
"Aban mana aja sih? tindalin Baen ladi." protes Balen saat melihat Nanta memasuki rumah Oma bersama Ayah dan Bunda.
"Abang kuliah sayang." jawab Nanta menggendong Balen, rindu sekali sama singkong rebusnya ini.
"Naik sawat?"
"Iya."
"Aban ndak tayan Baen." sungut Balen yang masih dalam gendongan Nanta.
"Enak saja, sayang dong." Nanta menciumi Balen gemas.
"Itu naik sawat ndak ajak Baen." suaranya terdengar menahan emosi.
"Aban kan jemput Ayah." kata Nona pada putrinya.
"Iya kan Balen maunya kita semua kumpul." kata Oma lagi.
"Kenapa dia?" tanya Reza pada Nona.
"Biasa, kesal betul mendengar Abangnya pulang duluan naik pesawat." Nona terkekeh.
"Balen sini sama Ayah." Reza mengulurkan tangan pada Balen. Langsung saja ia mengarahkan badannya pada Ayah Eja.
"Ayah nanis ya, temalen ndak itut naik sawat?" tanya Balen mencium Reza, ia sangat kepikiran saat Ayah dan Bunda tidak ikut ke Villa minggu lalu.
"Iya, Balen sih tinggalkan Ayah." Reza memasang wajah sedihnya, kembali Balen mencium Ayahnya.
"udah di demput Aban tan? Janan nanis ladi ya." katanya membelai pipi Reza manis sekali.
"Bunda juga nangis loh Balen." Kiki ikutan memasang wajah sedih.
"Mamon, peyuk Bunda dih." katanya meminta Mamon menghibur Bunda. Gemas sekali Reza pada gadis kecilnya itu.
"Sekarang sudah tidak nangis dong, kan sudah bertemu Balen." kata Kiki tertawa sebelum Nona memeluknya.
"Papon mana?" tanya Reza pada Balen.
"Teja, masa di sini teja juda." kata Balen mengadu pada Ayah. Reza tertawa dibuatnya.
"Kerja kan cari uang untuk Balen." jawab Opa terkekeh.
"Untuk Mamon sih butan untuk Baen." jawabnya karena pernah melihat Kenan menyerahkan sejumlah uang yang belum sempat disetor ke bank pada Nona.
"Balen tidak dikasih?"
"Ndak tuh." jawab Balen tertawa.
Sedang asiknya Reza dan semuanya fokus membercandai balen, Kenan dan Raymond pun kembali dari kantor, mereka sengaja janjian berkumpul di rumah Oma dan Opa.
"Kenapa tidak mau dijemput?" tanya Kenan pada Abangnya.
"Lagi ingin naik taxi, sama saja kan." jawab Reza, sebenarnya ia tidak ingin mengganggu aktifitas adik dan anaknya, sementara Roma sedang hamil, mana mau ia mengganggu menantunya, belum lagi Nona yang sibuk dengan dua anaknya, bisa saja anak-anak dititipi pada Oma dan Opa, ada pengasuh ini, tapi kok tetap saja rasanya tidak tega. Banyak sekali pertimbangan Reza.
"Lain kali biar saja dijemput, Ayah tidak menjawab lagi saat aku tanya pesawat jam berapa." sungut Raymond pada Ayahnya.
"Yang penting kan sudah sampai." jawab Reza terkekeh.
"Kenapa tidak tanya aku?" Nanta tersenyum pada Raymond.
"Kamu tidak baca group ya, Abang sudah tulis disitu."
"Tidak sempat, kan aku banyak bawaan." Nanta menunjuk ke meja makan.
"Apa ini?" tanya Kenan saat melihat tumpukan makanan di meja makan.
"Dendeng balado sama Rendang jamur tanpa santan, Pa. Pasti Papa suka." jawab Nanta semangat.
"Kamu tahu saja, memang Papa sudah lama mau beli ini, Boy. Biasanya Papa makan di Hotel A. Ini terkenal loh." kata Kenan begitu melihat packagingnya.
"Itu dari Neneknya Dania." kata Kiki sambil mengangkat alisnya tersenyum pada Nanta.
"Dania terus sekarang ya." kata Raymond pada Nanta.
"Kenapa memangnya?" tanya Roma.
