
"Aban Leyi matatih ya, Ontana." kata Balen pada Larry via telepon, ia menghubungi Larry melalui handphone abangnya. Tadinya Larry mau bawakan boneka Onta itu Dan memberikannya langsung saat melatih Balen berenang, apalah daya ia tidak tega membayangkan Balen menyambut Nanta pulang tanpa membawakan pesanannya.
"Sama-sama Baen, Ontanya tidak terlalu keriting ya, hanya ikal saja. Balen suka tidak?" kata Larry pada Balen.
"Baen suta." jawab Balen dengan senyum mengembang. Larry jadi ikut tersenyum melihat wajah bahagia singkong cantiknya.
"Ya sudah tutup ya, Bang Larry capek tuh mau istirahat." kata Nanta pada adiknya.
"Yah." jawab Balen menurut pada Abangnya.
"Ban Leyi udah duu ya. Talo udah ndak tapek tita beenang ladi deh." katanya pada Larry.
"Iya sayang, nanti kalau Abang sudah balik dari Cirebon ya." kata Larry tertawa mendengar perkataan Balen.
"Mau ke Cirebon?" tanya Nanta pada sahabatnya.
"Iya, antar Kak Dini dan Om Deni." jawab Larry terkekeh.
"Siapa saja?"
"Gue, Doni sama Mike don." jawab Larry meniru gaya Balen.
"Gue?"
"Yah Dania kan lagi hamil, jalan jauh nanti kasihan babynya." Larry menjelaskan.
"Iya juga sih, kapan berangkat memangnya?"
"Hari minggu." Larry tersenyum.
"Oh langsung balik apa menginap?"
"Gue sama Mike sih rencana menginap." jawab Larry terkekeh.
"Doni balik?"
"Sepertinya begitu."
"Nah kalian kenapa menginap?"
"Proyek masa depan lah." jawab Larry terkekeh, Nanta langsung tahu maksud dan tujuan sahabatnya ini.
"Semoga berhasil." Nanta tertawa ikut mendukung maksud dan tujuan sahabatnya. Jauh betul cari jodoh sampai ke Cirebon. Eh tapi Nanta saja bertemu jodohnya pertama kali di Malang, bisa saja Mike dan Larry pun begitu pikir Nanta.
"Mas Nanta kalau mau ikut Ke Cirebon, ikut saja." kata Dania pada Nanta setelah suaminya menutup sambungan teleponnya, Dania sedang sibuk mengeringkan rambut Balen yang masih basah dengan handuk. Waktu Nanta pulang tadi Balen sedang mandi, langsung saja mengetuk pintu kamar Abangnya padahal rambutnya belum kering betul.
"Aban, Baen itut don ciebon." belum Nanta menjawab Balen sudah mendaftarkan diri.
"Abang sepertinya tidak ikut sayang. Kak Dania nanti siapa yang jaga." jawab Nanta pada adiknya sekaligus menjawab pertanyaan istrinya.
"Tania itut juda." jawab Balen memeluk Boneka Onta yang hampir sama besar dengan dirinya.
"Tania capek." jawab Dania pada Balen.
"Tan beangkatna hai mindu."
"Iya tapi senin kakak kuliah." jawab Dania lagi, pasti melelahkan jika harus balik hari.
"Iya Abang juga sudah harus ke kampus jadi tidak bisa ikut." jawab Nanta pada adiknya.
"Oh..." jawabnya merebahkan diri diatas Onta yang sekarang menjadi bantalnya.
Balen tidak lagi membujuk Nanta untuk ikut ke Cirebon. Tampak Singkong Rebus sangat menikmati tiduran diatas Onta, Nanta mengambil foto Balen yang sedang santai itu lalu mengirimkannya pada Larry.
"Onta yang Pink mana?" tanya Nanta pada Balen, karena Mike menanyakan Onta yang dibelikannya untuk Balen.
"Dipindam Ichi." jawabnya santai, menggoyangkan kakinya lalu bersenandung dengan lagu karangannya mengenai Onta. Nanta dan Dania jadi tertawa melihat kelakuan Balen. Nanta sendiri jadi gemas dan menciumi perut adiknya hingga Balen berteriak kegelian sambil tertawa.
"Janan Aban..." teriaknya sambil terkekeh.
"Deli tau." katanya lagi berusaha menyelamatkan diri. Dania ikut tertawa melihat keduanya.
"Tania toong." teriak Balen lagi karena Nanta sekarang menyekap dirinya, Abang rindu sekali tampaknya.
"Badus ya Onta Baen." katanya pada Nanta.
"Iya Bagus, untuk Abang saja ya." pinta Nanta bercandai Balen.
