mereka mau bertunangan dulu, lama sekali." bisik Mario tak puas hati.


"Perlu kita percepat?" tanya Alex sambil menyikut perut Anto yang setengah tertidur.


"Perlu, sangat perlu." jawab Reza yang sedari tadi menyimak, mulai ikut berkoalisi.


"Kita kasih proyek, dengan syarat harus sudah menikah, bagaimana?" Alex menaikkan alisnya sebelah.


"Proyek apa?" tanya Anto masih tak nyambung, menahan kantuknya.


"Party, kita bikin party khusus untuk mereka yang sudah menikah. Tamu undangan yang hadir pastikan membuat Andi penasaran dan sangat ingin terlibat dalam acara tersebut." kata Alex yang seketika muncul idenya.


"Good Idea, usahakan Michael bubble hadir di party tersebut. Andi sangat mengidolakan dia. Bisa?" tanya Mario pada Alex, mengingat Alex Raja industri musik di Asia, harusnya itu pekerjaan mudah. Alex menjentikkan jempol dan telunjuknya seperti sedang membuang bongkahan upil. Mereka kemudian saling bersalaman, merasa idenya sangat jenius.


Acara selamatan rumah dan makan-makan berjalan lancar , ups sebenarnya acara lamaran Andi dan Pipit malam ini, berjalan dengan lancar. Tak ada perlawanan dan sanggahan dari keduanya. Mereka tampak pasrah dan menerima keadaan.


Sementara yang lain tampak jauh lebih bahagia, karena rencana mereka berjalan dengan lancar, bahkan akan berlanjut ke rencana selanjutnya. Minggu depan Alex akan mulai memainkan rencananya. Sungguh kurang kerjaan, ditengah kesibukannya masih sempat memikirkan cara percepatan pernikahan sahabat yang baru dikenalnya. Rencana ini hanya mereka berempat yang tahu, Erwin saja tak diberitahu karena khawatir akan membocorkan pada orang tuanya. Bagaimana dengan para Nyonya? mereka tak dilibatkan, biar saja mereka terima beres.


Tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit, disaat beberapa orang mulai menguap, merekapun pamit undur diri. Perjalanan hari ini sangat irit waktu, tenaga dan bensin, cukup jalan kaki saja, kecuali Monik dan Intan beserta suaminya.


"Capek?" tanya Reza pada Kiki saat mereka sudah berbaring dikasur. Masing-masing sudah mengenakan baju tidurnya. Kiki mengenakan piyama tangan panjang dan celana panjang, sopan sekali. Bisa kacau kalau pakai lingerie.


"Iya, dari tadi belum istirahat. Aku mengantuk." kata Kiki berusaha memejamkan matanya.


"Ya sudah tidurlah." kata Reza sambil memeluk Kiki. "Tetaplah tidur kalau kepeloroti." bisik Reza nakal.


"Kak, please. Tadi empat jam apa masih kurang? Sepertinya aku hamil." Kiki mulai asal, "Bukannya orang yang sedang hamil muda, tak boleh terlalu sering melakukannya?" lanjutnya lagi dengan suara bantalnya, yang justru ditelinga Reza terdengar sangat sexy.


"Iya, aku akan pelan-pelan kamu tidur saja." bisik Reza sambil menciumi istrinya. Untungnya tadi dirumah Erwin sudah sholat Isha, Kiki yang benar-benar mengantuk tertidur pulas. Sementara Reza, tak kuasa menahan hasratnya. Hembusan nafas Kiki ditelinganya terasa sangat menggoda. Piyama Kiki malam ini terlihat sangat sexy dimatanya. Mengalahkan puluhan lingerie yang dibelikan Mama untuk Kiki. Sepertinya Reza sangat kecanduan.


Benar saja perlahan demi perlahan kancing piyama Kiki mulai terbuka. Reza mulai bermain di bagian dada Kiki, memang dilakukan secara perlahan tapi pasti. Kiki yang sempat tertidur pulas akhirnya terbangun saat ada yang memasuki dan menggoyang tubuhnya, perlahan kantuk Kiki menghilang dan kiki mulai mengeluarkan suara-suara aneh. Benar-benar butuh tenaga extra untuk menghadapi Reza. Hingga akhirnya mereka tertidur dengan pulasnya, tanpa sempat membersihkan diri.


Lain Reza lain pula Mario, sesampainya dirumah Mario minta dimasakkan Mi Instan, hanya ada itu, karena belum ada bahan yang bisa dimasak dirumah baru. Berpikir keras untuk perjodohan Andi dan Pipit membuat nafsu makannya timbul. Walaupun tadi di rumah Erwin sudah cukup kenyang.


"Kamu masih lapar, darling?" tanya Regina tak percaya, tapi tetap memenuhi keinginan Mario, membuatkannya Mi Instan. Kalau untuk sekedar itu saja, Regina tak perlu bantuan pelayan. Walaupun pelayan dari Rumah Utama, Neneng ikut pindah kerumah baru, atas permintaan Mario kepada Mami dan Papi, Regina tak mau merepotkannya dimalam hari.


Mario menikmati Mi Instan di pinggir kolam renang. Pantulan warna biru dari kolam membuat matanya terasa sejuk. Regina pun ikut menemani suaminya.


"Darling, minggu depan kita ke S'Pore." kata Mario sambil menikmati suapan terakhirnya.


"Ada acara?"


"Kangen Mami, Papi. Aku juga belum kenal om dan tantemu." jawab Mario membuat Regina tak percaya. Walaupun sering beradu mulut dengan Papi, tapi akhir-akhir ini Mario sering meridukannya. Lagi pula sudah menjadi rutinitas saat sebelum menikah, hampir setiap minggu Mario pulang ke S'Pore.


"Lagi pula kita belum pernah bercinta di kamarku yang disana." kekeh Mario menggoda Regina. Untung saja makanannya sudah habis, saat Regina mencubit pinggangnya.


"Sini." katanya menarik lengan Regina sambil menepuk pahanya. Regina pun duduk dipangkuannya sambil berhadapan mencium pipi suaminya dan memeluknya. Sungguh posisi yang sangat menguntungkan bagi Mario akibatnya permainan yang mengesankan di pinggir Kolam renang terjadi, Regina pun tak menolak. Bukan perut Mario saja yang lapar, bagian yang lain pun rupanya tampak lapar. Untung saja kamar Neneng diatas tak menghadap ke Kolam Renang. Jadi mereka bebas beratraksi.