"Aku mau tanya dulu sama Papa dan Ayah, apa Om Micko sebelum dengan Tante Lulu pernah menikah?" tanya Nanta. Kenan hanya terdiam menatap Reza dan Papanya. Rasanya Reza dan Papa yang lebih mengenal Micko karena Kenan baru berapa tahun ini saja fokus di Jakarta.
"Memangnya kenapa?" tanya Opa pada Nanta.
"Dania itu anaknya Micko Suryadi. Itu Om Micko kan?" Nanta menatap Opa.
"Mungkin nama yang sama." kata Kenan pada Nanta.
"Mungkin juga, tapi herannya wajahnya mirip Om Micko tuh saat Dania menunjukkan fotonya. Mereka sudah sepuluh tahun tidak bertemu." kata Nanta pada semuanya.
"Ayah tidak tahu, Micko tidak pernah membahas persoalan pribadinya di kantor." jawab Reza.
"Sayang sekali pada tidak tahu." Nanta tampak kecewa.
"Itu terlalu pribadi." kata Reza pada Nanta.
"Berarti bukan teman baik, tempat berkeluh kesah." kata Nanta, Kenan terkekeh mengacak anak rambut Nanta.
"Tidak semua hal bisa diceritakan, Boy. Apalagi Om Micko sudah cukup pusing dengan urusan keluarga turun temurun."
"Begitu ya?"
"Iya sayang. Walaupun tahu banyak juga kadang kita tidak bisa seperti pahlawan kesiangan. Niat ingin membantu mereka menyelesaikan masalahnya tapi malah terkesan ikut campur." kata Oma Nina pada Nanta.
"Kamu tidak menjanjikan apapun pada Dania kan?" tanya Kenan pada Nanta.
"Tidak, aku hanya ajak Dania bertemu Om Micko. Tapi Dania juga belum siap sih." kata Nanta pada Papa.
"Bisa saja kamu ajak Dania ke kantor Papa, kalau kami sedang senggang." kata Kenan memberi ide.
"Kasih surprise sama Om Micko ya, Pa?" Nanta tampak berbinar-binar.
"Tidak juga, untuk apa kasih surprise sama Om Micko, mungkin saja dia sudah tahu kalau kalian berteman. Ajak saja ke kantor untuk kamu kenalkan pada Papa dan Om Micko teman barumu itu." kata Kenan tertawa.
"Wiih Nanta, Papa sudah merestui tuh." kata Roma menggoda Nanta.
"Ya ampun, kenapa pada suka godain aku sih." kata Nanta agak malu.
"Aku juga penasaran sih, sepertinya Dania ini menarik, sampai adikku mau menemani makan di Bandara." kata Raymond pada Nanta.
"Soalnya dia anak Om Micko, aku kasihan." kata Nanta berkelit.
"Kamu saja baru tahu dia anak Om Micko, hajar juga nih." Raymond memiting leher adiknya, Nanta tertawa geli. Heboh sekali mereka berdua.
"Ayah toyonin Aban atu don." kata Balen resah.
"Mereka bercanda sayang, lihat itu Abang Nanta tertawa." kata Reza pada Balen.
"Tapi nanti patah lehelna."
"Ray... stop. Ini lihat Balen khawatir sama Abangnya." kata Reza menyetop keduanya.
"Aban Nantamu ini bohongi Aban Lemon. Jadi harus dikelitikin lehernya. Balen ditinggal naik pesawat kan?" Raymond memprovokasi Balen.
"Yah." jawab Balen kembali teringat ia ditinggal Nanta naik pesawat.
"Kita kelitikin saja yuk, sini." kata Raymond menarik Balen dari pangkuan ayahnya. Mulai mengarahkan tangan Balen ke leher Nanta. Balen belum apa-apa sudah berteriak geli sendiri. Kacau deh suasana jadi tambah ribut saja, Kiki menggelengkan kepalanya.
"Balen tidak sayang Abang ya." kata Nanta yang berusaha menahan gelinya.
"Tayan don." jawab Balen sambil tertawa.
"Eh ada buku untuk Balen loh dari Bang Ando." kata Nanta mengganggu konsentrasi Balen.
"Mana butuna."
"Itu di tas Bunda." kata Nanta menunjuk Kiki. Langsung saja Balen memberontak minta turun dari pangkuan Raymond.
"Dasar Singkong Rebus, gampang sekali terpengaruh." Raymond mencubit pipi Balen gemas. Nanta dan yang lain terbahak karena Raymond gagal mengerjai Nanta.