
"Masih ngantuk saja?" Nanta menepuk bahu Ando yang tertidur diatas meja.
"Tidak bisa tidur semalam." keluhnya sambil mengucek mata, masih pagi memang, belum saatnya kelas dimulai.
"Belajar lagi?" Nanta berdecak kagum, rajin sekali Ando belajar. Ando menggelengkan kepalanya.
"Ingat Wilma terus." katanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mamaku suka sekali sama Wilma." katanya lagi terkekeh.
"Bagus dong, kan aku sudah bilang gadis tengil itu banyak yang suka." Nanta jadi tertawa geli membayangkan Mama Ando yang selalu terbahak jika didekat Wilma.
"Nah itu, masalahnya Wilma mau tidak sama gue yang apalah ini." kata Ando lagi.
"Apalah, apalah." Nanta terkekeh tidak mengerti maksud sahabatnya.
"Kalau tidak percaya diri dengan keadaanmu sekarang, tunjukan saat sudah berkarir nanti." kata Nanta menyemangati Ando, sekaligus untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Nanti diambil kamu Wilmaku." Ando melengos.
"Rese, kalau mau gue ambil juga dari awal tidak akan kenalkan dan biarkan kamu mendekat darling." Nanta mendorong bahu Ando, enak saja menuduh Nanta seperti itu.
"Masalahnya keluarga kalian saling mengenal." kata Ando lagi.
"Memangnya kenapa? sudahlah jangan pikirkan yang aneh-aneh. Jodoh kita sudah diatur Allah sebelum kita lahir tahu." kata Nanta pada Ando.
"Iya sih, belajar saja dulu ya." kata Ando akhirnya.
"Iya lah, belajar dulu, berteman dulu."
Dosen yang ditunggu-tunggu sudah datang, mereka pun mulai mengerjakan soal yang diberikan oleh Pak Dosen yang terkenal pelit nilai, makanya quiz ini jadi salah satu tumpuan harapan untuk menopang nilai tambahan saat ujian nanti.
Setelah mengerjakan soal sesuai waktu yang diberikan Nanta dan Ando lanjut mendengarkan Pak Dosen memberikan materi selanjutnya, padahal rasanya otak mereka sudah penuh karena beberapa hari ini harus baca banyak buku referensi yang diberikan Pak Dosen. Bukannya nempel malah terasa ngebul, terang saja mereka membaca secepat kilat, untung saja banyak yang nyangkut diotak.
"Makan dulu, yuk." ajak Nanta pada Ando.
"Dimana?" tanya Ando.
"Mal seberang, sekaligus aku mau cari buku untuk Wulan." kata Nanta, Ando pun menyetujui, menemani Nanta ke toko buku dan makan di Mal seberang.
"Ada bukunya?" tanya Ando saat Nanta memilih beberapa buku yang akan dibelinya.
"Ini." tunjuknya pada buku yang sudah dipegangnya.
"Singkong Rebus tidak dibelikan? nanti ribut mereka." kata Ando mengingatkan Nanta untuk membelikan Balen.
"Dia tidak suka buku, malah dirobek nanti." kata Nanta pada Ando. Ando mengambil satu buku lagi dengan judul yang sama seperti yang dipegang Nanta. Kemudian keliling lagi mencari buku untuk dirinya sendiri.
"Gue ke kasir, sini sekalian gue bayar." kata Nanta menghampiri Ando di lorong sebelah.
"Oh biar saja, gue masih pilih-pilih, nanti gue menyusul." kata Ando pada Nanta. Nanta pun meninggalkan Ando yang masih sibuk pilih buku, ia kekasir lebih dulu, tidak lama Ando menyusul ikut Antri dikasir barisan lain, biar cepat selesainya.
"Eh itu seperti teman SD gue deh." tunjuk Ando pada seorang gadis yang berjalan seorang diri, setelah mereka keluar dari toko buku.
"Dania, itu Dania, Ndo. Lu kenal?" kata Nanta pada Ando.
"Ceile putar sana sini, temen gue, temen elu juga." Ando terkekeh.
"Nia!!!" panggilnya pada Dania, Dania mengernyitkan dahinya kemudian melambaikan tangan.
"Mas Nanta." senyumnya mengembang sempurna.
"Sue, gue yang panggil elu yang disenyumin." Ando terkekeh memandang Nanta.
"Lupa kali sama elu, kan sudah lama tidak bertemu." kata Nanta yang bersama Ando berjalan menghampiri Dania.
