I Love You Too

I Love You Too
Lupa suami



Nanta benar-benar membuat acara karaoke bertiga menjadi seperti mini party, bermodalkan cemilan dan bahan baku yang ada di kulkas, meja tampak meriah dan yang pasti mengenyangkan. Bi Wasti dengan senang hati mengolah semua yang didapur menjadi Pastel, martabak telor dan Pisang coklat, tidak ketinggalan es krim yang dibeli Kenan kemarin. Sedangkan pak Atang membuat topi dari kartun warna-warni. Dan Nanta menggunakan fasilitas yang ada dirumah mereka mengenakan rumbai-rumbai yang dipasang dileher masing-masing. Heboh sekali.


"Nanta ayo sekarang kamu yang nyanyi." kata Nona begitu puas ia dan Roma bergantian bernyanyi.


"Bosan kalau hanya bernyanyi, bikin permainan aku mau." kata Nanta yang sedari tadi hanya penggembira.


"Permainan bagaimana?" tanya Roma ingin tahu.


"Menyanyikan lagu tanpa menghadap kelayar." jawab Nanta tersenyum sambil menaikkan alis.


"Aku bukan penyanyi Nanta, mana hafal." jawab Nona menggelengkan kepalanya.


"Justru itu kalau ada yang salah lirik mendapatkan hukuman seperti main kartu saja." Nanta memberi usul.


"Boleh." jawab Roma semangat.


"Nanta, aku tidak pernah hapal lirik lagu, sudah pasti aku kalah." protes Nona keberatan.


"Pilih saja lagu yang Kak Nona tahu dan sering nyanyikan." kata Nanta santai.


"Oh, lagu kita bebas pilih ya." Nona akhirnya tenang dan mulai mengingat lagu apa yang akan dinyanyikannya.


"Nanti setelah ada yang salah lirik, peserta selanjutnya boleh melanjutkan lagu tersebut atau memilih lagu yang lain." Roma memberi ide. Nona dan Roma setuju saja.


"Oke, lipsticknya mana buat coret muka." tanya Nanta semangat.


"Ah, Nanta. Sayang betul lipstick buat coret-coret." Nona bersungut, mengingat harga lipsticknya bukan kaleng-kaleng.


"Huhu iya nih Nanta, mana sedang tidak boleh ke Mal, Nanti lipstickku tidak steril." Roma ikut menggerutu dan juga menolak memberikan lipsticknya.


"Ih pelit-pelit sekali, Memangnya hanya punya satu lipstick?" tanya Nanta menggelengkan kepalanya, tidak percaya kedua wanita dihadapannya sangat perhitungan soal lipstick. Tidak ada yang menjawab satupun, hanya saling memandang dan cengengesan.


"Ya sudah kuncir rambut saja mau? jadi semakin sering salah, semakin banyak kuncirannya." kata Nanta kembali memberi ide, ia tidak memaksa menggunakan lipstick yang entah berapa harganya.


"Hahaha Ok, karetnya mana?" tanya Nona yang maunya terima beres tapi sudah geli sendiri mengingat rambutnya akan penuh kunciran.


"Bi Wasti ambilkan karet gelang yang banyak ya, Biasanya dilaci dapur ada satu plastik." kata Nanta pada Bi Wasti yang baru saja mengantarkan pastel yang baru saja digorengnya.


"Siap." jawab Bi Wasti yang sedari tadi dibikin sibuk oleh ketiga orang itu. Ketika semua sudah siap mereka mulai mengambil nomor urut yang dibuat Nanta, Roma yang kebagian nomor urut satu, Nanta Nomor urut dua, Nona Nomor urut tiga.


"Bi Wasti, Pa Atang mau ikutan?" tanya Nona ketika melihat keduanya sudah santai menonton kelakuan mereka.


"Tidak usah Non, kami jadi juri saja." jawab Pak Atang tertawa, belum mulai saja mereka semua sudah tampak lucu.


Permainan berlangsung penuh canda tawa. Semua kebagian salah dan rambut pun penuh kunciran. Masing-masing saling mentertawakan. Kocak sekali, Pak Atang, Bi Wasti dan Pak Ali ikut masuk menonton, semua terhibur dan ikut mentertawakan Nanta, Roma dan Nona. Ketiganya kocak sekali.


Bukan hanya yang dirumah, Kenan yang sedang berada disemarang pun tertawa melihat kelakuan ketiganya yang terpantau melalui CCTV. Apalagi saat Nona menolak untuk di foto. Ia sibuk menutupi wajahnya dan tampak Roma dan Nanta rusuh memaksa Nona membuka wajahnya.


