
Micko, tolong bikinkan surat kuasa untuk wali hakim, Dania akan kunikahkan!
Pesan dari Maya, Micko terima dan dibacanya. Kunikahkan? dengan siapa?Enak saja pakai Wali Hakim, Apa Nanta sudah mendapat restu Maya, tapi belum ada laporan pada Micko. Langsung saja Micko menghubungi Maya, kesal juga Maya meminta surat kuasa untuk Wali Hakim.
"Maksud kamu apa, Maya? Dania mau menikah sama siapa? Kenapa harus wali hakim kalau aku bisa menjadi walinya?" Micko memberondong Maya dengan banyak pertanyaan.
"Keluarkan saja suratnya Micko, tolong jangan mempersulit, ini untuk kebaikan kita bersama." kata Maya kesal.
"Kebaikan bersama bagaimana? Aku tidak pernah mempersulit Dania, aku hanya ingin hadir di hari bahagia anakku dan aku juga harus tahu siapa yang menjadi pasangan Dania. Dimana mereka akan menikah?"
"Bisa tanya satu-satu? saya bingung jawabnya."ketus Maya.
"Katakan siapa calon suami Dania?"
"Orang Indonesia juga, kamu tidak perlu tahu, yang pasti terkenal, tampan dan anak orang kaya." kata Maya bangga, Micko tertawa dalam hati.
"Bagaimana bisa Dania kenal calon suaminya, di London dan di Indonesia?" Micko mengerjai Maya.
"Mana kutahu, mereka kan anak muda, mungkin saja saat mereka liburan bertemu." dengus Maya kesal
"Nanti akan kukirim foto pernikahannya, Tolonglah Micko. Dania kali ini tidak minta uang kamu untuk menikah, dia hanya minta surat kuasa wali hakim dari kamu." kata Maya lagi.
"Apa Dania menikah di Indonesia?" tanya Micko tersenyum senang.
"Iya dan Dania tidak mau bertemu kamu!" Maya berbohong dan Micko tahu itu. Tapi dibiarkan saja, Micko malas ribut.
"Kalian kapan ke Indonesia?" tanya Micko sok polos, biar Maya pikir Micko percaya Dania masih di London.
"Aku tidak ke Indonesia, Dania saja, karena aku ada sedikit masalah hingga dalam setahun dua tahun ini aku belum bisa ke Indonesia." kata Maya menjelaskan, Micko terkekeh, tentu saja karena Micko yang membuat masalah itu terjadi.
"Dania menikah tanpa dihadiri orangtua, kamu yang benar saja, Maya. Biar aku saja yang hadir."
"Micko, kamu belum bisa bertemu Dania. Biarkan saja dulu anakku menikah. Keluarkan saja suratnya." Maya mulai galak.
"Anakku juga Maya, setelah menikah berarti Dania tinggal di Indonesia, kan?" tanya Micko.
"Tidak!!! Dania akan diboyong suaminya ke Amerika." baiklah, terserah Maya saja mau bilang apa, Micko tidak mau memperpanjang.
"Suratnya mau aku serahkan kemana?" tanya Micko akhirnya mengalah.
"Katakan saja suratnya bisa diambil dimana, nanti kuminta calon suami Dania mengirim kurir untuk mengambilnya." Micko pun menyebutkan sebuah alamat, entah alamat siapa, yang pasti bukan kantor atau pun rumahnya.
Setelah menutup sambungan telepon dari Maya, Micko menghubungi Nanta.
"Kalau ada kabar baru, kasih tahu dong." protes Micko pada Nanta.
"Aku masih nyetir, Om." jawab Nanta terkekeh.
"Jadi bagaimana, bisa ya menikah sebelum ke Amerika?"
"Aku koordinasi sama keluarga besar Papa dulu Om." jawab Nanta jujur.
"Ok, surat kuasa mau kamu ambil kapan?" tanya Micko terbahak.
"Hehehe memangnya pakai surat kuasa, Om?" tanya Nanta, pikirnya surat Kuasa itu hanya formalitas saja, ada Micko yang akan menikahkan mereka nanti.
Tentu saja tidak, tapi kalian perlu bukti bahwa surat kuasa sudah diterima toh?"
Iya, Om."
"Om, apa ini tidak membohongi Tante Maya?" tanya Nanta.
"Membohongi bagaimana?"
"Minta surat kuasa, tapi yang menikahkan Om."
"Tidak, karena Om memang memberikan surat kuasa pada wali hakim, boleh dong kalau nantinya wali hakimnya Om sendiri." Micko tertawa jahil, Nanta jadi ikut tertawa.
"Dan... Nanti kamu pastikan kapan Mama dan Papaku bisa melamar Virtual sama Mama kamu ya? tanyakan juga apa keluargaku perlu melamar kamu lagi ke rumah Nek Pur?" tanya Nanta pada Dania setelah menutup sambungan telepon dari Micko.