"Janan don, Aban sih napa ndak bei juda." kata Balen menolak permintaan Abangnya.
"Abang maunya minta punya Balen." jawab Nanta.
"Nanti Baen ndak puna Onta don." keluhnya memandangi Nanta dengan tatapan memohon, jangan ambil Ontaku, kurang lebih begitu ekspresi Balen saat ini.
"Iya Abang tidak jadi minta, pinjam seperti ini saja, bolehkan?" kata Nanta kasihan melihat Balen.
"Boeh." jawab Balen tersenyum senang.
"Tania sini don, bobo Juda." ajak Balen pada istri Abangnya.
"Kakak dikasur saja ya." ijin Dania pada Balen dan memandangi suaminya. Balen menganggukkan kepalanya.
"Iya kamu dikasur saja sayang. Istirahatlah, aku juga sebentar lagi paksakan tidur." kata Nanta pada istrinya.
"Iya Tania bobo dih." kata Balen sok tua.
"Kamu juga bobo singkong rebus." kata Nanta kembali menyekap Balen.
"Baen beum nantuk." jawabnya kembali bersenandung. Senang sekali mendapat oleh-oleh Onta sampai nyanyi tentang Onta terus. Nanta yang sudah mengantuk mulai tidur-tidur ayam, Dania sudah tertidur dikasur begitu merebahkan badannya dan memeluk guling.
"Baen tayang Aban." kata Balen mengecup pipi Abangnya yang sudah mulai tertidur tapi masih menyadari perlakuan adiknya barusan. Nanta jadi terharu dan memeluk tubuh kecil disebelahnya ini.
"Abang juga sayang Balen dong." jawab Nanta terkekeh dengan mata terpejam.
"Yopiu Aban." katanya lagi.
"I love you too sayang." kata Nanta mengecup pipi adiknya. Kemudian mereka berdua tertidur dikarpet tebal kamar Nanta dengan berbantalkan Onta berambut Ikal. Manis sekali pemandangan kedua kakak beradik ini.
Nanta terbangun ketika Balen menepuk pipinya, terdengar kamarnya diketuk pelan.
"Ya..." jawab Nanta segera beranjak dan membuka pintu kamarnya, ternyata Papa, langsung saja Nanta menyalami sambil tersenyum.
"Tidak ke Mesjid Boy?" tanya Kenan yang sudah rapi dengan baju kokonya.
"Mau, sholat apa nih Pa?" tanya Nanta yang rupanya masih mengantuk.
"Shubuh, bagaimana sih." Kenan terbahak, Nanta nyengir lebar sambil menggaruk kepalanya.
"Aku siap-siap dulu." kata Nanta cepat, ia segera menuju kamar mandi, dilihatnya Balen sedang membangunkan Dania, pintar sekali adiknya ini. Nanta pikir Balen akan tidur lagi setelah bangunkan Nanta, ternyata ambil inisiatif bangunkan kakak Iparnya. Pulas sekali keduanya tidur dikarpet semalaman.
"Aku ke Mesjid ya." kata Nanta mengacak anak rambut istrinya yang masih mengerjapkan mata berulang kali menahan kantuk yang belum juga hilang.
"Hati-hati Mas." kata Dania yang tidak minta dipeluk karena tahu suaminya terburu-buru.
"Kakak mandi dulu ya, Balen mau ikut mandi?" tanya Dania pada Balen.
"Ndak, Baen mau tamal Mamon duu ya." ijinnya pada Dania.
"Iya, jangan lupa Onta Balen dibawa tuh." Dania ingatkan Balen.
"Biain sini duu ya." kata Balen pada Dania.
"Oh iya biarkan disini." jawab Dania terkekeh.
"Ichi mo juda masa." adunya pada Dania.
"Kan sudah ada yang pink." jawab Dania.
"Tecil yan pin, Ichi mo yan dedek taya ini".
"Jadi semalam Balen sembunyi dari Richi?" tanya Dania gemas.
"Ndak." Balen menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya geli. Ingat Richi yang dibujuknya pakai Onta Pink, lalu ijin ke kamar Nanta karena mau minta dibelikan Onta seperti ini satu lagi untuk Ichi. Dasar Balen, ia lupa begitu Nanta menghubungi Larry agar Balen mengucapkan terima kasih pada idolanya itu.
"Ichi sih ndak tesini." gumamnya lagi sambil terkikik geli, membayangkan Richi menunggui kabar Onta sepanjang malam, hahaha Balen yang benar saja, Ichi malah lupa dengan boneka Onta begitu mendapat kaos bergambar Onta dari Om Deni, ia langsung minta dipakaikan pada Mamon dan tidur dengan baju barunya walaupun baju itu belum dicuci.