
Pagi ini keluarga Micko sibuk bersiap menuju kediaman Kakek Suryadi, dimana seluruh anggota keluarga berkumpul. Mike sudah berulang kali menghubungi Nanta memastikan mereka akan berangkat jam berapa.
Keluarga besar Suryadi bersemangat karena Oma Misha mau datang, tidak seperti yang sudah-sudah setiap undangan dianggap angin lalu.
"Sudah jalan belum?" tanya Mike pada Nanta via telepon, ingin sekali Nanta menjitak sahabatnya ini, dari pagi sudah sepuluh kali hubungi Nanta.
"Sudah rapi semua Maiiiiik, tinggal tunggu Papa bilang jalan, kita jalan." kata Nanta pada Mike, kesal. Mike terkekeh mendengar suara Nanta naik satu oktaf.
"Eh hari ini gue Abang lu, tidak sopan bicara suaranya nge gas begitu." tegur Mike tengil.
"Iya Aban, ih gue cium juga nih." kesal Nanta pada Mike, Dania tertawa saja mendengarnya.
"Nan, Loudspeaker deh gue mau bicara sama Dania." pinta Mike pada Nanta.
"Mau bicara apa?" tanya Nanta.
"Makanya loudspeaker nanti kan kalian dengar." kata Mike kesal, gantian suaranya yang naik satu oktaf.
"Abang tuh harus sabar sama adek." kata Nanta pada Mike.
"Daniaaaa..." teriak Mike memanggil Dania.
"Sue, belum gue loudspeaker." Nanta menjauhkan handphonenya sambil terkekeh.
"Daaaan..." kembali berteriak, untungnya sudah Nanta loudspeaker handphonenya, itu saja tetap memekakkan telinga.
"Ya." jawab Dania tertawa.
"Nanti cium tangan Abang ya, bilang sama suami kamu tuh, jangan kurang ajar sama Abangmu ini." katanya tengil membuat Nanta terbahak.
"Gue dribble juga nih." kata Nanta terbahak. Mike ikut terbahak mendengarnya, lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Silent saja ya, Mike bawel." kata Nanta mulai otak-otik handphonenya.
"Nanti Papa Kenan hubungi Mas Nanta loh." Dania mengingatkan.
"Ada handphone kamu sama Papa Micko kan. Pasti hubungi kesana." jawab Nanta yang sudah tidak sanggup menghadapi kebawelan Mike.
"Mike itu Abang aku loh." Dania terkikik geli menggoda suaminya.
"Iya... Abang kamu kebawelan, pusing aku." kata Nanta terbahak, kemudian mencium pipi istrinya gemas, mumpung masih dikamar, eh bukan cuma pipi rupanya karena ciumannya merambat kebibir, kalau saja Lucky tidak mengetuk kamar Kakaknya ketika lewat mungkin saja mereka lupa diri.
"Ish lucky mengganggu saja." gerutu Nanta merapikan lipstick Dania dengan tangannya. Dania tertawa gantian menghapus sisa lipsticknya yang menempel dibibir suaminya.
"Mas Nanta bibirnya merah." Dania tertawa geli, melihat bibir suaminya yang sekarang kemerahan.
"Aduh kamu pakai lipstick apa sih, kok jadi begini." Nanta buru-buru berkaca dan segera lari ke kamar mandi untuk membasuh bibirnya karena sekarang kesannya Nanta habis pakai sepuan hingga bibirnya memerah.
"Ganti ah lipstick nya jangan dipakai lagi." kata Nanta begitu keluar dari Toilet, urusan perbibiran sudah teratasi.
"Hehehe ini yang belikan Kak Dini di Dubai." katanya pada Nanta.
"Ganti ya, pakai yang biasa saja." pinta Nanta pada istrinya.
"Yang ini buang saja?" tanya Dania pada suaminya.
"Tidak usah, sesekali boleh dipakai tapi kasih tahu aku dulu." Nanta memberikan syarat.
"Iya." jawab Dania menurut. Kalau dulu Reza selalu repot dengan warna lipstick Kiki yang kemerahan, sekarang Nanta repot karena lipstick Dania menempel dibibirnya. Ayah sama keponakan kurang lebih saja.
"Abang..." kali ini Winner yang panggil Nanta.
"Ya." teriak Nanta cepat karena memang mereka sudah mau keluar kamar.
"Ayo." ajak Winner dari depan pintu kamar Nanta. Mereka semua pakai baju baru yang dipesan Lulu kemarin dibutik langganannya. Bajunya tidak kembaran modelnya, hanya bahannya saja yang sama, entah bahan apa yang pasti bukan jeans tapi berwarna Denim dan sangat nyaman dipakai.
"Ah Abang model bajunya bagus." puji Winner pada Nanta.
"Loh kamu juga bagus." Nanta gantian memuji.
"Kemarin kamu tidak pilih ini." kata Nanta mengingat kemarin Winner ikut ke butik.
"Sudah ditentukan modelnya dengan karakter masing-masing." jawab Winner tersenyum. Mereka berjalan bersama menuju ruang keluarga dimana semua sudah menunggu kehadiran ketiganya
"Kalian lama sekali." tegur Micko pada ketiganya, Nanta dan Dania cengengesan sementara Winner siap menjawab memberikan alasan tapi,
"Sudah jangan bicara, nanti lama lagi." kata Mama Lulu pada anak bujangnya kemudian menarik Winner menuju Mobil.
"Kita pakai Mobil apa?" tanya Oma Misha pada Papa Micko.
"Family Van." jawab Winner segera menuju Mobil yang sudah dibahasnya bersama Papa Micko semalam.
"Yang lain mengikuti langkah Papa Micko dan Winner yang sudah berjalan lebih dulu.