"Mas Nanta beli apa?" tanyanya pada Nanta.
"Beli buku buat adikku di Malang. Kamu sendiri?" tanya Nanta basa-basi, sudah tahu kan Dania temannya hanya Nanta.
"Eh Nia lupa ya sama gue?" kata Ando akhirnya, Dania mengernyitkan dahinya memperhatikan Ando dengan seksama.
"Oh my god, Kakak Ando. Beneran ini Kakak Ando?" tanya Dania lagi tidak percaya.
"Benerlah, kapan balik dari London? Tante apa kabar?" tanya Ando semangat.
"Aku kan kuliah disini sekarang, tinggal dirumah Nek Pur." kata Dania, Ando juga mengenal Nenek angkat Dania rupanya.
"Mama masih di London, Kak." katanya lagi.
"Kami tetangga waktu aku tinggal di Puri." kata Ando menjelaskan pada Nanta.
"Sambil duduk yuk, aku lapar." kata Nanta pada keduanya.
"Eh sekalian traktir aku ya?" Dania membercandai Nanta.
"Sama dia sih kita ditraktir terus." kata Ando pada Dania.
"Kata siapa? malah gue ditraktir terus sama Dania." Nanta terkekeh.
"Iya hari ini aku yang traktir, jadi aman walau kamu tidak bawa uang cash." kata Nanta terbahak. Semua ikut tertawa, apalagi Dania.
"Kakak Ando, Papa kamu masih berteman dengan Papaku kah?" tanya Dania pada Ando, mereka sudah duduk disalah satu restaurant cepat saji kesukaan Dania.
"Masih, malah Papanya Nanta juga kenal." jawab Ando menunjuk Nanta.
"Apa Ndo?" tanya Nanta bingung.
"Papanya Dania itu kenal sekali sama Papon." kata Ando yakin, nanta jadi penasaran.
"Siapa nama Papa kamu?" tanya Nanta pada Dania.
"Micko Suryadi." jawab Dania yakin.
"Eh Dania jangan bercanda, kamu anaknya Om Micko?" tanya Nanta meyakinkan. Dania menganggukkan kepalanya.
"Oma Misha itu berarti Oma kamu?" tanya Nanta lagi, ia tidak tahu masa lalu Om Micko, tapi setahunya Om Micko saat ini hidup bahagia dengan istri dan dua anaknya yang masih sekolah dasar.
"Mau aku teleponkan Om Micko sekarang? dia lagi tugas di Medan sampai besok." jawab Nanta yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Papanya dengan Ayah waktu itu.
"Aku belum siap." jawab Dania, lama Nanta perhatikan memang Dania mirip sekali dengan Om Micko.
"Kamu mirip Papamu ya?" katanya terkekeh.
"Mungkin." jawab Dania tersenyum miris.
"Mungkin, memang mirip sih Nia." jawab Ando terkekeh.
Walau penasaran Nanta tidak ingin tahu kapan Om Micko berpisah dengan Mamanya Dania, ia juga tidak ingin tahu apa penyebab mereka berpisah, kehidupan Om Micko terlalu rumit karena berasal dari keluarga konglomerat, walaupun tidak bergabung dengan mereka tetap saja Papanya Oma Misha suka mengatur kehidupan keduanya. Mungkin saja Mama dan Papa Dania terpisah karena status sosial, itu hanya tebakan Nanta saja.
"Papa kamu itu baik sekali, pasti dia pun selalu merindukan kamu." kata Nanta pada Dania.
"Semoga." jawab Dania kurang bersemangat.
"Ih Adik kamu juga lucu-lucu kok, satu perempuan, satu laki-laki." kata Nanta memberikan informasi. Dania hanya mengedikkan bahunya.
"Ih lesu sekali, apa yang paling kusuka dari Om Micko, mobilnya ya Ndo." kata Nanta mengangkat alisnya pada Ando. Ando menganggukkan kepalanya.
"Kamu itu keluarga konglomerat rupanya." Nanta menggoda Dania.
"Mana ada keluarga konglomerat tinggal di kos-kosan." Dania terbahak, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Kalau Oma Misha tahu kamu pasti langsung di jemput." kata Nanta lagi.
"Masalahnya aku belum pernah bertemu Oma sama sekali." jawab Dania jujur.
"Aku hanya tahu namanya." katanya lagi sambil menyeruput milkshake rasa strawberry.