
"Papa setuju Pa?" tanya Nanta begitu Aditia berlalu. Kenan menggelengkan kepalanya, kasihan Balen jika harus berurusan dengan kamera dan dikenal banyak orang. Kenan mau Balen nikmati masa kecilnya dengan bebas seperti anak kecil pada umumnya, jangan diberikan pekerjaan yang membuatnya lelah.
"Tadi kenapa Papa tidak langsung tolak saja?" tanya Nanta pada Papanya.
"Iya kenapa ya?" Kenan terkekeh bingung sendiri kenapa tadi tidak langsung menolak saja.
"Kasihan mereka berharap." kata Nanta lagi.
"Nanti saja Papa kabari, lagi pula boleh kan dipikirkan dulu? baik tidak untuk Balen kedepannya." Kenan menatap Balen kemudian tersenyum pada Nanta.
"Mo napain Omna Papon?" tanya Balen pada Papanya. Mulai kepo karena tadi ia tidak mengerti apa itu iklan produk makanan.
"Mau ajak Balen bekerja, jadikan Balen terkenal masuk tv." jawab Kenan pada Balen. Balen langsung saja senyum-senyum sendiri bayangkan dirinya masuk tv.
"Mo don Papon, Baen masuk tipi." katanya pada Kenan langsung mendekat merayu Papon.
"Tidak usah." kata Nona pada Balen, Nona pikir pasti akan merepotkan antarkan Balen syuting menunggu seharian seperti yang pernah ia dengar cerita dari Monik yang dulunya model dan bintang sinetron.
"Ah Mamon mah, ndak boeh teus." gerutu Balen dengan kening berkerut, merasa keinginannya ditolak Mamon. Nona gelengkan kepalanya.
"Apanya yang tidak boleh terus, berenang saja Mamon bolehkan." kata Nona pada Balen sambil mengernyitkan hidungnya.
"Masuk tipi ndak boeh." jawab Balen asal, ia malas berpikir apa saja yang tidak dibolehkan Mamon, jadi lupa sendiri dengar jawaban Mamon bolehkan Balen berenang.
"Masuk tv itu kamu harus kerja Balen, Nantinya disuruh bergaya berulang kali, Kalau harus akting berenang berarti harus berenang sampai dapat gambar yang diinginkan, kamu kan orangnya terserah kamu saja, ini disuruh-suruh mau?" tanya Nona pada Balen.
"Bedayana dimana, beenang ya beenang aja, tapina sama Aban Leyi." kata Balen berikan syarat jika berenang harus sama Larry. Kenan dan Nanta tertawa mendengarnya.
"Yah belum tahu juga disuruh berenang apa tidak, kalau iklan makanan sehat mungkin kamu disuruh makan juga selama syuting, kamu kan cuma suka makan sop." Nona menjelaskan pada Balen.
"Tanain duu sama Omna, tadi di keta api, Baen matan semuana tok butan sop." kata Balen pada Nona, ia gunakan berbagai cara supaya keinginannya masuk TV dibolehkan Mamon, kalau Mamon setuju Papon bisa setuju juga biasanya.
"Iya nanti Papon tanyakan apa saja yang harus Balen lakukan selama syuting, apa Balen langsung jadi modelnya atau harus ikuti rangkaian tes dulu? itu perlu ditanyakan." kata Kenan mengikuti maunya Balen, mungkin boleh berikan Balen pengalaman bagaimana rasanya syuting, jika tidak suka pasti Balen tinggalkan, pikir Kenan.
"Coba besok kamu tanyakan Papi Mario, Boy. Pasti Papi bisa cari tahu pada staffnya, atau kamu tanyakan pada Steve." kata Kenan pada Nanta yang masih duduk disebelahnya.
"Iya, senin aku tanya deh Pa, aku rasa Bang Steve lebih tahu dibanding Papi." jawab Nanta tersenyum pada Papa. Kemudian berdiri memandang sahabatnya, Richi tampak berlari kearah Nanta dan langsung melompat pada Abangnya, mumpung tidak dikuasai Balen. Nanta langsung mengambil handuk untuk Richie Dan membungkus badan adiknya supaya tidak kedinginan.
"Oke, ayo semua kita kembali Ke kamar." ajak Kenan setelah Balen dan Richi sudah duduk santai didekatnya.
