I Love You Too

I Love You Too
Keren



Disinilah Larry sekarang, di ruang private hanya berdua dengan Oma Lani. Setelah makan siang tadi Oma Lani minta bicara empat mata dengan Larry. Walaupun bingung Larry mengikuti kemauan Oma Lani.


"Apa yang mau dibicarakan Oma?" tanya Larry sesopan mungkin.


"Oma mau ucapkan terima kasih karena berani menyita botol minum Rumi, walaupun itu tidak membuatnya berhenti tapi Oma jadi merasa kamu bisa jadi teman yang baik untuk Rumi." kata Oma Lani sampaikan isi hatinya.


"Siapapun teman yang ada di dekat aku tadi malam saat aku temukan botol itu pasti akan kuambil botol minumannya Oma." jawab Larry sesuai pemikirannya.


"Tidak semua seperti kamu Larry. Oma sangat menghargai tindakan kamu. Ada yang malah ikut minum juga, ternyata kamu tidak." Oma Lani tersenyum menarik nafas lega.


"Aku sudah punya adik nakal Oma, suka tawuran, bisa aku lihat betapa pusingnya mama dan Papaku hadapi adikku itu. Jadi aku tidak mau menambah pusingnya Mama dan Papaku." Larry terkekeh. Oma Lani tersenyum mendengarnya.


"Kamu sudah punya pacar Larry?" tanya Oma Lani santai. Larry gelengkan kepalanya.


"Belum Oma, aku lagi capek pacaran." Larry kembali tertawa.


"Kebanyakan pacaran sih kamu." kata Oma Lani tertawakan Larry.


"Ish Oma, itu hanya teman, Oma selidiki aku?" Larry ikut tertawa.


"Siapapun yang jadi teman Rumi pasti akan kami selidiki, kami tidak mau kecolongan lagi. Sekarang saja kami mau rehab Rumi sulit karena menyangkut nama baik keluarga." Oma meringis, repot sekali jadi orang terpandang.


"Rumi sendiri apa mau di rehab Oma?" tanya Larry.


"Harus mau, Kita tidak usah bahas Dari agama yang sudah jelas dilarang, dari segi kesehatan saja, kamu tahu efek dari kecanduan alcohol? itu sangat berbahaya bagi kesehatan Rumi, apalagi dia perempuan."


"Salah apa Oma ya, punya anak lelaki sangat temperament dan sekarang cucu Oma kecanduan." Oma Lani tampak sedih.


"Bukan Salah Oma kan, jangan sedih Oma."


"Maklum ya tambah tua tambah sensitive, mungkin Oma pernah melakukan kesalahan sampai anak dan cucu Oma seperti ini." Oma Lani menghela nafas panjang.


"Semangat Oma, jangan bilang begitu, aku tidak bisa berjanji banyak, tapi aku usahakan bersama Sahabatku yang lain untuk bantu Rumi jalani rehab." Larry tersenyum pada Oma Lani.


"Terimakasih Larry, semoga kalian berhasil." Oma membalas senyum Larry.


"Kalau begitu kita kembali keluar Larry, nanti mereka bingung, Oma-oma ngapain ajak berondong mojok." Larry terbahak mendengar ucapan Oma Lani.


"Bisa saja Oma, terima kasih Oma percaya sama aku dan sahabatku." kata Larry tersenyum. Oma menggandeng Larry keluar ruangan.


"Ish Oma dapat gebetan baru." Steve menggoda Oma Lani, semua terbahak mendengarnya, Larry pun ikut tertawa sedang Oma Lani cengengesan.


"Cocok kan?" tanya Oma tengil.


"Cuwiwit..." teriak Richie membuat semua kembali terbahak.


"Bisa saja ini cucu mantu Opa." kata Opa Santoso sambil mencubit pelan pipi Richie gemas. Richie yang tidak mengerti bersorak dan bercuwiwit saja. Dia sih yang penting heboh.


"Opa, aku ajak semuanya jalan lagi deh ya, mereka mau shopping." kata Steve pada Opa Santoso.


"Kalian mau shopping kemana?" tanya Pipit kepo.


"Ke Johor, Mama dan Mami ayolah ikut. Naik bus saja." ajak Ayu pada Mama dan mertuanya.


"Masih muat bis nya?" tanya Regina.


"Masih muat banyak." jawab Ayu, Regina pandangi Mario minta persetujuan.


"Kamu sama Pipit saja, aku mau ngobrol banyak sama Papi." kata Mario pada istrinya.


"Andi?"


"Sama aku, kalian saja ladies." jawab. Mario cepat.


"Ya sudah." jawab Regina langsung menggandeng tangan Pipit.