"Senang ya mau menikah sama aku?" tanya Nanta menggoda Dania. Langsung saja Dania mengernyitkan hidungnya, mereka masih dalam perjalanan kerumah Nek Pur, lumayan macet hari ini.
"Ih jawaban apa itu, senang tidak?" tanya Nanta lagi mencubit pipi Dania gemas.
"Hehehe Mas Nanta kali tuh yang senang." jawab Dania tengil. Nanta tertawa mendengarnya. Mereka berdua tidak ada yang mau mengaku senang.
"Kalau kita menikah sebelum aku Training Camp, kamu nanti tinggal dimana? di rumah Papaku atau Om Micko?" tanya Nanta pada Dania.
"Tidak tahu." jawab Dania bingung.
"Pastikan saja dari sekarang, aku lebih senang kamu di rumah Papa atau Om Micko, dibanding kamu dirumah Nek Pur." kata Nanta fokus menyetir.
"Kenapa memangnya kalau dirumah Nek Pur? kan dekat dari kampus." Dania memandangi calon suaminya itu.
"Nek Pur tahu kamu sakit?" Nanta balik bertanya.
"Aku kan sehat." protes Dania.
"Iya, tapi suka mendadak panik dan lemas tahu-tahu pingsan." Nanta memonyongkan bibirnya.
"Itu kan karena Papa, sekarang kan tidak lagi." Dania beralasan.
"Bagaimana kalau tiba-tiba Om Peter itu mendatangi kamu dirumah Nek Pur? kamu dan Nek Pur tidak akan berdaya, Kalau dirumah Papa atau Om Micko lebih aman banyak yang jaga." Nanta menunjukkan kekhawatirannya.
"Ih aku kok tidak kepikiran ya." Dania jadi takut sendiri.
"Jadi mengerti kan kenapa aku tidak mau kamu dirumah Nek Pur? kecuali ada aku. Aku lama juga trainingnya, ini yang aku tidak suka menikah tapi pergi jauh dari kamu." Nanta menghela nafas.
"So sweet." Dania terkekeh.
"Ish selama ini kemana saja, memangnya tidak merasakan sweet-sweet yang lainnya." Nanta pura-pura kesal.
"Hahaha iya-iya. Makasih ya Mas Nanta." kata Dania mengerjapkan mata dan tersenyum manis.
"Kiss dulu." kata Nanta menunjuk pipinya.
"Ih sama saja seperti Kakak Ando." Dania mendorong pipi Nanta dengan telunjuknya.
"Kok Ando? Dia pernah minta Kiss sama kamu?" Nanta curiga.
"Tidak pernah. Mas Nanta lupa ya waktu kita di Malang, Kakak Ando minta Kiss sama Wilma, Mas Nanta bilang Kakak Ando modus, ternyata sama saja." Dania terbahak jadinya.
"Kamu bilang aku modus?" Nanta menatap Dania, mereka sudah memasuki wilayah perumahan Nek Pur.
"Hu uh." Dania menganggukkan kepalanya. Nanta jadi tersenyum jahil, ia menghentikan kendaraannya didepan rumah Nek Pur seperti biasa.
"Tidak mampir dulu?" tanya Dania memandang Nanta, ia belum juga turun dari mobil, masih mau berlama-lama bersama Nanta.
"Tidak usah, langsung saja ya?" Nanta tersenyum pada Dania. Sorot mata Nanta selalu membuat Dania berdebar tidak karuan.
"Makasih ya Mas Nanta." Dania bersiap turun.
"Tidak mau kiss?" tanya Nanta dengan mata sedikit menyipit.
"Belum halal." Dania merapikan tas dan bawaannya yang lain. Tadi Papa memaksa membungkuskan lauk untuk Dania makan dirumah. Tiba-tiba matanya terbelalak karena bibir Nanta sudah menempel di pipi kanannya kemudian pindah kedahi kanannya.
"Mas Nanta..." Dania cemberut memandang Nanta, tangannya hendak menyentuh pipi dan dahi yang tadi dicium Nanta.
"Hey jangan dihapus." Nanta menahan tangan Dania.
"Salam buat Nek Pur." Nanta mengacak anak rambut Dania tanpa beban, sementara jantung Dania berdegup kencang seperti genderang mau pecah. Dania pun buru-buru turun karena salah tingkah.
"Hati-hati." katanya cepat meninggalkan Nanta di Mobil segera masuk kedalam rumah.
Begitu Dania menghilang dari pandangannya gantian Nanta yang memegangi dadanya dan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kencang, setelah tenang ia melajukan kendaraannya perlahan sambil senyum sendiri. Ah Nanta modus juga ternyata.