"Ayo Om." Doni langsung berdiri mengulurkan tangan pada Dona, ia juga tidur di hotel yang sama dengan sahabatnya.
"Nanti kita makan malam di kampung laut ya." ajak Kenan pada yang lain.
"Kumpul di lobby jam berapa Om?" tanya Larry pada Kenan.
"Setelah sholat magrib saja." jawab Kenan sambil berjalan tinggalkan kolam renang, karena sebentar lagi waktunya sholat magrib.
"Sholat dimesjid Pa?" tanya Nanta saat menuju lift.
"Iya ada didekat sini." jawab Kenan. Nanta menganggukkan kepalanya.
"Sudah lapar?" tanya Kenan pada Balen, pasti lapar karena habis berenang, Larry pun begitu.
"Aban pesankan Balen nasi sop ya nanti diantar ke kamar." kata Larry pada Balen.
"Yah." jawab Balen setuju.
Begitu sampai kamar Larry langsung pesankan nasi sop iga untuknya dan untuk Balen, Mike dan yang lainnya tidak mau, karena akan makan di kampung laut.
"Tidak lapar?" tanya Larry pada Mike.
Nanti suapi minta sedikit." jawab Mike sok manja, Larry langsung meringis dan mengangkat bahunya berulang-ulang. Mike tertawa lihat reaksi Larry.
"Gue masih suka cewek." kata Larry pada Mike.
"Gue juga ish." jawab Mike merengut. Gantian Larry yang tertawakan Mike. Sambil menunggu Makanan Larry segera bersihkan diri bersiap menunggu adzan sambil makan nantinya.
Makanan yang dipesan datang sesuai harapan tidak menunggu lama, Larry pastikan makanan Balen sudah diantar kekamarnya apa belum, ternyata sudah diantar. Sementara Larry makan gantian Mike yang bersihkan diri di kamar mandi, ia sudah makan duluan tadi saat Larry mandi, karena ternyata Mike lapar juga.
Sementara dikamar Nanta dan Dania, Ibu hamil tidak sabar makan di kampung laut, ia sibuk hubungi Papanya yang dari tadi belum juga memberi kabar. Terakhir hubungi Dania saat di Lawang Sewu, saat Dania kesana Papa dan keluarganya sudah pindah lokasi. Benar-benar nikmati waktu mumpung lagi bersama Winner dan Lucky.
"Papa dimana?" tanya Dania saat berhasil hubungi Papanya via telepon.
"Sudah dikamar, sebentar lagi mau ke Mesjid." kata Micko pada putrinya.
"Kami semua mau makan di Kampung Laut." Dania beritahu Papanya.
"Iya kita semua makan disana." jawab Micko yang rupanya sudah janjian dengan Kenan.
"Oh aku kira Papa tidak ikut." Dania terkekeh.
"Mana mungkin tidak bergabung, kita semua kesini karena Nanta kan." kata Micko tertawa.
"Berarti besok Papa ikut nonton Mas Nanta bertanding?" tanya Dania pada Micko.
"Iya dong, buat apa memangnya ke semarang. Oma saja sudah siap." Micko tertawa.
"Oma tidur sama siapa Pa?" tanya Dania pada Papanya. Pikirkan Oma harus tidur di hotel sendirian.
"Seperti biasa sama Winner dan Lucky." jawab Micko sabar meladeni pertanyaan putrinya.
"Mau tidur sama aku tidak?" Dania tawarkan diri, sambil menatap suaminya minta persetujuan, tawarkan diri dulu baru minta ijin, Nanta tertawa tapi menganggukkan kepalanya.
"Iya biar aku sama temanku atau sama Lucky dan Winner." Nanta ikut bersuara, ia juga kasihan Oma tidur bertiga dengan dua jagoan yang suka adu mulut itu.
"Coba kamu tanyakan, biasanya Lucky tidak ijinkan." Micko tertawa, selama ini Oma selalu satu kamar dengan Lucky.
Benar saja begitu Dania menghubungi Oma sampaikan apa yang ia pikirkan Lucky langsung menolak keras. Ia mana bisa tidur jika jauh dari Oma, saat Oma ke Malang selama dua hari saja Lucky gelisah, padahal Anak ini sudah usia remaja, harusnya sudah tidur dikamarnya sendiri, tapi selalu beralasan kasihan Oma tidak ada yang temani.