"Selin, Tori ayo ikut Oma." ajak Regina pada cucunya.


"Aku mau sama Opa." jawab Selin.


"Itu ajah Sein." ajak Richie pada Selin.


"Aku mau sama Opaku, Ichie." tolak Selin halus, ia masih mau bersama Mario dan Andi.


"Toi, tamu itut naik bis ndak?" tanya Balen pada Tori.


"Duh anak gue jadi dipanggil Toi, jelek bener sih." kata Ayu meringis mendengar ucapan Balen.


"Toli, Baen." Ichie membenarkan.


"Duh sama juga Toli juga jelek, ganti nama saja ya Tori." kata Ayu bercandai anaknya.


"Mama..." Tori merengek manja pada Mamanya.


"Kalau Selin?" tanya Steve.


"Taya tatakna Toli." jawab Richie bangga, berasa pintar bisa menjawab begitu.


"Memang Kakaknya sih unyil. Lucu betul sih kamu." Steve jadi gemas sendiri.


"Jadi bagaimana? Tori ikut Oma?" tanya Regina pada Tori.


"Of course I'm with you, Oma." jawab Tori, membuat Richie mengerutkan lehernya karena Tori gunakan bahasa Inggris yang Richie tidak begitu paham.


"Papa Setip, Toli bilan apa?" tanya Richie kepo, Steve tertawa geli melihat gaya Richie.


"Dia bilang Richie ganteng." jawab Steve asal.


"Ah butan itu." Richie tahu Steve membohonginya. Tambah terbahak saja Steve dibuatnya.


"Mau digendong?" tanya Steve tidak sabar ingin cepat sampai di bis, sementara Tori digandeng kedua Omanya.


"No Papa, atu sudah dedek." jawabnya malu karena ada Tori masa harus digendong.


"Itu kamu bisa bahasa Inggris, kenapa tadi tanya Tori bilang apa?" kata Steve pada Richie.


"Talo cuma yes no ajah sih, ada ladi deh No Wei. Ajain don yan lain." pintanya pada Steve.


"Mesti sekolah disini kalau mau pintar bahasa Inggris." jawab Steve konyol.


"Ote, wet atu tana Papa duu."


"Nah itu bisa bilang wait. Berarti sudah bisa bilang yang lain."


"Beum, mesti setolah disini tan? Papa...!!!" langsung saja Richie berlari hampiri Papanya.


"Ya?" Kenan berhenti menunggu bungsunya mendekat.


"Dendong, atu capek lali-lali." katanya dengan nafas tersengal. Kenan langsung menggendong Richie. Dengan segala cara Richie langsung mencium pipi Papanya.


"Atu mo setolah disini don." pintanya pada Kenan.


"Eh, kenapa begitu?" tanya Nona bingung.


"Atu mo beajal basa Indis." katanya pada Nona.


"Di Jakarta juga bisa belajar bahasa Inggris." jawab Kenan pada Richie.


"Tapi atu ndak nelti, Toli biang apa." adunya lagi.


"Memang Tori bilang apa?" tanya Kenan bingung.


"Atu mana Tau, dia nomong sama omana." lapor Ichie pada Kenan.


"Ya biar saja dia bicara bahasa Inggris dengan Omanya, nanti bicara sama Ichie kan bahasa Indonesia." kata Micko pada Richie.


"Ndak atu haus bisa basa Indis juda." telat Ichie sudah bulat.


"Jadi bagaimana?" tanya Steve setelah mendekat.


"Papa beum biang iya, tapi atu haus beajal basa Indis." jawabnya pada Steve.


"Tuh belajar sama Bang Steve." kata Nona pada Richie.


"Beajalna disini, tan Om Setip disini."


"Belajar saja sama Bang Nanta dan Kakak Dania." kata Micko terkekeh.


"Emanna bisa?" tanya Richie tidak percaya.


"Of course he can." jawab Lucky.


"Nah tadi Toli bilan okos juda." katanya mengingatkan kalimat Tori tadi.


"Kenapa ini?" tanya Regina melihat semua bergerombol didepan pintu Bis.


"Toli, janan pate basa Indis don, atu ndak nelti tamu nomong apa." kata Richie langsung pada Tori. Tori jadi bingung dan mengerutkan keningnya, kemudian menatap Papanya. Steve jadi tertawa melihat keduanya.


"Just speak in bahasa Tori." pinta Steve pada bungsunya.


"Iya Papa." jawab Tori menurut.


"Papa Setip kewen." langsung Richie acungkan jempolnya pada Steve.


"Papa atu mo taya Papa Setip ya." teriaknya pada Kenan heboh sendiri. Nona menggelengkan kepalanya saja sementara Kenan tertawa geli sendiri.