"Kak Nona ini dokumentasi." kata Roma pada Nona.


"Tidak mau, nanti Mas Kenan lihat aku seperti ini." Nona menolak keras, rupanya ia masih menjaga image didepan suaminya.


"Memangnya kenapa kalau lihat?" tanya Nanta bingung.


"Aku lagi jelek begini, kunciran sebanyak ini. Kamu pikir saja kecantikanku berkurang."


"Kata siapa berkurang, justru Kak Nona tambah cantik." kata Nanta berbohong, Roma terbahak mendengarnya.


"Tapi aku tidak takut difoto." jawab Nanta memonyongkan bibirnya.


"Hahaha ayolah Kak Nona, kita foto Dan kita Kirim ke group keluarga. Ini seru tahu, pasti mereka iri tidak ikut bermain seperti kita." kata Roma sambil sibuk selfie dengan latar belakang Nona dan Nanta juga makanan.


"Kamu mau Kirim ke Media Sosial kamu?" tanya Nona membesarkan bola matanya.


"Itu sih sudah dari tadi, yang komentar juga sudah banyak." jawab Roma terkekeh.


"Ish Roma, ya sudah ayo foto, ternyata sudah beredar dari tadi." sungut Nona yang akhirnya mau difoto bertiga. Dengan bantuan Pak Atang mereka bergaya dengan berbagai pose, yang pasti gayanya tidak ada yang benar. Kenan lagi-lagi tertawa dikamar hotelnya, bagaimana bisa istrinya begitu kompak dengan anaknya bahkan melakukan hal-hal konyol seperti sekarang.


Hari-hari Nona dan Roma selama suami mereka keluar kota diisi dengan berbagai keseruan dan ide konyol Nanta. Ada saja permainan yang mereka lakukan dirumah, tidak lagi merengek minta kuliner diluar karena tidak diijinkan sedari awal. Hanya istirahat ketika Nanta berangkat sekolah, sepulang Nanta sekolah banyak hal yang mereka lakukan. Bertiga saja sudah ramai dan heboh. Apa lagi kalau ada Kenan dan Raymond.


Karena sibuk dengan kekonyolan Nanta, Roma dan Nona jadi jarang menghubungi suaminya. Walaupun sudah bisa mengintip melalui CCTV, tetap saja Raymond dan Kenan protes karena merasa diabaikan oleh istri mereka.


Lupa sama suami?


Pesan Raymond dibaca Roma.


"Wah ini Ray kenapa Kirim pesan begini?" tanya Roma tidak mengerti. Nona cekikikan saja, karena suaminya tidak protes.


"Kamu jarang menghubungi Raymond?" tanya Nona.


"Iya, paling bangun tidur dan mau tidur." jawab Roma.


"Biasanya bagaimana?" tanya Nona lagi.


"Sehari bisa lima kali, kalau Kirim pesan saling balas bisa sepanjang hari. Tapi kali ini sih memang jarang karena kita sibuk bermain." jawab Roma akhirnya menyadari.


"Hahaha aku juga sih jarang menghubungi Mas Kenan, tapi tidak di protes tuh." kata Nona berbangga hati.


Roma mulai menghubungi Raymond.


"Sayang, lupa bagaimana sih. Aku menunggu kamu penuh kerinduan." kata Roma begitu Raymond mengangkat teleponnya.


"Gombal." dengus Raymond.


"Ish tidak percaya. Aku tidak sabar menunggu kamu pulang."


"Tapi kamu jarang Kirim pesan apalagi menelepon."


"Aku sibuk meladeni Nanta." jawab Roma beralibi.


"Bukannya terbalik, Nanta sibuk meladeni kalian?"


"Hahaha iya juga sih, tapi tuh anak selalu kasih ide konyol yang membuat kami sibuk." kata Roma terbahak.


"Sekarang lagi apa?" tanya Raymond.


"Menunggu Nanta pulang sekolah, setelah itu menjemput Kamu dan Mas Kenan ke airport." jawab Roma.


"Tidak usah jemput, biar Pak Atang saja."


"Enak saja, sudah tiga hari dikurung di rumah, sekarang tidak boleh ikut jemput." sepertinya ini yang dirindukan Raymond, omelan istrinya yang membuat hidupnya jadi berwarna, Raymond terbahak dibuatnya.