"Kita satu mobil saja." kata Micko pada Nanta.
"Iya Pa." jawab Nanta menurut.
Mereka naik ke mobil satu persatu, Mama dan Papa didepan, Oma dan Dania di tengah, dibelakang Nanta, Winner dan Lucky.
"Nanta mau didepan?" Mama Lulu menawarkan.
"Tidak usah Ma, anak bujang biar dibelakang." jawab Nanta sambil melirik Dania.
"Ish genit tuh Oma, mengaku bujangan." adu Dania pada Oma Misha membuat semuanya terbahak.
Kehadiran Om Misha beserta anak cucu disambut hangat oleh keluarga Suryadi, Opa Kripto juga ikut menyambut bahagia. Peter saja yang tidak berdiri saat keluarga yang ditunggu-tunggu datang. Kakek Suryadi menangis saja berpelukan dengan anak, menantu dan cucunya, tidak menyangka Misha bersedia hadir.
"Papa Kira tidak akan pernah bertemu denganmu lagi." bisik Kakek Suryadi lirih pada putri semata wayangnya. Misha diam saja tidak menjawab, hanya menghapus air mata yang mengalir dihidungnya, sudah bukan dipipi lagi. Ini pertama kali setelah puluhan tahun menghindar dari Papanya, karena ulah Kripto.
"Terima kasih sudah mau hadir." kata Nyonya Suryadi tersenyum ramah, terlihat sudah membuka hatinya untuk Misha. Ia ingin memeluk Misha tapi masih canggung.
"Micko..." sapa Opa Kripto, memeluk erat Papa Micko.
"Maafkan Om." katanya saat masih memeluk Micko.
"Sudah lama kami maafkan Om." jawab Micko balas memeluk Opa Kripto. Mike langsung saja mepet pada Nanta setelah tadi bercandai Nanta dan Dania untuk menyalami dan mencium tangannya.
"Tangan lu bau terasi." kata Nanta pada sahabatnya. Mike segera menciumi tangannya sendiri tapi tidak mencium bau itu.
"Baru mau dicium tangannya, sudah cium tangan sendiri." Nanta terkekeh menggoda Mike.
"Rese." Mike langsung memiting leher sahabatnya itu, keduanya sibuk sendiri seperti biasa tidak memperdulikan lingkungan sekitar. Keduanya baru tenang saat Kakek Suryadi buka suara memberikan kata sambutan menandakan acara dimulai. Jadi walaupun hanya acara keluarga tetap saja pelaksanaannya protokoler, pakai kata sambutan dan doa. Hal yang baru bagi Dania, sementara Nanta dan yang lain santai saja sudah tidak heran lagi.
"Sesuai keputusan yang sudah ditentukan, berdasarkan kesepakatan kita bersama maka Suryadi Corporation mulai saat ini sepenuhnya berada dibawah tanggung jawab Micko Suryadi." tegas Kakek Suryadi membuat suasana heboh ada yang bertepuk tangan ada yang berbisik-bisik seperti keberatan.
"Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat, jika ada yang tidak berkenan silahkan keluar dari keluarga ini. Kalian semua sudah mendapatkan jatah masing-masing jadi tidak selayaknya iri. Kita harus berterima kasih berkat nama Misha perusahaan ini masih dapat terus berjalan, hampir seluruh klien kita mengenal sepak terjang Misha saat masih bekerja di Syahputra Group." tegas Kakek Suryadi lagi.
"Untuk Peter, kali ini kita maafkan, perusahaan yang hampir gulung tikar diberikan suntikan dana dengan persyaratan terlampir. Jika masih gagal juga, sudah tidak ada ampun lagi. Terima kasih Micko karena bersedia menjadi investor pada perusahaan Peter yang sudah babak belur." ucapan Kakek Suryadi membuat Peter terperangah, pikirnya selama ini Micko tidak akan pernah mau membantunya, ternyata sekarang Micko yang mendanai usahanya hingga bisa beroperasi lagi.
"Semoga setelah ini tidak ada lagi dendam yang tidak karuan itu, pelajaran bagi kita semua untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, bukan hanya merasa orang lain lebih enak lalu ingin memiliki apa yang mereka punya, sampai lupa untuk mengurus apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Sekali lagi Misha, Micko dan Dania maafkan saya dan keluarga saya." kata Opa Kripto pada ketiganya. Dania jadi ikutan menangis melihat Oma Misha banjir air mata.
"Peter ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Kakek Suryadi pada cucunya.
"Maaf..." hanya itu yang keluar dari mulut Peter dan kembali menundukkan kepalanya.
"Micko ada yang mau disampaikan?" tanya Kakek Suryadi pada Micko.
"Saya sepertinya belum siap meninggalkan Syahputra Group." kata Micko menarik nafas panjang, mengingat Syahputra Group sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak ia kecil.
"Kami tidak minta kamu meninggalkan Syahputra Group, kamu hanya mendapat tanggung jawab baru karena rasanya tiga saya mengurus kantor pusat sudah selesai." kata Kris pada Micko.
Micko memandang Nanta dan kedua bujangnya, tiga orang yang Micko harapkan bisa membantunya di Suryadi Corporation.
"Kalau boleh saya akan minta tolong Kenan untuk membantu saya di Suryadi Corporation." kata Micko ijin pada keluarga besarnya.
"Terserah kamu mau bagaimana, kami percayakan sepenuhnya pada kamu." jawab Kakek Kris tersenyum bahagia. Peter hanya menunduk saja tidak banyak bicara, sudah tidak punya kekuatan karena Papanya yang selama ini mendukungnya sudah berbaikan dengan adik tirinya.